back to top
Senin, Oktober 12, 2026

Krisis Eksistensial dan Kehidupan Absurd Spiderman

Lihat Lainnya

Jericho Benaya Amadhika Hadadi
Jericho Benaya Amadhika Hadadi
Mahasiswa S1 Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia

Pernahkah anda merasa lelah dengan kehidupan yang terasa membosankan? Setiap hari kita bangun, bekerja, lalu pulang dengan perasaan hampa. Ketika membuka media sosial, kita melihat kehidupan orang lain yang kita idamkan, pekerjaan stabil, prestasi pendidikan dan kenyamanan hidup. Sementara kita, hanya menjalani kehidupan yang terasa membelenggu dengan tuntutan tanpa akhir. Tuntutan tanpa akhir dan beban ekspektasi ini semakin lama semakin menumpuk hingga dapat memicu burnout dan pertanyaan eksistensial, “Apa kita benar-benar bebas di kehidupan ini?” Hal ini tercermin dengan baik di film Spider-Man 2 (2004) yang memotret kehidupan Peter Parker yang berkutat tuntutan sosial dan beban ekspektasi pahlawan super.

Jean-Paul Sartre – Eksistensialis Prancis – mengatakan seseorang lahir ke dunia, baru setelah itu menentukan dirinya. Menurut Sartre, manusia adalah makhluk aktif yang terus mencari makna hidupnya. Manusia tidak memiliki konsep takdir dan tidak terikat dengan blueprint yang memberikan mereka essence sejak lahir. Namun, kebebasan ini juga diikuti dengan beban tanggung jawab radikal yang tidak bisa disingkirkan, hal ini berarti semua hal yang terjadi di hidup kita, entah kesuksesan atau kegagalan adalah murni tanggung jawab kita sebagai manusia dan tidak ada yang bisa disalahkan kecuali diri kita sendiri.

Hal inilah yang dirasakan oleh Peter Parker di film Spider-Man 2. Peter merupakan seorang mahasiswa yang memiliki kemampuan super untuk menjadi pahlawan Kota New York. Setiap harinya dia bangun dengan dua tanggung jawab berbeda. Ketika dia berfokus menjadi Spiderman dan memberantas kejahatan, kehidupannya sebagai Peter Parker hancur. Dia dipecat dari pekerjaannya, tunggakan uang sewa apartemen hingga hubungan asmaranya dengan MJ yang semakin rentan.

Baca Juga:  "Berani Mati" sebagai Resolusi Tahun Baru 2025!

Peter menghadapi tekanan dengan bersembunyi dibalik nasehat Paman Ben, “With great power comes great responsibbility.” Peter Parker membohongi diri sendiri dengan menganggap ini adalah takdir yang harus ditempuh sebagai Spiderman. Menurut Sartre, perilaku ini disebut Bad Faith. Dimana seseorang menyalahkan hal lain ketika menghadapi kegagalan. Peter menyangkal dirinya, padahal setiap kali dia menjadi Spiderman, itu adalah kebebasan yang dia ambil.

Tekanan dari kehidupan Peter Parker terus bertambah, hingga hal ini membuatnya mengalami kecemasan eksistensial – angst yang membuat Peter Parker kehilangan kekuatannya sehingga dia berhenti menjadi Spiderman. Kehidupan normal yang ditempuh Peter Parker terlihat bahagia, dia kembali mengikuti perkuliahan, membantu Bibi May hingga memperbaiki ubungannya dengan Mary Jane. Namun, hal ini juga merupakan Bad Faith. Peter Parker sekali lagi menyangkal diri sendiri dengan anggapan dia sudah tidak memiliki kekuatan untuk menjadi Spiderman.

Titik balik kehidupan Peter Parker adalah ketika dia melihat adanya kebakaran dengan orang-orang yang masih terjebak di dalam. Melihat hal itu, Peter menerjang masuk ke dalam bangunan, tanpa kostum Spiderman. Meskipun ia gagal untuk menyelamatkan semua orang, di titik inilah Peter tersadar, bahwa Peter Parker dan Spiderman adalah satu orang yang sama. Ditambah wejangan dari Bibi May yang mengatakan bahwa, dalam diri setiap manusia pasti ada sisi kepahlawanan dan terkadang itu perlu pengorbanan.

Baca Juga:  QS al-Baqarah Ayat 256: Tak Ada Paksaan dalam Beragama

Peter Parker akhirnya menerima absurditas hidupnya sebagai 100% Peter Parker dan 100% Spiderman. Hal ini merupakan perwujudan sempurna dari Absurdisme Albert Camus yang mengatakan, absurdisme adalah bentrokan manusia yang mencari makna kehidupan dengan alam semesta yang tetap diam. Peter berusaha mencari makna hidupnya dengan menjadi Spiderman sepenuhnya atau Peter Parker sepenuhnya. Namun, alam semesta tidak menjawab, hanya membiarkan Peter berkutat dengan diri sendiri.

Hingga pada saat akhir film, dimana Spiderman kehilangan topeng – yang menyembunyikan identitasnya selama ini – hilang, Peter tetap mengambil resiko itu. Menahan kereta yang melaju cepat tanpa rem berisi penumpang, Peter terus-menerus menembakkan jaring dan menggunakan badannya sendiri untuk menahan kereta tersebut agar tidak jatuh. Bahkan ketika Peter membahayakan dirinya sendiri untuk menyelamatkan orang lain, Peter tetap tidak mengalami pencapaian drastis yang mengubah kondisi terpuruknya.

Hal ini dijelaskan oleh Albert Camus dari buku berjudul “The Myth of Sisyphus”, Camus memberikan gambaran Sisyphus yang mendorong batu ke puncak hanya untuk mengulang dari awal. Albert Camus tidak menekankan pada apa yang berhasil diraih oleh Sisyphus, melainkan bagaimana Sisyphus akhirnya menerima kehidupannya yang absurd dan bahagia karena itu sebagaimana dengan kutipan ikonik “One must imagine Sisyphus happy.”

Peter menerima dualitas dalam dirinya sendiri, menjadi 100% Spiderman dan 100% Peter Parker yang tidak menjamin kenyamanan hidup signifikan untuk kehidupannya. Tetapi, Peter berhasil menerima dan pada akhirnya tersenyum sembari menjalani kehidupannya sebagai mahasiswa normal dan pahlawan super yang otentik dan absurd. Digambarkan dengan Spiderman yang kembali mengayun di tengah Kota New York, Spiderman memilih untuk tetap mendorong batunya dan tersenyum menjalaninya.

Baca Juga:  Hutan, Bencana, dan Pesan Langit: Sebuah Refleksi Ekologis

Editor: Ikrima

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru