back to top
Senin, Oktober 19, 2026

Adab sebelum Algoritma: Menjaga Tradisi Keilmuan Pesantren di Era AI

Lihat Lainnya

Krisna Wahyu Yanuarizki
Krisna Wahyu Yanuarizki
Mahasiswa UIN Sayyid Ali Rahmatullah TulungagungMahasiswa UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Algoritma telah menjadi pola pikir dalam kehidupan bersosial. Ketika prompt menggantikan petunjuk akan wahyu. Maka di sinilah AI menyentuh ruang terdalam manusia yakni bagaimana manusia berpikir, memahami, mengingat, bahkan apa yang ada dalam benak kalian jika pesantren-pesantren mengajarkan tentang penggunaan AI tersebut?

Bagi para santri, perubahan ini jadi lebih rumit karena tradisi belajar di pesantren tidak hanya berdasarkan teks saja. Tetapi juga melalui hubungan antara teks, guru, murid, adab, dan sanad. Pengetahuan tidak hanya diantarkan dari satu alat ke alat lain, dari prompt ke prompt lain tetapi dilestarikan melalui rantai kecerdasan dan nilai.

Tetapi, patut kita deteksi dan pahami teknologi adalah hasil karya pengetahuan manusia akan budayanya. AI merupakan bentuk lahir dari akumulasi pengetahuan, bahasa, data, logika, dan kebudayaan manusia yang kemudian diterjemahkan ke dalam sistem komputasional. Kita patut curiga adanya AI sebagai bentuk jawaban manusia atau sebagai bentuk krisis identitas manusia itu sendiri. Pertanyaan itu penting karena semakin maju teknologi dalam memberi jawaban, semakin besar kemungkinan manusia melepaskan sebagian proses berpikirnya kepada mesin.

Ketika manusia mulai terbiasa bertanya kepada algoritma sebelum bertanya kepada diri sendiri. Muncul pertanyaan tentang ilmu pengetahuan: apakah teknologi masih berperan sebagai alat yang membantu manusia berpikir. Atau mulai berperan sebagai pihak utama yang mengarahkan cara manusia memahami dunia nyata?

Pesantren di antara Tradisi, Etika dan Modernitas

Maka daripada itu tradisi pesantren memiliki peran yang sangat penting. Tradisi keilmuan di pesantren sebenarnya tidak hanya mengajarkan hal-hal yang perlu diketahui. Tetapi juga menjelaskan cara mendapatkan pengetahuan, sumber dari mana pengetahuan itu berasal, bagaimana cara memeriksa kebenarannya. Serta bagaimana ilmu tersebut memengaruhi tingkah laku seseorang. Dimensi ini yang membedakan antara pengetahuan sebagai informasi dengan ilmu sebagai proses pembentukan manusia.

Baca Juga:  Piala Dunia Sebagai Arena Identitas, Nasionalisme, dan Geopolitik

Sanad bisa dipakai untuk melihat perbedaannya dengan jelas. Dalam tradisi hadis, sanad adalah rantai periwayat yang menghubungkan seseorang dengan sumber pertama sebuah riwayat. Abdullah bin al-Mubarak, ulama besar abad kedua hijriah. Dikutip Imam Muslim dengan ucapan yang intinya menyebut sanad sebagai bagian dari agama tanpa sanad.
Siapa pun bisa berkata sesuka hatinya. Pesantren membawa semangat yang sama keluar dari ilmu hadis. Seorang kyai mengajarkan kitab yang ia terima dari gurunya, sang guru menerimanya dari gurunya lagi, dan silsilah itu kerap bermuara di Haramain, Mekah dan Madinah, tempat ulama Nusantara abad ke-17 dan ke-18 menimba ilmu dan membangun jaringan antar ulama.

Satu hal lagi ikut berpindah bersama sanad, yaitu tanggung jawab. Guru yang menyampaikan sebuah kitab menanggung ucapannya; kalau ia keliru membaca, murid bisa bertanya ulang dan guru bisa meluruskan. Hubungan dua arah itu membuat belajar di pesantren berjalan lambat, kadang melelahkan, tetapi setiap langkahnya meninggalkan jejak yang bisa ditelusuri. Kecepatan mesin menghapus jejak itu. Jawaban muncul dalam hitungan detik, dan santri yang menerimanya tak tahu siapa yang harus ditanyai bila jawaban tersebut meragukan. Bahkan seringkali AI itu mengalami halusinasi akan jawabanya sendiri.

Jawaban Tanpa Sanad

Jawaban sebuah model bahasa datang dengan cara yang berbeda sekali. Tak ada nama guru di belakangnya, tak ada kitab yang bisa dibuka untuk mencocokkan, dan tak ada orang yang dapat dimintai pertanggungjawaban bila isinya keliru. Bender dan kawan-kawan menjuluki model bahasa berukuran besar sebagai “stochastic parrots”, sebab sistem itu menyusun rangkaian kata berdasarkan pola statistik dari data latihnya tanpa merujuk pada makna.Hasilnya bisa fasih dan terdengar yakin untuk diberikan, padahal tidak seorang pun menjamin kebenarannya. Santri yang terbiasa bertanya “dari siapa?” sebelum bertanya “apa isinya?” punya bekal yang pas untuk menghadapi masalah  seperti itu.

Baca Juga:  Pentingkah Sanad Keilmuan dalam Islam?

Kekhawatiran soal melepas proses berpikir juga punya landasan empiris, walau tidak berasal dari penelitian tentang AI. Pada tahun 2011 Sparrow, Liu, dan Wegner melaporkan serangkaian eksperimen yang menunjukkan bahwa orang yang tahu sebuah informasi bisa dicari lagi nanti cenderung kurang mengingat isinya, dan lebih mengingat letak penyimpanannya. Carr, dari arah lain, berargumen bahwa kebiasaan membaca di internet melemahkan kemampuan berkonsentrasi dan membaca mendalam. Keduanya menulis sebelum AI generatif dipakai luas, jadi kita hanya bisa menarik analogi. Analogi itu tetap mengusik. Santri yang hafal bait-bait Alfiyah Ibnu Malik, sekitar seribu bait, tahu betul bahwa hafalan membentuk cara berpikir; menitipkannya pada mesin berarti menukar sesuatu yang mahal. Yakni ingatan dengan jawaban yang belun tentu benar.

Masalahnya mesin tidak pernah lelah dan hampir tidak pernah menolak dan itu kembali lagi pada kita yang menggunakan prompt. Guru yang baik sering menjawab pertanyaan dengan menyuruh muridnya membuka kitab sekali lagi, dan sikap itu sendiri sudah menjadi pelajaran. Model bahasa menjawab dengan kalimat rapi pada jam berapa pun. Kemudahan itu menyenangkan sekaligus berisiko: santri belajar bahwa setiap pertanyaan punya jawaban instan, padahal tradisi keilmuan yang ia warisi mengajarkan sebaliknya, bahwa sebagian pertanyaan harus dibawa berhari-hari, dibaca ulang, dan ditanggung dulu sebelum terjawab.

Adab sebelum Algoritma

Al-Zarnuji, penulis Ta’lim al-Muta’allim yang dikaji luas di pesantren, menempatkan penghormatan kepada ilmu dan ahlinya sebagai syarat agar ilmu diperoleh dan bermanfaat. Al-Attas memberi kerangka teoretis untuk gagasan itu yakni pendidikan dalam Islam ia pahami sebagai ta’dib, penanaman adab, sehingga sasarannya manusia yang baik, bukan sekadar manusia yang banyak tahu. Dengan ukuran tersebut, pertanyaan tentang AI berganti arah pembahasan. Yang perlu diuji bukan seberapa cepat mesin menjawab, melainkan seperti apa pemakainya setelah bertahun-tahun belajar ditemani mesin itu dan dimaknai kembali.

Baca Juga:  Sunnah Ghairu Tasyri’iyyah: Sunah Nabi yang Tak Harus Ditiru

Di pesantren, ilmu yang dianggap berhasil tidak selalu yang paling banyak dihafal, melainkan yang membuat pemiliknya rendah hati dan mengamalkan ilmunya untuk masyarakat. Santri menyebutnya barakah, dan ukurannya sulit dirumuskan lewat cara apa pun, termasuk skor ujian. Mesin memang bisa merangkum satu bab atau menerjemahkan sebaris teks Arab, dan itu berguna bagi yang baru belajar. Namun mesin tidak duduk bersimpuh di depan kyai, tidak ikut menyapu halaman asrama, tidak menanggung malu ketika salah membaca kitab di depan teman-temannya. Sebagian pembentukan diri terjadi lewat hal-hal kecil semacam itu, dan tidak ada prompt yang sanggup menggantikannya.

Lalu apa yang bisa dilakukan pesantren? Mengharamkan AI sepenuhnya?, tampaknya tidak realistis, sebab teknologinya sudah ada di ponsel banyak orang. Menyerahkan dapur belajar kepada mesin juga keliru. Jalan tengahnya dimulai dari memperlakukan keluaran AI seperti kabar yang belum jelas periwayatnya. Diperiksa dulu ke kitab dan ke guru sebelum dipegang, sebagaimana ulama hadis menyaring riwayat sebelum menerimanya. Sorogan, tempat santri membaca kitab sendiri di hadapan kyai, dan bandongan. Tempat kyai membacakan dan santri menyimak, semestinya tetap menjadi inti, dan AI baru masuk sesudah santri membaca teksnya sendiri. Batas pemakaian ditentukan oleh adab yang diajarkan kyai, bukan oleh fitur aplikasi.

Santri bersarung adalah analogi jika seorang santri memiliki batasan dan verifikasi checking terhadap informasi dunia modern. Ia tidak kehilangan apa pun dengan memegang AI, selama satu tangannya masih memegang kitab dan telinganya masih mendengarkan gurunya. Dan ilmunya menjadi perilakunya, sekian.

Editor: Anas Nashuha

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru