Buya Syafii Ma’arif (1): Sosok Pejuang Tangguh

 Buya Syafii Ma’arif (1): Sosok Pejuang Tangguh
Ahmad Syafii Maarif. Ilustrasi: IBTimes.ID/Galih Qoobid Mulqi            

Buya Syafii, begitu biasa akrab dipanggilnya atau ASM yang merupakan singkatan dari Ahmad Syafii Maarif. Beliau lahir pada hari sabtu, 31 Mei 1935 tepatnya di sebuah rumah bertanduk empat khas Minang buatan ayah tercintanya, di kawasan jorong kecil dan sepi bernama Calau, Sumpur Kudus, Sumatra Barat.

Buya Syafii merupakan sosok yang kecintaan pada kampung halamannya begitu dalam. Kehidupan kampung yang sangat kental dengan tradisi mewarnai masa kecilnya. Kampung halaman beliau saat itu masih minim kesadaran untuk menyekolahkan anak-anak. Syukurlah beliau tidak terjerumus mengikuti pola pikir lingkungan sekitarnya.

Ayahnya yang penuh kasih sayang merupakan sosok yang berhasil menyekolahkan beliau. Hal ini juga tidak mungkin terjadi apabila tidak tumbuh semangat belajar dan kecintaan beliau pada ilmu. Jika melihat kilas balik hidup Buya Syafii, seseorang yang teramat dirindukan kehadirannya ialah ibu kandung beliau. Ibunya wafat pada saat beliau belum genap berusia satu tahun.

Kerinduannya pada Sosok Ibu

Ibu tercinta Buya Syafii telah meninggalkan dunia ini sejak beliau masih sangat muda. Hal yang paling ia sesalkan adalah mengapa ia tidak pernah bertanya secara rinci tentang sosok ibu yang sama sekali tidak bisa ia bayangkan wajahnya. Ada yang bilang bahwa ibunya merupakan wanita yang cantik dan biasa menunggangi kuda ke pasar kota untuk belanja bulanan biasanya.

Buya Syafii hanya bisa merasa bangga dan senang memiliki ibu seperti itu. Pastinya ibu tampak sangat gagah dan sigap ketika menunggangi kuda, begitulah yang dipikirkan oleh Syafii kecil. Seperti anak kecil lainnya, ia pun pernah merasa iri terhadap teman-teman seusianya, kebanyakan sepupu dan keponakannya sendiri karena bisa dengan puas melihat ibu mereka dan bahkan merasakan suapan nasi dari tangan yang kebal dengan debu rumah tangga itu.

Sampai saat ini jika ditanyakan perihal mengenai ibunya yang bernama Fathiyah, beliau mungkin masih merasa kesal dan menyesal serta rindu pada ibu tercintanya yang tidak ia ingat bagaimana rupanya tersebut. Rasa kesal atas dirinya sendiri diluputi penyesalan karena tidak sempat bertanya banyak hal tentang ibunya kepada ayah atau paman yang telah lebih dulu meninggalkan dunia ini.

Awal Perantauan Buya Syafii: Mengejar Ketertinggalan

Salah satu sosok penting yang hadir saat Buya Syafii tidak tahu akan kemana ia akan melangkahkan kaki, tidak ada bayangan bahwa nantinya ia akan menjadi salah satu dari generasi cendekiawan muslim pertama dari Universitas Chicago, atau sebutannya Tiga Pendekar dari Chicago bersama Nurcholish Madjid dan Amien Rais serta akan menduduki posisi sebagai ketua umum PP Muhammadiyah (2000-2005).

Sanusi Latief, ialah kakak se-suku Buya Syafii yang berperan cukup besar dalam mengubah jalan hidupnya. Beliaulah orang yang mengajak Buya Syafii untuk belajar ke Yogyakarta walaupun awalnya, ayah beliau tidak begitu memberikan respon positif mungkin saja karena mengingat biaya.

Sedangkan beberapa kerabatnya setuju dan bahkan memberikan dorongan kuat, meskipun ada juga yang biasa-biasa saja. Maklum saja karena sudah menjadi kebiasaan, pendidikan di Sumpur Kudus dahulu dianggap tidak terlalu dijunjung tinggi. Akhirnya berangkatlah beliau ke tanah Jawa ditemani oleh M. Sanusi Latief dengan mengandalkan modal ijazah kelas tiga Mu’alimin Muhammadiyah Balai Tengah, Lintau.

Ia bertujuan untuk melanjutkan pendidikan ke Madrasah Mu’alimin Yogyakarta yang memakai sistem lima tahun. Sayangnya tujuan itu tidak semulus yang dikira, sebab ada dua alasan mengapa ia tidak bisa langsung diterima. Pertama, kelas empat sudah penuh sehingga tidak ada bangku untuknya. Kedua, seorang guru mengatakan bahwa kualitas pelajaran di Yogyakarta lebih tinggi dibandingkan dengan Mu’allimin daerah lain. Sebagai orang desa, ia merasa terhina dengan pernyataan-pernyataan seperti itu.

Namun, tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan selain pasrah dan berdoa. Solusi yang diberikan dari pihak Mu’allimin Yogyakarta adalah Buya Syafii harus mengulang di kelas tiga jika tidak mau menganggur. Beliau dengan berbesar hati mengulang di kelas tiga. Syukurlah ia dapat mengikuti kelas dengan sangat baik dan cepat tanggap, akhirnya ia cepat naik ke kelas empat.

Badai yang Menerpa Keluarga Kecil Buya Syafii

Lip, panggilan Buya Syafii untuk istri tercintanya. Mereka dijodohkan oleh ibunya Lip, Mak Sarialam dengan etek Bainah dan kakak Buya Syafii bernama Rahima. Kedua keluarga ini memiliki latar belakang ekonomi yang berat sebelah namun tidak menghalangi perjodohan yang lumayan mengejutkan bagi Buya Syafii.

Beliau pulang ke kampungnya dengan tidak bermodal apa-apa. Pakaian yang dikenakan pun begitu menggambarkan kondisinya di Yogyakarta sebagai mahasiswa dan pekerja lepas di media cetak Suara Muhammadiyah dengan gaji yang sangat pas-pasan. Beliau tetap tampil apa adanya dan tidak berusaha tampil sebagai orang kaya.

Mereka menikah tidak megah seperti adatnya orang Minang, mengingat Mak Sarialam sudah wafat tujuh bulan sebelumnya, selain itu kekayaan keluarga Lip meskipun masih ada tetapi sudah jauh menyusut setelah kepergian Mak Sarialam. Akhirnya mereka bertolak ke Yogyakarta setelah menikah dan menjalani berbagai gejolak kehidupan.

Bukan hal yang mudah membawa istri merantau ke Jawa. Keadaan ekonomi semakin parah ketika kelahiran anak pertamanya yang bernama Salman. Akhirnya Lip memutuskan untuk kembali sementara ke kampung halaman karena kondisi ekonomi dan kesehatan Salman. Kabar sangat menyesakkan ketika Buya Syafii menyusul istri dan anaknya ke kampung.

Lip mendatanginya dengan penuh isak tangis mengabarkan bahwa Salman sudah berpulang ke rahmatullah. Betapa sedih hati seorang ayah ditinggal putra sulungnya yang rasanya seperti baru kemarin ia menggendong-gendongnya. Ujian lagi bagi Buya Syafii dan Lip atas kematian anak keduanya yang bernama Ikhwan.

Ia merupakan anak yang aktif dan saat itu kondisi ekonomi keluarga sudah membaik karena kenaikan jabatan Buya Syafii menjadi redaktur dan profesi mengajarnya membuahkan upah yang cukup untuk kebutuhan. Sayangnya, penyakit meningitis menyerang si kecil Ikhwan. Ia sempat dirawat di rumah sakit cukup lama dibawah pengawasan Prof. Dr. Ismangoen. Saat itulah keteguhan iman seorang Buya Syafii diuji.

Editor: Wulan

IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis dan editor yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
Mandiri 137-00-5556665-3
A.n Litera Cahaya Bangsa

Dewi Nurhidayah

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka Jakarta. Sekretaris Koordinator Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah UHAMKA Jakarta Selatan.

Related post

3 Comments

    Avatar
  • I just want to mention I am just new to weblog and truly loved your web-site. Most likely I’m likely to bookmark your website . You amazingly come with amazing article content. Cheers for revealing your web site.

  • Avatar
  • Hello, Neat post. There is an issue along with your site in web explorer, could test this¡K IE still is the marketplace leader and a huge portion of other people will miss your magnificent writing because of this problem.

  • Avatar
  • Would certainly you be interested in exchanging web links?

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lost your password? Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.