Ali bin Abi Thalib (3): Istri dan Keturunannya - IBTimes.ID
Tarikh

Ali bin Abi Thalib (3): Istri dan Keturunannya

2 Mins read

Seluruh keturunan Nabi saat ini yang bergelar Habib atau Sayyid adalah melalui pernikahan Ali bin Abi Thalib dan Fathimah az Zahra. Semasa Fathimah masih hidup, Ali bin Abi Thalib tidak pernah menikah dengan wanita lain. Fathimah meminta Ali untuk menikah dengan perempuan lain setelah kepergiannya, agar ada yang membantunya merawat anak-anaknya. Berikut adalah tulisan seputar istri Ali bin Abi Thalib beserta keturunannya.

Istri-Istri Ali bin Abi Thalib

Imam Thabari dalam kitabnya Tarikh al-Rusul wa al-Muluk menyebutkan di antara istri dan anak anak Ali bin Abi Thalib adalah sebagai berikut,

Istri Ali bin Abi Thalib yang pertama ialah Fathimah binti Muhammad az Zahra. Dan Ali tidak menikah lagi ketika Fathimah masih hidup. Darinya dilahirkan Hasan, Husain, dan seorang calon bayi bernama Muhsin atau Muhassin. Tetapi disebutkan bahwa Fathimah keguguran saat mengandung Muhsin atau Muhassin. Beliau juga melahirkan dua orang puteri, Zainab al-Kubra dan Ummu Kultsum al-Kubra.

Setelahnya, Ali menikahi Ummul Bannin binti Hisyam (nama asli Hisyam adalah Abu al Majl bin Khalid bin Rabiah bin al Walid bin Ka’ab bin Amir bin Killab). Dari Ummul Banin, lahir menjadi keturunannya al-Abbas, Jafar, Abdallah, dan Utsman. Mereka semua syahid bersama Hussain pada Tragedi Karbala. Imam Thabari menyebutkan hanya al-Abbas yang memiliki keturunan dari istri Ali bin Abi Thalib yang ini.

Salah satu istri Ali bin Abi Thalib yang lain adalah Layla binti Mas’ud bin Khalid bin Malik bin Rib’i bin Sulma. Layla melahirkan Ubaidalllah dan Abu Bakar. Hisyam bin Muhammad menyebutkan mereka berdua meninggal di at-Taff, sebuah daerah bertempat di Karbala.

Beliau juga menikah dengan Asma bin Umais al-Khat’amiyyah. Darinya dilahirkan Yahya dan Muhammad, yang menurut Hisyam bin Muhammad keduanya tidak memilki keturunan. Namun, al-Waqidi menyebut dua putera Asma binti Umais adalah Yahya dan Aun. Dan puteranya yang bernama Muhammad tersebut adalah lahir dari seorang ummul walad, dan terbunuh bersama Hussain di Karbala.

Baca Juga  Ziauddin Sardar dan Penafsiran Ulang Terhadap Wahyu

Terdapat Ummul Walad dari Ali

Ada perempuan lain yang berhubungan dengan Ali, namanya al-Sahba’ (Ummul Habib binti Rabiah bin Bujair bin al Abd bin Alqamah bin al Harits bin Utbah). Beliau adalah seorang ummul walad yang sebelumnya dimiliki oleh Khalid bin al-Walid saat menaklukkan Bani Taghlib di al-Ain al-Tamr. Al-Sahba’ melahirkan untuk Ali seorang putera bernama Umar dan seorang puteri bernama Ruqayyah.

Ali juga menikahi Umamah binti Abi al-Ash bin al Rabiah bin Abdul Uzza bin Abdi Syams bin Abdu Manaf. Ibunya adalah Zaynab binti Rasulullah. Menjadi istri Ali bin Abi Thalib, beliau melahirkan untuk Ali seorang putera bernama Muhammad.

Ada juga dari Khaulah binti Jafar bin Qais bin Maslamah bin Ubaid bin Tsalabah bin Yarbu bin Tsalabah bin al Duwal bin Hanifah. Dari Khaulah, lahir seorang putera Ali bin Abi Thalib yang terkenal bernama Muhammad bin al Hanafiyyah. Muhammad meninggal di Taif dan dishalatkan oleh Ibnu Abbas.

Dari Ummu Said binti Urwah bin Masud al Tsaqafi dilahirkan Ummul Hasan dan Ramlah. Ali juga menikahi seorang wanita bernama Mahyat, yang melahirkan seorang puteri yang meninggal ketika masih kecil.

Para Keturunan Ali

Imam Thabari menambahkan Ali juga memiliki beberapa puteri dari istri-istri yang lain. Ada yang dari ummul walad yang namanya tidak diketahui. Di antaranya ada Ummu Hani, Mayimunnah, Zainab as-Shugra, Ramlah as-Shugra, Ummu Kultsum as-Shugra. Ada juga Fathimah as-Shugra, Umamah, Khadijah, Ummul Kiram, Ummu Salamah, Ummu Jafar, Jumanah, dan Nafisah. Seluruhnya lahir dari beberapa ummul walad.

Dalam akhir pembahasannya, Imam Thabari menyebut Ali memiliki empat belas anak laki-laki dan sembilan belas anak perempuan–dalam kitab disebut tujuh belas. Dari seluruh anaknya, al-Waqidi menyebut bahwa hanya lima puteranya yang memiliki keturunan. Mereka adalah Hasan, Husain, Muhammad bin al-Hanafiyyah, al-Abbas, dan Umar.

Baca Juga  An-Nazzam: Mengakal Tuhan, Menolak Ijma' dan Qiyas

Wallahu a’lam bi shawab. Silakan menantikan seri Ali bin Abi Thalib yang selanjutnya.

Editor: Shidqi Mukhtasor/Nabhan

Avatar
31 posts

About author
Penulis merupakan mahasiswa Fakultas Ushuluddin yang mencintai Hadits, Sejarah dan Filsafat. Dapat disapa melalui akun Instagram @lhu_pin
Articles
    Related posts
    Tarikh

    Kisah Ijazah Nama “Haji Achmad Dachlan” Oleh Gurunya, Sayyid Abu Bakar

    3 Mins read
    Guru dalam “kerata basa” atau pepatah Jawa adalah ”tiang kang digugu lan ditiru” atau orang yang dijadikan panutan dan yang diikuti segala…
    Tarikh

    Serat Cebolek: Ketib Anom Kudus Menegakkan Syariat

    4 Mins read
    Alkisah, ulama-ulama Pantura marah karena ada seorang tokoh agama dari Tuban, Haji Mutamakin atau Haji Cebolek mempelajari Serat Dewaruci dan mengajarkan ilmu…
    Tarikh

    Agar Kekayaan dan Kekuasaan Tetap Berlimpah dan Kokoh

    1 Mins read
    Hipotesis nya adalah: Jika kekayaan dan kekuasaan digunakan untuk menolong, maka kekayaan akan semakin berlimpah kekuasaan akan semakin kokoh. Sepasang suami istri…

    Tinggalkan Balasan