Kematian seorang intelektual sejati tidak pernah menjadi sebuah titik akhir, melainkan sebuah tanda koma yang menggemakan gagasan-gagasannya ke dalam keabadian. Ketika Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno berpulang, kita tidak hanya kehilangan seorang Guru Besar dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB UGM). Kita sedang menyaksikan transisi sebuah jembatan emas—seorang perempuan yang sepanjang hidupnya menjelma menjadi oposisi biner dari kebodohan, dan memilih menjadi perwujudan dari ketubuhan ilmu (embodied knowledge).
Ode ini saya tulis bukanlah sekadar ratapan sosiologis atas hilangnya seorang tokoh, melainkan sebuah refleksi filosofis-eksistensial. Sebuah ode bagi ia yang merawat Logos (rasionalitas) dengan kelembutan, dan membawa Ethos bangsa hingga ke panggung tertinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Kehausan Epistemis: Episteme yang Melampaui Batas Zaman
Dalam tradisi filsafat Yunani Klasik, Aristoteles menyebut philo-sophia sebagai cinta akan kebijaksanaan yang berakar pada thauma atau “rasa kagum dan penasaran”. Prof. Chamamah Soeratno adalah personifikasi hidup dari thauma tersebut. Sepanjang hayatnya, beliau mengidap apa yang bisa kita sebut sebagai “kehausan epistemis”—sebuah kegelisahan intelektual yang positif yang menolak untuk puas pada satu titik pencapaian.
Di tengah struktur sosial yang sering kali menempatkan perempuan dalam domestikasi, Prof. Chamamah Soeratno mendobrak sekat-sekat tersebut melalui jalur teks dan sastra. Sebagai pakar filologi, beliau memandang manuskrip lama bukan sebagai benda mati, melainkan sebagai “jiwa yang mengada” (being). Beliau membaca masa lalu untuk memproyeksikan masa depan bangsa. Bagi beliau, belajar bukanlah sarana menuju status sosial, melainkan sebuah laku eksistensial. Menjadi berilmu adalah cara beliau mensyukuri kemanusiaannya.
Etika Kepedulian: Rahim Intelektual bagi Bangsa
Filsuf kontemporer Carol Gilligan memperkenalkan Ethics of Care (Etika Kepedulian), yang menekankan bahwa moralitas tertinggi sering kali lahir dari relasi, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama, bukan sekadar keadilan prosedural yang dingin. Prof. Chamamah mengawinkan ketajaman akademis dengan rahim kepedulian ini.
Sebagai pemimpin dan pendidik, beliau tidak melihat mahasiswa atau masyarakat sebagai objek transfer ilmu belaka. Beliau mengasuh bangsa ini. Keberpihakannya pada kemajuan perempuan—terutama melalui kiprahnya di ‘Aisyiyah—menunjukkan bahwa filsafat hidupnya adalah filsafat yang membumi. Beliau membuktikan bahwa artikulasi pemikiran Islam, nasionalisme, dan feminisme tidak harus saling berbenturan, melainkan bisa melebur dalam harmoni yang menggerakkan peradaban. Beliau adalah kompas moral yang mengingatkan bahwa ilmu tanpa kepedulian sosial hanyalah menara gading yang rapuh.
Saya orang yang sangat beruntung pernah menimba ilmu dari kedalaman sumurnya, dalam berbagai peristiwa penting dalam hidupnya. Baik di kediamannya di kompleks UGM, di Kraton dan Kepatihan, di Pusat Studi Kebudayaan UGM, serta Balairung UGM saat Dies Natalis. Juga di berbagai tempat lain di berbagai Acara Kebudayaan. Kami selalu saling tukar-menukar buku, dan Almarhumah merupakan salah satu Guru Besar yang mengoleksi puisi-puisi saya.
Dari FIB UGM ke Panggung PBB: Kosmopolitanisme yang Berakar
Ada sebuah diktum filosofis dari pemikiran eksistensialisme: “Bertindaklah secara lokal, berdamparlah secara universal.” Prof. Chamamah adalah seorang kosmopolitan sejati yang tidak pernah kehilangan keindonesiaannya.
Ketika beliau berdiri di mimbar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai pembicara, momen itu bukan sekadar prestasi personal. Secara fenomenologis, kehadiran beliau di sana adalah representasi dari suara perempuan Timur, khususnya perempuan Muslim Indonesia, yang intelektual, moderat, dan progresif. Di hadapan dunia, beliau meruntuhkan stereotip global tentang subordinasi perempuan. Beliau membawa lokalitas nilai-nilai luhur Nusantara yang dirawatnya di FIB UGM ke dalam diskursus global. Beliau menunjukkan bahwa menjadi global tidak berarti harus mencerabut akar tradisi; justru dari kedalaman akarlah sebuah pohon bisa menjulang tinggi menyentuh langit.
“Ia yang menabur ilmu di bumi, tidak akan pernah benar-benar terkubur di dalamnya. Ia berpindah tempat, dari ruang kelas menuju ruang kesadaran kolektif sebuah bangsa.”
Keabadian Prof. Chamamah Soeratno
Secara ontologis, Prof. Chamamah Soeratno kini telah menyelesaikan tugasnya sebagai “yang mengada di dunia” (Dasein). Namun, dalam lanskap pemikiran, beliau beralih rupa menjadi sebuah archetype—sebuah cetak biru tentang bagaimana menjadi manusia yang paripurna.
Obituari ini adalah sebuah penghormatan, sebuah ode untuk seorang perempuan hebat yang membuktikan bahwa senjata paling mematikan untuk melawan kemiskinan dan ketertinggalan adalah ketajaman pikiran dan keluasan hati. Selamat jalan, Prof. Chamamah. Dedikasi, kehausanmu akan ilmu, dan cintamu pada bangsa ini telah abadi, hidup dan beranak pinak dalam setiap sanubari murid dan generasi yang engkau inspirasi.
Laha Al- Fatihah …


