Abdul Fattah Santoso: Eksistensi, Model, dan Mutu Pesantren Muhammadiyah

 Abdul Fattah Santoso: Eksistensi, Model, dan Mutu Pesantren Muhammadiyah

IBTimes.ID – Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyelenggarakan Seminar pra-Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Universitas Muhammadiyah Semaran (UNIMUS). Acara bertempat di Aula Lt. 7 Gedung Fakultas Kedokteran itu mengusung tema “Pengembangan Pesantren Muhammadiyah Berkemajuan” digelar pada Sabtu, (14/03/2020). Tak tanggung-tanggung, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M. Si. juga memberikan pidato kunci pada acara tersebut.

Adalah Abdul Fattah Santoso, menjadi salah satu pembicara panel dalam seminar tersebut. Sebagai Perintis Pondok Hj. Nuriyah Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta, Ketua Divisi Masalah Sosial dan Keluarga Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, serta Wakil Ketua PWM Jawa Tengah, ia diamanahi untuk menyampaikan materi yang berjudul “Eksistensi, Mutu, dan Model-model Pesantren Muhammadiyah”.

Sejak awal penyampaian materi, Fattah sudah memberikan satu disclaimer di hadapan para hadirin, bahwa Narasumber yang ideal berbicara tentang pesantren Muhammadiyah (TrenMU) ialah mereka yang benar-benar mengenal dan mempunyai pengalaman berkecimpung dalam dunia TrenMU. Tiga hal yang dijelaskan dalam seminar tersebut, yaitu; (1) Bagaimana eksistensi TrenMU?, (2) Bagaimana Mutu TrenMU?, dan (3) Apa model-model Trenmu?

Fattah: Bagaimana Eksistensi TrenMu?

“Salah satu pengertian eksistensi itu adalah sesuatu yang amat vital pada sesuatu/seseorang/lembaga yang menentukan kehidupannya, baik di tengah habitat dan masyarakatnya maupun di mata Allah. Maka eksistensi pesantren itu adalah; amal (karya)nya yang mencakup gagasan, perbuatan, dan karya” ujar Fattah sembari menyebutkan Q.S. al-Mulk (67): 2 dan Q.S. al-Taubah (9): 105 untuk memperkuat argumennya.

Baginya, eksistensi pesantren itu hanya mencakup gagasan dan karya. Sementara perbuatan, dibahas tersendiri terkait dengan mutu. Fattah yakin bahwa Ahmad Dahlan-lah awal peletak gagasan TrenMu ini. “Bahasan tentang gagasan dimulai dari gagasan K.H. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, sampai gagasan Agus Purwanto. Sedangkan, bahasan tentang karya itu dibatasi pada produk nyata pendirian pesantren sebagai hasil gagasan”, tandas Fattah tegas.

Baca Juga  Aries Mufti: Desa Punya Tanah dan Uang, Tapi Manajemennya Buruk

Ustad Fattah, dengan kapasitasnya sebagai seseorang yang telah lama bergelut di ranah pesantren, secara fasih memaparkan graduasi perkembangan TrenMu dari masa ke masa.

“Pendirian TrenMu itu dimulai dari gagasan KH Ahmad Dahlan untuk memperbaharui model pendidikan pesanten dengan model madrasah, yakni, kurikulumnya memuat pendidikan agama Islam ditambah dengan kurikulum mata pelajaran umum.  Gagasan-nya diwujudkan dengan mendirikan Pondok Muhammadiyah bernama Qismul Arqa’ (1918), yang kemudian berubah nama menjadi Pondok Muhammadiyah (1921), lalu Kweekschool Muhammadijah (1923), dan akhirnya Madrasah Muallimin Muhammadiyah (1932). Pemisahan putra-putri melahirkan Kweekschool Isteri(1927) yang lalu berubah nama menjadi Madrasah Muallimat Muhammadiyah (1932)” papar Fattah di depan para hadirin yang menyimak secara antusias.

***

Ustad Fattah mencatat bahwa, sampai dasawarsa 1970-an, gagasan TrenMu Ahmad Dahlan hanya mewujud dalam 7 Trenmu pelopor, mereka ialah; 1. Madrasah Muallimin, Yogyakarta (1918/1932), 2. Madrasah Muallimat, Yogyakarta (1918/1932), 3. Pesantren Muhammadiyah Karang Asem Lamongan, Jawa Timur (1948), 4. Pesantren Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan, Sipirok Sumatera Utara (1962), 5. Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM), Yogyakarta (1968), 6. Pesantren Muhammadiyah Gombara, Sulawesi Selatan (1971), dan 7. Pesantren Muhammadiyah Darul Arqam,  Garut, Jawa Barat (1976).

Hasil analisa Ustad Fattah selama ini bahwa ketujuh TrenMu di atas, membawa perubahan sosial dan  internal Muhammadiyah.

“Selama tiga dasawarsa (1980-an, 1990-an, 2000-an), ketujuh TrenMu pelopor itu disertai dengan perubahan sosial yang terjadi (seperti tumbuhnya kelas menengah Muslim) dan perubahan internal warga Muhammadiyah (seperti kesadaran akan pentingnya perkaderan ulama vis a vis kelangkaan ulama di tengah perubahan sosial yang cepat), telah menggerakkan pertumbuhan TrenMu” kata Fattah.

Catatan Fattah berikutnya berisi tentang fakta berkembang pesatnya TrenMu-TrenMu yang ada di Indonesia. Dalam catatan itu tertulis bahwa sampai tahun 2010, telah ada 70 TrenMu, naik 10 kali lipat atau rata-rata 2,1 TrenMu per tahun. Sampai 2015, telah ada 120 TrenMu. Selama 5 tahun naik 50 TrenMu, sehingga rata-rata per tahun 10 TrenMu. Dan lebih spektakuler lagi, berdasarkan catatan Fattah, sampai Agustus 2019 telah ada 324 TrenMu. Sehingga selama 4 tahun terakhir ada kenaikan 204 TrenMu atau rata-rata 51 TrenMu per tahun. Kenaikan kuantitatif ini tentu dengan beragam model. Terlihat wajah-wajah riang gembira dan optimistis dari para hadirin yang menyimak catatan Fattah.

Baca Juga  Seriusi Respon Bencana Internasional, MDMC Adakan Lokakarya EMT
***

Ternyata nomenklatur TrenMu tidaklah homogenic. Terdapat beberapa variasi nomenklatur TrenMu sebagai buah dari keanekaragaman gagasan di internal Muhammadiyah itu sendiri.

“TrenMu yang memperbarui sistem pesantren dengan model madrasah pada tahun 1918 itu, disebut Madrasah Muallimin/Muallimat sebagai nomenklatur lembaganya.  Dan menurut saya, ini dominan di lingkup Pondok Pesantren Modern Muhammadiyah atau Pesantren Muhammadiyah.  Selanjutnya, pada dasawarsa 2010-an,   ada TrenMu yang memperbarui sistem sekolah/madrasah dengan model pesantren. Nomenklaturnya dinamai Muhammadiyah Boarding School (MBS). Yang terakhir, pada ada TrenMU TrenMu Takhassus yang menyelenggarakan pendidikan tertentu di bidang perkaderan dan keagamaan guna menghasilkan ulama di bidang itu melalui kolaborasi antara pendidikan pesantren dan sistem pembelajaran perguruan menengah atau perguruan tinggi” terang Fattah panjang lebar.

Dari pemaparan-pemaparan materi tersebut, Fattah menyimpulkan bahwa TrenMu itu ternyata lahir dari gagasan dengan aneka ragam tujuan. Tidak hanya berhenti pada gagasan, namun diwujudkan dengan pendirian  kelembagaannya. Secara kuantitatif, lanjut Fattah dalam keterangannya, sepuluh tahun terakhir statistik menunjukkan perkembangan eksistensi yang signifikan. Yaitu setiap lima tahun, terjadi pertumbuhan kelipatan lima, dari 2,1 (2010) ke 10 (2015), dan ke 51 (2019).

Dari sekian banyak kuantitas TrenMu di atas, sudahkah memiliki mutu yang baik?

Mutu TrenMu

Fattah mengatakan bahwa salah satu instrumen untuk mengetahui mutu TrenMu adalah akreditasi. Namun, menurut Fattah, sejauh ini belum ada akreditasi pesantren. Fattah menilai bahwa akses ke data akreditas sekolah/madrasah dalam TrenMU, masih belum diperoleh.

“Walau begitu, karena gagasan TrenMu lahir atas dorongan pembaruan sistem pesantren dengan model sekolah/madrasah dan pembaruan sistem sekolah/madrasah dengan model pesantren, maka sekolah/madrasah dalam TrenMu dapat mengikuti akreditasi sebagai salah satu instrumen mengukur mutu TrenMu. Namun, belum diperoleh akses ke data akreditasi sekolah/madrasah dalam TrenMu” ujarnya.

Baca Juga  Anjar Nugroho: Pendidikan Holistik itu Membebaskan dan Menyenangkan

Yang bisa diperoleh adalah upaya sadar pengelola TrenMu untuk secara swadaya meningkatkan mutu TrenMu di bawah koordinasi Lembaga Pengembangan Pesantren Muhammadi-yah (LP2M) PP Muhammadiyah, begitulah komen Fattah atas ketidakterjangkauan akses ke data tersebut.

Lalu bagaimana TrenMU bisa lebih bermutu? Di sini, Fattah memiliki solusinya. Yaitu kerapian pengelolaan komponen sistem TrenMU , harus tuk segera ditindak lanjuti.

“Dalam Rakornas TrenMu IV di UMS, 29-30/08/2020, dapat diketahui upaya sadar penuh antusiasme dan kesungguhan untuk meningkatkan mutu TrenMu, terpantau dari banyaknya komisi yang membahas komponen dan persoalan penting dalam sistem TrenMu. Komisi I membahas buku ajar MTs/SMP,  komisi II: buku ajar MA/SMA/SMK, komisi III: kurikulum dan silabi MTs/SMP, komisi IV: kurikulum dan silabi MA/SMA/SMK. Adapun komisi V, membahas buku panduan PesantrenMu, komisi VI tentang budaya PesantrenMu, komisi VII fokus pada tatakelola PesantrenMu, komisi VIII urun rembug mengenai kaderisasi PesantrenMu, komisi IX tentang kesejahteraan pendidik dan tenaga kependidikan PesantrenMu, dan terakhir komisi X merumuskan rekomendasi  yang mencakup  kelembagaan, tatakelola dan kaderisasi” jelas Fattah panjang lebar.

Adapun Model-model TrenMu sebagaimana yang tertera dalam gambar di bawah ini.

Tantangan ke depan TrenMU

Pada bagian akhir sesi penyampaian materinya, Fattah memaparkan tantangan ke depan yang dihadapi oleh TrenMu. (1) Literasi Data: yaitu Kemampuan untuk membaca, analisis, dan menggunakan informasi (Big Data) di dunia digital. (2) Literasi Teknologi: yaitu Memahami cara kerja mesin, aplikasi teknologi (Coding, Artificial Intelligence,  Engineering Principles, & Biotech). (3) Literasi Manusia: yaitu Humanities, Komunikasi, & Desain.

Reporter: Yahya FR

IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis dan editor yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
Mandiri 137-00-5556665-3
A.n Litera Cahaya Bangsa

Avatar

RedaksiIB

https://ibtimes.id

IBTImes.ID - Beyond the Inspiration: Keislaman, Kemodernan, dan Keindonesiaan

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *