back to top
Rabu, September 9, 2026

Resensi Buku: “Uzbekistan di Mata Indonesia”

Lihat Lainnya

Buku Uzbekistan di Mata Indonesia yang dieditori oleh Sudarnoto Abdul Hakim dan Yanuardi Syukur mengajak pembaca menyeberang ke jantung Asia Tengah—sebuah wilayah kaya sejarah yang kerap belum tersentuh arus globalisasi modern secara masif. Melalui pengantar editor, buku ini tidak hanya memotret Uzbekistan sebagai destinasi wisata religi, melainkan membuka lembaran mendalam mengenai relasi historis, kultural, dan keagamaan yang kuat antara Uzbekistan dan Indonesia.

Uzbekistan berdiri di atas persimpangan legendaris Jalur Sutra (The Great Silk Road) yang menghubungkan Tiongkok hingga Mediterania sejak abad ke-2 SM hingga abad ke-15 M. Kota-kota ikonis seperti Samarkand, Bukhara, dan Khiva menyimpan situs-situs bersejarah dunia yang memesona. Pengantar buku ini merinci bagaimana jalur tersebut bukan sekadar urat nadi perdagangan barang-barang berharga—seperti sutra dari Lembaga Fergana, batu lapis lazuli, hingga batu giok—tetapi juga menjadi ruang pertukaran besar pengetahuan, teknologi, budaya, dan diplomasi antarperadaban.

Selain lanskap sejarahnya, Uzbekistan digambarkan sebagai “Rumah Bagi Keajaiban” arsitektur dunia yang memadukan corak Timurid, Persia, hingga era Soviet. Keindahan geometri, ubin biru cemerlang, hingga tradisi kuliner khas seperti Plov, Shashlik, dan Samsa berpadu dengan kehangatan masyarakat lokal serta dinamika seni tradisinya (seperti tabuhan gendang Doyra dan tarian Khorezm), menjadikan negara ini magnet besar bagi pelancong global.

Bagian krusial dari buku ini menyoroti perjalanan Islam di Uzbekistan, di mana agama Islam dianut oleh mayoritas besar penduduknya. Peradaban Islam di kawasan ini melahirkan para raksasa keilmuan dunia, seperti Imam Bukhari—cendekiawan hadis yang karyanya menjadi rujukan paling otoritatif setelah Al-Qur’an—serta Imam Tirmidzi, Al-Khawarizmi, dan Abu Mansur Maturidi. Samarkand dan Bukhara juga mencatat sejarah cemerlang kemajuan sains, termasuk astronomi melalui Observatorium Ulugh Beg yang turut memengaruhi teori sains modern dunia.

Baca Juga:  Menyelami Jagat Cerita Jawa

Namun, sejarah Islam di Uzbekistan juga melalui jalan terjal. Di bawah kekuasaan Uni Soviet hingga masa pemerintahan Joseph Stalin, umat Islam mengalami tekanan berat, kebijakan Russification (perusakan identitas lokal), penutupan masjid, hingga deportasi massal. Walau demikian, masyarakat Muslim setempat tetap merawat tradisi keislaman mereka secara kultural dan gradual di tengah berbagai tekanan politik yang silih berganti pasca-kemerdekaan.

Salah satu sorotan paling menarik dan bernilai strategis dalam buku ini adalah ulasan mengenai “Diplomasi Makam Imam Bukhari”. Hubungan diplomatik kultural ini berakar sejak tahun 1956, ketika Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, menjadikan pencarian makam Imam Bukhari di Uzbekistan sebagai syarat utama sebelum ia bersedia memenuhi undangan kunjungan kenegaraan ke Uni Soviet.

Langkah visioner Bung Karno tersebut menjadi pintu pembuka hubungan batin yang erat antara umat Islam Indonesia dan Uzbekistan. Hubungan ini terus dirawat hingga era modern, yang puncaknya terekam dalam kunjungan penting delegasi Majelis Ulama Indonesia (MUI)—yang dipimpin oleh Sekretaris Jenderal MUI Dr. H. Amirsyah Tambunan dan Ketua MUI Hubungan Luar Negeri Prof. Dr. Sudarnoto Abdul Hakim bersama 52 delegasi lainnya pada 27 September hingga 4 Oktober 2023. Kunjungan ini bertujuan memperkuat kerja sama bilateral, mempererat silaturahim dengan lembaga Islam di sana (seperti International Islamic Academy of Uzbekistan), serta mengoptimalkan potensi wisata ziarah dan riset keilmuan Islam internasional.

Baca Juga:  Mozaik Keteladanan: Mengenal Dekat Buya Syafii Maarif Lewat Karya Erik Tauvani

Uzbekistan di Mata Indonesia merupakan bacaan wajib bagi akademisi, pencinta sejarah, maupun masyarakat umum yang ingin memahami lebih dekat ikatan historis-spiritual antara Indonesia dan Asia Tengah. Buku ini berhasil merajut kisah masa lalu Jalur Sutra, pergulatan politik Islam di bawah bayang-bayang Soviet, hingga babak baru diplomasi keagamaan kontemporer melalui tokoh-tokoh besar Islam yang makamnya kini menjadi simbol kebangkitan peradaban seraya mempererat persahabatan kedua negara.

Identitas Buku

  • Judul Buku: Uzbekistan di Mata Indonesia
  • Penulis/Editor: Sudarnoto Abdul Hakim & Yanuardi Syukur
  • Penerbit : PT. Literasi Cahaya Bangsa
  • Tempat Terbit : Yogyakarta
  • Cetakan : Agustus 2026
  • Jumlah Halaman : 254 halaman

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru