Belajar Rukun dari Ibn al-Arabi - IBTimes.ID
Tasawuf

Belajar Rukun dari Ibn al-Arabi

4 Mins read

Ibn al-Arabi adalah seorang sufi besar yang bergelar Syaikh al-Akbar atau Sang Guru Teragung yang juga dijuluki Muhyi ad-Din, Sang Pembangun Agama. Hal ini tampak dari aneka macam karya yang lahir dari rahim tangannya yang memberi kontribusi yang sangat banyak dalam memperkaya khazanah pemikiran Islam, khususnya dalam tasawuf.

Sekalipun Ibn al-Arabi lebih menggeluti dunia tasawuf, bukan berarti ia abai terhadap hal yang lain. Baik itu yang sifatnya horizontal antara hubungan manusia dengan Tuhannya, maupun yang bersifat vertikal yang berhubungan dengan mahluk-Nya.

Hampir kesemua pokok permasalahan dibahasnya dengan sangat cemerlang dan gagasan-gagasannya pun begitu memukau. Mulai dari ontologi-metafisikanya, epistemologi, hingga aksiloginya, disandingkan dan dihadirkan senada dengan kandungan Al-Qur’an dan hadis sebagai sumber pengetahuan dan kebenarannya, tak pernah sekalipun menegasikan keduanya.

Tak ayal, hingga saat ini pun gagasan demi gagasannya masih sering menjadi objek kajian kaum cendekia, baik itu Barat maupun Muslim tersendiri. Pemikiran Ibn al-Arabi bak sumber mata air yang tak henti mengalir di setiap zaman dan peradaban, tak usang untuk terus digali untuk ditemukan relevansinya dengan problem sekarang.

Pertanyaan-pertanyaan Ibn al-Arabi tentang Wujud

Jika anda pernah mendengar wahdatul wujud, itulah gagasan masyhurnya. Seperti halnya ahli metafisika lainnya, Ibn al-Arabi pun mempertanyakan yang ada. Ibn al-Arabi bertanya tentang wujud, apa yang dimaksud dengan wujud? Apa hakikat dari wujud? Apa seseorang benar-benar dapat mengerti perihal apa yang dimaksud wujud?

Dan pada puncaknya, ia berkesimpulan yang wujud adalah realitas ketuhanan, yang dalam hal ini adalah Allah. Baginya wujud yang hakiki dan sejati adalah Allah itu sendiri. Tidak ada wujud selain wujud-Nya, dengan kata lain, segala sesuatu yang selain Allah, alam dan segala sesuatu yang ada di dalamnya bukan wujud. Lanjut Ibnu al-Arabi menyatakan dalam karyanya al-Futuhat al-Makkiyah,

“فهو الوجود كله، و فقده ما هو له”

Baca Juga  Abu Yazid al-Busthami: Sufi yang Mabuk Kepayang

Maka Dialah yang “wujud” seutuhnya, dan ketiadaan “wujud” tidak ada bagi-Nya.

Meski begitu, Ibn al-Arabi juga menggunakan kata wujud untuk menunjukkan kepada sesuatu yang selain-Nya, tetapi dalam pengertian yang metaforis atau majas. Agar tetap konsisten mempertahankan wujud yang sejati, yakni tetaplah Allah dan wujud itu hanya milik-Nya.

Sementara wujud alam fenomenal beserta segala sesuatu yang beraneka ragamnya ini adalah manifestasi (tajalli) dari diri-Nya. Terjadinya tajalli Tuhan pada alam karena dasar cinta untuk dikenal dan ingin melihat diri-Nya melalui alam. Dengan demikian, alam bagi Ibn al-Arabi adalah cermin dari Allah (wujud).

Alam dan seisinya memang wujud dari cerminan (tajalli) Allah, termasuk pada manusia, pun merupakan tajalli-Nya, dan kesemuanya adalah cerminan-Nya. Dengan kata lain, semua yang aneka berasal dari Yang Esa.

Dari prinsip wahdatul wujud inilah Ibn al-Arabi menjadikannya sebagai muara dari berbagai macam konsep pemikirannya. Entah itu dalam kaitannya dengan cabang ilmu lain hingga problematika dinamika sosial yang terjadi. Bertitik mula pada pandangan ini, bahwa segala yang ada adalah lokus penampakan (majla) Allah.

Hal ini berarti menekankan pada aspek kesamaan (musawah) dan kesepahaman (kalimatun sawa’) dalam kehidupan bersama, di mana semua dipandang berasal dari Allah dan akan kembali pada-Nya. Yang mana puncaknya melahirkan kemanusiaan yang adiluhung, kesadaran bahwa manusia berasal dan akan kembali pada-Nya.

Kita adalah Saudara

Dengan demikian, semua keragaman yang ada adalah kehendak-Nya; aneka budaya, suku ras yang beraneka macamnya, bahkan agama sekalipun. Mari cek surah al-Hujurat ayat 13:

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal….

Baca Juga  Memandang Kesetaraan Gender dengan Perspektif Sufisme

Allah saja menghendaki manusia yang beragam dengan aneka budayanya dan tidak pernah memaksa, kok, dalam beragama (silahkan cek Al-Baqarah: 256). Jika saja Ia menghendaki untuk menjadikan seluruh manusia beriman, tentu bukan perkara yang mustahil bagi-Nya. Sekali lagi, saya tekankan keragaman adalah kehendak-Nya. Baik itu yang berkulit hitam atau putih, dari suku Madura, Jawa, atau Sunda, yang memeluk Islam atau agama lainnya, adalah kehendak-Nya, dan status kita adalah sama-sama mahluk-Nya.

Dan terkadang, dari keragaman ini muncul unsur-unsur keegoisan yang melahirkan rasa superior atas yang lain. Berkulit hitam diinferiorkan seolah yang berkulit putih lebih superior, saling mencela antar ras satu dengan yang lain. Dalam hal agama pun sering kali lahir keegoisan yang merasa paling benar atas agama lain.

Lebih parah lagi, karena perbedaan tersebut, memunculkan pertikaian bahkan perpecahan yang saling mengadu sikut. Hal ini justru akan mengacaukan tatanan stabilitas sosial yang majemuk. Memang perbedaan adalah hal niscaya, tapi tidak untuk mencela karena sejatinya kita sama.

Sekalipun kita tidak saudara seiman, setidaknya sesaudara dalam kemanusiaan. Sayyidina Ali ibn Abi Thalib senada mengingatkan: “Manusia ada dua jenis: saudaramu yang sama dalam agama atau sama denganmu dalam penciptaan (kemanusiaan).” Berbuat baik untuk yang lain tanpa melihat embel ras, suku, dan agama, adalah hal baik yang senada dengan ajaran agama dan etos kemanusiaan.

Malahan merasa paling benar hingga menyalahi yang lain dengan menudingnya hina-dina bahkan mengatainya pantas di neraka, ini yang justru memunggungi syariat seolah-olah kemuliaan dan telah memiliki garansi masuk surga. Siapa yang menjamin?

Saling menghargai, memahami dan berbuat baik terhadap sesama itu sejalan dengan syariat. Setidaknya menyadari bahwa kita sama-sama manusia yang memiliki hak yang sama. Ingin dimengerti, dicintai, dan dikasih sayangi.

Baca Juga  Virus Corona dan Bumi yang Butuh Istirahat

Ejawantah Wahdatul Wujud

Dalam hal toleransi, konsep wahdatul wujud ini harus kembali digaungkan dan dihadirkan ke tengah-tengah masyarakat yang plural. Sebab, dewasa ini sangat rentan terjadi konflik atas nama ras, suku, dan agama. Bahkan kodifikasi agama, politisasinya, hingga kekerasan atas nama agama, pun kerap kali mendera jadi.

Menariknya, gagasan demi gagasannya begitu koheren, tetap berpangkal dari wahdatul wujud-nya, berpegang teguh pada kesatuan yang beragam bahwa “segala sesuatu berasal dari dan akan kembali kepada Tuhan”. Prinsip ontologis Ibn al-Arabi ini memberikan solusi alternatif untuk memberikan pemahaman bahwa keragaman yang ada adalah tangkai-tangkai dari akar yang satu.

Dengan adanya keragaman itu, Ia ingin menyiratkan sesuatu yang harus terus kita gali. Menciptakan mahluk-Nya yang beragam memiliki maksud dan tujuan. Tidak lain untuk menyingkapkan diri-Nya untuk dikenal. Baik akan saya nukilkan hadis qudsi berikut:

كنت كنزا مخفيا فأحببت أن أعرف فخلقت الخلق فبي عرفونى

Konsep wahdarabiat al-wujud ini berusaha memberi jawaban perihal keragaman sebagai lokus penampakan dari Yang Esa. Hal ini memberikan pesan penegasan yang sangat kepada kita untuk bersifat inklusif dan memberikan penekanan akan perlunya harmoni antar sesama untuk menyokong tinggi nilai-nilai kemanusiaan, kesalingpahaman (kalimatun sawa’), toleransi (tasamuh), dan kesetaraan (musawah).

Ketika kesadaran ini mulai tumbuh dan terbentuk, maka lambat-laun benih-benih toleransi dan saling memahami akan terus-menerus membiak. Dengan tetap menempatkan segala yang wujud dalam kesatuan ilahiah yang tak terbatas (infinity), kembali saya tekankan bahwa, “Segalanya berasal dan kembali pada-Nya.”

Wallahu a’lamu bi al-shawab.

Editor: Zahra

Ali Yazid Hamdani
3 posts

About author
Mahasiswa Aqidah dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga
Articles
Related posts
Tasawuf

Ketika Seorang Sufi Mengancam Tuhan

2 Mins read
A Sufi mystic was once deep in meditation when he heard a voice say to him,“Shall I tell the people what I…
Tasawuf

Tasawuf, Jawaban atas Persoalan Krisis Spiritual

3 Mins read
Pemuda muslim sebagai penggerak perubahan bangsa memiliki peran penting dalam mengenalkan Islam yang ramah dan terbuka pada dunia modern. Munculnya problema spiritual…
Tasawuf

Tiga Tahapan Menyucikan Jiwa Menurut Sufi

3 Mins read
Menurut para sufi, manusia dapat dengan mudah hanyut oleh hawa nafsu yang mereka miliki. Tanpa terasa, hawa nafsulah yang mengendalikan manusia. Padahal…

Tinggalkan Balasan