back to top
Sabtu, April 18, 2026

Sanad dalam Hadis, Sistem Ilmiah yang Tak Dimiliki Peradaban Lain

Lihat Lainnya

IBTimes.ID – Sanad atau rantai periwayatan menjadi elemen kunci dalam menjaga keaslian hadis Nabi Muhammad Saw sebagai sumber hukum Islam kedua setelah Al-Qur’an. Melalui sistem sanad, setiap riwayat dapat ditelusuri asal-usulnya secara ilmiah sehingga ajaran yang diamalkan umat memiliki dasar yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhamad Rofiq Muzakkir, menegaskan bahwa tanpa hadis, banyak aspek ajaran Islam tidak dapat dijalankan secara utuh. Hal itu disampaikannya dalam pengajian yang digelar di Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Garut, Kamis (16/04).

Ia menjelaskan bahwa hadis tidak sekadar pelengkap Al-Qur’an, tetapi juga berfungsi sebagai penjelas terhadap ayat-ayat yang masih bersifat global. Praktik ibadah seperti salat, zakat, dan haji tidak bisa dipahami secara rinci tanpa merujuk pada hadis Nabi.

“Tanpa hadis, banyak kewajiban agama tidak mungkin dilaksanakan secara benar,” ujarnya.

Namun, menurutnya, pentingnya hadis juga berbanding lurus dengan tanggung jawab besar dalam memastikan keasliannya. Mengamalkan sesuatu yang keliru sebagai sunnah sama berbahayanya dengan meninggalkan ajaran yang benar.

Kritik Hadis sebagai Proses Ilmiah, Bukan Penolakan

Dalam konteks tersebut, Rofiq memperkenalkan konsep kritik hadis atau Naqd al-Hadits, yang merupakan metode ilmiah untuk menyeleksi dan memverifikasi riwayat hadis. Ia menegaskan bahwa kritik hadis bukanlah bentuk penolakan, melainkan upaya menjaga kemurnian ajaran Nabi.

Baca Juga:  Apakah Muhammadiyah Anti-Tasawuf?

Ia mengibaratkan proses ini seperti seorang ahli emas yang meneliti kadar kemurnian logam. Dengan pendekatan tersebut, hadis yang beredar dapat diuji secara ketat sebelum dijadikan dasar amalan.

Lebih jauh, ia menekankan pentingnya sanad atau rantai periwayatan sebagai pilar utama dalam memastikan validitas hadis. Ia mengutip pernyataan ulama hadis terkemuka, Abdullah ibn al-Mubarak:

الإِسْنَادُ مِنَ الدِّيْنِ، وَلَوْلاَ الإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ
“Sanad adalah bagian dari agama. Seandainya tidak ada sanad, niscaya siapa pun bisa mengatakan apa pun yang ia kehendaki.”

Menurutnya, pernyataan tersebut mencerminkan realitas historis bahwa pemalsuan hadis pernah terjadi dengan berbagai motif. Tanpa sistem sanad, klaim terhadap sabda Nabi akan sulit diverifikasi.

Ia juga menyoroti keunggulan tradisi keilmuan Islam yang telah mengembangkan metode verifikasi yang sangat ketat. Para ulama hadis tidak hanya mengumpulkan riwayat, tetapi juga meneliti kredibilitas perawi secara rinci melalui disiplin ilmu rijal.

Dalam penjelasannya, ia membandingkan sistem sanad dengan tradisi kitab suci lain. Ia menyebut bahwa Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tidak memiliki sistem rantai periwayatan yang terverifikasi secara detail seperti dalam hadis.

“Tidak ada rantai perawi bersambung yang bisa memastikan setiap perkataan itu benar-benar berasal dari nabi yang bersangkutan,” ungkapnya.

Rofiq menegaskan bahwa sistem sanad merupakan pencapaian metodologis penting dalam peradaban Islam. Sistem ini lahir dari kesadaran untuk menjaga kemurnian ajaran Nabi sekaligus memastikan setiap ajaran yang diamalkan memiliki dasar ilmiah yang kuat.

Baca Juga:  Jadwal Imsak Muhammadiyah 1447 H

Pengajian ini menjadi pengingat bahwa memahami hadis tidak cukup hanya pada teks, tetapi juga pada proses panjang verifikasi yang melandasinya. (NS)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru