Hasnan Bachtiar*

Tidak mengagetkan jika “filsuf selebritis” Rocky Gerung kerap manggung di pelbagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM). Sang filsuf ini memang tenar dan ketenarannya mampu menyihir siapa saja, yang barangkali sedang gandrung dengan diskursus “akal sehat”. Dengan mengundangnya, harapannya mungkin akan ketularan berakal-sehat, atau sekurang-kurangnya dianggap demikian oleh khalayak ramai.

Tulisan ini akan membahas, sampai kapan diskursus mengenai akal sehat ini akan terus ramai diapresiasi terutama di kalangan Muhammadiyah?F

Tentu terdapat beberapa alasan mengapa pertanyaan ini diajukan, yakni: pertama, fenomena Rocky Gerung muncul ke permukaan di saat hajatan politik Indonesia 2019 akan digelar; kedua, Muhammadiyah yang secara organisatoris mengafirmasi strategi high-politics, namun organisasi ini terfragmentasi secara sosial dan politik, termasuk condong ke calon presiden Jokowi-Ma’ruf Amin ataukah Prabowo-Sandiaga Uno; ketiga, para filsuf di kalangan Muhammadiyah sendiri jarang turun gunung, sehingga perlu ngangsuh kaweruh kepada manusia hebat semacam Rocky gerung.

Jawaban mengenai pertanyaan tersebut bisa saja sederhana. Walaupun penjelasannya jelas tidak sederhana. Jawaban yang pertama adalah, karena memang sejak zaman KH Ahmad Dahlan akal sehat (rasionalitas, bukan rasionalisme) itu sangatlah ditekankan, maka bisa jadi hal ini akan terus menjadi ciri khas ber-Muhammadiyah. Yang kedua, temporalitas diskursus akal sehat ini akan kadaluarsa seiring dengan selesainya momen politik elektoral Indonesia, dan masih memiliki kemungkinan untuk dibangkitkan kembali jika diperlukan pada momen berikutnya.D

Bisa jadi kedua jawaban di atas benar. Itu semua tergantung kepada bagaimana kita meletakkan diskursus akal sehat itu sendiri. Sebenarnya, diskursus akal sehat bisa diletakkan secara lebih spesifik, yakni, akal sehat (rasionalitas) secara umum sebagaimana yang dibicarakan oleh KH Ahmad Dahlan – sebagaimana telah didiskusikan dengan cara yang menarik oleh Azaki Khoirudin dengan tajuk “Akal Sehat Kiai Dahlan” di Islamberkemajuan.id pada 31/01/2019 – dan akal sehat di dalam Muhammadiyah yang sekedar dicatut oleh Rocky Gerung. Untuk yang terakhir disinggung, sebut saja akal sehat versi Rocky Gerung.

Pembagian diskursus tersebut memiliki implikasi yang serius bagi Muhammadiyah itu sendiri, khususnya mengenai tradisi intelektualisme kritis yang terbangun di dalamnya. Diskursus yang pertama berkaitan dengan semangat tajdid atau reformisme keagamaan, mendinamisasi idealitas jargon “Islam Berkemajuan”, ijtihad interdisipliner-kolektif, dan bahkan suatu transformasi falsafah penting dari al-muḥāfaẓah ‘ala al-qadīm al-āliḥ wa al-akhdhu bi al-jadīd al-aṣla menuju al-muḥāfaẓah ‘ala al-qadīm al-aṣlaḥ wa al-ijād bi al-ajdād al-āliḥah.

Singkatnya, jika akal sehat seperti halnya yang diserukan oleh KH Ahmad Dahlan – yang kemudian dikembangkan secara brilian oleh para intelektual Muhammadiyah sejak pendiriannya hingga saat ini – tidak dipelihara dengan baik, maka jelas stagnasi akan menyerang tiba-tiba seperti penyakit serangan jantung atau mungkin stroke berat. Bahkan, bisa menyebabkan kematian akal sehat (anti intelektualisme).

Jika jenis diskursus akal sehat (yang pertama) ini dianggap penting, maka hal-hal yang bertentangan dengannya harus diselesaikan. Secara faktual, akhir-akhir ini kita menghadapi pelbagai fenomena takfir (pengafiran) di dalam tubuh Muhammadiyah sendiri. Diskusi ilmiah yang ditujukan agar mampu membuka jalan dialog oleh karena perbedaan pemikiran Islam, malah dituduh bertentangan dengan akidah, sesat dan tidak sesuai dengan ideologi Muhammadiyah. Inilah yang dimaksud sebagai “gejala” munculnya stagnasi. Hal itu jika terus dibiarkan, akan mematikan diskursus akal sehat.

Diskursus akal sehat ini tidak hanya berlaku pada masalah pemikiran keagamaan, tetapi seluruh dimensi kehidupan, terutama politik. Sebagai contoh, maka dianggap sesuai dengan akal sehat, tatkala Muhammadiyah “menjaga jarak” agar tidak terlalu dekat dengan urusan politik praktis (realpolitik). Karena memang, resiko terlalu dekat dengan politik praktis adalah nilai-nilai keagamaan yang universal akan mudah tergerus oleh kepentingan politik kekuasaan. Di saat yang sama, Muhammadiyah juga tidak anti politik dan kemudian mengambil posisi di mana Muhammadiyah mengafirmasi pentingnya high-politics (politik yang mengedepankan keanggunan moral dan bervisi membangun peradaban kemanusiaan).

Oleh karena itu, Muhammadiyah adalah organisasi Islam yang bertujuan mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, bukan yang ingin menguasai negara atas nama Islam. Jadi, Islam bagi Muhammadiyah bukanlah instrumen politik kekuasaan, juga tidak memperalat sistem politik demi memenuhi hasrat ideologis tertentu yang menegaskan bahwa Islam dan politik (kekuasaan negara) adalah kesatuan yang utuh (manunggaling). Dalam bahasa yang lebih sosiologis, Muhammadiyah adalah organisasi masyarakat sipil dan bukanlah partai politik.

Selama masih marak trend pengafiran, instrumentalisasi agama, ideologisasi (atau agamisasi) politik, dan segala jenis konservatisme-dogmatisme dalam pelbagai bidang kehidupan yang sangat anti-intelektualisme, maka selama itu pula diskursus akal sehat ini menjadi penting bagi Muhammadiyah. Terutama karena bagi Muhammadiyah, akal sehat harus diperjuangkan dan menjadi rahmat bagi semesta alam, khususnya bagi warga Muhammadiyah sendiri.

Sementara itu berkaitan dengan diskursus yang kedua, yakni akal sehat yang melekat pada citra selebritas Rocky Gerung, sangat terkait erat dengan suasana psikologis momen politik elektoral. Rocky Gerung sendiri memiliki posisi yang jelas dalam kontestasi realpolitik, yakni oposisi terhadap Jokowi-Ma’ruf Amin. Mereka (di lingkungan PTM) yang memanggungkan Rocky Gerung, adalah yang terindikasi pro-Prabowo-Sandi.

Subyektivitas politik berlaku di dalam kompleksitas diskursus akal sehat yang dibawa oleh Rocky Gerung. Walaupun Muhammadiyah secara resmi menyatakan tidak berpolitik praktis, nyatanya (para pimpinan selaku agensi sosial politik) PTM tertentu memilih langkah lain. Tentu dengan pelbagai justifikasi yang diajukan. Implikasinya adalah, mereka di lingkungan Muhammadiyah yang memihak kepada Jokowi-Ma’ruf Amin “barangkali” akan dianggap tidak memiliki akal sehat. Jadi sebenarnya diskursus akal sehat Rocky Gerung mau tidak mau akan berhadapan dengan pandangan dikotomistik dua kubu politik yang sedang bertarung memperebutkan kekuasaan 2019.

Perlu diketahui bahwa, para kader Muhammadiyah dalam persoalan realpolitik bukan terdistribusi ke pelbagai partai politik yang ada, sehingga siapa saja yang menang, akan tetap mendapatkan faedah dari pendistribusian tersebut. Akan tetapi, terfragmentasi berdasarkan kepentingan partai-partai politik. Bukanlah lagi menjadi rahasia jika dengan demikian, para kader Muhammadiyah malah saling bersaing satu sama lain, bahkan dalam kasus tertentu, terpecah-belah.

Akan tetapi, kita semua menyadari bahwa, fragmentasi politik itu tidak pernah abadi. Yang abadi di dalam konteks realpolitik adalah kepentingan itu sendiri. Saat ini menjadi lawan, bisa jadi nanti akan menjadi kawan dalam momen dan kesempatan politik tertentu. Demikian pula dengan temporalitas diskursus akal sehat yang ditawarkan Rocky Gerung (yang kebanyakan dielu-elukan sebagian warga Muhammadiyah pendukung Prabowo-Sandi), akan sekedar menjadi diskursus musiman.

Kembali kepada masalah pembagian antara diskurus akal sehat KH Ahmad Dahlan dan Rocky Gerung. Sebenarnya di antara keduanya juga masih memiliki pelbagai irisan. Jika yang pertama dan kedua mengedepankan pentingnya pembangunan intelektualisme dan nalar kritis, berarti temporalitas berlakunya diskursus akal sehat akan dengan sendirinya terkikis.

Dengan kata lain, akan menjadi diskursus yang terus-menerus dibangun dan dibangkitkan. Namun, jika keduanya terbebani oleh kepentingan politik musiman, maka sebenarnya temporalitasnya tergantung kepada hal tersebut pula.

Hikmah yang dapat diambil dari adanya fenomena Rocky Gerung dan diskursus akal sehatnya adalah, alangkah bijaknya apabila kita mengedepankan hal-hal yang bersifat abadi ketimbang yang temporal (dalam konteks politik). Agama itu sejatinya mengajak kepada perdamaian, kedamaian dan jalan keselamatan yang abadi, bukan kesenangan yang sementara.

Politik kekuasaan itu akan menjadi sangat baik apabila memiliki cita-cita ideal pembangunan peradaban kemanusiaan yang mulia, yang diperjuangkan secara jujur dan sungguh-sungguh. Akan tetapi, jika politik kekuasaan hanya sekedar semata-mata untuk meraih kekuasaan, berkuasa dan mempertahankan kekuasaan, tentu sebenarnya kita merayakan hal yang serba semu.

* Peneliti di Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Tinggalkan balasan

mohon berikan komentar anda
mohon untuk menuliskan nama anda