Al-Wala wal Bara’, Dapatkah Menjadi Doktrin yang Inklusif? - IBTimes.ID
Akidah

Al-Wala wal Bara’, Dapatkah Menjadi Doktrin yang Inklusif?

4 Mins read

Al-Wala’ wal Bara’

Ada beragam sikap yang digunakan oleh umat Islam ketika berhadapan dengan non-muslim. Beberapa dari mereka mengambil sikap yang bersahabat dan lebih lunak dan beberapa yang lain mengambil sikap yang cenderung keras.

Sikap yang lunak diwakili oleh kelompok Islam moderat dan sikap yang keras diambil oleh kelompok Islam ekstrem. Atau yang dalam bahasa Buya Syafi’i disebut sebagai penganut “teologi maut”.

Pada kelompok ekstrem ini, terkenal suatu doktrin yang mereka sebut sebagai doktrin al-wala’ wal bara’. Doktrin ini menjadi pegangan dan landasan bagi mereka untuk bersikap keras terhadap non-muslim. Pertanyaan selanjutnya, apakah itu al-wala’ wal bara’?

Pengertian Al-Wala’ wal Bara’

Diliat dari bentuk katanya, al-wala’ terdiri dari huruf waw, lam, dan yaa. Kata wala’ memiliki akar kata yang berasal dari kata kerja lampau wa-li-yah yang berarti kepada melindungi. Oleh karena itu bentuk kata benda dari wa-li-ya adalah wala’ atau wilayah (perlindungan).

Orang yang melindungi disebut wali, (jamaknya; awliya) atau mawla. Baik istilah wali maupun mawla bisa digunakan untuk orang yang memberikan perlindungan (pelindung) kepada orang yang menerimanya.     

Ibnu Faris dalam kamus bahasa Arabnya yang terkenal Mu’jam Maqayis Al-Lughah menyebutkan bahwa istilah wala’ merujuk pada sebuah kedekatan. Ia menandakan cinta, kesetiaan, dan perwalian. 

Namun hal itu bukanlah makna yang tunggal terhadap wala’. Wala’ memiliki beragam makna. Itu disebabkan oleh karakteristik bahasa Arab yang satu katanya boleh saja memiliki banyak arti. Selain itu makna suatu kata juga bergantung pada konteks dan situasi ia digunakan. Akan tetapi secara sederhana, di antara arti yang umumnya digunakan untuk mengartikan kata wala’ adalah kesetiaan, dukungan, perwalian dan persahabatan.

Baca Juga  Konsep Aliran Kepercayaan, dari Monoteisme hingga Ateisme

Adapun kata bara’, ia berasal dari kata kerja lampau ba-ra-a yang berarti “bebas dari sesuatu”. Seperi kata wala’, turunan dari kata bara’ dalam bahasa Arab membawa kita kepada berbagai arti seperti pemutusan, penciptaan, kebebasan, mengatasi, dan membersihkan. Inti dari semua makna itu adalah memutuskan hubungan dengan sesuatu atau seseorang.   

Di atas itu adalah makna secara bahasa. Dalam konteks Islam, khususnya di kalangan salafi, WB (baca: al-wala’ wal bara’) mengacu pada keyakinan, tindakan, dan perkataan yang berputar sekitar mendukung Tuhan, Rasul-Nya, dan orang-orang muslim, yaitu wala’, dan di sisi lain menjauhkan diri dari orang-orang yang menentang Tuhan dan Rasul-Nya. (Mohammed Ali, The Islamic Doctrine of Al-wala’ wal bara’ (Loyalty and Disavowal) in Modern Salafism, hal. 66-67).

Dalil-Dalil Teologis

Terdapat beberapa dalil yang biasa digunakan oleh mereka yang meyakini doktrin al-wala’ wal bara’. Di antaranya ialah:

“Sesungguhnya penolongmu hanyalah Allah, rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yaitu orang yang melaksanakan salat, menunaikan zakat, seraya tundak (kepada Allah). Dan barang siapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya, maka sungguh pengikut (agama) Allah itulah yang menang.” (QS. Al-Maidah [5]: 55-56) 

“Sungguh, telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya. Ketika mereka berkata pada kaumnya: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah. Kami mengingkari kekafiranmu dan telah nyata antara kami dan kamu ada permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (QS. Al-Mumtahanah [60]: 4)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpinmu; sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka sebagai pemimpin, maka sungguh orang itu termasuk golongan mereka. Sungguh Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Maidah [5]: 51)

Baca Juga  Saintifikasi Agama: Dari Debat Pemikiran Hingga Debat Pemahaman

Doktrin Al-Wala’ wal Bara’

Sebagaimana dijelaskan oleh Mohammed Abi, kalangan salafi berpandangan bahwa seorang muslim tidak akan sempurna keimanannya terhadap Tuhan kecuali mereka telah sampai kepada al-wala’ wal bara. Bagi mereka, doktrin ini adalah doktrin yang wajib bagi seluruh umat Islam. Sebab dengan doktrin inilah kualitas keimanan seseorang diukur dan ditentukan. Adapun yang menjadi doktrin utama dari WB adalah:

Pertama, doktrin WB adalah bagian dari dua kalimat syahadat. Artinya setiap muslim harus bebas dari semua sembahan selain Allah.

Kedua, sebagai bagian integral dari iman, WB diperlukan untuk kesempurnaannya.

Ketiga, WB adalah tindakan mencintai dan membenci demi Tuhan. Ia adalah ikatan iman yang paling kuat.

Keempat, seorang muslim perlu memiliki wala’ untuk saudara muslimnya, dan menyatakan bara’ kepada non-muslim.

Kelima, wala’ untuk sesama saudara muslim ditunjukkan dalam kasih dan membantu mereka terlepas dari siapa mereka, apa bahasanya dan dari mana asalnya. Bagi mereka, tidak ada ikatan darah, ras atau pun warisan yang lebih kuat dari kepercayaan.

Keenam, muslim harus membenci orang kafir dan meninggalkan cinta mereka untuk mereka.

Inti dari enam doktrin di atas adalah memberikan dukungan terhadap muslim dan memandang pihak non-muslim dengan penuh kebencian. Khususnya dalam kebencian terhadap non-muslim, kalangan salafi, menurut Mohammed Abi, memiliki cara yang berbeda-beda.

Ada yang sebatas menyatakan kebenciannya lewat pernyataan, dan yang paling ekstrem ialah menyatakan kebenciannya melalui tindakan seperti membunuh dan menyingkirkan non-muslim dari bumi.

Inilah yang berbahaya dari doktrin WB. Ia memperburuk dan membuat citra Islam menjadi jelek. Wajah Islam yang seharusnya damai, tenang dan bersahaja, dibuatnya menjadi sangar, menakutkan dan menyeramkan.   

Baca Juga  Inti Agama adalah Laailaahaillallah, Titik!

Menjadi Doktrin yang Inklusif?

Kembali pada pertanyaan awal, apakah doktrin WB yang sangat ekslusif ini bisa menjadi doktrin yang inklusif? Jawabannya adalah bisa. Bagaimana caranya agar doktrin WB menjadi inklusif? Mula-mula kita harus menata (merekonstruksi) dan menyusun definisi kembali. Kita tidak lagi menjadikan WB sebagai dorongan untuk sekedar mencintai muslim saja dan membenci non-muslim dengan sangat keras, apalagi sampai membunuhnya.

Sebab, seperti yang kita ketahui, semua manusia adalah ciptaan Allah. Karenanya ia harus dicintai dan dikasihi. Membunuhnya sama artinya dengan membunuh ciptaan Allah. Apalagi dalam hadis-hadis, melalui sejarah hidup Rasulullah, kita tidak pernah melihat Rasul membenci dan bahkan sampai membunuh non-muslim. Sebaliknya, kita selalu melihat Rasul bersahabat dan mampu bergaul secara baik dengan non-muslim.

Oleh karenanya, yang perlu kita revisi dari doktrin WB adalah objek dari wala’ dan bara’. Wala’ tidak lagi kita artikan sebagai dukungan terhadap orang muslim saja, melainkan dukungan terhadap kemanusiaan.

Siapa saja yang memperjuangkan kemanusiaan, maka sebagai muslim kita harus memiliki sikap wala’ (dukungan dan perlindungan) terhadapnya. Begitupun dengan bara’. Ia tidak lagi diartikan sebagai membebaskan diri dari non-muslim. Melainkan membebaskan diri terhadap segala bentuk penindasan dan ketidakadilan. Siapa saja yang mengaku seorang muslim, maka wajib baginya untuk memiliki sikap bara’ (permusuhan) terhadap segala macam bentuk ketidakadilan dan penindasan.  

Editor: Yahya FR

Avatar
15 posts

About author
Mahasiwa Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Articles
Related posts
Akidah

Berdoa Tak Berarti Tidak Ridha dengan Kepastian Allah

4 Mins read
Pentingnya Berdoa Usaha menjadi salah satu pokok penting yang harus dilakukan umat manusia untuk meraih apa yang diinginkan olehnya. Hanya saja, ada…
Akidah

Jika Allah Maha Penyayang, Kenapa Masih Banyak Penderitaan?

4 Mins read
Apakah Allah Benar-Benar Maha Penyayang? Allah SWT ‘digambarkan’ sebagai Yang Maha Tahu, Maha Kuasa, dan Maha Penyayang, sebagaimana yang dikemukakan dalam ayat-ayat…
Akidah

Hanya Orang Bodoh yang Diterima Taubatnya

2 Mins read
Teringat Sebuah Ayat Suatu ketika saat penulis membaca ayat suci Al-Qur’an, tepatnya di Surat An-Nisa’ ayat 17, teringat sebuah pengalaman saat masih…

Tinggalkan Balasan