back to top
Senin, Oktober 5, 2026

Downgrade Gaya Hidup

Lihat Lainnya

IBTimes.ID – Istilah downgrade belakangan makin akrab di telinga warganet. Istilah ini dipakai buat menggambarkan keputusan seseorang untuk menurunkan standar hidup secara sadar. Ada yang menjual kendaraan pribadinya, ada pula yang kembali membiasakan diri membawa bekal dari rumah. Pilihan-pilihan ini ramai diambil saat harga bahan pokok terus merangkak naik, sementara penghasilan justru jalan di tempat.

Di media sosial dan grup-grup percakapan, unggahan semacam ini sering wara-wiri:

“Baru saja menjual sepeda motor ber-CC besar, ganti molis simpel yang lebih hemat.”

“Me-lego mobil satu-satunya buat modal usaha, nggak apa-apa yang penting halal.”

“Tunda kuliah dulu, daripada nambah utang.”

“Jual lensa kamera buat nutup kebutuhan sehari-hari. Ntar kalau ada kerjaan, sewa lensa dulu aja.”

Kalimat-kalimat itu ditulis apa adanya tanpa banyak polesan. Nggak ada filter warna pastel, nggak ada juga kata-kata mutiara titipan sponsor. Penulisnya cuma murni membagikan keputusan besar yang baru saja mereka ambil. Justru karena jujur dan tanpa jaim, unggahan-unggahan itu langsung dibanjiri respons positif dari orang-orang yang merasa berada di perahu yang sama.

Sebetulnya, fenomena downgrade bukanlah hal yang benar-benar baru. Mengencangkan ikat pinggang saat situasi sulit sudah sejak lama dilakukan oleh banyak keluarga di Indonesia. Bedanya, sekarang praktik itu dibicarakan secara lebih terbuka. Cerita yang dulu mungkin cuma disembunyikan rapat-rapat di ruang keluarga, kini tampil di ruang publik dan justru mendapat banyak dukungan.

Selama lebih dari satu dekade terakhir, media sosial kita dipenuhi oleh pameran pencapaian. Liburan ke luar negeri, barang-barang bermerek edisi terbatas, sampai ngopi di kafe mahal seolah jadi syarat wajib kalau mau diterima dalam pergaulan urban. Budaya flexing ini membentuk standar sukses yang serba visual dan sering kali jauh dari kenyataan dompet.

Lalu, platform seperti Threads hadir membawa angin segar. Ruang berbasis teks ini justru memberi tempat bagi cerita-cerita harian yang biasa saja. Seorang pekerja kantoran di Jakarta, misalnya, mengunggah foto kotak bekal sederhana berisi lauk rumahan. Siapa sangka, tanggapannya ramai banget. Banyak orang ikut ngaku kalau mereka melakukan hal yang sama atau lebih memilih makan di warteg terdekat.

Di utas lain, ada pemuda yang cerita soal keputusannya meninggalkan kendaraan pribadi. Ia kini mulai menikmati hari-harinya dengan menghafal rute dan jadwal transportasi umum. Cerita-cerita seperti ini mengalir begitu saja tanpa didramatisasi. Yang terlihat hanyalah potret kehidupan normal yang selama ini tertutup oleh gemerlap etalase kemewahan.

Gelombang downgrade ini tentu nggak lahir dari ruang kosong. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), porsi pengeluaran non-makanan pada tahun 2025 tercatat sebesar 50,58 persen, sedangkan makanan di angka 49,42 persen. Secara angka agregat, perbandingan ini memang relatif stabil sejak 2019. Tapi, kalau dilihat lebih jeli, isi keranjang belanja masyarakat ternyata sudah bergeser.

Baca Juga:  Luar Biasa! Pengabdian UMY Perkuat Desain Digital Capaian SDGs Lazismu

Porsi pengeluaran untuk perumahan dan fasilitas rumah tangga turun menjadi 25,41 persen pada tahun 2025, lebih rendah 1,33 poin persen dibanding tahun 2022. Pengeluaran untuk pesta dan upacara adat juga menyusut jadi 1,74 persen. Masyarakat tampak lebih cerdas mengalihkan uangnya ke pos-pos kebutuhan yang jauh lebih mendesak.

Sinyal pengetatan ini makin jelas tahun ini. Indeks penjualan eceran yang dirilis Bank Indonesia pada Agustus lalu berada di level 224,6, atau cuma tumbuh tipis 0,45 persen secara tahunan (year-on-year). Penjualan bahan bakar, pakaian, dan perlengkapan rumah tangga pun ikut melemah karena orang mulai menahan diri untuk berbelanja.

Kelas menengah juga ikut merasakan tekanan yang sama. Penjualan properti tipe menengah anjlok hingga 10,51 persen, sementara penjualan mobil dalam dua belas bulan terakhir terkontraksi 8,87 persen. Barang-barang berharga besar mulai ditunda pembeliannya. Data ini klop banget dengan maraknya cerita orang-orang yang terpaksa menjual mobil atau motor ber-CC besar.

Kemampuan menabung masyarakat juga ikut melemah. Proporsi pendapatan yang disisihkan untuk ditabung turun ke angka 15,8 persen pada Agustus lalu, padahal di paruh pertama tahun ini angkanya masih kisaran 17,4 persen.

Mau nggak mau, sebagian orang akhirnya terpaksa bersandar pada utang jangka pendek. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penyaluran layanan paylater melonjak hingga 54,7 persen secara tahunan pada Juli lalu, dengan rasio kredit macet yang ikut naik ke level 3,03 persen.

Bahkan, Kredit Pemilikan Rumah (KPR) mencatat rasio kredit macet tertinggi, yakni di angka 3,26 persen. Kelompok kelas menengah menjadi yang paling rentan di tengah kondisi suku bunga tinggi saat ini. Dalam situasi seperti ini, memangkas gaya hidup jelas jauh lebih masuk akal ketimbang gali lubang tutup lubang dengan utang baru.

Lebih dari seabad lalu, seorang ekonom bernama Thorstein Veblen memperkenalkan istilah conspicuous consumption alias konsumsi mencolok. Menurutnya, orang sering membeli barang mewah semata-mata buat menunjukkan status sosial. Kehadiran media sosial membuat praktik ini makin merajalela karena “etalase pamer” kini bisa dilihat oleh jutaan pasang mata sekaligus.

Nah, fenomena downgrade ini bisa kita baca sebagai bentuk perlawanan diam-diam terhadap logika Veblen. Ketika simbol-simbol status itu sudah nggak lagi terjangkau, sebagian orang memilih untuk berhenti ikut perlombaan yang melelahkan. Mereka dengan senang hati menukar gengsi demi rasa lega. Yang dipamerkan sekarang justru keberanian untuk hidup sesuai kapasitas diri sendiri.

Dari sudut pandang lain, teori pendapatan relatif yang digagas James Duesenberry menjelaskan adanya ratchet effect (efek roda gigi). Pola konsumsi manusia itu gampang banget naik pas pendapatan bertambah, tapi susahnya minta ampun waktu pendapatan turun. Orang cenderung maksain bertahan di gaya hidup lama, meskipun ujung-ujungnya harus berutang.

Di sinilah letak menariknya fenomena downgrade. Tren ini sukses mematahkan efek roda gigi tersebut. Orang-orang secara sadar menurunkan standar konsumsinya tanpa harus menunggu sampai bangkrut total. Menjual lensa kamera atau menunda kuliah adalah cara realistis buat mengerem sebelum terjebak utang yang makin dalam.

Baca Juga:  Perbedaan Perayaan Tahun Baru Islam dan Tahun Baru Jawa 2026

Sementara itu, Leon Festinger lewat teori perbandingan sosial bilang kalau manusia punya kecenderungan menilai diri sendiri dengan cara membandingkan dengan orang lain. Masalahnya, media sosial bikin perbandingan itu makin kebablasan karena kita terus-menerus disuguhi potret orang yang tampak lebih sukses dan bahagia. Akibatnya, hidup sendiri jadi terasa selalu kurang.

Riset yang dilakukan oleh Yolanda Jaya, Monique Elizabeth Sukamto, dan Made Ayudhyastiti Savita Putri (2025) juga menunjukkan hal serupa. Dari studi terhadap 369 responden berusia 18–25 tahun di Indonesia, ditemukan bahwa FOMO (fear of missing out) punya peran besar dalam meningkatkan kelelahan bermedia sosial. Kebiasaan membandingkan penampilan dengan figur yang dianggap lebih menarik menjadi jembatan utama dari kelelahan mental itu.

Meskipun penelitian tersebut nggak secara khusus membahas downgrade, temuan mereka sangat membantu menjelaskan kenapa unggahan-unggahan sederhana di media sosial justru terasa begitu melegakan. Pembaca yang selama ini lelah “melihat ke atas” akhirnya menemukan cermin yang sejajar: mereka melihat ada banyak orang lain di luar sana yang juga sedang berhemat tapi tetap bisa tersenyum menjalani hari.

Hukum Engel pun turut andil menjelaskan situasi ini. Ernst Engel pernah bilang bahwa semakin rendah pendapatan riil sebuah rumah tangga, semakin besar pula porsi uang yang habis buat kebutuhan dasar. Otomatis, saat harga bahan pokok naik, ruang untuk belanja gaya hidup bakal menyempit dengan sendirinya. Jadi, downgrade pada dasarnya hanyalah bentuk penyesuaian yang logis terhadap hitungan ekonomi yang paling mendasar.

Konsep voluntary simplicity (kesederhanaan sukarela) sering kali dikaitkan dengan tren ini. Apollo Demirel (2022) sempat menganalisis 5.336 unggahan dan komentar dari komunitas Facebook yang tertarik pada gaya hidup minimalis. Ia menemukan bahwa keputusan membatasi konsumsi ini erat kaitannya dengan dimensi personal, perilaku, serta lingkungan sosial seseorang.

Kendati demikian, kita perlu jujur membedakan keduanya. Kesederhanaan sukarela murni lahir dari nilai hidup dan pilihan yang sadar. Di sisi lain, orang yang terpaksa menjual motor demi menyambung hidup sedang berada dalam fase bertahan (survival). Hasil akhirnya mungkin sama—sama mengurangi konsumsi, tetapi titik berangkatnya jelas jauh berbeda.

Menariknya, kedua pengalaman yang berbeda ini bertemu di satu ruang digital yang sama. Mereka yang memang memilih hidup sederhana dan mereka yang terpaksa berhemat saling bertukar cerita dan menguatkan. Pertemuan ini akhirnya melahirkan cara pandang baru tentang arti kata “cukup”. Sukses nggak lagi melulu diukur dari seberapa banyak barang yang kita miliki.

Aspek paling kuat dari tren downgrade ini adalah memudarnya rasa malu. Menjaga citra agar selalu terlihat sukses ternyata butuh energi mental yang luar biasa besar. Begitu seseorang berani jujur dan mengakui keterbatasannya, yang muncul justru rasa lega yang mendalam. Hebatnya lagi, alih-alih dicibir, mereka malah mendapat banyak dukungan.

Baca Juga:  500 Orang Meninggal, 10 Ribu Ditahan, Apa yang Terjadi dengan Demonstrasi Iran?

Kolom komentar berubah menjadi ruang aman untuk saling menguatkan. Tanggapan-tanggapan sederhana seperti “aku juga ngalamin hal yang sama” memberi validasi bahwa kesulitan ekonomi bukanlah aib yang harus disembunyikan. Rasa terasing yang kerap menghantui warga kota besar pun perlahan luntur, karena orang-orang jadi sadar bahwa mereka tidak sendirian menghadapi situasi berat ini.

Rasa sepenanggungan ini menjadi penopang psikologis yang sangat berharga. Warganet bisa saling memahami tanpa perlu saling merasa dikasihani. Dukungan semacam inilah yang membantu orang-orang tetap waras dan bisa berpikir jernih saat harus mengambil keputusan finansial yang krusial.

Meskipun begitu, harus diakui kalau downgrade bukanlah obat mujarab untuk menyelesaikan semua persoalan. Lonjakan harga pangan, mahalnya biaya pendidikan, sektor perumahan, hingga ketidakpastian lapangan kerja tentu membutuhkan solusi makro yang jauh lebih luas. Rumah tangga memang bisa mengencangkan ikat pinggang, tapi tetap ada batas maksimal seberapa kencang ikat pinggang itu bisa ditarik.

Perlu diingat, konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 51 hingga 53 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Kalau jutaan keluarga serentak mengerem belanjaannya, roda ekonomi secara otomatis bakal ikut melambat. Ekonom John Maynard Keynes menyebut fenomena ini sebagai paradox of thrift, di mana tindakan berhemat memang bijak buat individu, tapi bisa berdampak buruk bagi perekonomian secara keseluruhan.

Sebagai respons, pemerintah berencana menggelontorkan tambahan stimulus sekitar Rp 20 triliun hingga akhir 2026. Dana ini difokuskan untuk menjaga stabilitas harga pangan, memberikan insentif bagi sektor usaha yang terdampak, serta subsidi transportasi. Langkah ini melengkapi program perlindungan sosial rutin yang nilainya mencapai Rp 61 triliun.

Agar hasilnya optimal, stimulus tersebut tentu harus disalurkan secara terukur dan tepat sasaran. Bantuan jangka pendek saja tidak akan pernah cukup untuk mencabut akar masalah yang ada. Tanpa perbaikan kualitas lapangan kerja dan pengendalian harga kebutuhan pokok yang efektif, masyarakat akan terus-menerus terdorong melakukan downgrade bukan karena mau, melainkan karena tidak punya pilihan lain.

Anggapan bahwa hidup harus selalu naik kelas perlahan-lahan mulai runtuh. Realitanya, mobilitas sosial tidak selalu harus bergerak ke atas, dan itu sama sekali bukan sebuah aib. Berdamai dengan kapasitas diri adalah keputusan yang sangat logis sekaligus menyehatkan mental. Mengakui batas kemampuan bukanlah tanda kekalahan.

Fenomena downgrade gaya hidup ini mengajarkan kita satu pelajaran berharga: kebahagiaan ternyata tidak selalu sebanding lurus dengan jumlah barang yang kita miliki. Kalau keadaan memang sedang menuntut untuk mengerem, turunkan standar sejenak dan teruslah melangkah. Pikir yang tenang dan dada yang lapang sering kali menjadi modal terbaik untuk bisa bangkit kembali.

(Assalimi)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru