Akhlak

Bagaimana Islam Mengatur Hubungan Muslim dan Non-Muslim?

3 Mins read

Seiring perkembangan zaman hari ini, toleransi menjadi tema besar dan sangat penting untuk dibahas dan dikaji bukan saja oleh umat Islam, melainkan juga agama-agama yang lain. Toleransi sering diartikan sebagai sebuah sikap saling menghormati, menghargai, menerima perbedaan antar sesama umat muslim maupun non-muslim. Secara tidak langsung pun itu semua membahas tentang hubungan antara muslim dan non-muslim.

Hal di atas tidak terlepas dari berbagai bentuk tindakan kekerasan yang sering mengatasnamakan agama, khususnya agama Islam itu sendiri. Seolah-olah ajaran Islam adalah ajaran yang penuh dengan kebencian dan anti dengan yang namanya keberagaman, perbedaan keyakinan terlebih kepada mereka yang bukan umat Islam (non muslim).

Islam Mengatur Baik Hubungan Muslim dan Non-Muslim

Islam sebagai agama yang penuh dengan cinta dan kasih sayang, tentu tidak setuju dengan adanya kekerasan dalam bentuk apapun, apalagi berbuat kejahatan terhadap orang lain dengan mengatasnamakan nama agama. Melainkan Islam itu mengajarkan cinta kasih, berbuat baik, lemah lembut, saling menyanyangi, dan berbuat adil sekalipun kepada non-muslim.

Sebagaimana firman Allah Swt di bawah ini:

لَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْهُمْ وَتُقْسِطُوْٓا اِلَيْهِمْۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ

Artinya: “Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. (QS. Al-Mumtahanah: 8)

Menurut Ibnu Katsir dalam tafsirnya Al-Qur’an Al-Azhim, beliau mengatakan “ayat di atas sebagai sebuah informasi bahwa boleh untuk berbuat baik terhadap pemeluk agama lain (non muslim), Allah tidak sama sekali melarang umat muslim untuk berbuat baik kepada non-muslim yang tidak melakukan perang kepada mereka, membantu orang lemah di antara mereka. Maka hendaklah setiap manusia berbuat baik dan berlaku adil, karena Allah suka terhadap orang yang adil”.

Baca Juga  Pidato Haji Wada’ Rasulullah SAW: Asal Mula Konsep HAM

Ayat di atas cukup jelas dalam menerangkan bagaimana seharusnya hubungan antara muslim dan non-muslim. Di dalamnya dikatakan bahwa “ Allah tidak melarang umat muslim berbuat baik kepada non muslim selagi mereka tidak memerangi dan mengusirmu dari negeri mu”.

Hal itu sangat cocok sekali apabila dikontekskan dengan situasi dan kondisi di Indonesia, yang dengan beragam suku, budaya, ras  bahkan agama, mereka selalu menjunjung tinggi nilai perdamaian, persatuan dan anti perpecahan yang disimbolkan dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” itu. Sehinggga nilai-nilai itulah yang harus dijaga dan dirawat dengan sebaik-baiknya.

***

Berbeda konteks, apabila mereka kemudian memerangi dan mengusir kaum muslim dari kampung halamannya. Sebagaimana disebutkan pada ayat berikutnya, yaitu:

اِنَّمَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ قَاتَلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَاَخْرَجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوْا عَلٰٓى اِخْرَاجِكُمْ اَنْ تَوَلَّوْهُمْۚ وَمَنْ يَّتَوَلَّهُمْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

Artinya: Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan mereka sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu dalam urusan agama dan mengusir kamu dari kampung halamanmu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, mereka itulah orang-orang yang zalim.(QS. Al-Mumtahanah: 9)

Pada ayat di atas, jelas sekali Allah melarang kita (umat muslim) untuk menjalin hubungan baik dengan non-muslim dengan ketentuan yang telah disebutkan di dalamnya. Di luar daripada itu, hal yang boleh saja dalam interaksi sosial antara muslim dan non-muslim dalam kehidupan sehari-hari.

Adakah Batasan Hubungan Muslim dan Non-Muslim?

Setelah kita memperhatikan tentang tidak adanya larangan berbuat baik kepada non-muslim dengan ketentuan di atas. Mungkin akan timbul sebuah pertanyaan di benak kita masing-masing. Lalu, apakah tidak ada batasan hubungan antara muslim dan non-muslim?

Baca Juga  Etika Diniyah Kampus Islam (2): Pakaian, Pergaulan, dan Percakapan

Sebelum itu, sejenak terlebih dahulu kita perhatikan dalil Al-Qur’an berikut ini:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا

Artinya: “Hai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Pada ayat di atas, ditegaskan bahwa Allah tidak menciptakan manusia dengan rupa, bentuk, bangsa, dan suku yang sama antara satu dengan yang lainnya. Sehingga diantara mereka ada kewajiban untuk saling mengenal antara satu dengan yang lain.

***

Dalam ranah kehidupan sosial dan bermasyarakat, pergaulan antara muslim dan non-muslim adalah hal yang boleh-boleh saja. Contoh; makan di rumah orang non-muslim, dengan catatan makanan yang dimakan bukan makanan haram, menerima hadiah dari non muslim dan lain-lainnya. Dahulu Rasulullah Saw pun sering sekali menerima hadiah dari raja-raja yang non-muslim.

Menurut M. Quraish Shihab dalam tafsir Al-Misbah menyebutkan, bahwa hubungan antara muslim dan non-muslim dalam kaitannya interaksi sosial itu tidak apa-apa, selagi tidak membawa dampak yang negatif bagi umat Islam.

Selain daripada itu, ada juga batasan pergaulan antara muslim dan non-muslim, yaitu ketika memasuki ruang lingkup akidah dan ibadah. Apabila sudah masuk ke dalam dua ranah tersebut, maka hubungan antara muslim dan non-muslim tidak diperbolehkan. Adapin dalam muamalah, hubungan muslim dan non-muslim boleh-boleh saja asalkan tidak ada dalil yang melarang.

Islam Melarang Menghina Agama Lain

Namun tidak cukup di situ saja, dalam interaksi sosial Islam pun sangat melarang untuk menghina atau mencaci-maki agama lain. Hal ini bukan tanpa dasar ataupun dalil, coba perhatikan firman Allah dalam Al-Qur’an surah Al-An’Am ayat 108 ini:

Baca Juga  Bukti Nabi Poligami Bukan Karena Nafsu!

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ فَيَسُبُّوا اللّٰهَ عَدْوًاۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ كَذٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ اُمَّةٍ عَمَلَهُمْۖ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

Artinya: “Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan”.

Di atas perlu menjadi catatan penting bagi kita semua, yang sewaktu-waktu dengan mudahnya menghina atau mencaci agama lain, disebabkan karena hal-hal yang sepeleh. Hal itu sangat tidak dibenarkan bahkan dilarang dalam Islam, karena berpotensi rusaknya perdamaian, timbul perpecahan bahkan menyebabkan peperangan antara agama yang satu dengan yang lain. Sebaliknya, Islam mengajarkan untuk saling menghormati dan menghargai antar sesama umat manusia.

Kesimpulan

Demikianlah Islam sangat teratur dalam mengatur tentang hubungan antara muslim dan non-muslim. Adapun perbedaan keyakinan, agama, suku, ras, pendapat dan lain-lain, jangan sampai menjadi alasan kita untuk menghina agama atau sesembahan orang lain. Alangkah baik dan indahnya apabila perbedaa-perbedaan itu kita rawat dan kita jaga secara bersama-sama.

Editor: Miftah

Print Friendly, PDF & Email
31 posts

About author
Muhammad Saleh Kader PK IMM Hajjah Nuriyah Shabran Cabang Sukoharjo Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta PD IPM SUMBAWA
Articles
Related posts
Akhlak

Kebaikan Bukanlah Komoditas yang Diperjualbelikan

1 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Beliau seorang tokoh besar. Kebesarannya tidak hanya diakui di dalam negeri, tapi juga di luar negeri. Bahkan,…
Akhlak

Apa Dampak Spirit Hijrah pada Etos Kerja Seseorang?

4 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Momentum hijrah memiliki banyak makna dan ibrah yang dapat dipetik sebagai pelajaran hidup. Dimulai dari sebagai sebuah…
Akhlak

5 Kesadaran yang Harus Dimiliki Kala Menghadapi Ujian

3 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Beberapa hari yang lalu, tepatnya hari Jumat 22 Juli 2022 saya mengikuti salat Jumat di Masjid Islamic…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *