Diogenes dan Kelahiran Muhammadiyah

 Diogenes dan Kelahiran Muhammadiyah

Ilustrasi. Sumber: IBTimes/Galih Qoobid Mulqi

Oleh: Ahmad Ashim Muttaqin*

Mungkin tidak ada filsuf yang lebih ceroboh dan eksentrik daripada seorang yang mengaku diri kosmopolitan dan tinggal di era Yunani kuno. Siapa lagi kalau bukan Diogenes dari Sinope. Seorang filsuf Sinisme yang hidup pada rentang tahun 412 SM hingga 322 SM.

Sinisme adalah paham yang menyatakan kebahagiaan sejati merupakan ketidaktergantungan kepada sesuatu yang acak atau mengambang. Maka kaum Sinis menolak kebahagiaan dari kekayaan, kekuatan, kesehatan, dan kepamoran. Sinisme, berasal dari kata sinis, merupakan pandangan atau pernyataan sikap yang mengejek dan memandang rendah atau enteng terhadap sesuatu.

Diogenes dari Sinope

Kisah tentang kehidupan Diogenes dari Sinope salah satunya disadur oleh Diogenes Laërtios yang mengatakan bahwa Diogenes diusir dari tempat asalnya karena telah mencemarkan mata uang logam. Sementara itu, di rumah barunya di Athena, Diogenes melaksanakan misi untuk mencemarkan “mata uang” habitus masyarakat.

Habitus yang hendak ia cemarkan itu dianggapnya sebagai sisi moralitas manusia yang tidak tepat. Menurutnya, alih–alih terusik oleh ketidakbenaran yang mendasar, masyarakat Athena justru lebih terganggu oleh ketidakbenaran protokoler berupa konvensi dan tradisi turun-temurun.

Cara berfilsafatnya yang berbeda dengan filsuf lainnya membuat namanya semakin cepat tenar hingga ke telinga Alexander Agung, raja Makedonia saat itu. Keberaniannya untuk mengusir Alexander Agung yang menghalangi sinar matahari merepresentasikan sikapnya dalam melihat manusia sebagai makhluk tanpa jabatan dan pangkat sekaligus menolak kemewahan dan kebahagiaan yang diperoleh secara instan. Bahkan penyair sufi Jalaludin Rumi menuliskan kisahnya dalam sebuah puisi yang tercatat dalam karyanya Diwan I-Syam.

Diogenes memperlakukan tata pemerintahan lokal dan kebiasaan sebagai bentuk pemikiran yang sempit dan tidak selaras dengan kemudahan dan spontanitas sebagai karakteristik alam. Pada umumnya, penganut Sinisme menolak kekayaan, jabatan tinggi, dan penanda sukses konvensional lainnya yang menjadi penghalang untuk berkembang.

Baca Juga  Apa yang Salah dari Hukum Tidak Wajibnya Jilbab?

Diogenes mengejar sikap yang dipilihnya sendiri lebih jauh daripada apa yang kawan filosofisnya lakukan. Termasuk gurunya Antisthenes, yang merupakan pemikir Sinis pertama dan membantu memberikan Diogenes sebuah teori ke arah kehidupannya.

Kesatuan Kata dan Perbuatan

Banyak pemikir dan para reformis era itu memandang Diogenes sebagai guru yang tak ternilai karena dia menempatkan jalur kebajikan yang dipilih sendiri di atas norma-kaidah masyarakat. Mereka mengagumi kesediaannya untuk membayar harga penghinaan sosial dengan imbalan kebebasan dan ketaatan pada alam, bukan pada hukum manusia. Friedrich Nietzsche mengatakan bahwa hidup Diogenes merupakan pembalikan atau transvaluasi nilai sebagai langkah yang diperlukan menuju kebebasan manusia.

Diogenes sebenarnya menyatukan kata dan perbuatan. Dia melakukannya dengan cara yang flamboyan dan mencolok  termasuk mencemari publik dari apa yang ia anggap sebagai filsafat teoritis murni Plato, yang ia kritik lagi dan lagi. Referensi untuk perbuatannya meresap ke dalam filsafat Hellenistik dan Romawi. Berlakunya filsafat Sinis membuatnya berpengaruh pada stoicism dan sekolah praktik filsafat lainnya. Selain itu, modus hidupnya terus memikat filsuf dan kritikus sosial sampai hari ini.

Ajaran-ajaran Sinisme yang ditinggalkan oleh Diogenes tercermin dari perilakunya yang menolak konvensi masyarakat dan betingkah laku tidak seperti manusia pada umumnya. Sehingga ia lebih dikenal dengan slogan “Deface The Coinage!”, sebuah metafora untuk penolakan terhadap kebiasaan dan lembaga sosial konvensional. Sinisme lebih menekankan kepada fakta, bukan bagaimana kata-kata mengungkapkan fakta itu.

Ahmad Dahlan Sang Pencerah

Muhammad Darwisy yang kelak mengganti namanya menjadi Ahmad Dahlan, adalah seorang reformis agama dan sosial kelahiran Yogyakarta. Namanya begitu melekat dengan hasil jerih payahnya mendirikan Muhammadiyah sebagai gerakan yang mengubah keadaan dan konstruk berpikir masyarakat di awal abad ke-19.

Keadaan masyarakat Yogya saat itu sungguh memprihatinkan. Dampak dari kolonialisme dan imperialisme Belanda membuat masyarakat menjadi miskin. Kebijakan Belanda dalam hal pendidikan dan kesehatan yang diperuntukkan untuk kalangan ningrat dan non pribumi ikut menyumbang wabah penyakit dan kebodohan.

Baca Juga  Orang Mukmin sebagai Penangkap Api Islam

Melihat kondisi tersebut, Dahlan tergerak hatinya untuk memperbaiki keadaan masyarakat saat itu supaya lebih ‘berkeadaban’. Bersama murid-muridnya, ia mendirikan Muhammadiyah yang memiliki 3 pilar kerja, yakni memberikan layanan pendidikan, layanan kesehatan dan layanan sosial. Etos gerakan Muhammadiyah ini terinspirasi dari pemaknaan surat Al-Ma’un yang ia kaji bersama murid-muridnya selama berbulan-bulan.

Teologi Al-Maun yang dipelajari Dahlan dan muridnya tidak hanya dipahami sebagai suatu landasan pengetahuan, tapi mereka berusaha untuk mempraktikkan apa yang terkandung dalam surat Al-Maun. Implementasi yang dilakukan Dahlan tidak hanya berupa tindakan karikatif. Ia menggandeng Budi Utomo dan Keraton Yogyakarta untuk mendirikan sekolah, rumah sakit, dan panti asuhan.

Pemikiran Dahlan mempunyai landasan yang prinsipil dipandang dari sudut pandang filsafat ilmu. Karena cara pandang Dahlan sudah mendahului pemikiran unutk menerapkan kebebasan berpikir yang berpangkal dari keyakinan Quraniyah untuk meluruskan tindakan yang berlandaskan sumber aslinya dengan penafsiran yang sesuai dengan akal pikiran sehat dan dapat dipertanggung jawabkan.

Langkah yang dilakukan oleh Ahmad Dahlan tersebut pada awalnya mendapat penolakan dari masyarakat. Karena konstruk masyarakat saat itu menganggap segala sesuatu yang berhubungan dengan modernitas merupakan hasil tipu daya Belanda. Mereka menganggap budaya modernitas dari Belanda merupakan tindakan yang salah. Bahkan dicap sebagai tindakan yang menjerumuskan kepada kekafiran.

Namun Ahmad Dahlan tak gentar menghadapi tuduhan-tuduhan tidak rasional tersebut. Pelan namun pasti, masyarakat mulai menerima kehadiran Muhammadiyah dan sekarang Yogyakarta menjadi jantung perkembangan Muhammadiyah. Semangat purifikasi dan dinamisasi yang dibawa Muhammadiyah mampu menjadi corak tersendiri bagi perkembangan Islam di Indonesia.

Diogenes dari Indonesia

Di sini penulis tidak bermaksud menyamakan Ahmad Dahlan dengan perilaku Diogenes yang diluar nalar manusia normal. Tapi penulis melihat bahwa terdapat kesamaan ruh dalam semangat memperbaiki kondisi sosial masyarakat. Ahmad Dahlan dan Diogenes memiliki tekad yang kuat dalam memberi angin perubahan menuju masyarakat yang berkeadaban.

Baca Juga  Hamka dan Kisah Front Pertahanan Nasional

Keduanya tidak ingin usaha yang dilakukan terbatas pada ruang-ruang retorika dan dialektika belaka. Tapi mereka langsung mempraktekkan apa yang menjadi keyakinan-nya. Hal ini dibuktikan dengan praktik filosofis Diogenes dan pembangunan Amal Usaha Muhammadiyah yang digagas Ahmad Dahlan. Sampai sekarang, AUM yang didirikan Muhammadiyah berkembang pesat di seluruh penjuru Indonesia.

Muhammadiyah lahir dari praksisme sosial yang merupakan kombinasi antara refleksi dan aksi. Ada perpaduan antara pikir dan aksi. Jika Muhammadiyah hanya tumbuh sebagai gerakan ilmu semata, tanpa aksi, niscaya gerakan ini tidak berkembang menjadi besar seperti saat ini.

Mereka benar-benar ingin menyatukan antara kata dan perbuatan. Sehingga efek nya bisa dirasakan secara langsung oleh masyarakat sebagai sarana untuk menjadikan keadaan dunia yang berkeadaban. Mereka juga tidak ingin terjebak didalam belenggu tradisi dan konvensi masyarakat yang tidak tepat. Keberanian untuk menolak kepercayaan masyarakat turun-temurun tentu menjadi tantangan tersendiri dalam usaha yang dilakukannya.

***

Terlihat secara jelas bahwa keduanya benar-benar fokus terhadap etika yang berasal dari refleksi atas moralitas. Dahlan dan Diogenes tidak mau mengamini moralitas yang ada begitu saja. Mereka merombak tradisi dan moralitas yang ada agar sesuai dengan keadaan naluriah manusia dan rasional.

Maka menjadi teladan bagi kita bersama, bahwa tidak selayaknya manusia hanya berbicara namun tidak melakukan apa yang diungkapkannya. Tentu tidak tepat pula ketika manusia mempraktekkan, namun tidak memiliki landasan atas dasar apa manusia melakukan hal tersebut. Kesatuan antara teori dan praktik harus menjadi prinsip yang hadir dalam setiap individu dimana pada akhirnya menjadikan masyarakat lebih dewasa dan berkeadaban.

*) Kader IMM Renaissance, FISIPOL Universitas Muhammadiyah Malang


IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan masyarakat, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
BNI 0342383062 A.n Qurrota A'yun

RedaksiIB

https://ibtimes.id

IBTImes.ID - Beyond the Inspiration: Keislaman, Kemodernan, dan Keindonesiaan

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *