Oleh : Ahmad Muttaqin Alim*

 

Saya tumbuh di sebuah kampung abangan. Jauh sebelum saya lahir dan bertempat tinggal di situ, tingkat keabangan kampung itu cukup pekat. Ada beberapa preman yang namanya cukup dikenal di dunia persilatan perpremanan Jogja. Minuman keras, adu jago, dan lain-lain cukup marak.

Tersebutlah seorang tokoh masyarakat, kami memanggilnya Pak Wakidi. Beliau membina masyarakat kampung itu, sejauh yang saya ingat, sejak tahun 70an, tentu sebelum saya lahir. Jadi ketika saya kecil di situ sempat mengenal beliau, sempat salim dan mencucup tangan beliau.

Menurut Bapak saya yang sangat dekat dengan beliau, Pak Wakidi sangat sabar mengajar ngaji, menghidupkan mushala dengan pengajian, tadarusan dan kegiatan lain. Mushala tidak terlalu besar, tapi cukup memberi warna hijau di kampung kami, yang dominan abangan dan sebagian kuning (orde baru). Ceritanya Pak Wakidi melakukan babad alas.

Setelah Pak Wakidi meninggal dan keluarga kami sempat pindah kontrak dari satu ke tempat lain di seputaran Jogja, saat usia saya kira-kira tsanawiyah, keluarga kami kembali ke kampung itu. Mungkin memang sudah takdir, atau mungkin juga karena doa Pak Wakidi, Bapak dapat tanah di situ sekitar 79 meter persegi. Ya, mungkin doa Pak Wakidi karena Bapak saya pernah dititipi Pak Wakidi untuk melanjutkan “penghijauan” di kampung itu.

Perjuangan dilanjutkan. Jadilah Bapak menjadi semacam ustadz kampung yang berperan seperti Pak Wakidi. Meski bukan lulusan pesantren, bekal ngaji Bapak sejak mahasiswa di berbagai pusat kajian, dan pernah menjadi bapak asrama mendampingi Kyai Dunuwi Hamim, menjadi modal yang baik.

Bersama beberapa tetua kampung, Bapak mengembangkan kampung menjadi lebih “hijau”. Sebagai seorang insinyur, Bapak mengarahkan pembangunan mushala menjadi masjid yang cukup besar. Mulai dari perencanaan pembangunan, mengatur sirkulasi anggaran, hingga finishing pembangunan masjid dilakoni Bapak day by day. Dana jariyah diberikan oleh seorang tokoh di Jakarta yang punya hubungan darah dengan kampung itu, dan memberi kepercayaan kepada Bapak dengan amat sangat sangat percayanya. Mungkin karena manyandang gelar pengganti Pak Wakidi.

Selain fisik, isi Masjid makin baik. Jamaah makin ramai, kegiatan masjid makin banyak, TPA punya banyak santri, pengajian ibu-ibu, pengajian bapak-bapak sangat rutin. Kalau dulu pengelolaan Iduladha dan kurban tidak tertata, sebagian daging hilang entah ke mana, transparansi penerima daging belum baik, makin kesini makin baik.

Meski Bapak orang Muhammadiyah, justru Bapaklah yang memiliki ide agar shalat Idulfitri dan Iduladha dilaksanakan di masjid itu, bukan di lapangan yang jaraknya lumayan jauh seperti sebelum-sebelumnya. Tak lain dan tak bukan, untuk menghidupkan dan melanggengkan iklim religius kampung kami. Masjid menjadi sentra kegiatan dan kebudayaan kampung kami, kampung yang dulunya abangan.

 

*

Pernah suatu malam, tak jauh dari rumah, beberapa orang, ada yang remaja, ada yang sudah setengah baya, bisa disebut preman lah, kongkow-kongkow hingga larut malam. Suara tawanya bisa terdengar sampai depan gang: nyanyi-nyanyi, main kartu, amat bising. Rupanya ada minuman keras juga di situ. Ini sudah berlangsung beberapa kali dan berpindah-pindah tempat di kampung kami.

Saat itu karena dekat dari rumah, kami makin terganggu juga karena nggak bisa tidur Apa yang dilakukan Bapak? Bukan mengusir, bukan memanggil laskar (waktu itu belum ada FPI) untuk men-sweeping mereka meski Bapak sangat bisa melakukannya karena memang punya aksesnya. Saat itu Bapak keluar rumah dan duduk-duduk saja di depan rumah, kadang melihat ke arah mereka. Ya, cuma begitu.

Lama kelamaan tawa mereka memelan. Gitar mulai ditaruh. Main kartu berhenti dan mereka hanya ngobrol-ngobrol, itupun nggak lama. Akhirnya satu persatu pergi. Ada satu orang yang mendekati Bapak, sedikit basa-basi menyapa Bapak dengan cara bicara yang agak ngelantur. Ia menyampaikan minta maaf kalau bising dan mengganggu. Bapak menyampaikan beberapa hal, lalu orang itu pamit.

Sejak malam itu, tidak ada lagi kebisingan oleh mereka.

Apakah mereka menjauh? Tidak. Beberapa kali di antara mereka datang ke rumah, bertamu baik-baik menemui Bapak dengan pakaian rapi. Ada yang konsultasi pekerjaan, di lain kesempatan ada yang curhat keluarga, minta bantuan, ada juga yang minta diajari ngaji…

Tidak, Bapak tidak pernah menghardik mereka, tidak pernah mengusir mereka, tidak pernah sekalipun mengerahkan massa meski mungkin di mata orang perilaku mereka adalah penyakit masyarakat.

Yang dilakukan Bapak dan para tetua masjid adalah membangun iklim yang relijius dan nyaman, mulang ngaji, menata aktivisme di masjid, membantu kalau ada warga yang membutuhkan dan lain-lain. Semua itu akhirnya mengubah budaya kampung kami dan terbukti mencegah keburukan, nahi munkar, di antara mereka. Saya amat bersyukur dan berbahagia pernah mendampingi Bapak, meski hanya menjadi teman diskusi yang tak punya amal apa-apa.

Bapak sudah berpulang, mungkin ketemu Pak Wakidi di alam sana dan sedang ngobrol ceria sambil ngopi atau ngaji. Allahumaghrilahuma, Ya Allah.

 

*) Santri Nogotirto

Tinggalkan balasan

mohon berikan komentar anda
mohon untuk menuliskan nama anda