IBTimes.ID – Dampak perubahan iklim terhadap kesehatan masyarakat terus meningkat dengan laju yang lebih cepat dibandingkan satu dekade sebelumnya. Laporan terbaru Lancet Countdown menyerukan agar perubahan iklim ditetapkan sebagai darurat kesehatan global sehingga pemerintah di berbagai negara dapat memperkuat langkah penanganan untuk melindungi penduduk.
Laporan yang melibatkan 146 peneliti dari 71 institusi tersebut mengungkapkan bahwa dampak perubahan iklim terhadap kesehatan berkembang jauh lebih cepat daripada langkah pemerintah dalam mengatasi pemanasan global. Situasi ini terjadi hampir satu dekade setelah negara-negara menyepakati Perjanjian Paris.
Lancet Countdown merupakan salah satu kajian menyeluruh yang meneliti keterkaitan antara perubahan iklim dan kesehatan. Dalam laporan tersebut, para peneliti menemukan bahwa rata-rata tingkat kematian akibat paparan suhu panas meningkat hampir 36 persen dibandingkan dengan kondisi pada 2015, tahun ketika Perjanjian Paris disepakati.
Sepanjang 2023, suhu panas dikaitkan dengan sekitar 710 ribu kematian di berbagai belahan dunia. Lebih dari 70 persen dari jumlah tersebut berkaitan dengan peningkatan suhu akibat perubahan iklim yang dipicu oleh aktivitas manusia.
Ancaman lainnya ditunjukkan melalui semakin luasnya wilayah yang mengalami kekeringan. Selama sedikitnya satu bulan pada 2025, kekeringan tercatat melanda hampir 50 persen daratan di dunia. Sementara itu, perluasan kawasan yang menghadapi kekeringan ekstrem berlangsung dengan kecepatan lebih dari 700 persen dibandingkan rata-rata pada periode 2006-2015.
Pemanasan global juga berdampak terhadap persebaran penyakit, salah satunya demam berdarah, sekaligus memicu kerugian ekonomi dalam skala besar. Paparan suhu panas ekstrem sepanjang 2025 mengakibatkan hilangnya 573 miliar jam kerja secara global. Kondisi tersebut juga menyebabkan potensi pendapatan sebesar 1,07 triliun dolar AS tidak dapat diperoleh.
Kendati dampak perubahan iklim semakin mengkhawatirkan, laporan Lancet Countdown turut mengidentifikasi perkembangan positif dalam upaya penanganannya. Salah satunya terlihat dari investasi global di sektor energi bersih yang mencapai rekor tertinggi sebesar 2,1 triliun dolar AS pada 2025.
Selain itu, sejumlah negara berhasil menekan tingkat polusi udara yang bersumber dari pembakaran bahan bakar fosil. Peningkatan kualitas udara sebagai hasil dari upaya tersebut diperkirakan mampu menghindarkan sekitar 323 ribu orang dari kematian setiap tahunnya di 70 negara.
Namun, para penyusun laporan menegaskan bahwa berbagai capaian tersebut masih belum sebanding dengan besarnya dampak buruk perubahan iklim yang ditimbulkan oleh penggunaan bahan bakar fosil. Oleh karena itu, mereka meminta masyarakat internasional mengakui perubahan iklim sebagai darurat kesehatan global. Langkah ini diperlukan agar pertimbangan kesehatan menjadi bagian penting dalam perumusan kebijakan mitigasi, adaptasi, serta pembiayaan iklim.
“Perubahan iklim sudah merugikan kesehatan di seluruh kawasan di dunia, dan bukti menunjukkan dampaknya melaju semakin cepat,” kata salah satu peneliti yang terlibat dalam laporan tersebut, Diarmid Campbell-Lendrum, seperti dikutip dari Geographical.co.uk, Ahad (1/11/26).
Campbell-Lendrum menjelaskan bahwa hasil kajian tersebut memperlihatkan pentingnya aksi iklim sebagai salah satu bentuk intervensi di bidang kesehatan. Menurut dia, peralihan menuju energi yang lebih bersih, peningkatan kapasitas sistem kesehatan, serta penyediaan sistem peringatan dini berpotensi menyelamatkan kehidupan masyarakat saat ini.
“Saat negara-negara bersiap untuk COP31, menempatkan kesehatan sebagai pusat kebijakan iklim dapat membantu melindungi masyarakat, memperkuat ketahanan, dan memberikan manfaat langsung bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Peringatan dalam laporan Lancet Countdown tersebut sejalan dengan hasil penelitian terbaru Institut Penelitian Dampak Iklim Potsdam (PIK) yang menunjukkan bahwa pemanasan global mengalami percepatan. Berdasarkan penelitian itu, kecepatan kenaikan suhu bumi selama satu dekade terakhir telah melampaui rekor sebelumnya.
Tim peneliti PIK memperkirakan suhu bumi meningkat sekitar 0,35 derajat Celsius setiap dekade dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Laju tersebut hampir mencapai dua kali lipat dibandingkan rata-rata kenaikan suhu per dekade sepanjang periode 1970-2015.
Gambaran serupa juga disampaikan dalam publikasi terbaru Organisasi Meteorologi Dunia (WMO). Melalui Buletin Gas Rumah Kaca, WMO melaporkan bahwa konsentrasi karbon dioksida (CO2) serta beberapa gas rumah kaca utama lainnya di atmosfer mencapai tingkat tertinggi sepanjang sejarah pengamatan pada 2025. Kondisi ini semakin meningkatkan potensi pemanasan global dalam jangka panjang.
Dalam buletin tersebut, konsentrasi rata-rata CO2 di atmosfer secara global tercatat sebesar 426,8 bagian per juta (ppm) pada 2025. Jumlah itu mencapai 153 persen dibandingkan tingkat konsentrasi sebelum era industri pada 1750. Sementara itu, kadar metana dan dinitrogen oksida, yang merupakan dua gas rumah kaca berumur panjang dengan kontribusi signifikan setelah CO2 serta berkaitan dengan aktivitas manusia, juga mengalami peningkatan hingga mencetak rekor baru.
Wakil Sekretaris Jenderal WMO, Ko Barrett mengungkapkan bahwa konsentrasi gas rumah kaca yang terus meningkat membuat semakin banyak panas tertahan di atmosfer. Akibatnya, risiko terjadinya cuaca ekstrem beserta dampaknya terhadap kehidupan manusia juga semakin besar.
“Satu tahun berlalu, rekor baru pun tercipta. Gas-gas rumah kaca memerangkap panas dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya di atmosfer, yang menjadi sumber energi bagi cuaca yang lebih ekstrem serta menimbulkan risiko bagi perekonomian dan masyarakat kita,” ujarnya dikutip Republika.
Barrett menambahkan, 11 tahun terakhir merupakan periode dengan suhu terpanas yang pernah tercatat dan kecenderungan tersebut diperkirakan masih akan berlangsung. Dia menjelaskan bahwa CO2 dapat bertahan sangat lama di atmosfer sehingga pengaruhnya terhadap sistem iklim bumi tidak hanya dirasakan selama beberapa tahun, melainkan juga hingga puluhan bahkan ratusan tahun ke depan.
Buletin Gas Rumah Kaca diterbitkan WMO setiap tahun sebagai salah satu sumber informasi ilmiah bagi para perunding dalam konferensi perubahan iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Publikasi tersebut menyediakan landasan ilmiah yang diperlukan dalam proses perundingan dan penyusunan kebijakan untuk mengatasi perubahan iklim.
Berbagai temuan tersebut menjadi perhatian menjelang pelaksanaan Konferensi Perubahan Iklim PBB atau COP31 yang dijadwalkan berlangsung di Antalya, Turki, pada 9-20 November 2026. Konferensi tersebut diharapkan menjadi momentum bagi negara-negara untuk merealisasikan berbagai komitmen iklim melalui langkah konkret.
(MS)


