Pernahkah kamu berada di posisi saat berhasil meraih prestasi akademik. Mendapatkan nilai ujian yang memuaskan, atau menerima pujian dari guru dan teman-teman. Tetapi di dalam hati justru muncul perasaan cemas bahwa kamu tidak pantas mendapatkannya? Alih-alih bangga atas kerja keras yang telah kamu lalui. Keberhasilan tersebut malah kamu anggap sebagai sekadar keberuntungan semata, kebetulan, atau akibat kesalahan orang lain dalam menilai kemampuanmu.
Fenomena psikologis ini dikenal luas sebagai imposter syndrome. Yaitu kondisi ketika seseorang terus-menerus meragukan kompetensi dan kapasitas dirinya sendiri meskipun memiliki bukti nyata yang menunjukkan keberhasilannya. Seseorang yang terjebak dalam kondisi ini kerap merasa seolah-olah sedang menyamar sebagai orang yang pintar atau berbakat. Sembari dihantui rasa takut yang konstan bahwa suatu hari nanti orang-orang di sekitarnya akan menyadari bahwa ia sebenarnya tidak sehebat yang terlihat.
​Jika pada masa lalu fenomena ini lebih banyak dialami oleh orang dewasa di lingkungan kerja profesional yang penuh tekanan. Saat ini imposter syndrome telah menjelma menjadi masalah psikologis dan sosial yang marak melanda generasi muda serta remaja di dunia pendidikan.
Di era digital saat ini, kehidupan para pelajar bertautan erat dengan media sosial yang dibanjiri oleh sajian pencapaian terbaik atau highlight reel milik orang lain. Hal ini secara tidak langsung menciptakan tekanan psikologis berupa pembandingan sosial. Remaja dengan mudah membandingkan proses mereka yang masih penuh dengan keraguan, kegagalan, dan ketidakpastian dengan hasil akhir orang lain yang tampak sangat sempurna.
Ditambah lagi dengan persaingan pendidikan yang makin ketat, standar penilaian yang tinggi. Serta budaya instan yang menuntut hasil serba cepat, remaja masa kini dihadapkan pada ekspektasi berlebih yang kerap tidak realistis. Akibatnya, ketika seorang pelajar meraih sebuah pencapaian besar, bukan rasa tenang yang hadir. Melainkan kecemasan baru bahwa prestasi itu hanyalah hoki yang tidak akan mampu ia ulangi di masa depan.
​Untuk memahami secara mendalam mengapa fenomena ini begitu melekat pada psikologis remaja modern. Kita dapat meninjaunya secara reflektif melalui dua sudut pandang filosofis yang saling melengkapi. Dari sudut pandang filsafat eksistensialisme, Jean-Paul Sartre memperkenalkan sebuah konsep yaitu bad faith atau mauvaise foi. Sebuah istilah yang menggambarkan bentuk penipuan terhadap diri sendiri.
Sartre menjelaskan bahwa manusia sering kali berusaha menghindari kenyataan mengenai potensi serta tanggung jawab atas dirinya. Dengan cara bersembunyi di balik alasan atau gambaran tertentu yang terasa lebih aman. Dalam konteks kehidupan pelajar, bad faith bekerja ketika seorang remaja yang sebenarnya telah belajar dengan tekun dan berhasil meraih nilai tinggi justru secara aktif menolak mengakui kapasitas dirinya. Tanpa disadari, remaja tersebut merasa lebih nyaman memelihara label lama sebagai “anak yang biasa-biasa saja” daripada harus berani menerima kenyataan bahwa ia memang memiliki potensi nyata serta kompetensi yang patut diakui.
​Persoalan ini menjadi makin jelas jika kita menautkannya dengan teori epistemologi koherentisme. Yang menelaah bagaimana suatu keyakinan diuji dan dipertahankan dalam struktur berpikir manusia. Dalam pandangan koherentisme, sebuah keyakinan tidak dinilai secara berdiri sendiri. Melainkan berdasarkan sejauh mana keyakinan tersebut selaras dengan jaringan keyakinan lain yang sudah lebih dulu tertanam di dalam pikiran seseorang.
Bagi seorang remaja yang sejak awal telah menanamkan anggapan dasar bahwa dirinya tidak cukup pintar. Struktur pikirannya akan bekerja secara defensif dalam menyaring setiap informasi baru. Ketika ia mengalami kegagalan atau mendapat nilai buruk, pikiran akan serta-merta mencatatnya sebagai bukti pembenar yang makin memperkuat keyakinan lamanya.
Sebaliknya, ketika ia meraih piala, penghargaan, atau nilai sempurna. Pikiran akan menganggap keberhasilan tersebut sebagai sebuah anomali atau faktor keberuntungan dari luar yang harus dikesampingkan. Akibatnya, seberapa banyak pun bukti pencapaian objektif yang berhasil dikumpulkan. Piala dan angka di atas kertas tidak akan pernah cukup untuk mengubah sudut pandangnya. Sebab pikiran akan terus mencari alasan untuk menepis bukti baru tersebut demi menjaga keselarasan dengan persepsi keraguan lamanya.
​Pertemuan antara konsep bad faith dan teori koherentisme ini memperlihatkan sebuah gambaran yang utuh mengenai dinamika internal imposter syndrome. Seseorang tidak hanya sekadar meragukan kemabilitiesnya, melainkan juga aktif menafsirkan setiap pengalaman hidupnya melalui lensa keraguan tersebut. Keberhasilan selalu diposisikan sebagai kebetulan yang tidak berarti. Sementara kegagalan sekecil apa pun dipandang sebagai bukti mutlak yang menentukan siapa dirinya. Namun demikian, penting untuk diingat bahwa imposter syndrome yang dialami oleh para pelajar saat ini bukanlah murni kesalahan individu semata.
Perasaan ragu yang berkepanjangan ini juga merupakan respons alamiah terhadap lingkungan pendidikan yang sering kali terlalu menitikberatkan pada hasil akhir ketimbang proses belajar. Minimnya ruang untuk melakukan kesalahan, serta kurangnya sistem pendukung emosional yang intuitif bagi remaja. Oleh sebab itu, fenomena ini perlu dipahami sebagai dampak dari interaksi antara dinamika cara berpikir personal dengan beban kultur sosial modern yang sedang melingkupi generasi muda.
​Pada akhirnya, keberadaan imposter syndrome mengundang kita untuk merenungkan kembali arti penting dari penerimaan diri secara utuh dan jujur di tengah gempuran tuntutan zaman. Mengakui kompetensi dan keberhasilan diri sendiri bukanlah sebuah bentuk kesombongan. Melainkan sebuah bentuk objektivitas rasional atas usaha, waktu, dan kerja keras yang telah diinvestasikan. Berdamai dengan diri sendiri berarti bersedia menilai diri secara lebih seimbang: menerima setiap kekurangan dan kegagalan tanpa menjadikannya sebagai satu-satunya penentu harga diri. Sekaligus menghargai setiap prestasi dan kemajuan yang dicapai tanpa selalu melabelinya sebagai faktor kebetulan.
Sebagai langkah awal untuk memutus rantai keraguan ini. Cobalah untuk sejenak berhenti membandingkan dirimu dengan pencapaian orang lain dan mulailah berani mengajukan satu pertanyaan reflektif kepada dirimu sendiri. Apakah aku benar-benar tidak mampu dan tidak berbakat. Ataukah aku hanya sudah terlalu lama memelihara standar usang serta bayangan negatif tentang diriku yang sebenarnya sudah tidak lagi relevan dengan kenyataan hari ini?
Editor: Anas Nashuha


