Oleh: Andar Nubowo*

Sepanjang 2006-2008, saya bergabung dengan Centre d’Etudes Sociologiques et Politiques Raymond Aron (CESPRA) di Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales (EHESS) Paris Perancis. Di sana, saya berguru dengan pemikir- filosof dan sosiolog politik seperti Pierre Manent, Marcel Gauchet, Emmanuel Saada, dan Dominique Schnapper. Meski awalnya tertatih-tatih, saya menyenangi pemikiran-pemikiram mereka yang rumit tapi menyegarkan. Saya akan mengulas terlebih dahulu sebuah nama yang ditahbiskan menjadi nama pusat studi sosiologi dan politik prestisius ini.

Pusat Kajian ini mengambil nama seorang filosof politik Raymond Aron. Pemikirannya memantapkan ideologi politik liberal dan demokrasi dan sebaliknya mengkritik marxisme. Ia mengkritik para intelektual pada masanya, tahun 50-60an, pasca Perang Dunia II, yang mendewakan Karl Marx dan menggandrungi ajarannya. Pada 1955, ia menulis sebuah buku berjudul “L’Opium des intellectuels” (The Opium of Intelectuals). Judul buku ini tak lain adalah satir kritis atas diktum Marx bahwa “agama adalah candu bagi rakyat”.

Mengapa Opium?

Aron, anak seorang pengacara Yahudi yang pernah bergabung dalam Tentara Udara Perancis pada PD II, melihat sebaliknya bahwa Marxisme adalah opium yang meninabobokan kaum intelektual. Para intelektual di jamannya seperti Jean Paul Satre, kawan sekaligus musuh debat ideologis dan filsafatnya, dianggap terlalu sinis dan kritis terhadap bentuk-bentuk pemerintahan dan struktur sosial politik yang liberal dan demokratis.

Mereka itu terjebak pada miyopisme ideologis yang berakibat pada hilangnya objektivitas ilmiah, yakni mengkritik demokrasi liberal, yang bertumpu pada kebebasan individu, tetapi berdiam diri atau cenderung membela kejahatan dan kekacauan di dalam masyarakat yang dianggapnya sebagai ideologi “yang benar”.

Intelektual semisal ini adalah, sambung ayah sosiolog perempuan Dominique Schnapper, cerdik cendekia yang memanipulasi kejujuran dan memakai baju zirah kemunafikan. Atas nama sebuah dogmatisme dan fanatisme ideologis, mereka menyembunyikan fakta dan bukti-bukti ilmiah —yang kerapkali menelanjangi dalil dan hujah mereka. Mereka tak ubahnya seorang fanatikus agama atau sistem kepercayaan sekular yang meyakini kebenaran secara parsial dan membabi buta.

Karena itu, ia bersetuju dengan pemikir feminis dan politisi perempuan Perancis, Simone Weil, bahwa “Marxisme tidak diragukan lagi adalah sebuah agama, dalam pengertian yang paling sederhana. Ia telah digunakan sejak lama untuk mengelabuhi atau mencandui rakyat”. Ia sadar betul, kritiknya tersebut banyak membuat kolega dan teman-temannya tersinggung atau bahkan marah padanya, seperti Sang Eksistensialis Paul Sartre. Tetapi, ia perlu menyuarakan itu tiada lelah dan henti, untuk menyelamatkan iklim intelektual yang ideoligis menjadi objektif serta mengamankan demokrasi dan kebebasan umum. Dalam kaitan ini, ia yang lama bersahabat dengan Sartre, ia juga yang kritis dan kadang satiris terhadap pandangan eksistensialisme sahabatnya yang kiri.

Aron mengidolakan demokrasi liberal seperti pandangan Alexis de Toqueville tentang demokrasi di Amerika Serikat. Pandangannya tentang totalitarianisme dipengaruhi oleh pemikir perempuan Hannah Arendt. Immanuel Kant dan Marx Weber banyak memengaruhi pandangannya tentang kewajiban moral dan politik seorang intelektual di dalam menjaga kebenaran ilmiah dan kebajikan moral sosialnya pada masyarakat. Selanjutnya, ia memberi pengaruh pada banyak pemikir Perancis di kemudian hari seperti guru-pemikir tersebut di atas. Pierre Bourdieu, dalam beberapa hal, juga banyak dipengaruhi oleh Aron.

Dogma dan Fanatisme

Ideologi dan keyakinan apapun –baik bersifat relijius atau sekuler, berpotensi menjadi sebuah dogma tertutup yang melahirkan fanatisme buta. Dalam bahasa arkeologi pengetahuan, sebuah dogma/ajaran yang tidak lagi menerima kritik dan bacaan terbuka, maka ia telah menjadi sebuah “closed corpus/korpus tertutup” yang kemudian disakralkan dan dibela secara mati-matian oleh pengikut dan penganutnya.

Pengikut yang fanatik, akan selalu dan selamanya, bertindak sebagai pembela dan sekaligus pengadil buta terhadap siapapun yang melakukan kritik atas dogma tertutup tersebut. Dalam sejarah sosial, agama, dan politik, sikap fou de Dieu, fanatisme buta membela “Tuhan” misalnya dipertontonkan oleh Inkuisisi Katolik di Abad Pertengahan, Leninisme dan Maoisme di masa Revolusi, Brigade Merah di Italia, Khimer Merah di Kamboja, serta Al-Aqaedah dan ISIS di masa belakangan ini. Meski sistem kepercayaan berbeda, tetapi fanatisme buta mereka identik dan bermuara pada titik sama: hilangnya objektivitas saintifik dan pemujaan pada darah dan kematian.

Di Indonesia, dogma dan fanatisme juga tak kalah menumpahkan persekusi dan kematian. Tahun-tahun pra dan pasca kemerdekaan, ketika para founding fathers kita tengah menggandrungi ideologi-ideologi sekuler Barat dan Timur Tengah seperti Marxisme, Liberalisme, dan Islamisme, dogma dan fanatisme juga mengecambah dan subur. Suluh dan cita-cita kemerdekaan yang menyatukan mereka, redup oleh teriakan-teriakan fanatikus. Ketiga dogma tertutup itu lalu melahirkan perseteruan tiada henti dari masa ke masa, secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi.

Pada Orde Lama, ideologi kiri Marxisme dan Komunisme pernah mendapat tempat istimewa, sedang Islamisme dan liberalisme terpinggirkan. Kedua yang terakhir bersekutu menumbangkan yang pertama. Di masa Orde Baru yang panjang, liberalisme ala Soeharto tampil dominan, menguasai setiap sendi kehidupan, sedang Islamisme dan Marxisme Komunisme dipojok-benamkan melalui serangkaian dogmatisme-fanatis pembangunan nasional.

Saat ini, selama Orde Reformasi, saat ketika demokrasi prosedural ditegakkan, ketiga “isme” itu berkompetisi dalam platform sosial, ekonomi, politik dan kebudayaan yang setara. Di saat kepemimpinan politik dan demokrasi substansial belum menjadi pilar kuat Indonesia, ketiga “isme” itu bertarung dan menggandakan pengikutnya masing-masing yang fanatik.

Dewasa ini, kita menyaksikan riuh rendah dan tingginya kontestasi “isme-isme” itu di panggung lokal maupun nasional: saling jegal untuk menancapkan kekuasaan libidinal dominatifnya. Islamisme ditengarai memeroleh panggung dan dukungan luas, ditandai oleh bangkitnya kesadaran simbolik dan substansial pada Islam.

Panggung Reformasi menjadi energi baru bangkitnya kaum muda dan kelas menengah Islam untuk tampil dominan dalam setiap lini kehidupan. Partai politik, kuasa ekonomi, dan panggung sosial dan kebudayaan mesti direbut dari dominasi kaum liberal-sekuler dan ateistik. Tujuan kelompok Islamis ini satu: menyingkirkan liberalisme dan paham sekuler ateistik lainnya dari bumi Nusantara.

