إِنَّ الحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِيْرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهَ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لاَ نَبِيَ وَلَا رَسُولَ بَعْدَهُ
قَالَ تَعَالَى فِي القُرْآنِ الكَرِيمِ : يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖوَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبً
Jamaah Jumat Rahimakumullah…
Mari sejenak kita merenungi hakikat diri sebagai manusia. Di tengah peradaban yang kian maju, krisis kemanusiaan kerap merobek tali persaudaraan yang Allah bentangkan di muka bumi.
Islam mengatur hubungan hamba dengan Sang Pencipta melalui hablum minallah, tetapi juga mempertegas pentingnya hablum minannas sebagai pijakan moral berbangsa adalah mandat iman yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Karena itu, meneguhkan persaudaraan kemanusiaan (ukhuwah insaniyah) adalah kunci utama untuk merawat kedamaian serta peradaban dunia hari ini.
Untuk itu, Islam mendorong umatnya saling mengenal dan bekerja sama tanpa memandang perbedaan agama, etnis, maupun bahasa.
Jamaah Jumat Rahimakumullah…
Setidaknya ada empat resep penting untuk menumbuhkan dan memelihara kesadaran persaudaraan manusia:
Pertama, memelihara sikap terbuka dan menghormati perbedaan budaya, agama, dan latar belakang.
Menjaga persaudaraan manusia meski berbeda latar belakang sangatlah penting, sebab Allah swt memuliakan manusia sebagai makhluk terbaik ciptaan-Nya. Allah Swt berfirman dalam Surat Al-Isra ayat 70:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا
Artinya: “Sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam dan Kami angkut mereka di darat dan di laut. Kami anugerahkan pula kepada mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (QS. al-Isra’: 70).
Ayat ini memakai dua penegasan sekaligus, yakni lam taukid dan qad, untuk menegaskan betapa Allah benar-benar memuliakan manusia di atas makhluk lain.
Menghadapi beragam konflik kemanusiaan, kita perlu mengingat pesan Imam Al-Ghazali dalam artikel Maqam Cinta dalam Pandangan Al-Ghazaly bahwa “cinta kepada kemanusiaan adalah setengah dari iman.” Kita diuji bukan hanya lewat ketaatan ritual, tetapi juga lewat kemampuan mencintai dan berempati kepada sesama.
Hal tersebut juga disinyalir dalam Al-Quran, Surah Al-Hujurat ayat 13:
إِنَّ اللَّهَ خَلَقَكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلَكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling takwa di antara kamu.”
Jamaah Jumat Rahimakumullah…
Ayat ini mengingatkan bahwa kita berasal dari asal yang sama, dan perbedaan tentunya ada agar kita saling mengenal, bukan bermusuhan.
Kedua, melalui pendidikan dan pemahaman. Nilai-nilai persaudaraan, kemanusiaan, toleransi, dan keberagaman perlu diajarkan sejak dini, baik di sekolah, keluarga, maupun komunitas.
Pendidikan dan kesadaran tentang pentingnya persaudaraan manusia harus ditanamkan sejak dini. Kita harus mengajarkan generasi muda untuk melihat dunia dengan mata hati yang penuh kasih dan empati, memperjuangkan keadilan sosial bagi setiap orang. Dialog antarbudaya dan agama juga perlu diperkuat, karena pendidikan dalam Islam sejatinya membangun bukan hanya pengetahuan, tetapi juga karakter.
Ibn Khaldun, seorang pemikir Muslim besar, dalam karyanya ‘Muqaddimah’ menekankan konsep ‘asabiyyah’ atau solidaritas kelompok sebagai kekuatan yang menyatukan masyarakat. Namun, dalam konteks global saat ini, ‘asabiyyah’ harus diperluas tidak hanya dalam kelompok etnis atau nasional, tapi dalam konteks umat manusia secara keseluruhan.
Ketiga, melakukan dialog antaragama dan budaya. untuk membangun pemahaman, mengurangi prasangka, dan menghargai perbedaan.
Anjuran melakukan musyawarah banyak disebut dalam alquran, diantaranya:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ
Artinya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya,” (QS. Ali Imran: 159)
Jamaah Jumat Rahimakumullah…
Rasulullah Saw mencontohkan kebiasaan ini, sebagaimana disebutkan Abu Hurairah RA: “Saya tidak pernah melihat seseorang yang paling sering bermusyawarah selain Rasulullah SAW,” (H.R. Thirmidzi)
Keempat, menjadi contoh tauladan berperilaku dan bertindak sesuai dengan prinsip persaudaraan. Perilaku yang menunjukkan empati, penghargaan, dan kasih sayang terhadap orang lain dapat memberikan dampak yang kuat.
Nabi Muhammad Saw dalam khutbahnya di Haji Wada’ menyampaikan; “Wahai manusia, sesungguhnya Tuhanmu satu, dan sesungguhnya bapakmu satu. Tidak ada keutamaan bagi Arab atas non-Arab, ataupun non-Arab atas Arab, tidak ada keutamaan bagi kulit putih atas kulit hitam ataupun kulit hitam atas kulit putih, kecuali dengan takwa.” (HR. Ahmad)
Jamaah Jumat Rahimakumullah…
Pesan Rasulullah ini menegaskan bahwa tidak ada keutamaan suku atau ras. Ini adalah prinsip yang juga digaungkan oleh Nelson Mandela, seorang tokoh perjuangan anti-apartheid, yang berkata, “Kita tidak dilahirkan dengan membenci seseorang karena warna kulitnya. Jika kebencian bisa dipelajari, cinta pun bisa diajarkan.”
Mudah-mudahan khutbah Jumat bertemakan “Urgensi Persaudaraan Manusia” ini bermanfaat untuk diri khatib dan jamaah sekalian.
أَقُولُ قَوْ لِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْه ُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أما بعـد
قال الله تعالى: اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ
رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا
رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى اّلذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين
عباد الله, إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
فَاذْكُرُوْا اللهَ العَظِيْم يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِيْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ, أَقِيْمُوْا الصَّلَا
Editor: Soleh


