Pradana Boy ZTF*)

TANGIS di ujung telepon itu memecah sunyi. Belum genap satu minggu kami mengantarkan Si Sulung kembali ke Pesantren setelah ia menjalani  liburan kurang lebih dua bulan, tiba-tiba siang itu dia menelpon sambil terisak. Apakah musabab tangisan itu? Mungkin dia masih merasa berat berpisah dengan kami? Atau ia masih terbayang teman-temannya yang begitu sering ia temui saat cuti? Mungkinkah ada hal tak beres yang ia rasakan dalam kehidupannya di Pesantren? Namun, rasanya bukan. Telah lebih satu tahun ia belajar di Pesantren, naluri kami mengatakan ia menangis bukan karena urusan sesepele itu.

Akhirnya terungkap. Ikhwal tangisnya itu, Si Sulung punya satu pinta; dan ia risau jika kami tak membuat pintanya menjadi nyata. Ia memohon agar awal bulan Juli kami hadir di Pesantren. Tentu bukan sesuatu yang berat. Tetapi, karena berbagai komitmen sosial maupun profesional yang telah ada, kami menawar: “Jangan secepat itu.” Tawar-menawar alot. Keinginan itu sudah tak bisa diubah. Tak ada pilihan. Jadilah kami harus hadir pada awal Juli, lebih awal dari jadwal kunjungan rutin yang semestinya. Dengan segala usaha, di tengah himpitan berbagai aktivitas, kami pada akhirnya hadir di Pesantren seperti harapan Si Sulung.

Toh, masih ada tanya tersisa: untuk tujuan apa kami diminta hadir hari itu? Ia hanya mengatakan: “Aku akan tampil dalam kirab.” Tidak lebih. Dan jawaban itu melegakan kami. Setidaknya kami tahu tujuannya. Ya, seorang santri yang akan tampil dalam sebuah perhelatan, dan meminta orang tuanya hadir menyaksikan. Sesuatu yang sangat manusiawi, bukan? Sebaliknya, alangkah kecewanya, jika pinta itu tak tertunaikan.

Pesantren Walisongo

Hingga tibalah pagi itu. Dengan bergegas, dalam balutan sedikit ketergesaan, kami meluncur menuju kompleks Pondok Pesantren Wali Songo, Ngabar, Ponorogo dari sebuah penginapan sederhana. Saat mulai memasuki kompleks Pesantren, banyak mobil terparkir rapat, cenderung acak-acakan. Mungkin lantaran jumlah mobil yang hadir dengan ruang yang tersedia tak seimbang, lalu orang memilih parkir mobil sekehendak hati saja. Setelah memutar beberapa kali dan menemukan tempat parkir, kami hanya berdiri mematung di depan masjid di dalam kompleks Pesantren.

Hari beranjak. Matahari bergerak pelan semakin ke atas. Kompleks Pesantren semakin ramai. Namun ada yang tak biasa. Banyak santri berpakaian dengan aneka ragam. Dari satu arah terlihat beberapa santri dengan membawa hiasan bulu burung ala Papua. Sementara di arah lainnya, puluhan santri berbaju hitam-hitam, dalam balutan kaos merah putih kompak mengangkat topeng khas reog Ponorogo. Mereka berlari kecil. Di satu sudut, ada boneka ondel-ondel khas Betawi atau dandanan ala putri raja. Seperti ada yang menuntun, kami bergerak pelan menuju lapangan Dusun Ngabar, Ponorogo. Rupanya, di sinilah titik keramaian. Lapangan telah penuh sesak dengan santri, orang tua dan masyarakat luas. Sebuah panggung panjang dan besar terbentang. Aneka warna menghiasi. Di atas panggung utama terdapat tulisan raksasa: Khutbatu-L-Iftitah. Inilah acara itu: Apel Tahunan untuk Santri Baru.

Suara pemandu acara menggema. Memanggil santri-santri yang dikelompokkan dalam berbagai unit kedaerahan yang disebut sebagai “Konsul.” Setiap nama sebuah “konsul” disebut, segera diiringi dengan pengenalan kebudayaan, tradisi, kesenian, pakaian, adat-istiadat dan bahkan makanan daerah.

Rupanya inilah kejutan besar yang sesungguhnya. Tentu saja, Si Sulung tak memiliki pemikiran jauh untuk menunjukkan kepada saya tentang bagaimana Islam, budaya, dan masyarakat menyatu dan bersenyawa di Pesantren Wali Songo, Ngabar, Ponorogo. Tetapi, dengan ia “memaksa” kami hadir pada hari itu, saya memiliki kesempatan berharga untuk menyaksikan sesuatu yang benar-benar menjadikan mata saya terbelalak. Bukan karena saya selama ini tak memiliki perhatian pada apa yang terjadi dalam konteks hubungan Islam, budaya dan masyarakat di Ponorogo, khususnya; dan Jawa, pada umumnya. Tetapi, karena apa yang saya saksikan pagi itu seperti memberikan jawab dan penegasan atas apa yang bagi sebagian orang masih dibingungkan, eh, bahkan diributkan.

Islam, Budaya dan Masyarakat

Lalu, untuk memudahkan dalam menyampaikan pandangan dan kesan tentang peristiwa ini, saya sebut saja apa yang saya saksikan ini dengan “Islam Ponorogo.” Mohon maaf, saya tak hendak membeda-bedakan tentang Islam dan melakukan pelabelan pada Islam telah banyak dilakukan orang. Bukan! Istilah ini hanya saya gunakan agar bercerita jadi mudah. Itu saja.

Soal Islam, kebudayaan dan masyarakat. Sekali lagi saya terhenyak menyaksikan Khutbatu-L-Iftitah tadi. Dalam sebuah pesantren yang mengajarkan ilmu-ilmu keislaman; ternyata wawasan kedaerahan dengan aneka kekhasan diperkenalkan. Fakta bahwa Pesantren sebagai pusat pembelajaran Islam, sama sekali tidak menghalangi lembaga ini untuk menjalani peran sebagai “agen” tumbuhnya kesadaran kebudayaan. Mungkin, bagi sebagian orang ini soal sepele. Tetapi saya melihatnya tidak. Ini soal serius. Serius. Bahkan sangat-sangat serius. Mustahil hal semacam ini lahir dalam sebuah pesantren, jika para pemimpinnya tidak memiliki wawasan yang terbuka tentang masyarakat. Ini kontras dengan kampanye sebagian kelompok yang belakangan bersemangat menghadirkan Islam dengan berpotensi mematikan persenyawaan Islam dengan masyarakat di mana Islam tumbuh.

Bagi mereka yang memahami Ponorogo sebagai bagian dari peta wilayah kebudayaan di Jawa segera mafhum tentang bagaimana posisi wilayah ini dalam struktur kebudayaan Jawa. Ayu Sutarto (meninggal 2016), yang pada masa hidupnya adalah seorang guru besar Fakultas Sastra di Universitas Jember, membedakan Jawa Timur ke dalam empat tlatahkebudayaan besar, yakni Tlatah Mataraman, Tlatah Arek, Tlatah Madura Pulau dan Tlatah Pandalungan. Disebut Mataraman karena sebagian besar penduduk yang berdiam di tlatah budaya Mataraman ini secara genealogis maupun historis memiliki keterkaitan yang erat dengan kebudayaan Mataram Yogyakarta dan Surakarta di Jawa Tengah.

Ponorogo adalah salah satu wilayah penyangga kebudayaan Mataraman di Jawa Timur itu. Maka mencari hubungan antara kebudayaan lokal Ponorogo dengan Islam sebenarnya tidak terlalu sulit. Kekentalan budaya Jawa dalam struktur masyarakat Ponorogo demikian nyata. Dari manapun kita memasuki wilayah Ponorogo, aneka gapura dengan ciri khas kebudayaan Jawa menyambut gagah. Ini bukti, sekali lagi, bahwa orang di Ponorogo bisa menjadi Muslim yang baik, tanpa harus menghapus identitas ke-Jawa-annya.

Secara ilmiah memang masih perlu pembuktian serius. Tetapi masyarakat Ponorogo meyakini bahwa seni tradisional Reog Ponorogo juga berkaitan erat dengan proses Islamisasi di wilayah ini. Asmoro Achmadi (2012) menulis tentang dimensi aksiologis Reog Ponorogo menyebut bahwa salah satu nilai dalam kesenian Reog Ponorogo adalah nilai dakwah. Kesimpulan ini bersumber dari salah satu versi sejarah Reog Ponorogo yang menyebut bahwa kelahiran Reog berkaitan erat dengan pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi dalem Prabu Brawijaya V yang memilih meninggalkan Majapahit akibat dominasi permaisuri Prabu Brawijaya V yang berlebihan. Dalam pengasingannya, Ki Ageng Kutu mendirikan padepokan bernama “Surukubeng” tempat ia mengajarkan ilmu kanuragan dan kesenian barongan kepada para cantriknya.

Di tangan Ki Ageng Kutu, kesenian barong itu ternyata belakangan berfungsi politis, karena digunakan sebagai media untuk menyindir kekuasaan Prabu Brawijaya V. Dalam tradisi politik patrimonial, tentu saja tindakan Ki Ageng Kutu adalah subversi. Maka, Prabu Brawijaya mengutus Bathara Katong untuk menumpas pemberontakan Ki Ageng Kutu. Kekalahan Ki Ageng Kutu ini sekaligus membukakan jalan bagi Islamisasi di Ponorogo yang kala itu bernama Wengker. Menariknya, meskipun barongan yang pada mulanya merupakan kesenian kalangan tertentu, oleh Bathara Katong dipelihara dan dimodifikasi sedemikian rupa, sehingga tak hanya menjadi seni masyarakat, tetapi menjadi sarana penyebaran ajaran Islam (dakwah) dan berganti nama menjadi Reog. Karena itulah, masyarakat Ponorogo hampir tidak berselisih faham ketika menyebut bahwa Reog berasal dari kata bahwa Arab riyaqunyang artinya khusnul khatimah. Maknanya, proses Islamisasi masyarakat Ponorogo dari Hinduisme dan Buddhisme oleh Bathara Katong diharapkan menjadi akhir yang baik dalam kehidupan mereka.

Nasionalisme Kebangsaan

Dalam kaitan dengan bangunan nasionalisme kebangsaan, dan hubungan antara para pemegang peran di masyarakat. Nyata di atas, bahwa kekentalan budaya Jawa di Ponorogo, sama sekali tidak menghalangi pesantren untuk tetap “Islami” dalam arti yang luwes. Sependek yang saya tahu, pesentren-pesantren di Ponorogo pada umumnya sangat kosmopolitan dan terbuka. Saya meyakini, ini tidak mungkin terjadi, jika tidak ada harmoni antara para pemimpin pesantren sebagai pemangku ilmu keagamaan, penguasa lokal sebagai pemangku wilayah dan masyarakat sebagai pihak yang berkepentingan kedua pihak terjalin dalam keserasian. Sejarah pesantren Ponorogo menjadi saksi kenyataan itu.

Mustahil Anda yang sudah datang dan pergi ke Ponorogo tak mengenal nama Masjid Tegalsari dengan Kyai Ageng Hasan Besari sebagai pemimpin kharismatiknya. Ki Ageng Hasan Besari tak hanya guru bagi para pemuka agama. Tercatat penguasa-penguasa politik pernah pula menjadi muridnya. Pakubuwono II atau Sunan Kumbul, Raden Ngabehi Ronggowarsito dan Raja Jawa Tanpa Mahkota, H.O.S. Cokroaminoto adalah di antara tokoh politik yang pernah dibimbing oleh Kyai Besari. Ini bermakna bahwa sesungguhnya kesadaran beragama dan bernegara itu selaras, tanpa harus terbebani dengan bentuk-bentuk yang kaku. Lugasnya lagi, peran tokoh agama kharismatik seperti Kyai Besari tidak boleh dipandang remeh dalam turut serta membangun ide nasionalisme kebangsaan yang kini disepakati sebagai bernama Indonesia ini.

Maka, belakangan ketika saya mengenal banyak kawan yang merupakan alumni dari pesantren-pesantren dengan corak “Islam Ponorogo” ini ikut-ikut menari dalam wacana keagamaan yang dikembangkan oleh kelompok lain yang lebih bersifat “politis” ketimbang substantif, saya hanya menyisakan satu tanda tanya: “Apakah sesungguhnya mereka sadar apa yang sedang mereka ikuti dan mereka perjuangkan?” Dan saya sangsi mereka menyadarinya. Ya, karena pendidikan pesantren dengan corak kosmopolitan dan terbuka ala pesantren-pesantren di Ponorogo ini, menurut saya, cukup menjadi jawaban dan benteng, pada posisi mana mereka seharusnya berdiri. Setidaknya jika pilihan itu harus dikonkretkan: perjuangan isi atau perjuangan bungkus.

Jadi, beragama yang baik, dalam keyakinan awam dan sederhana saya, adalah keberagamaan yang merangkul, bukan memukul; menuntun bukan memaksa; menggendong bukan menyeret; memelihara bukan merusak; dan membangun bukan meruntuhkan. Agama harus merangkul kebudayaan, menuntun masyarakat, menggendong tradisi, memelihara struktur, dan di atas segalanya membangun dan mempraktikan nilai. Dan, saya menemukan itu –salah satunya– di Pondok Pesantren Wali Songo, Ngabar.

Rasa-rasanya pertentangan yang agamis dan sinkretis, yang syar’i dan yang tak syar’i, yang Nusantara atau bukan Nusantara, yang belakangan ini banyak muncul di permukaan; hanya akan diributkan oleh mereka yang terlalu asyik-masyuk menghabiskan agama sebagai pelampiasan emosi. Karena, jika mereka mau sedikit saja melangkahkan kaki menengok bagaimana Islam dipraktikkan sebagai nilai di pesantren-pesantren, akan segera muncul kesadaran betapa malunya sehari-hari hanya sibuk mempertentangkan Islam dengan ini dan itu. Ponorogo adalah sebuah sintesis. Dan saya ikhlas anak saya dididik dengan langgam Islam ala Ponorogo ini.***

*) Akademisi Universitas Muhammadiyah Malang. Asisten Staf Khusus Presiden Republik Indonesia.

2 komentar

Tinggalkan balasan

mohon berikan komentar anda
mohon untuk menuliskan nama anda