IBTimes.ID – Kampus masa depan tidak hanya berbicara tentang teknologi, kualitas akademik, dan fasilitas modern. Lebih dari itu, kampus juga dituntut menjadi ruang yang mampu mempertemukan manusia dari berbagai latar belakang. Kehadiran seorang biarawati di Unisa Yogyakarta menjadi salah satu potret bagaimana pendidikan tinggi dapat tumbuh bersama nilai keterbukaan dan keberagaman.
Sebastiana Bwarleling, biarawati Katolik asal Kepulauan Tanimbar, Maluku, memilih melanjutkan pendidikan di Program Studi D3 Radiologi Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta pada tahun akademik 2026/2027.
Sebagai anggota Kongregasi Suster-Suster Dina Santo Yoseph (DSY) Manado, Sebastiana datang ke Yogyakarta dengan sebuah misi. Ia dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan di Rumah Sakit Dharma Ibu Ternate, Maluku Utara.
Pilihan biarawati di Unisa Yogyakarta tersebut tidak sekadar didasarkan pada kebutuhan pendidikan. Sebastiana juga melihat Unisa sebagai ruang akademik yang memberikan kesempatan bagi siapa pun untuk berkembang.
“Saya memilih kuliah di Unisa Yogyakarta karena pertama, di bidang pendidikan kesehatan itu unggul. Yang kedua, sarana prasarana yang sangat memadai. Karena mengambil jurusan radiologi, dan sebelum itu saya sudah mencari tempat di Jogja dan Unisa Yogyakarta punya fasilitas yang sangat memadai untuk mengembangkan minat dan bakat,” ujar Sebastiana.
Ketika Perbedaan Menjadi Ruang Belajar
Kehadiran biarawati di Unisa Yogyakarta menarik perhatian karena Unisa merupakan perguruan tinggi yang berada di bawah naungan ‘Aisyiyah, organisasi perempuan Muhammadiyah. Namun, bagi Sebastiana, perbedaan agama bukanlah penghalang untuk belajar dan beradaptasi.
“Saya memilih Unisa Yogyakarta juga karena mempunyai iman yang lebih dan bertoleransi tinggi di tempat ini. Dan juga terbuka bagi siapa saja, terlebih khusus bagi saya seorang biarawati juga diterima dengan baik di tempat ini,” katanya.
Pengalaman bekerja di Ternate membuat Sebastiana terbiasa hidup dalam keberagaman. Bahkan, ia menyebut mayoritas karyawan di rumah sakit tempatnya bekerja beragama Islam.
“Kalau saya pribadi mau bersosialisasi sudah terbiasa. Di Ternate, kami punya mayoritas karyawannya masih dibilang 90 persen Islam. Jadi untuk mau beradaptasi atau mau bersosialisasi dengan yang lain saya sudah terbiasa,” ungkapnya.
Kisah biarawati di Unisa Yogyakarta ini menunjukkan bahwa toleransi tidak cukup hanya menjadi slogan. Toleransi harus hadir dalam pengalaman nyata, termasuk dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan pendidikan.
Menyiapkan Masa Depan dari Ruang yang Terbuka
Sebastiana mengambil radiologi bukan semata-mata atas pilihan pribadi. Pendidikan tersebut merupakan bagian dari kebutuhan kongregasi untuk mengembangkan Rumah Sakit Dharma Ibu Ternate.
“Memilih jurusan itu bukan pilihan saya, tetapi karena kebutuhan Kongregasi kami. Di rumah sakit kami diwajibkan untuk setiap unit itu harus dipegang oleh para suster. Di apoteker dan lain-lain sudah ada, tapi di radiologi belum ada,” jelasnya.
Setelah lulus, ia diharapkan kembali ke Ternate untuk mengembangkan layanan kesehatan. Dari Yogyakarta, perjalanan seorang biarawati di Unisa Yogyakarta akan berlanjut menjadi kontribusi nyata bagi masyarakat di Maluku Utara.
Kehadiran Sebastiana sekaligus memperlihatkan wajah pendidikan Indonesia yang terus bergerak ke depan. Di tengah perbedaan identitas, kampus dapat menjadi ruang perjumpaan, tempat ilmu pengetahuan dan kemanusiaan tumbuh bersama.
Bagi masa depan Indonesia, kisah biarawati di Unisa Yogyakarta mengingatkan bahwa keberagaman bukan hambatan untuk maju. Justru dari ruang yang terbuka, lahir generasi yang mampu bekerja melampaui sekat dan menghadirkan manfaat bagi sesama. (NS)


