Apakah Teologi Asy’ariah Penyebab Kemunduran Islam? - IBTimes.ID
Kalam

Apakah Teologi Asy’ariah Penyebab Kemunduran Islam?

3 Mins read

Menurut Dr. Harun Nasution umat Islam saat ini tengah berada dalam fase modern mulai abad 18-sekarang dikarenakan masuknya berbagai teknologi dan ilmu pengetahuan dari Barat yang memaksa umat Islam mempelajari semua itu.

Selepas para orientalis yang mempelajari Islam dan ilmu-ilmu tersebut dibawa dan dikembangkan di Barat, kini Islam harus melakukan hal yang sebaliknya. Karena merasa nyaman dengan kondisi yang sejahtera, hal itu memunculkan beberapa akibat yang muaranya terjadilah kemunduran umat Islam dari abad 17-18.

Jauh sebelum kemunduran itu hadir, ada sebuah teologi yang dihasilkan dari seorang pengikut paham Mu’tazilah yang memisahkan diri, Abu al-Hasan Ali ibn Ismail al-Asy’ari atau yang sering kita kenal Al-Asy’ari sebagai pendiri teologi Asy’ariah yang kemudian bersifat kontra terhadap teologi Mu’tazilah gagasan Washil bin Atha.

Tulisan ini saya tulis berdasarkan hasil pembacaan saya dari 2 buku karangan Dr. Harun Nasution yaitu Teologi Islam Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan dan juga Pembaharu dalam Islam dalam kedua buku tersebut saya melihat bahwa Islam telah melewati berbagai masa yang sangat berharga untuk dipelajari.

Mulai dari kehadiran aliran-aliran teologi yang kemudian berimplikasi pada kondisi sosia-historis umat Islam. Kehadiran aliran-aliran tersebut tak ubahnya seperti perbedaan pandangan dalam menginterpretasikan ayat-ayat yang ada di Al-Qur’an.

Dalam hal ini, titik fokus saya berada pada pembahasan teologi Asy’ariah dan korelasinya dengan kemunduran yang dialami umat Islam. Lagi-lagi ini adalah perspektif saya setelah membaca kedua buku di atas. Terlepas benar salahnya, pembaca bisa menganalisa secara mandiri.

Posisi Akal dalam Aliran Asy’ariah

Ketika dibandingkan dengan Mu’tazilah, jelas sekali bahwa Asy’ariah kurang memberikan posisi terhadap akal dalam ajarannya. Mereka lebih mengedepankan wahyu dalam berbagai hal. Akal hanya mampu untuk mengetahui Tuhan. Untuk mengetahui baik dan jahat serta kewajiban manusia lainnya, Asy’ariah masih meletakkan wahyu pada posisi atas.

Baca Juga  Farid Esack: Pemikir Teologi Pembebasan dari Keluarga Miskin

Hal ini yang kemudian berimplikasi pada minimnya penggunaan akal di kalangan umat Islam dewasa ini. Wahyu diketahui sebagai sumber kebenaran yang yang absolut. Memang, hal ini benar adanya namun kita tak dapat menetukan apa yang dimaksud wahyu tanpa menggunakan akal.

Sedangkan Mu’tazilah menempatkan akal di atas wahyu karena wahyu dianggap sebagai patokan dasar dalam menentukan bagaimana cara ataupun tahapan dalam menyembah Tuhan dengan benar.

Pemberian ruang yang terlalu berlebihan terhadap wahyu telah mengurung daya berpikir umat untuk kemudian bisa mengatasi masalah-masalah yang berkaitan dengan agama.

Penggunaan akal yang minim juga telah berdampak pada tertutupnya pintu ijtihad yang dewasa ini harusnya dibuka selebar-lebarnya.

Free Will Menurut Asy’ariah

Karena penggunaan akal yang minim dan posisi wahyu yang ditinggikan, Asy’ariah condong menggunaka paham Jabariyah. Di mana, semua kegiatan ataupun hal yang dilakukan adalah kehendak Tuhan. Manusia hanya sebagai tempat melaksanakan kehendak tersebut. Manusia tidak memiliki kemampuan kalau dalam dirinya tidak ada daya yang diberikan Tuhan.

Namun, banyak pembahasan terkait hal ini yang telah diperbaharui dan disempurnakan oleh pemuka-pemuka teologi Asy’ariah. Karena di dalamnya, masih banyak ditemui kecacatan dan kekurangan yang sangat menonjol. Salah satu contohnya adalah perbuatan dosa yang dilakukan manusia apakah juga termasuk perbuatan Tuhan? Demikian kecacatan yang terjadi.

Hal ini banyak memunculkan persepsi baru di kalangan awam mengenai kebebasan berkehendak. Acapkali, masyarakat salah mengartikan yang pada akhirnya menyebakan fatalisme. Gagasan yang dibawa tidak salah, namun implikasi dari gagasan tersebut seringkali melenceng dari orbit tujuan awal. Masyarakat yang fatalis tadi menghasilkan peradaban yang statis dan tidak berkembang yang akhirnya terjadilah kemunduran.

Konsep Iman Tanpa Amal

Dalam teologi Asy’ariah, iman adalah suatu kepercayaan yang hanya perlu dipercayai tanpa adanya pengamalan. Karena Asy’ariah tidak menempatkan akal pada posisi dapat mengetahui kewajiban. Maka iman hanya sebatas percaya dengan apa yang sudah ada dalam wahyu, mengenai kebenaran Tuhan, rasul-rasul, dan apapun yang mereka bawa.

Baca Juga  Tauhid sebagai Inspirasi Hidup Muslim

Hal ini lah yang menurut saya memunculkan fenomena “Islam KTP”. Karena tiada kewajiban implementasi terhadap iman tersebut, maka hal ini berdampak pada kualitas diri seorang muslim.

Iman yang lemah meghasilkan muslim yang lemah dalam konsep keimanan dan pada akhirnya orang muslim seperti itu tidak memiliki pendirian dan landasan dalam hidup yang pada akhirnya hanya merugikan Islam itu sendiri.

Hal ini juga mengakibatkan Islam jauh dari kata Islam. Artinya, dalam diri seorang tidak dapat dititemukan spirit keislaman yang menyebabkan disorientasi makna keimanan itu sendiri. Mulailah bermunculan hal-hal yang tidak sejalan dengan iman berupa praktik-praktik keagamaan yang jauh dari nuansa Islam.

Kesimpulan

Hal-hal di atas merupakan fokus sebagian pembaharu Islam yang melihat realitas umat seperti yang telah diuraikan di atas. Jamaludin al-Afgani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Iqbal, dan masih banyak lagi.

Upaya-upaya mereka dalam membangkitkan lagi spirit keislaman bisa didapatkan dalam gagasan-gagasan yang mereka sampaikan. Jamaludin melalui Pan-Islamismenya yang merupakan jawaban dari statisnya umat Islam hingga diduduki oleh imperialisme Barat.

Iqbal dengan gagasan Dinamisnya yang mengupayaka penggunaan akal untuk menerima dan mempelajari keilmuan-keilmuan di Barat. Akal digunakan sebagai alat mengkontekstualisasikan keadaan supaya Islam dapat terus berkembang dan maju.

Namun, perhari ini pikiran-pikiran yang statis dan konservatif masih banyak kita temukan di sekeliling kita. Para pembaharu sudah berupaya agar umat dapat bangkit dan meraih kejayaannya kembali. Sekarang, tergantung kita memaknai spirit perubahan tersebut.

Apakah kita masih ingin bermain-main dalam lumpur kebodohan dan ditertawai oleh orang sekitar yang melihat kita berkubang pada kebodohan? Saya yakin jawabannya adalah tidak. Perubahan akan selalu terjadi dan kita harus selalu mengikuti perkembangannya.

Baca Juga  Apa Saja Tiga Ajaran Washil bin Atha', Pendiri Muktazilah?

Wallahuallam bishawab.

Editor: Yahya FR

Print Friendly, PDF & Email
Muhammad Iqbal
7 posts

About author
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta Kader PK IMM Hajjah Nuriyah Shabran 2020
Articles
Related posts
Kalam

Bagaimana Cara Al-Qur'an Diturunkan Allah?

2 Mins read
Ramadhan adalah bulan yang tiada batas. Alias, berbagai misteri yang tercipta di dalamnya begitu beragam macamnya. Nuzul al-Qur’an, salah di antara misteri…
Kalam

Pentingnya Ittiba’ Rasulullah dalam Kajian Ilmu Thariqat

4 Mins read
Fenomena penganut kelompok ilmu tasawuf banyak dijumpai di tanah air terutama di Nusantara. Mulai dari penganut syariat, thariqat, hakikat, bahkan ma’rifat. Dalam…
Kalam

Teologi Kadaluarsa: Hanya Bahas Tuhan, Tak Sentuh Kemanusiaan

2 Mins read
Teologi Kadaluarsa:- Seiring berkembangnya zaman, Islam harus mampu mengadaptasi perkembangan-perkembangan kehidupan yang senantiasa maju dan hadir di tengah-tengah masyarakat. Melihat dalam konteks…

Tinggalkan Balasan