Bagi banyak orang, kumpul keluarga di hari-hari besar bukan hanya soal makanan dan foto bersama. Di sela bersalaman, tiba-tiba tante dan om melempar pertanyaan bertubi-tubi: kerja di mana, gajinya berapa, kapan beli rumah, sudah punya pacar belum, kapan nikah? Terdengar ringan, tetapi jawabannya terasa seperti ujian hidup. Di usia 20-an, kita merasa tertinggal oleh sesuatu yang sebenarnya belum ditentukan siapa pun. Teman-teman sebaya sudah naik jabatan atau bertunangan, sementara kita masih sibuk membuka laman lowongan kerja, menutupnya, lalu membukanya lagi.
Kegelisahan ini disebut quarter-life crisis, dan para peneliti menyebutnya krisis awal masa dewasa. Dari wawancara dengan 50 orang, Robinson, Wright, dan Smith (2013) menemukan bahwa krisis ini dialami pada rentang usia 25 hingga 35 tahun, dan bermula dari komitmen di pekerjaan atau di rumah yang sudah dijalani tetapi tidak lagi diinginkan.
Filsafat melihat bahwa kecemasan itu mungkin bukan tanda ada yang rusak dalam diri kita, melainkan tanda bahwa untuk pertama kalinya kita sungguh-sungguh bebas. Tulisan ini membacanya lewat dua pemikir eksistensialis: Jean-Paul Sartre dan Søren Kierkegaard.
Gagasan paling terkenal Sartre adalah bahwa eksistensi mendahului esensi. Dalam ceramahnya Existentialism Is a Humanism, ia memulai dengan pisau pemotong kertas: benda itu dibuat oleh pengrajin yang sudah tahu fungsinya, sehingga hakikatnya ada sebelum bendanya ada. Manusia tidak begitu. “Manusia pertama-tama ada, menjumpai dirinya, muncul di dunia, dan baru sesudahnya mendefinisikan dirinya”, dan ia “tidak lain adalah apa yang ia buat dari dirinya sendiri”.
Bagi generasi yang sejak kecil ditanya “cita-citamu apa?”, ini membebaskan sekaligus menakutkan. Tidak ada rancangan tersembunyi tentang siapa kita seharusnya. Padahal pertanyaan para tante tadi diam-diam mengandaikan sebaliknya, seolah ada urutan baku (kerja, rumah, pasangan) yang harus sudah kita lewati. Sartre menyebut manusia sebagai proyek, “sesuatu yang mendorong dirinya menuju masa depan dan sadar bahwa ia sedang melakukannya”.
Mengapa tuntutan datang dari orangtua, teman, dan diri sendiri? Karena kebebasan tanpa cetak biru terasa berat, sehingga orang mengisinya dengan ukuran yang sudah ada. Orangtua cemas sekaligus sayang melihat anaknya melangkah tanpa peta hidup yang baku, teman menjadi cermin pembanding, dan harapan mereka kita serap hingga dikira keinginan sendiri.
Di sinilah kecemasan muncul. Sartre memakai istilah anguish untuk perasaan saat seseorang sadar bahwa ketika memilih, ia tidak hanya menentukan dirinya, tetapi seolah menunjukkan bagaimana manusia seharusnya hidup. Pada momen itu, tulisnya, seseorang “tidak dapat melepaskan diri dari rasa tanggung jawab yang penuh dan mendalam”.
Sartre menutup pintu dalih lewat frasa terkenalnya: manusia “dikutuk untuk bebas”, dikutuk “karena ia tidak menciptakan dirinya sendiri, namun tetap bebas, dan sejak dilemparkan ke dunia ia bertanggung jawab atas segala yang ia lakukan”. Kita ditinggalkan sendirian, tulisnya, “tanpa dalih”.
Kutukan itu bukan hukuman, melainkan tanda bahwa kebebasan tidak bisa ditolak: menunda pun tetap memilih. Kebebasan yang tak terhindarkan melahirkan tanggung jawab yang tak terhindarkan, dan kecemasan adalah cara batin merasakan beban itu. Maka kecemasan eksistensial adalah hal yang lumrah.
Karena itu, kecemasan ini tidak perlu dihindari. “Ia bukan tirai yang memisahkan kita dari tindakan,” kata Sartre, “melainkan syarat bagi tindakan itu sendiri”.
Kierkegaard menggali pengalaman batin ini dalam The Concept of Anxiety. Ia menulis bahwa “kecemasan adalah pusing kebebasan”. Gambarannya: “Ia yang matanya kebetulan menatap ke jurang yang menganga menjadi pusing. Tetapi apa sebabnya? Sebabnya sama besar pada matanya sendiri seperti pada jurang itu, sebab andai ia tidak menengok ke bawah”.
Dalam bahasa sehari-hari, inilah pusing memilih. Ia muncul karena paradoks pilihan: semakin banyak yang terbuka, semakin tampak bahwa setiap pilihan punya dua sisi, ada baiknya dan ada buruknya. Kota baru menjanjikan peluang, tetapi menuntut kita meninggalkan yang akrab. Pusing itu lahir dari kebebasan kita sendiri, bukan semata dari banyaknya opsi.
Bagi Kierkegaard, pusing ini bukan sekadar penderitaan. “Kecemasan adalah kemungkinan kebebasan,” tulisnya, dan hanya kecemasan semacam itu yang, melalui iman, bersifat mendidik secara mutlak.
Kecemasan itu wajar, tetapi banyak dari kita berusaha memadamkannya. Sartre menyebut dua cara umum yakni mencari tanda dari luar dan menyamarkan kecemasan itu sendiri. Interogasi ala tante di acara keluarga adalah contoh akrab cara pertama. Jawaban “sudah” atau “belum” kita jadikan tolak ukur siap pakai, sehingga kita tinggal mencocokkan diri tanpa sungguh memilih. Mereka yang tampak tenang, menurutnya, “hanya menyamarkan kecemasan mereka atau sedang lari darinya”.
Sartre mencontohkan seorang muridnya yang bimbang antara pergi ke Inggris untuk bergabung dengan Pasukan Prancis Merdeka dan membalas kematian kakaknya, atau tetap merawat ibunya yang berduka. Ia meminta nasihat, padahal sudah tahu jawaban apa yang akan ia terima. Jawaban Sartre singkat: “Kamu bebas, maka pilihlah, artinya, ciptakanlah”. Sebab, “tidak ada aturan moral umum yang dapat menunjukkan apa yang seharusnya kamu lakukan”, dan tetap diri kitalah yang menafsirkan setiap tanda.
Di titik ini keduanya berpisah. Sartre, seorang eksistensialis ateis, menolak adanya nilai yang sudah tertulis di langit. Kierkegaard, seorang Kristen, percaya bahwa komitmen sejati dijalani di hadapan Tuhan. Kita tidak harus memilih salah satu keyakinan itu. Pelajaran yang mereka bagi adalah bahwa pusing memilih tidak diobati dengan menghapus pilihan, melainkan dengan berani memilih sambil sadar bahwa pilihan itu milik kita.
Quarter-life crisis terasa menakutkan karena kita memang berdiri di depan sesuatu yang besar: hidup yang belum ditulis. Sartre menunjukkan bahwa tidak ada cetak biru yang bisa dijadikan alasan, sedangkan Kierkegaard menjelaskan mengapa menatap kemungkinan sebanyak itu membuat kita pusing. Keduanya mengajak kita membaca kecemasan sebagai tanda bahwa kita sedang bebas, bukan gagal.
Maka pertanyaan yang lebih berguna mungkin bukan “bagaimana supaya tidak cemas?”, melainkan “pilihan mana yang bersedia saya pikul?”. Di kumpul keluarga berikutnya, ketika pertanyaan itu datang lagi, kita tidak wajib punya jawaban yang memuaskan semua orang. Cukup jawaban yang jujur, dan keberanian untuk terus menulis hidup kita sendiri.
Editor: Anas Nashuha


