IBTimes.ID – Masa depan sebuah organisasi tidak dapat dibangun hanya dengan program jangka pendek. Di tengah perubahan sosial, politik, ekonomi, dan teknologi yang terus bergerak, diperlukan pandangan jauh ke depan. Karena itu, Tanwir Muhammadiyah 2026 di Palu akan menjadi momentum penting untuk menyusun arah strategis Persyarikatan selama 25 tahun mendatang.
Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah dijadwalkan berlangsung pada November 2026 di Palu, Sulawesi Tengah. Mengusung tema “Bersama Satukan Bangsa”, forum tersebut tidak hanya menjadi agenda organisasi, tetapi juga membawa pesan kebangsaan di tengah dinamika Indonesia yang semakin kompleks.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menjelaskan bahwa Palu dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan setelah sebelumnya agenda serupa dilaksanakan di Kupang.
“Kita pilih Palu karena setelah dari Kupang, kita ingin memberi support kepada masyarakat Palu setelah dulu mengalami musibah besar gempa, di samping Muhammadiyah juga terus membuat amal usaha di sana,” ujar Haedar.
Menatap Muhammadiyah dalam Seperempat Abad
Sebagai persidangan tertinggi di bawah Muktamar, Tanwir Muhammadiyah 2026 memiliki posisi strategis. Forum ini juga menjadi Tanwir terakhir sebelum Muktamar Muhammadiyah 2027 yang direncanakan berlangsung di Medan.
“Ini Tanwir terakhir menjelang nanti Muktamar di bulan November juga tahun 2027 di Medan,” sebutnya.
Salah satu agenda utama Tanwir Muhammadiyah 2026 adalah membahas program-program strategis Muhammadiyah untuk 25 tahun ke depan.
“Dan dalam Tanwir besok itu, kita akan membahas program-program Muhammadiyah 25 tahun ke depan,” katanya.
Menurut Haedar, Muhammadiyah sejak tahun 2000 telah mengembangkan program strategis dengan rentang lima hingga 25 tahun. Pandangan jangka panjang tersebut diperlukan agar pembangunan tidak berjalan secara terputus-putus.
“Dan kita belajar dari pengalaman bahwa misalkan pendidikan. Pendidikan itu tidak mungkin terpotong-potong setiap pergantian pemerintahan. Harus ada sesuatu yang strategis ke depan, biarpun pergantian pemerintahan,” katanya.
Menyatukan Bangsa di Tengah Perbedaan
Selain agenda strategis organisasi, Tanwir Muhammadiyah 2026 membawa refleksi penting tentang masa depan Indonesia. Haedar menilai bangsa Indonesia memiliki modal besar untuk bersatu, tetapi tetap menghadapi berbagai perbedaan pandangan dalam kehidupan sosial dan politik.
“Dari di kondisi itu sering terjadi perbedaan pandangan yang tajam. Yang tajam yang mestinya kita bisa berdialog, kita bisa mencari titik temu, mencari moderasi,” tekan Haedar.
Bagi Muhammadiyah, persatuan bukan sekadar modal sosial yang telah tersedia, melainkan sesuatu yang harus terus dirawat. Karena itu, Tanwir Muhammadiyah 2026 diharapkan menjadi ruang untuk memperkuat gagasan kebersamaan, baik dalam kehidupan organisasi maupun kebangsaan.
“Maka kita ingin lewat Tanwir ini membawa pesan untuk bangsa bahwa modal sosial bersatu kita itu tidak cukup dengan hal-hal yang given atau sudah tersedia, tetapi itu perlu didinamisasi dalam menghadapi berbagai dinamika perbedaan,” tambahnya.
Melalui Tanwir Muhammadiyah 2026, Persyarikatan tampaknya tidak hanya sedang menyiapkan agenda internal. Muhammadiyah juga tengah merancang cara untuk tetap relevan, berkelanjutan, dan memberi arah bagi kehidupan bangsa dalam seperempat abad mendatang. (NS)


