back to top
Jumat, Oktober 16, 2026

Apakah Siddharta Gautama Termasuk “Utusan yang Tak Diceritakan” Dalam Al-Qur’an?

Lihat Lainnya

Pernahkah kita membayangkan bahwa Siddhartha Gautama, tokoh yang dikenal sebagai Sang Buddha, mungkin saja pernah menerima petunjuk Allah? Bagi sebagian umat Islam, pertanyaan ini bisa terdengar ganjil. Bagaimana mungkin seorang tokoh dari India kuno, yang kemudian menjadi pusat tradisi Buddhisme, dikaitkan dengan konsep kenabian dalam Islam?

Pertanyaan ini menarik, bukan karena kita harus membuktikan bahwa Buddha seorang nabi saja. Melainkan karena Al-Qur’an sendiri menyatakan bahwa, tidak semua rasul diceritakan kepada Nabi Muhammad.

Dalam Q.S Ghafir ayat 78, Allah menyatakan bahwa sebagian rasul terdahulu diceritakan kisahnya kepada Nabi Muhammad, sedangkan sebagian lainnya tidak. Q.S An-Nahl ayat 36 juga menyatakan bahwa. Allah telah mengutus seorang rasul kepada setiap umat, untuk menyerukan pengabdian kepada-Nya dan menjauhi tagut.

Ayat-ayat tersebut memberikan landasan bagi pemahaman. Bahwa sejarah kenabian lebih luas daripada kisah para nabi yang disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an. Namun, apakah itu berarti kita boleh serta-merta menetapkan tokoh agama dari bangsa lain sebagai nabi? Tidak sesederhana itu.

Siddhartha Gautama diperkirakan hidup sekitar abad kelima sebelum Masehi. Kronologi kehidupannya masih menjadi bahan pembahasan para sarjana. Dalam tradisi Buddhis, ia meninggalkan kehidupan duniawi, untuk mencari jalan pembebasan dari penderitaan. Setelah mencapai pencerahan, ia dikenal sebagai Buddha, yang secara umum berarti “Yang Tercerahkan”.

Ajaran Buddhis membahas penderitaan, kefanaan, keinginan, karma, meditasi, dan pembebasan. Sejumlah nilai moral yang diasosiasikan dengan tradisi tersebut, seperti pengendalian diri dan perlawanan terhadap sifat serakah. Punya titik temu dengan etika Islam.

Baca Juga:  Cara Unik Ustaz Hanan Attaki Ajak Santrinya Menjaga Alam

Akan tetapi, kesamaan nilai moral itu tidak otomatis membuktikan kesamaan sumber wahyu. Seorang guru spiritual dapat saja mengajarkan kebijaksanaan, tanpa harus berstatus nabi dalam pengertian Islam. Persoalannya bukan semata-mata apakah Buddha mengajarkan kebaikan. Melainkan apakah terdapat dasar yang dapat dipercaya, yang menyatakan bahwa ia diutus sebagai nabi oleh Allah SWT.

Satu hipotesis menarik adalah hubungan antara Siddhartha Gautama dan Dzul Kifl, tokoh yang disebutkan dalam Q.S Al-Anbiya ayat 85 dan Q.S Sad ayat 48.

Al-Qur’an menyebut Dzul Kifl sebagai salah satu tokoh yang dikenal karena kesabaran dan keteguhannya. Tetapi tidak memberikan kisah panjang mengenai identitas dan asal-usulnya. Dari keterbatasan informasi itu muncul dugaan yang menghubungkan nama Kifl dengan Kapila atau Kapilavastu, wilayah yang berkaitan dengan kehidupan Siddhartha Gautama. Namun, kedekatan bunyi dua nama yang berbeda, tentu saja tak dengan sendirinya membuktikan bahwa, keduanya merujuk pada orang maupun tempat yang sama.

Gagasan ini memiliki jejak dalam literatur tafsir Indonesia. Dalam Tafsir Al-Azhar, ketika membahas Q.S Al-Anbiya ayat 85 dan Q.S Sad ayat 48, Hamka mencatat pendapat yang menghubungkan Dzul Kifl dengan Buddha Gautama dari Kapilavastu. Hamka menisbatkan pendapat tersebut kepada Syaikh Ahmad Surkati, dengan menyebut keterangan yang disampaikan melalui muridnya, Umar Hubaish dari Surabaya.

Catatan Hamka ini penting. Ia menunjukkan bahwa gagasan Buddha sebagai Dzul Kifl bukan sekadar cerita tanpa jejak tertulis. Tapi kita perlu membedakan keterangan Hamka dari tulisan asli Surkati. Selama sumber primer Surkati belum ditemukan, kita sebaiknya menyebutnya sebagai pendapat yang dinisbatkan kepada Surkati oleh Hamka, bukan sebagai kesimpulan yang telah terbukti.

Baca Juga:  Merosotnya Rupiah Membuka Luka Ekonomi Rakyat

Penelitian Iva Fauziah, “Kenabian Siddharta Gautama dalam Al-Qur’an Menurut Penafsiran Al-Qasimi”. Yang terbit dalam NALAR: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam pada 2018, juga menunjukkan pentingnya membaca pendapat para mufasir secara cermat. Pembahasan Jamaluddin al-Qasimi mengenai Q.S At-Tin tidak dapat begitu saja disamakan dengan klaim bahwa Buddha pasti merupakan Dzul Kifl.

Ada pula dugaan yang menghubungkan Q.S At-Tin dengan Buddha melalui pohon Bodhi, tempat Buddha dalam tradisi Buddhis dikisahkan mencapai pencerahan. Pohon Bodhi dikenal secara ilmiah sebagai Ficus Religiosa, salah satu jenis pohon dalam kelompok ara.

Tapi kesamaan botanis tidak membuktikan bahwa penyebutan tin dalam Al-Qur’an merujuk pada Buddha. Dalam Tafsir Al-Azhar, Juz XXX, Hamka membahas penafsiran yang menghubungkan buah tin dengan pohon Bodhi dan menyampaikan keberatan terhadap pengaitan tersebut.

Di sini kita perlu membedakan antara pembacaan simbolis dan maksud ayat yang dapat dipastikan. Al-Qur’an tidak secara eksplisit menyatakan bahwa pohon tin adalah lambang Buddha.

Nama Abul Kalam Azad juga sering muncul dalam diskusi mengenai hubungan Islam dengan agama-agama India. Dalam kajian Syeda Saiyidain Hameed tentang Tarjuman al-Qur’an, Azad dibahas sebagai pemikir yang memberikan perhatian kepada beragam tradisi keagamaan. Akan tetapi, pembahasan Azad mengenai Buddhisme tidak otomatis membuktikan bahwa, ia menetapkan Siddhartha Gautama sebagai Dzul Kifl. Atribusi semacam ini memerlukan pemeriksaan terhadap teks asli, bukan sekadar pengulangan dari pendapat sekunder.

Baca Juga:  Jangan Biarkan Dakwah di Atas Mimbar Melahirkan Kejumudan

Lantas, apakah Siddhartha Gautama seorang nabi? Kita tidak mempunyai dasar yang cukup untuk memastikannya. Al-Qur’an tidak menyebut namanya sebagai nabi, sedangkan hipotesis yang menghubungkannya dengan Dzul Kifl, belum terbukti sebagai hasil identifikasi yang dapat dipastikan.

Akan tetapi, ketidakpastian itu tidak berarti bahwa seorang Muslim harus menolak kemungkinan, bahwa masyarakat India kuno pernah menerima petunjuk Tuhan. Al-Qur’an sendiri mengingatkan bahwa tidak semua rasul diceritakan kepada Nabi Muhammad.

Kita hanya perlu membedakan antara keyakinan bahwa Allah mengutus para rasul kepada umat manusia, dan penetapan seorang tokoh sejarah tertentu sebagai salah seorang rasul. Pembedaan ini bukanlah relativisme. Kita tidak harus mengatakan bahwa semua agama sama, atau bahwa semua tokoh spiritual pasti nabi. Kita hanya perlu mengakui batas pengetahuan kita.

Kita tidak perlu mengisi setiap ruang kosong dalam sejarah dengan jawaban yang dipaksakan. Kita boleh teguh pada keyakinan sendiri tanpa berpura-pura mengetahui, segala sesuatu tentang Tuhan. Dan tentu saja, kita tetap dapat menghormati tokoh spiritual agama lain, tanpa harus menetapkannya sebagai nabi. Itulah pelajaran terpenting dari misteri para utusan yang tak diceritakan Al-Qur’an. Yakni, kerendahan hati untuk mengakui bahwa pengetahuan manusia sangatlah terbatas, bahkan ketika ia sedang membicarakan perkara yang paling diyakininya.

Editor: Anas Nashuha

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru