Oleh: Hendra Darmawan*

 

Negara Belanda, sejujurnya yang terpikir pertama dalam benak saya adalah negara digdaya yang telah (pernah) 360 tahun  menjajah Indonesia. Masih menyisakan keraguan apakah asumsi tersebut terkonfirmasi, mari simak tulisan ini dalam paragraf-paragraf berikutnya. Kepercayaan diri apa yang membuat Belanda bangga dengan negaranya, sehingga “I amsterdam” muncul dan ikonik.

Benar saja. Setibanya kami di Schipol International Airport, tepat di depan bandara terpampang tulisan besar “I amsterdam”. Huruf I /ai/ yang dipisahkan dengan spasi dari kata Amsterdam seolah menunjukkan betapa bangganya menjadi “I am” di kota ini.

Tulisan besar tersebut pun menjadi ikon dan tempat berswaphoto para pengunjung termasuk penulis dan David, seorang kolega dari UMY. Setelah sebentar berswaphoto, kami pun melanjutkan perjalanan menggunakan kereta intercity menuju stasiun Lelylaan yang hanya berjeda satu pemberhentian dari Schipol.

Perjalanan kami diawali dengan membeli tiket seharga 3,4 euro tunai di Bandara Schipol. Sebagai bandara dan stasiun yang terintegrasi dengan moda transportasi lain sepeti bus, tram dan kereta intercity, pembelian tiket bisa dilayani dengan segala jenis transaksi, mulai dari cash, sampai kartu kredit.

Di luar ruang pemesanan tiket masih disediakan komputer-komputer untuk bisa membeli tiket dan bertransaksi baik dengan uang kertas maupun koin. Setelah memiliki kartu perjalanan, tidak lupa kami mengetap atau memindai kartu tersebut saat ingin masuk stasiun dan saat turun dari moda transportasi. Awal yang mengesankan bagi kami agar mulai disipin, cermat dengan tiket, rencana perjalanan dan tempat naik dan turun perjalanan.

Budaya Bersepeda

Hari pertama di Amsterdam kami disambut oleh rekan yang sedang menempuh kuliah S-3 di Universitet Van Amasterdam (UVA), Mas Kareem. Beliau membawa serta keluarga kecilnya ke Amsterdam. Sungguh keluarga yang sederhana dan darmawan serta nyah-nyoh.

Sesampainya kami di rumah beliau, mas Kareem langsung bilang dengan bahasa yg lugas: “Mas, kami sekeluarga sudah makan semua, di meja makan apa aja yang ada silahkan disikat”.  Setelah lapar dan dahaga terpenuhi, kami mulai berbincang ringan dan ramah tamah. Karena hari masih pagi, kami pun berencana untuk berkeliling-keliling kota Amsterdam dengan bersepeda. “Ok mas, ada dua sepeda yang bisa dimanfaatkan, silahkan mengekspolari kota Amsterdam. Jangan lupa jalan pulang ya, paling kalau kesasar hanya-muter-muter di sekitar situ juga” kata mas Kareem wanti-wanti.

Kebetulan kota Amsterdam secara geografis datar dan nampak tidak melelahkan bersepeda. Maklum kebanyakan warga Amsterdam bersepeda baik tua maupun muda, yang jelas ditopang dengan kultur dan infrastruktur jalan yang baik dan jalur sepeda yang memadai, parkir sepeda di setiap apartemen dan ruang-ruang publik lebih banyak dibandingkan lokasi parkir motor atau mobil. Tiba-tiba kami jadi teringat program Sego Segawenya pak HZ, yang entah kemana bekasnya hari ini.

Kayuhan sepedapun makin kencang, maklum sudah makan. Sebelum sampai Amsterdam University Library di ujung kota, kami sempat tersesat dua kali arah karena hanya mengandalkan feeling serta belum punya kartu HP dan kuota data untuk akses internet.

Meski demikian kami sempat melewati toko-toko Asia bahkan salah satu toko makanan itu bernama “Toko Bandung”. Langsung saja terngiang rumah makan bernuansa sunda di Indonesia dengan dilengkapi bunyi kecapi. Agak sedikit berlebihan dalam hal ini, karena ini kali pertama kami berkunjung ke negeri kincir angin.

Sesampainya di Amsterdam University Library, kami alhamdulillah dapat masuk dan melihat-lihat koleksi perpustakaan yang luar biasa, dengan ruang baca yang sangat menyenangkan layaknya berada di mall, dan yang pasti hommy dengan akses internet memadai, kopi berbayar yang tersedia serta keran air minum yang drinkable.

Bermodal kartu anggota perpustakaan Erasmus Belanda di Jakarta, kami berhasil masuk perpustakan. Hampir saja security menghentikan langkah kami karena perpustakaan hanya untuk mahasiswa dan yang memiliki kartu anggota. Kemurahan hati anggota security ini berbuah pertemuan kami dengan Abdullah, seorang dosen fakultas kedokteran UVA yang pernah berkunjung ke Indonesia beberapa waktu lalu.

“Are you Indonesian?, How are you?” langsung saja kami jawab “Yes”, dan berbincang ramah serta diajak ngopi bareng di kantin perpustakaan (pucuk dicinta ulam pun tiba, pas kami lagi haus-hausnya). Kopi membuat obrolan makin hangat. “I thought it was a very long journey to Indonesia about 18 hours, but arrived there, it was amazing and I should me back there anymore”, begitu kesan pak Abdullah, dosen UVA berkebangsaan Turki itu.

Tak terasa sudah hampir petang, dan kamipun bersegera untuk mengayuh kembali sepeda kami kembali menuju Lellylaan. Asyik juga bersepeda, saking semangatnya, tidak mau kalah dengan yang sudah biasa bersepeda, jadilah kaki kami gempor, dan perlu istirahat malamnya.

Merencanakan perjalanan adalah sebuah keharusan, tidak bisa perjalanan didadak, ini terkait moda transportasi yang akan dipilih, pembelian tiket dan lain-lain. Apalagi bagi turis dengan anggaran yang mepet. Penjualan tiket di rush hours baik pagi dan sore akan lebih mahal dibandingkan jam biasa, sehingga ini bisa jadi pilihan dan pertimbangan dalam merencakan perjalanan.

Pembelian tiket ber regu atau perkelompok akan lebih murah dibandingkan sendirian, dan masih banyak skema yang bisa kita pilih sehingga cost perjalanan bisa ditekan. Ada paket tiket perjalanan sehari semalam dengan satu kartu untuk segala moda transportasi yang berlaku untuk berkeliling Belanda. Kamipun membeli kartu OV-CHIPKAART, semacam kartu transportasi, yang kami top-up untuk perjalanan selama kami berada di Belanda. Kami tidak sadar kartu itu berlaku sampai 01-10-2024, sebuah doa semoga kami bisa kembali ke Amsterdam dan kuliah di  sana dalam waktu dekat, Amien.

Pertemuan-pertemuan tak terduga

International Conference tahun 2019 yang kami ikuti Alhamdulillah berjalan lancar. Menteri Agama RI bapak Lukman Hakim Syaifuddin memberikan key note speech sekaligus membuka acara secara resmi.

Konferensi ini diselenggarakan oleh Radboud University, Kementerian Agama RI dan PCINU.   Presentasi paper yang kami siapkan juga mendapatkan tanggapan yang hangat dari audience, dan tidak kalah penting kami dapat bersilaturahim serta silatulfikr dengan para scholars ilmuwan barat, seperti Tim Winter-Dean Cambridge Muslim College, Carel Kersten, Hofman Murad, dan juga Prof. Karl Stenbrink yang namanya sangat terkenal di Indonesia karena karya-karyanya yang sering dijadikan rujukan.

Nampak beliau masih terlihat segar dan sehat meski rambutnya sudah memutih semua. Kami juga berjumpa dengan senior citizen, beberapa orang Indonesia yang sudah menetap dan menjadi warga negara sana; salah satunya adalah Ustadz Abdullah Dzannun, seorang alumni Pesantren Gontor dan alumni Madinah University.

Beliau teman Kyai Syukri Zarkasyi dan Sahabat Almarhum Kyai Ahmad Rifai Arief (alm) pemimpin pondok pesantren Daar El Qolam Banten. Beliau sudah menetap di Belanda hampir 50 tahun sejak beliau lulus dari Madinah. Suasana ini membuat batin saya serasa ketemu ustadz saya dan serasa sedang berada di Indonesia meski kaki kami menapak di Nijmegen Belanda, Subhanalloh.

Kami juga bertemu pengurus Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Belanda yang diketuai oleh Mas Irwandi, dosen Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) yang juga  mahasiswa Ph.D di Nijmegen dan mbak Fitri sebagai sekretarisnya, dosen UAD yang sedang S3 di Radboud University Nijmegen. Nijmegen merupakan kota tua di Belanda dan sangat sejuk serta rindang, tak pelak Nijmegen pernah beberapa kali mendapatkan award sebagai green city.

Transportasi sungai yang juga efektif.

Sepanjang bersepeda kami melihat pemukiman penduduk yang selalu berdekatan dengan sungai kecil dan sungai itu pasti bersih serta tersambung dengan sungai yang lain. Ternyata itu juga sebagai jalur transportasi sungai bagi mereka yang punya perahu kecil bermesin.

Bahkan kami sempat menyaksikan sebuah sungai yang agak besar dan saat ada perahu besar atau kapal yang akan lewat, jembatan diatas sungai tersebut dapat membuka dengan sendirinya, seperti membuka palang pembatas kereta api di Indonesia. Menurut Prof. Frans dari Radboud University, Belanda membersihkan sungai terbesarnya yang melintasi kota Amsterdam ini dengan teknologi yang memakan waktu selama 15 tahun didukung oleh 3000an relawan, sehingga bisa dimanfaatkan secara optimum hingga saat ini.

Dam, satu kata terakhir dalam rangkaian kata Amsterdam, membuktikan bahwa dam disekitar Belanda itu terurus rapih, bersih dan jadi moda transportasi alternatif. Pernah juga kami dapati seorang pekerja yang kerjanya membersihkan sungai, dan khusus menggunakan magnet yang agak besar hanya untuk mengangkut sampah besi atau paku-pakuan yang ada di sungai. Kepedulian terhadap sungai dan lingkungan itulah yang menjadi salah satu faktor yang menjadikan orang Belanda bangga ‘ I Amsterdam”.

 

*Dosen Universitas Ahmad Dahlan

Tinggalkan balasan

mohon berikan komentar anda
mohon untuk menuliskan nama anda