Ada yang unik dari Dahlan Iskan.
Anda tentu mengagumi seorang—atau dua orang—influencer. Hari-hari ini memang yang menjadi “uswah hasanah” kita adalah influencer.
Para akademisi pun kewalahan. Mereka bingung. Suara mereka tak lagi didengar. Youtuber dan selebgram lebih mudah mempengaruhi opini publik daripada akademisi yang bertahun-tahun berkutat dengan buku.
Namun begitulah fakta yang tak bisa Anda sangkal. Kita tak lagi membaca tulisan. Kita mendengarkan video. Kita tak lagi membaca buku, kita membaca siniar.
Tentu ada sebagian “pakar” yang mau turun gunung. Menyesuaikan diri menjadi hamba algoritma. Mau ontran-ontran membuat sosmed atau YouTube. Atau minta dibuatkan oleh anak muda di sekitar.
Intinya, ada dua perubahan belakangan ini. Pertama, percakapan publik tak lagi berbasis teks. Namun berbasis video. Medannya tidak lagi di koran, buku, apalagi jurnal ilmiah. Namun di media sosial. Kedua, kepakaran tidak ditentukan oleh seberapa lama Anda mempelajari satu bidang tertentu. Kepakaran ditentukan oleh seberapa kuat Anda bisa berenang di atas algoritma.
Kembali soal Dahlan Iskan.
Tiga—atau empat—hari lalu, ia menulis di Catatan Harian Dahlan (CHD) di laman Disway bahwa ia tengah terbang ke Amerika. Lalu di kolom komentar, ada orang yang menebak. Bahwa “Abah”, panggilan Dahlan Iskan, pergi ke Amerika untuk menonton Piala Dunia dengan tiket gratisan.
Satu hari kemudian, di CHD selanjutnya, Dahlan mengkonfirmasi hal tersebut. Ia memang dapat tiket gratis Piala Dunia.
Ini cerita remeh. Jangan terlalu dipikirkan. Tapi cerita ini membuat saya sadar. Bahwa fenomena CHD ini agak unik, karna ia terus bertahan di tahun 2026 ini. Tahun dimana orang-orang lebih suka scroll video 30 detik daripada membaca.
Untuk diketahui, Dahlan setiap hari menulis di kolom CHD di laman Disway. Mungkin sudah berjalan empat atau lima tahun. Nonstop. Tak pernah absen seharipun.
Konsistensi ini mengerikan. Tapi tak mengerikan-mengerikan amat. Itu bisa dilakukan. Selain karna Dahlan memiliki wawasan yang sangat luas, juga karna ia menulis soal apa saja. Banyak tulisannya yang serius. Tapi ada juga yang sederhana. Seperti soal perjalanan, soal mobil, soal keluarga, dan seterusnya.
Kembali ke cerita soal komentar seseorang di CHD tadi.
Saya pun menyadari, setiap tulisan Dahlan di CHD itu komentarnya banyak sekali. Puluhan komentar. Setiap hari. Bedanya, tidak ada angka yang tercantum seperti jumlah komentar di akun Instagram Anda.
Rupanya kolom CHD itu sudah seperti media sosial. Dahlan adalah influencer-nya, yang setiap hari membuat postingan. Lalu ada “perusuh”, orang-orang yang setiap hari berkomentar di situ. Saling menanggapi dan berbagi. Kadang melengkapi informasi. Kadang bercanda dan bergurau sesama “perusuh”.
Yang membuat unik tentu adalah karna CHD itu berbasis teks.
Di tengah gempuran pergeseran informasi dari teks ke visual, CHD masih bisa eksis dan langgeng dengan budaya teks.
Ups, sebenarnya ini tidak unik-unik amat. Di Facebook, “generasi tua” masih senang dengan teks. Masih ada beberapa orang yang suka menulis panjang di laman Facebooknya, lalu orang-orang “segenerasi” mengomentari. Memberi tanggapan.
Tapi kalau anak muda, saya jarang sekali menemui. Mungkin masih ada, tapi berada di luar jangkauan saya.
Kalau CHD tidak unik, berarti tulisan ini tidak ada nilainya. Ada yang membaca tulisan ini harus merasa muspro. Wasting time.
Supaya tidak sia-sia, maka saya ingin meminta kepada Anda satu hal. Anda yang membaca tulisan ini pastilah orang yang masih setia dengan dunia teks. Kalau Anda memilih nonton YouTube daripada baca artikel, Anda tak akan bertemu dengan tulisan ini.
Nah Anda yang masih setia dengan dunia teks itu layak bersedih. Karna hari ini teks sudah tidak laku.
Menulis di koran mungkin masih keren. menulis jurnal ilmiah masih bisa dibanggakan. tapi tanyakan pada diri Anda. Berapa orang yang menikmati tulisan Anda. Terutama jika dibandingkan dengan angka konsumsi video long form di YouTube, misalnya.
Dunia selalu berubah. Dan perubahan itu seringkali mengganti satu tokoh dengan tokoh lain. Perubahan dunia berarti perubahan panggung. Dulu orang dengan latar belakang tertentu menjadi panutan bagi publik. Sekarang orang dengan latar belakang lain yang didengar.
Dalam setiap perubahan kita selalu punya pilihan. Memilih untuk conserve, Anda jadi konservatif. Conserve berarti protect something from damage, loss, or waste, and to use resources responsibly so they last.
Melindungi, menjaga, merawat. Makanya orang yang tidak mau berubah dan memilih untuk melanggengkan status quo itu disebut konservatif.
Lawan katanya adalah berubah, menerima gagasan-gagasan baru, mendobrak tatanan yang sudah mapan.
Saya bersyukur di dunia yang sumpek dengan konten ini masih ada CHD. Masih ada website-website yang memproduksi artikel bermutu. Yang enak dibaca dan berbobot. Masih ada buku-buku yang menghibur.
Namun, saya tak bisa menolak bahwa masyarakat telah berubah. Karna dulu, orang membaca Nurcholish Madjid. Sekarang, orang menonton Ferry Irwandi.


