back to top
Senin, Juni 29, 2026

Literasi Keuangan dan Seni Mengendalikan Keinginan

Lihat Lainnya

Vinsensius S.Fil., M.M.
Vinsensius S.Fil., M.M.
Dosen Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak Pemerhati isu pendidikan, budaya, dan kemanusiaan

Banyak orang berpikir bahwa masalah keuangan terjadi karena penghasilan yang kurang. Memang ada kondisi tertentu yang demikian. Namun dalam kehidupan sehari-hari, persoalan keuangan sering kali bukan hanya soal berapa banyak uang yang dimiliki, melainkan bagaimana seseorang menggunakan uang tersebut.

Tidak sedikit orang yang memiliki penghasilan cukup, tetapi tetap merasa kekurangan. Sebaliknya, ada pula yang berpenghasilan biasa saja, tetapi mampu menabung dan mengelola keuangannya dengan baik. Perbedaan ini menunjukkan bahwa kemampuan mengelola uang sama pentingnya dengan kemampuan memperoleh uang.

Hal serupa terlihat dalam penelitian yang saya lakukan terhadap 25 mahasiswa Semester 2 Program Studi D3 Keuangan dan Perbankan di Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa sudah memiliki pemahaman yang baik tentang pentingnya mengelola keuangan. Namun, seperti kebanyakan orang pada umumnya, mereka masih menghadapi tantangan dalam menerapkan pengetahuan tersebut secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika Pengetahuan Keuangan Belum Menjadi Kebiasaan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki tabungan pribadi. Mayoritas juga mengaku mempertimbangkan terlebih dahulu apakah suatu barang benar-benar diperlukan sebelum membelinya. Selain itu, sebagian besar mahasiswa telah memiliki dana cadangan untuk kebutuhan mendadak dan tidak pernah meminjam uang untuk kebutuhan konsumtif.

Temuan ini menunjukkan bahwa mahasiswa sebenarnya telah memahami prinsip-prinsip dasar pengelolaan keuangan yang baik. Mereka menyadari pentingnya menabung, pentingnya membedakan kebutuhan dan keinginan, serta pentingnya mempersiapkan diri menghadapi situasi yang tidak terduga.

Baca Juga:  Jangan Remehkan Ibadah Sunah!

Namun, penelitian yang sama juga menemukan hal menarik. Masih ada mahasiswa yang belum terbiasa mencatat pengeluaran secara rutin. Sebagian juga belum membuat perencanaan penggunaan uang setiap bulan. Bahkan masih ada yang mengaku sering kehabisan uang sebelum akhir bulan.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa mengetahui sesuatu yang baik belum tentu membuat seseorang langsung melakukannya. Banyak orang tahu bahwa olahraga penting, tetapi tidak rutin berolahraga. Banyak orang tahu bahwa tidur cukup penting, tetapi tetap tidur larut malam. Hal yang sama juga terjadi dalam pengelolaan keuangan.

Dalam ilmu manajemen keuangan modern, pengetahuan keuangan atau financial literacy memang penting. Namun pengetahuan saja tidak cukup. Pengetahuan harus diikuti dengan kebiasaan yang dilakukan secara berulang hingga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Tanpa kebiasaan yang baik, pengetahuan hanya akan menjadi informasi yang tersimpan di dalam pikiran.

Keinginan yang Selalu Datang Lebih Cepat daripada Kebutuhan

Salah satu tantangan terbesar dalam mengelola keuangan adalah mengendalikan keinginan. Pada zaman sekarang, godaan untuk berbelanja hadir hampir setiap saat. Media sosial menampilkan berbagai produk menarik. Aplikasi belanja menawarkan potongan harga. Influencer mempromosikan gaya hidup tertentu. Semua itu mendorong seseorang untuk membeli lebih banyak dari yang sebenarnya dibutuhkan.

Di sinilah literasi keuangan bertemu dengan filsafat. Para filsuf sejak zaman dahulu telah berbicara tentang pentingnya pengendalian diri. Dalam perkembangan pemikiran modern pun, banyak ahli perilaku menjelaskan bahwa manusia tidak selalu mengambil keputusan secara rasional. Sering kali keputusan dipengaruhi oleh emosi, kebiasaan, dan dorongan sesaat.

Baca Juga:  Hisham Sharabi dan Neo-Patriarki di Dunia Arab

Karena itu, masalah keuangan sering kali bukan karena seseorang tidak tahu apa yang harus dilakukan. Banyak orang tahu bahwa menabung itu penting. Banyak orang tahu bahwa membeli barang yang tidak diperlukan dapat mengganggu kondisi keuangan. Namun dalam praktiknya, keinginan sering kali datang lebih cepat daripada pertimbangan rasional.

Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa telah berusaha mempertimbangkan kebutuhan sebelum membeli sesuatu. Ini merupakan tanda yang baik. Akan tetapi, kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan harus terus dilatih karena tantangan di masa depan akan semakin besar.

Jika kebutuhan memiliki batas, keinginan hampir tidak memiliki batas. Ketika satu keinginan terpenuhi, biasanya muncul keinginan yang lain. Oleh karena itu, kesehatan keuangan tidak hanya bergantung pada besarnya penghasilan, tetapi juga pada kemampuan seseorang membatasi keinginannya sendiri.

Mengelola Uang sebagai Latihan Menjadi Dewasa

Salah satu temuan yang paling menarik dalam penelitian ini berasal dari jawaban reflektif para mahasiswa. Banyak mahasiswa menyatakan ingin mulai hidup lebih hemat, mengurangi pengeluaran yang tidak penting, mencatat pemasukan dan pengeluaran, membuat anggaran, menabung secara rutin, dan menyiapkan dana darurat.

Keinginan untuk berubah ini menunjukkan adanya kesadaran yang sangat penting. Kesadaran merupakan langkah pertama dalam setiap perubahan. Tidak ada kebiasaan baik yang dapat tumbuh tanpa kesadaran untuk memulainya.

Dalam perspektif manajemen keuangan, kebiasaan mencatat pengeluaran membantu seseorang memahami ke mana uangnya pergi. Membuat anggaran membantu menentukan prioritas. Menabung membantu mempersiapkan masa depan. Dana darurat membantu menghadapi risiko yang tidak terduga.

Baca Juga:  Makna al-Qadar dan Salam Menurut Quraish Shihab

Sementara itu, dari sudut pandang filsafat, semua kebiasaan tersebut sebenarnya adalah latihan untuk menjadi pribadi yang lebih dewasa. Ketika seseorang menunda keinginan membeli sesuatu demi tujuan yang lebih penting, ia sedang melatih pengendalian diri. Ketika seseorang menyisihkan sebagian uangnya untuk masa depan, ia sedang belajar bertanggung jawab. Ketika seseorang membuat perencanaan keuangan, ia sedang belajar memikirkan konsekuensi dari setiap keputusan yang diambil.

Karena itu, literasi keuangan pada akhirnya bukan hanya tentang uang. Literasi keuangan adalah tentang cara manusia mengambil keputusan dalam hidupnya. Uang hanyalah alat, sedangkan tujuan akhirnya adalah kehidupan yang lebih teratur, lebih bertanggung jawab, dan lebih bijaksana.

Di tengah dunia yang terus mendorong orang untuk membeli, memiliki, dan mengonsumsi lebih banyak, kemampuan mengendalikan keinginan menjadi keterampilan yang semakin berharga. Mungkin di situlah makna terdalam literasi keuangan: bukan sekadar kemampuan menghitung uang, melainkan kemampuan mengelola diri sendiri.

(Editor: Anas)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru