Milenial Menolak Anti Sosial dengan Islam Transformatif

 Milenial Menolak Anti Sosial dengan Islam Transformatif

Ilustrasi. Sumber: Ayobandung

Oleh: Hidayah Hariani*

Mengawali pada istilah Islam transformatif, penulis sangat yakin para pembaca tidak asing lagi ketika mendengar istilah tersebut. Istilah ini merupakan gagasan dari term teologi kontemporer di era milenial.

Term ini digagas oleh salah satu cendikiawan muslim yang memiliki pengaruh besar bagi Indonesia, Moeslim Abdurrahman. Islam transformatif berangkat dari kegelisahannya terhadap modernisasi dengan menolak isu kebodohan dan keterbelakangan dan Islamisasi yang terbatas pada persoalan normatif.

Sederhananya, penulis menarik dari penjelasan Moeslim Abdurrahman mengenai definisi Islam transformatif, yakni sebagai alternatif dari introduksi paradigma “modernisasi” dan paradigma “Islamisasi”. Sebab, kedua hal ini akan memberikan dampak banyak orang menjadi lupa akan persoalan perubahan dan proses sosial bahkan memarginalkan orang-orang yang tidak memiliki akses sudah tak dihiraukan lagi.

Islam Agama Transformatif

Senada dengan Moeslim Abdurrahman yang mendeskripsikan tentang Islam transformatif, yaitu Islam yang membuat distingsi dengan proses modernisasi. Hal tersebut dicapai dengan menghubungkan refleksi teologis dengan pembacaan konstruksi masyarakat. Agar dapat menimbulkan gerakan-gerakan transformasi secara sosial dengan tidak melupakan hubungan transedensial.

Di sisi lain, kebangkitan umat Islam yang kian lantang mulai disuarakan oleh para pemikir Islam, salah satunya merespon perkembangan di dunia Barat. Sehingga teologi transformatif yang dimaksud di sini ialah memberikan perhatian yang lebih terhadap persoalan keadilan sosial dan ketimpangan sosial yang menjamah masyarakat kecil. Islam transformatif hadir sebagai struktur yang memfasilitasi orang-orang yang tidak mampu mengekspresikan harkat dan martabat kemanusiaanya.

Hemat penulis bahwa Islam transformatif ini dapat dijadikan sebagai landasan normatif atas teologi kontemporer Islam secara umum. Landasan teori yang berdimensi pada pembebasan, Islam transformatif juga dapat dielaborasi sebagai upaya praksis untuk mengidentifikasi problem yang disebabkan oleh dampak modernisasi (kesenjangan sosial, penindasan yang dilakukan pemilik modal, penguasa dan pengusaha kepada kaum tertindas yakni para mustadh’afin, buruh dan grassroot). Sebelum lebih lanjut pada pembahasan praksis dari Islam transformatif, penulis ingin mengajak pembaca untuk bernostalgia sejenak.

Baca Juga  Visi Pendidikan Indonesia: Masukan untuk Presiden Jokowi

Secara eksplisit, Islam bisa disebut sebagai agama transformatif. Karena misi transformatif Islam telah ada sejak zaman Rasulullah saw. Hal ini dapat dipahami dari misi kerasulan Muhammad saw. yang ditujukan untuk membebaskan manusia dari hal-hal yang merendahkan martabatnya. Juga memperbaiki akhlak manusia dari kemusyrikan, pertengkaran, kebodohan, dan beberapa keterbelakangan lainnya.

Dosa Individual dan Sosial

Islam hadir di tengah komunitas Arab yang patologis dan eksploitatif-piramidal. Karena itu Islam bermaksud mengubah sistem sosial menjadi masyarakat yang berdimensi keadilan, saling menghargai persamaan dan perbedaan, membela kaum mustadh’afin. Senada dengan nilai normatif Islam yang menyebutkan bahwa keadilan adalah sendi utama dalam masyarakat (QS. 5:8 dan 7:29) dan membela hak-hak rakyat kecil (QS. 4:75). Dimensi inilah disebut sebagai transformasi dalam Islam.

Penulis ingin mengajak pembaca untuk menerapkan Islam transformatif kepada salah satu ibadah, yaitu puasa. Sederhananya, puasa melalui perspektif ini tidak hanya menahan makan dan minum mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun, puasa juga merupakan latihan untuk manusia agar dapat merasakan penderitaan orang lain yang tidak makan dalam sehari-semalam. Inilah esensi sesungguhnya dari nilai normatif ibadah puasa.

Realitanya, dengan belajar merasakan penderitaan orang lain, akan timbul rasa empati dan keberpihakan terhadap orang yang miskin dan tertindas. Sehingga, term-term agama harus dimaknai ulang melalui pembacaan Islam yang transformatif.

Moeslim mengatakan bahwa dampaknya  tidak hanya pada konsep dosa individual tapi juga ada dosa sosial. Artinya, seseorang berdosa bukan hanya karena dirinya sendiri, melainkan ada satu proses ketidakadilan sehingga terpaksa melakukan dosa individual.

Pembaca yang budiman, masih ingatkah dengan Bilal bin Rabah? Salah satu pemuda yang berkulit hitam legam, dari kalangan budak (bawah) menjadi spesialis adzan. Apa yang dikatakan oleh muslim di sekitarnya ketika itu? Tentu, Ia banyak menerima caci dan maki, sebab landasannya masih bertumpu pada kelas sosial. Sehingga dosa sosial inilah yang lebih berbahaya dan membutuhkan pembacaan ulang dan lebih kritis.

Baca Juga  Mereka Kecewa Ternyata Muhammadiyah Moderat

Juga persoalan ketimpangan sosial dan keadilan yang terjadi di Poso dan Maluku. Disebabkan karena perspektif yang sempit, serta muatan politis-ekonomis, menyebabkan konflik antar umat beragama menjadi kian rentan. Islam beserta dokrinnya hadir untuk memperbaiki dan membentuk manusia sesuai dengan kodratnya yang mencakup dimensi imanensi (horizontal) dan dimensi transendensi (vertical). Sehingga, perlu adanya pengajaran teologi Islam secara inklusif dan pemahaman terhadap agama lain.

Orientasi Kritik Sosial

Sedangkan praksis agama sejatinya berorientasi kepada bagaimana menegakkan basis-basis nilai keberagamaan yang lebih esensial. Islam transformatif diterapkan melalui pemaknaan dialogis, yakni agama harus membaca dan memberikan jawaban terhadap ketimpangan sosial dengan kata lain ‘empowering the people’ untuk mengorganisasi diri dalam memperbaiki harkat hidup dan martabatnya sebagai manusia yang manusiawi.

Demikianlah tujuan utama dari penerapan prinsip-prinsip transformatif dalam agama Islam ialah agar memperoleh kebebasan dan perubahan yang nyata secara sosial dan ekonomi masyarakat sehari- hari. Soal kaum mustadh’afin, soal minoritas, atau soal gender, tidak seharusnya dipandang hanya sebagai suatu konsep dalam praktik diskriminasi, baik dalam sistem dan aturan masyarakat yang berlaku.

Hemat penulis, awal munculnya Islam transformatif sering diartikan sebagai paham agama yang lebih mentransendensikan transformasi sosial. Bukan Islam sebagai identity ressertion (peneguhan identitas kelompok). Sampai pada hasil akhir dari Islam transformatif ialah munculnya social justice sebagai suatu kekuatan dan secara kultural sudah lama berakar di Indonesia.

Islam transformatif merupakan Islam yang memiliki orientasi dan menggagas perlunya social reform. Islam harus mempunyai orientasi kritik sosial, tidak hanya sebagai pencerahan atau sebagai wacana modernisasi. Orientasi kritik sosial yang dimaksud adalah menjadikan Islam yang ingin mengubah keadaan dan membebaskan manusia dari kelas-kelas sosial ,agar terwujud keadilan dalam bermasyarakat.

Baca Juga  Malang sebagai Peradaban Perkampusan

*) Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan masyarakat, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
BNI 0342383062 A.n Qurrota A'yun

RedaksiIB

https://ibtimes.id

IBTImes.ID - Beyond the Inspiration: Keislaman, Kemodernan, dan Keindonesiaan

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *