Beranda Indepth Antropologi Sekulerisme: Kontribusi Talal Asad

Antropologi Sekulerisme: Kontribusi Talal Asad

Oleh : Muhammad Rofiq*

Sekulerisme adalah salah satu topik sentral di abad dua puluh yang banyak didiskusikan oleh para ilmuwan bidang politik, sejarah, filsafat, dan sosiologi di dunia akademik Barat. Dalam bidang terakhir, kajian tentang topik ini bermula dari gagasan Max Weber dan Emile Durkheim tentang masa depan agama. Keduanya berpandangan bahwa seiring dengan proses modernisasi yang ditandai dengan rasionalisasi dan berkembangnya sains, agama akan mengalami kemunduran.

Pandangan dua tokoh ini kemudian direspon oleh generasi selanjutnya, baik yang mendukung maupun mengkritiknya. Ilmuwan yang mendukung dan kemudian mempertajam gagasan ini antara lain adalah Talcott Parson, Thomas Luckmann, dan Steve Bruce. Sementara ilmuwan yang merevisi tesis awal tentang sekulerisasi adalah Peter Berger, Jose Casanova, Paul Heelas, dan Charles Taylor.

Bidang antropologi pada awalnya tidak menaruh minat untuk mendiskusikan topik ini. Sekalipun topik agama adalah salah satu kajian pokok dalam disiplin ini, tetapi topik sekulerisme justru kurang mendapatkan perhatian serius dari para antropolog. Hal tersebut tampaknya disebabkan oleh asumsi bahwa sekulerisme adalah fenomena universal, sementara antropologi lebih tertarik untuk mengkaji partikularitas sebuah fenomena.

Adalah Talal Asad, antropolog Pakistan-Amerika Serikat berdarah Saudi Arabia dan Austria, anak seorang cendikiawan Muslim terkenal Muhammad Asad, yang membuat tren baru di tengah para antropolog untuk mengkaji topik ini. Asad kemudian dikenal sebagai pencetus bidang “critical secularism studies” karena ia menggunakan pendekatan kritis dalam kajian antropologi mengenai topik sekulerisme. Asad menulis karya yang jumlahnya cukup siginifikan dalam bidang antropologi sekulerisme. Karya pertamanya, yang akan dikupas dalam tulisan ini, berjudul the Formation of the Secular: Christianity, Islam, and Modernity (terbit tahun 2003). Karya terbarunya yang terbit tahun 2018 terkait sekulerisme adalah Secular Translations: Nation-State, Modern Self, and Calculative Reason.

Talal Asad mendapatkan gelar PhD bidang antropologi dari Universitas Oxford Inggris di bawah bimbingan antropolog terkenal Evans Pritchard dengan penelitian lapangan di Sudan. Namanya mulai dikenal publik karena kritiknya terhadap antropolog terkenal Clifford Geertz mengenai definisi dan pendekatan antropologi dalam mengkaji agama. Selain itu, Asad juga dikenal sebagai tokoh paling berpengaruh dalam bidang antropologi Islam, khususnya karena gagasannya tentang Islam sebagai tradisi diskursif.

Framework untuk memahami sekulerisme yang dirumuskan oleh Asad banyak mempengaruhi antropolog dan ilmuwan lain. Beberapa nama Asadian (pengikut Asad) yang paling menonjol antara lain adalah Saba Mahmood yang menulis Religious Difference in A Secular Age, Charles Hirschkind yang menulis Religious Difference and Democratic Pluralism and Hussein Agrama yang menulis Questioning Secularism.

Secara singkat gagasan Asad mengenai sekulerisme dapat dirangkum sebagai berikut. Menurutnya, ada tiga konsep yang perlu dipahami terkait dengan topik sekulerisme. Tiga konsep itu adalah: sekuler, sekulerisme itu sendiri, dan sekulerisasi. Ketiganya memiliki makna yang berbeda.

Sekuler adalah kategori epistemik atau cara berfikir, sekulerisme adalah doktrin politik, sementara sekulerisasi adalah proses sejarah. Menurut pengamatan Asad, dari tiga topik tersebut, para pengkaji umumnya lebih cenderung membahas sekulerisasi. Sementara sekuler, topik yang menurutnya lebih fondasional, justru kurang dielaborasi. Topik inilah yang paling banyak menjadi fokus perhatian Asad dalam karya-karyanya.

Tulisan ini disusun untuk menjelaskan tentang pemikiran dan kontribusi Talal Asad, khususnya tentang sekuler dan sekulerisme. Tulisan ini juga menjelaskan tentang kritik Asad terhadap kerangka teoretis umum yang banyak digunakan dalam mengkaji dua topik ini.

 

Analisa Konseptual dan Genealogi

Sebelum masuk ke bahasan utama mengenai pandangan Asad mengenai sekuler dan sekulerisme, tulisan ini terlebih dahulu akan menjelaskan metode Asad terkait antropologi secara umum dan terkait bagaimana ia mengelaborasi dua konsep tersebut secara khusus.

Antropologi selama ini selalu diidentikkan dengan tehnik riset lapangan (fieldwork) atau observasi partisipasi (participant observation). Padahal menurut Asad, antropologi tidak harus demikian. Asad menyebut bahwa penelitian lapangan itu bersifat pseudo-scientific. Sayang sekali ia tidak mengelaborasi alasan penilaiannya. Tugas pokok antropologi, menurut Asad, bukanlah sekedar melakukan penelitian etnografi. Tugas inti antropologi sebenarnya, mengutip gagasan Mary Douglas dan Marcel Mauss, adalah melakukan analisis konseptual (conceptual analysis).

Asad mengakui bahwa analisa konsep bukan hanya tugas eksklusif antropologi, tetapi juga bidang lainnya, khususnya filsafat. Oleh karena itu, untuk membedakannya dengan bidang keilmuan lainnya, analisis konsep yang dilakukan oleh bidang antropologi harus bersifat komparatif. Komparasi dilakukan terhadap konsep dalam pelbagai sistem kebudayaan manusia yang hidup dalam ruang dan waktu yang berbeda.

Asad menyebut bahwa tugas para antropolog bukanlah melihat asal usul konsep tersebut, melainkan bentuk kehidupan (form of life) yang mengartikulasinya dan kekuatan yang diciptakan oleh konsep tersebut. Sekuler, sama seperti halnya agama, kata Asad, adalah dua contoh konsep yang bisa dijadikan obyek anthropological inquiry (penyelidikan antropologi) oleh para antropolog.

Asad melanjutkan, cara terbaik bagi para antropolog untuk mengkaji sekuler adalah dengan melihat topik lain yang berhubungan secara tidak langsung (the secular is best approached indirectly). Asad memberi contoh pertanyaan antropologi yang bisa diajukan terkait konsep sekuler. Para antropolog bisa meneliti bagaimana perbedaan antara pandangan sistem kebudayaan terkait fisik manusia (misalnya terkait pertumbuhan fisik, kenikmatan seksual, rasa sakit, dan kematian)? Apa yang mempengaruhi sikap manusia terhadap persoalan fisik atau jasadi tersebut? Bagaimana pandangan manusia tentang mitos, tentang yang suci dan tidak suci? Singkatnya, ada banyak persoalan sehari-hari dalam budaya manusia yang merepresentasikan pandangan mereka tentang sekuler.

Asad kemudian menjelaskan pendekatan yang ia gunakan untuk mengkaji konsep sekuler. Asad menggunakan pendekatan genealogi yang dicetuskan pertama kali oleh Fredrich Niestczhe dan kemudian dikembangkan oleh Michel Foucault. Asad menjelaskan bahwa pendekatan ini dicirikan oleh beberapa karakteristik.

Pertama, genealogi digunakan untuk mempertanyakan ulang atau mendestabilisasi konsep yang selama ini diterima apa adanya tanpa kritisisme. Dengan kata lain, genealogi dipakai untuk menggugat kemapanan sebuah konsep. Kedua, genealogi dipakai untuk melihat karir atau perkembangan sebuah konsep tertentu atau bagaimana sebuah konsep bertransformasi dari waktu ke waktu. Ketiga, pendekatan ini digunakan untuk melihat hubungan antara sebuah diskursus dan kekuatan (power).

Asad menerapkan pendekatan genealogi ini khususnya untuk mendiskusikan asumsi umum mengenai konsep sekuler. Selama ini para ilmuwan percaya bahwa sekuler adalah lawan dari agama. Sekuler dianggap selalu beroposisi biner dengan agama. Pertanyaan yang muncul dari pendekatan genealogi adalah: sejak kapan asumsi ini menjadi mengental dan kemudian diterima oleh masyarakat, khususnya para akademisi? Apa kondisi yang menyebabkan terjadinya pergeseran makna sekuler sehingga dianggap sebagai inversi agama?

 

*) Alumni PCIM Mesir dan anggota PCIM Amerika Serikat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Must Read

Prawoto Mangkusasmito: Guru Muhammadiyah Menjadi Ketum Partai Masyumi

Oleh: Mu'arif*   Lahir di Tirto, Grabag, Magelang, pada 4 Januari 1910, Prawoto Mangkusasmito adalah putra dari Supardjo Mangkusasmito dan Suendah. Menempuh Pendidikan dasar di Hollands...

“Islam Berkemajuan” ala Buya HAMKA

Oleh: Mu’arif Buya HAMKA merupakan ulama Muhammadiyah yang berhasil meninggalkan warisan intelektual Islam yang besar berupa tafsir Alqur’an, yaitu Tafsir Al-Azhar. Selain itu memiliki gagasan...

Manusia Angka

Oleh: Faris Ibrahim*   Cukup aneh bukan? Manusia bisa memprediksi dengan tepat kapan Mars akan berada di langit‒ bahkan untuk seratus tahun ke depan. Namun, lucunya,...

MDMC Sampaikan Strategi Kebijakan Penanggulangan Bencana di Forum ASEAN

IBTimes.ID - Singapura (21/08) – Setelah Juni lalu diminta berbicara di PBB, pada tanggal 21 Agustus 2019, Dr. Rahmawati Husein, Wakil Ketua Lembaga Penanggulangan...

Kompleksitas Papua I: Adakah Faktor Amerika?

Oleh: Hasnan Bachtiar Masalah konflik Papua sebenarnya rumit. Lebih rumit dari bayangan kita selama ini. Karenanya, hal ini tidak bisa didudukkan sebagai sekedar masalah pelanggaran...