Dalam kadar militansi yang sama, kedua kelompok terakhir juga menggandakan dalih dan ujarannya untuk menangkal kelompok yang, oleh mereka disebut tengah, meletakkan asumsi wahyu di atas materialisme dan akal sehat. Melalui argumen — yang kadang dipaksakan, mereka menaruh curiga pada Islamisme dan juga Islam sebagai biang dari kemunduran dan ektrimisme radikal, tanpa menelisik lebih jauh sebab musabab yang melatarinya. Bagi mereka, Islam adalah musibah. Sama halnya kritik seorang Islamis yang melihat kubu liberal, sekular dan ateistik adalah sampah dan pemicu bencana.

Kritik ini–tentu saja, sah-sah saja dalam dialektika debat ilmiah yang berkeadaban. Hal ini bagian dari tanda-tanda sebuah peradaban adiluhung yang menempatkan kebebasan sipil (civil liberties) pada kursi semestinya. Tetapi, jika dilakukan dalam energi dan spirit kebencian, dialektika tersebut hanya akan mengganda-lipatkan jumlah fanatikus buta yang membela ajarannya tanpa akal sehat dan membabi-buta. Ruang dialog menjadi tandas, digantikan oleh syak wasangka dan curiga tak berketepian.

Suluh Pemandu

Di dalam era “Pos Kebenaran” ini, dunia kekinian semakin kehilangan pesonanya —orang menjadi gila pada utopia, sesuatu yang abstrak dan tak terjangkau nalar dan ironisnya atas nama sebuah keyakinan yang dianggapnya benar. Jangkar-jangkar kebenaran ideologis dibangun tanpa dialog. Akibatnya, klaim kebenaran sepihak menjadi tak terelakkan. Klaim dari pihak lain yang tak sesuai dicampakkan dalam tong kabar palsu alias hoaks. Kemajuan teknologi seperti internet dan sosial media, dalam rivalitas tajam ideologis ini, menjadi medium untuk saling menghoaks-kan lawan.

Situasi ini tidaklah baru atau unik. Ia seusia manusia itu sendiri. Bertikai dalam kedunguan merupakan ciri abadi manusia. Jika dulu, dalam setiap sengkarut sosial politik dan ekonomi sebuah peradaban selalu hadir seorang penengah, pengadil sekaligus pewarta harapan dan kebenaran ilahiah yang disebut Nabi dan filosof, sekarang ini kita butuh suluh yang memandu terang dari para cerdik pandai atau intelektual. Begitu pentingnya peran mereka dalam menjernihkan keruh-keruh pertikaian dogmatis dan fanatis itu. Begitu berharganya mereka untuk kokoh dan kukuh menggenggam fatsoen objektivitas di dalam dunia yang gelap dan tunggang langgang ini.

Akhirnya, kepada mereka para cerdik pandai tercerahkan, dunia ini akan dapat kembali menjadi tempat terhangat untuk memadu kebersamaan, solidaritas dalam primordial maupun universalnya. Sebagaimana seorang Nabi yang menyuluh umatnya di jalan terang, kita berharap mereka ini tak terjebak dalam angkara dogmatisme dan fanatisme agama dan politik. Mereka tetap berpegang pada diktat objektivitas ilmiah di atas kursi kehormatan intelektualitasnya –meski diiming-imingi kejayaan politik dan kekuasaan.

Kita membutuhkan para intelektual yang membungkam diktum Julien Benda yang menuduh seorang intelektual yang memihak pada kuasa politik dan produksi ekonomi itu sebagai penghianat, seorang godot yang menghianati pengetahuan dan kewibaaannya.

Salam dari pertapaan Jurong West dan semoga selalu sejahtera Indonesia.

Tinggalkan balasan

mohon berikan komentar anda
mohon untuk menuliskan nama anda