Anushtakin Darazi dan Sekte Druze di Suriah

 Anushtakin Darazi dan Sekte Druze di Suriah                  Ilustrasi. Sumber: Pinterest            

Tampak beberapa lelaki berpakaian gamis warna hitam dan memakai al-mandil warna putih. Mereka juga memanjangkan jenggot yang sudah kelihatan memutih. Konon, warna al-mandil menentukan maqam spiritual pemakainya. Itulah sekelompok orang penganut sekte Druze, sekte yang dirintis oleh Anushtakin Darazi. Mereka ini dari kelompok ‘Uqqal (kelompok minoritas) yang bermukim di Suriah.

Anushtakin Darazi dan Sekte Druze di Suriah

Dalam Ensiklopedia Peradaban Islam (buku 4 hlm. 204), nama sekte ini disebut “Druze.” Akan tetapi, sejarawan Philip K. Hitti (2005: 564) menyebut kelompok ini “Druwism” atau “Drusis.” Druze atau Druwism adalah sebutan untuk kelompok pecahan dari Sekte Syi’ah yang bermukim di Suriah.

Druwism pernah menjadi aliran kepercayaan yang dilindungi pada masa pemerintahan Qaramithah, bersanding dengan sekte Hasyasyin yang dikenal sangat radikal. Druwism dan Hasyasyin termasuk di antara aliran-aliran sempalan dalam sekte Syiah.

Adalah Anushtakin Darazi, seorang pengkhutbah penganut Nusairiyah, yang merintis aliran ini. Tampaknya, dari nama Darazi inilah nama sekte ini diambil. Darazi seorang penganut gnotisisme, sebuah aliran kepercayaan yang merujuk pada sinkretisme beberapa aliran kepercayaan. Dia hidup pasca runtuhnya kekuasaan negara Syiah Qaramithah di pesisir Barat Padang Persia. Sekalipun telah runtuh, paham Syiah ekstrem ini masih tetap tumbuh subur dan menyebar di Mesir dan Suriah.

Menurut sejarawan Philip K. Hitti (2005: 313), gnotisisme merupakan salah satu ciri dari penganut sekte Syiah. Dalam catatan sejarah, sekte Syiah adalah satu-satunya sekte yang menjadi lahan subur pemikiran-pemikiran sinkretis. Tidak hanya mengakomodasi kepercayaan Persia (pagan), Syiah ekstrem juga mencampur aduk dengan keyakinan Yahudi-Kristen. Pemikiran Anushtakin Darazi yang menjadi pondasi sekte Druze merupakan hasil sinkretisme antara kepercayaan Persia, Yahudi-Kristen, dan Islam.

Baca Juga  Akal Sehat Kiai Dahlan

Sejarah dan Druze Saat Ini

Perdebatan antara Darazi dengan Hamzah bin ‘Ali pada awal abad 11 Masehi menjadi titik tolak kelahiran sekte ini. Dalam keyakinan Syiah, posisi dan kehadiran Ali bin Abi Thalib beserta keturunannya memang disakralkan. Bahkan, para penganut Syiah ekstrem cenderung menyakini terdapat unsur-unsur ketuhanan dalam diri Imam Ali.

Darazi termasuk penganut kepercayaan bahwa Allah telah menjelma dalam diri manusia. Dia berseberangan dengan Hamzah bin ‘Ali dan memutuskan untuk membuat gerakan baru yang disebut Sesi Kebijaksanaan.

Kini, komunitas Druze di Suriah sekitar 3 persen dari populasi penduduk negara tersebut. Jumlah mereka memang sangat kecil, tetapi komunitas Druze di Suriah termasuk terbesar jika dibanding dengan komunitas Druze yang bermukim di negara lain.

Komunitas Druze dibagi menjadi dua kelompok besar: ‘Uqqal dan Juhhal. ‘Uqqal adalah kelompok minoritas yang memiliki derajat spiritual di atas rata-rata. Mereka mengenakan pakaian jubah warna hitam dengan al-mandil warna putih. Untuk kaum perempuan Druze dari kelompok ‘Uqqal juga mengenakan hijab dengan kerudung putih yang menutupi rambut dan mulut serta hidung.

Adapun kelompok terbesar dalam komunitas Druze disebut Juhhal. Mereka inilah kelompok mayoritas yang dikenal sekuler. Pada umumnya, kelompok ini tidak terlalu mengindahkan ajaran-ajaran Druze sebagaimana kelompok ‘Uqqal yang begitu taat menjalankan ajaran peninggalan Anushtakin Darazi.

Keyakinan ala Druze

Corak paganisme dalam keyakinan Druze dapat dilihat dari simbol yang digunakan sekte ini. Druze menggunakan simbol bintang—jejak paham pagan. Bintang Druze segi lima dengan masing-masing sisi memiliki warna yang berbeda-beda. Keyakinan terhadap warna-warna juga tidak lain paham peninggalan kaum pagan. Adapun lima warna pada masing-masing sisi bintang Druze adalah: hijau, merah, kuning, biru, dan putih.

Baca Juga  Becik Ketitik Ala Kethara: Menanggapi “Ketum Pemuda Muhammadiyah Salah Minum Obat”

Warna hijau adalah simbol dari kehadiran ‘aql. Akal adalah unsur pembentuk kehidupan, oleh karena itu ia bersifat universal (nalar universal). Warna merah adalah simbol nafs. Jiwa adalah unsur yang menggerakan kehidupan, karena itu ia bersifat universal (jiwa universal).

Warna kuning adalah simbol kalimah. Firman Tuhan adalah ilmu pengetahuan bagi manusia (logos). Warna biru adalah simbol sabq, potensi. Sabq dapat juga berarti penyebab atau preseden yang dalam pembentukan jiwa manusia. Warna putih adalah simbol tali yang dipahami sebagai bentuk aktualitas dan imanensi.

Dalam keyakinan Druze terdapat tujuh ajaran utama yang diyakini sebagai esensi ajaran Islam. Posisi ketujuh ajaran ini setara dengan rukun Islam. Ketujuh ajaran Druze adalah sebagai berikut: 1) kejujuran dalam bicara dan kebenaran lisan, 2) perlindungan dan saling membantu untuk saudara-saudara dalam iman, 3) penolakan terhadap segala bentuk ibadah dan kepercayaan palsu, 4) penolakan terhadap Iblis dan semua kekuatan jahat, 5) pengakuan kesatuan Tuhan, 6) persetujuan dalam tindakan Tuhan, 7) penyerahan mutlak dan kepasrahan diri untuk Tuhan Allah.

Tujuh Ajaran Utama Druze

Ajaran pertama tentang kejujuran dan kebenaran memberikan pelajaran moral bagi kaum Druze. Bagi mereka, pantang untuk bicara bohong. Akan tetapi, pada kenyataannya justru mayoritas kaum Druze tidak terlalu taat dengan ajaran yang satu ini.

Adapun ajaran kedua memberikan pondasi solidaritas terhadap sesama, tetapi dalam prakteknya hanya terbatas dalam kelompok ini saja. Ajaran ketiga seolah-olah menghendaki ajaran pemurnian Islam, tetapi pada dasarnya ajaran utama Druze memang sudah berbeda dengan ajaran Islam mayoritas. Dalam hal ini, konteks pemurnian ajaran Islam hanya berdasarkan cara pandang komunitas ini.

Ajaran keempat memberikan dasar-dasar moral bagi kaum Druze, yaitu menolak kekuatan jahat dan sebaliknya menganjurkan kebaikan. Adapun ajaran kelima mungkin dapat disejajarkan dengan konsep tauhid. Tuhan bersifat imanen dan transenden, di atas segala atribut yang ada. Akan tetapi, kaum Druze menyakini kehadiran Tuhan dalam setiap suasana.

Baca Juga  Mengapa Muhammadiyah Tidak Bermadzhab?

Di sinilah konsep yang mungkin paling kontroversial dalam sejarah teologi Islam. Sebab, konsep semacam ini sejalan dengan Panteisme. Konsep tauhid tidak dapat menerima Panteisme. Sampai kini, ajaran Panteisme belum dapat diterima oleh mayoritas umat Islam. Adapun ajaran keenam jelas menyerupai Antropopatisme, yakni tentang perbuatan Tuhan yang melibatkan sikap atau kehendak manusia.

Dalam konsep tauhid, Antropopatisme tidak mendapat tempat karena ia tidak lain adalah bentuk kemusyrikan. Sedangkan ajaran ketujuh berupa ketertundukan dan penyerahan mutlak kepada Tuhan tidak jauh berbeda dengan konsep keyakinan mayoritas umat Islam.

Itulah Druwism dari sekte Druze yang kini masih tersisa di beberapa negara Muslim. Sekalipun dalam beberapa aspek ajaran tidak jauh berbeda dengan konsep ajaran Islam mayoritas, tetapi pada beberapa aspek justru berbeda jauh, bahkan bertentangan. Karena Druwism memang berakar dari ajaran Syiah—yang secara umum berbeda dengan ajaran umat Islam mayoritas—sudah pasti ajaran peninggalan Anushtakin Darazi ini berbeda dengan ajaran Islam pada umumnya.


IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan masyarakat, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
BNI 0342383062 A.n Qurrota A'yun

RedaksiIB

https://ibtimes.id

IBTImes.ID - Beyond the Inspiration: Keislaman, Kemodernan, dan Keindonesiaan

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *