Banyak Bertanya adalah Kebiasaan Bani Israil, Benarkah?
Tafsir

Banyak Bertanya adalah Kebiasaan Bani Israil, Benarkah?

3 Mins read

Bani Israil – Bertanya merupakan aktivitas berpikir penting dalam menunjang perkembangan intelektual seseorang. Selain itu, bertanya akan memunculkan berbagai insigt dan pandangan baru. Sehingga saya berasumsi, bahwa peradaban keilmuan dan perkembangannya diawali dari sebuah bentuk pertanyaan.

Banyak Bertanya, Ciri Bani Israil?

Lihat saja ketika filsuf pertama Thales, ketika mempertanyakan; benarkah bumi ini diciptakan dan diatur oleh dewa-dewa? Dimana ketika hujan disertai petir, maka dewa sedang marah dan lain sebagainya. Kemudian Thales  mulai skeptis terhadap mitos tersebut, akhirnya dia menyimpulkan bahwa dunia dan semesta tercipta dari air.

Ini berdasarkan pengalaman dan pengamatannya, bahwa air merupakan unsur yang sangat penting bagi kehidupan manusia saat itu. Air dapat mematikan dan menghidupkan peradaban manusia.

Namun, teori Thales masih mendapat penolakan dari muridnya sendiri. Muridnya bertanya pada dirinya sendiri, apakah benar alam tercipta dari air? Menurutnya, alam tercipta dari dua komponen yakni air dan api yang saling bertemu. Hal ini terus menerus menjadi perdebatan, sehingga ditelusuri lebih dalam dan akhirnya memunculkan ilmu pengetahuan yang baru.

Namun, hari ini timbul sebuah stigma yang menyatakan, bahwa banyak bertanya identik dengan “Bani Israil” dengan merujuk kepada Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 68-70 sebagai dasar dan dalilnya.

Dimana Bani Israil kala itu diperintahkan menyembelih Sapi dan mereka bertanya Sapi yang bagaimana? Warna apa? Besar atau kecil? Dan berbagai bentuk pertanyaan yang lainnya.

Ini yang kemudian disimpulkan secara dangkal sebagai tabiat Bani Israil yang buruk. Padahal bertanya adalah suatu yang sangat penting dalam kehidupan.

Kesalahpahaman terhadap Makna Ayat Al-Qur’an

Terlepas bagaimana awal munculnya stigma semacam ini, tapi yang terpenting adalah kita harus komprehensif dalam menyerap ilmu pengetahuan. Kita harus membaca keseluruhan ayat-ayat Al-Qur’an dan terjemahannya, lebih-lebih melihat tafsir ayat tersebut. Ini akan sangat berbahaya, jika kita tak paham dan tak tahu, tapi berlagak paling tahu.

Baca Juga  Universitas Ormas Islam: Mencerdaskan Umat!

Hal ini bersumber dari ayat Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 68-70 yang artinya:

Mereka berkata, “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami tentang (sapi betina) itu.” Dia (Musa) menjawab, “Dia (Allah) berfirman, bahwa sapi betina itu tidak tua dan tidak muda, (tetapi) pertengahan antara itu. Maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu.” (Al-Baqarah: 68)

Mereka berkata, “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami apa warnanya.” Dia (Musa) menjawab, “Dia (Allah) berfirman, bahwa (sapi) itu adalah sapi betina yang kuning tua warnanya, yang menyenangkan orang-orang yang memandang(nya).” (Al-Baqarah: 69)

Mereka berkata, “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami tentang (sapi betina) itu. (Karena) sesungguhnya sapi itu belum jelas bagi kami, dan jika Allah menghendaki, niscaya kami mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah: 70)

***

Tiga ayat diatas merupakan dalil yang digunakan untuk menjustifikasi, bahwa tabiat buruk Bani Israil adalah banyak bertanya. Padahal penjelasan ayat tersebut masih berlanjut hingga ayat ke-71.

Inilah betapa pentingnya menyerap ilmu secara lengkap dan komprehensif, agar tidak muncul kesimpulan yang dangkal bahkan bersifat menyesatkan.

Kemudian berlanjut pada ayat ke-71 yang artinya:

Dia (Musa) menjawab, “Dia (Allah) berfirman, (sapi) itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak (pula) untuk mengairi tanaman, sehat, dan tanpa belang.” Mereka berkata, “Sekarang barulah engkau menerangkan (hal) yang sebenarnya.” Lalu mereka menyembelihnya, dan nyaris mereka tidak melaksanakan (perintah) itu.” (Al-Baqarah:71)

Poin penting yang harus digaris bawahi adalah “dan nyaris mereka tidak melaksanakan (perintah) itu” dalam hal ini, Bani Israil menanyakan hal-hal diatas bukan karena ingin mencari tahu. Mereka hanya tidak ingin menyembelih Sapi yang diperintahkan. Selain itu, Bani Israil juga ingin menunjukkan kesombongan kaumnya.

Baca Juga  Pesan-pesan Etika dan Keadaban dalam Al-Hujurat

Tafsir Ayat menurut Ibnu Katsir

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan:

(فَذَبَحُوۡهَا وَمَا كَادُوۡا يَفۡعَلُوۡنَ) “kemudian mereka menyembelihnya dan nyaris tidak mengerjakannya” Adh-Dhahhak dari Ibnu Abbas, ia mengatakan,”mereka nyaris tidak mengerjakan. Penyembelihan itu tidaklah mereka inginkan, yang mereka inginkan justru tidak menyembelihnya”.

Maksudnya, meskipun sudah ada semua penjelasan disertai juga berbagai tanya jawab dan keterangan. Mereka sesekali tidak menyembelihnya kecuali setelah bersusah payah mencarinya.

Semua itu mengandung celaan atas mereka, karena mereka melakukannya tidak lain untuk menunjukkan kesombongan. Oleh karena itu, mereka nyaris tidak menyembelihnya.

Sudah jelas sekali bahwa kala itu Bani Israil banyak bertanya, karena memang sejatinya mereka tidak ingin melakukan ritual penyembelihan. Melainkan menunjukkan kesombongan dan sifat keras kepala pada diri mereka, bahkan Bani Israil hanya menyulitkan diri mereka sendiri dalam melaksanakan perintah tersebut.

Aktivitas Bertanya bukan Bani Israil Saja

Bisa disimpulkan, bahwa bukan aktivitas bertanya yang tidak baik. Melainkan maksud dari pertanyaan tersebut dilontarkan, karena posisi itu Bani Israil sudah dimudahkan untuk mencari Sapi sembelihan. Namun, mereka justru mempersulit diri mereka sendiri, tentu melalui pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan.

Seperti yang sudah disinggung diawal, bahwa perkembangan keilmuan serta teknologi hari ini tidak terlepas dari pertanyaan-pertanyaan mendasar terlebih dahulu. Bagaimana ilmu itu bisa muncul? Siapa yang memunculkannya?

Diatas adalah sebagian contoh pertanyaan yang telah memicu rasa penasaran manusia dalam mengetahui sesuatu, yang pada akhirnya muncullah jawaban dan menjadi bentuk ilmu pengetahuan yang baru.

Perlu ditegaskan lagi, bahwa stigma banyak bertanya adalah tabiat Bani Israil harus dicabut. Banyak bertanya seharusnya dimiliki oleh setiap manusia, khususnya umat Islam.

Ayat-ayat Al-Qur’an seharusnya tidak hanya dihafalkan, namun diteliti lebih dalam sekaligus dipertanyakan. Sehingga memberikan atau memunculkan solusi dan berbagai ilmu pengetahuan baru.

Baca Juga  Tafsir Kontekstual Mustahik Selama Pandemi

Al-Qur’an berisi pengetahuan dari Dzat Yang Maha Tau. Al-Qur’an diturunkan bukan hanya dijadikan wahyu semata, melainkan asas dan petunjuk dalam kehidupan sehari-hari.

Editor: Saleh

Muhammad Iqbal
1 posts

About author
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta Kader PK IMM Hajjah Nuriyah Shabran 2020
Articles
Related posts
Tafsir

Ketika Allah Melarang Manusia untuk Berputus Asa

3 Mins read
Tanpa kita sadari, berputus asa merupakan suatu hal yang sering terjadi pada setiap insan. Rasa putus asa melanda ketika kita sedang dalam…
Tafsir

Perintah Al-Qur'an untuk Memperhatikan Perempuan dan Anak

4 Mins read
Ketakwaan sebagai Standar Kemuliaan Seseorang “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian terdiri dari laki-laki dan perempuan, berbangsa-bangsa, dan bersuku-suku agar kalian…
Tafsir

Ashabul Fil: Kisah dalam Al-Qur'an yang Dianggap Sebuah Dongeng

4 Mins read
Tempo hari di media sosial agak heboh oleh postingan seorang akademisi (pernah kuliah di UII dan ITB) yang meragukan kebenaran kisah dalam…

Tinggalkan Balasan