Oleh: Azaki Khoirudin

Akhir-akhir ini tema “akal sehat” sering menjadi diskusi hangat di berbagai medis sosial. Istilah merawat nalar memang menjadi bagian penting dari tujuan syariat Islam, yakni menjaga dan mengembangkan kemampuan intelektual (hifz aql). Adalah Rocky Gerung, seorang ahli filsafat yang sedang naik daun karena dikenal dengan nalar kritisnya menyatakan “Merawat akal sehat (otak sehat) dan kesehatan jasmani adalah tugas mulia yang diwariskan KH. Ahmad Dahlan” (2019). Penyataannya bagaimana konsep merawat akal sehat menurut Kiai Dahlan?

Rasionalisme Kiai Dahlan

Bagi Kiai Dahlan, pendidikan tertinggi ialah pendidikan bagi akal dengan materi utama ialah filsafat, khususnya logika dengan tujuan bagi kesejahteraan seluruh umat manusia di dunia, yang untuk mencapainya semua manusia harus saling bekerja sama. Dalam naskah pidato “Tali Pengikat Hidup Manusia” Kiai Dahlan menyatakan:

“Sehabis-habisnya pendidikan akal adalah dengan Ilmu Mantiq (pembicaraan yang cocok dengan kenyataan), semua ilmu pembicaraan harus dengan belajar, sebab tidak ada manusia yang mengetahui berbagai nama dan bahasa, tanpa ada yang mengajarnya. …manusia tidak berdaya mengetahui asal pengetahuan, kecuali yang mendapat petunjuk dari Tuhan Yang Maha Mengetahui dan Bijaksana.[

Hal ini tercermin dalam karakteristik yang menonjol dari metodologi pemahaman keagamaan Kiai Dahlan ialah “mempertautkan antara teks dan realitas.” Dia tidak memahami Surat Al-Ma‘un secara harfiah atau tekstual semata, tetapi sudut telaahnya lebih diarahkan pada persoalan “bagaimana sebenarnya historisitas pemahaman ayat tersebut oleh umat Islam yang hidup pada saat itu pada dataran realitas sejarah yang konkrit dalam kehidupan sehari-hari.”

Dalam tesis Hamsah F yang berjudul “Dasar Pemikiran Islam Berkemajuan Muhammadiyah 1912-1923”. Ada tiga ciri penting Islam berkemajuan Muhammadiyah, yaitu; rasionalisme, pragmatisme, dan vernakularisasi. Pilar rasionalisme ditandai oleh semangat yang terbuka, kritis, dan dialektis. Muhammadiyah menerima satu pandangan keagamaan jika telah tercukupi dua syarat. Pertama, mendengar dan menimbang berbagai pendapat. Kedua, sesuai akal dan hati suci.

Hamsah berkesimpulan Muhammadiyah kurun 1912-1923 menunjukkan corak gerakan sangat afirmatif terhadap rasionalisme sebagaimana Abduh yang dekat pada rasionalisme Muktazilah, dalam tesis ini ditemukan bahwa Muhammadiyah fase formatif sangat kuat pemihakannya pada pemulihan fungsi-fungsi akal. Agama nalar menunjukkan semangat rasionalisme Muhammadiyah.

Menurut Abdul Munir Mulkhan (2015), Kiai Dahlan telah berhasil mengganti jimat, dukun, dan hal-hal yang keramat (mistis-irrasional) dengan ilmu pengetahuan sebagai basis gerakan pencerahan umat yang memihak kaum lemah. Hal ini sendana dengan apa yang dikemukakan oleh Dawam Rahadjo:

“Sadar terhadap lingkungannya, yaitu masyarakat dan golongan menengah, KHA Dahlan ingin menyajikan Islam sebagai ajaran agama yang mudah dipahami dan mudah dijalankan. Atas dasar pandangannya itu, maka dia sebenernya melakukan semacam “rasionalisasi”, dengan menyingkirkan paham-paham yang dianggapnya bid’ah dan khurrafat”. (Dawwam Rahardjo, Intelektual Intelegensia, 226).

Di masa lalu, sebelum gerakan pembaruan dilakukan Kiai Dahlan, ajaran Islam itu misterius, penuh mistik, dan tahayul, hanya terkait persoalan sesudah mati, sebaliknya tidak terkait dengan kehidupan riil dalam masyarakat. Dunia sosial pemeluk Islam dipenuhi selimut tebal jimat, perdukunan, benda dan orang keramat, serta kisah-kisah membingungkan karena tidak rasional dan bertentangan dengan akal sehat.

Hati Suci, Merawat Akal Sehat

Dalam pandangan Kiai Dahlan, penggunaan akal pikiran diarahkan untuk mencapai pengetahuan tertinggi, yakni pengetahuan tentang kesatuan hidup (unity of life). Pengetahuan tersebut dapat dicapai dengan sikap kritis dan terbuka dengan menggunakan akal yang merupakan kebutuhan dasar hidup manusia, selain dengan sikap konsisten terhadap kebenaran akal (rasional) yang didasari oleh hati yang suci.

Merawat kemurnian akal dilakukan dengan memurnikan hati suci. Kesucian nalar dan hati melahirkan etika “welas asih”, berupa kelembutan hati terhadap kaum dhuafa dan mustadh`afin dalam masyarakat.

Pemahaman ini terbangun dari pemahaman KHA Dahlan tentang hakikat agama. Sebagaimana dicatat Hadjid, KHA Dahlan memahami agama sebagai kecenderungan spiritual dari manusia yang berorientasi kepada kesempurnaan dan kesucian, bersih dari orientasi yang bersifat materialistik. Beragama, dalam perspektif ini, merupakan proses “mendaki menuju langit kesempurnaan dan bersih suci dari pengaruh-pengaruh materi kebendaan” (Hadjid, Pelajaran KHA Dahlan, 111).

Dalam Hadjid, Kiai Dahlan sering melantunkan sya‘ir berikut: “wa nahju sabili wadih liman ihtada wa lakin al-ahwa’ ‘amat fa a‘mat” (dan agamaku terang benderang bagi orang yang mendapat petunjuk, tetapi hawa nafsu [menuruti kesenangan] merajalela di mana-mana, kemudian menyebabkan akal manusia menjadi buta). Sehingga Kiai Dahlan menyatakan: “Mula-mula agama Islam itu cemerlang, kemudian kelihatan makin suram. Tetapi sesungguhnya yang suram itu adalah manusianya, bukan agamanya.” (Hadjid, Pelajaran KHA Dahlan, 25).

Dari pesan ini nampaknya Kiai Dahlan ingin berpesan bahwa supaya akal manusia tidak buta, harus dibersihkan dan dimurnikan dari hawa nafsu. Di sini dapat dilihat kecenderungan sufistik dalam pemikiran Dahlan. Kesucian batin dan hati menjadi prasyarat penting bagi individu manusia untuk dapat menerima ajaran yang suci dari Tuhan dan Rasul-Nya (Alqur’an dan Assunnah).

Bagi Kiai Dahlan, amal lahir (syariah) adalah akibat daya ruh agama yang didasari hati dan pikiran suci, sementara organisasi adalah instrumen pengembangan kesalehan hati-suci itu. Hati suci (dan pikiran sehat) bukan hanya pangkal memahami Islam, melainkan juga akar ibadah atau dasar hidup sosial dan agama, sehingga terbebas dari jerat kebodohan dan ikatan tradisi.

Bagi Kiai Dahlan, kesalehan adalah pencarian kebenaran tanpa final, terbuka berdialog dengan semua pihak yang berbeda. Suatu pengambilan kesimpulan (keputusan) adalah benar jika: a) paling kecil pertentangannya, b) dilakukan dengan mendengar, membanding, dan menimbang segala pendapat, c) sesuai akal dan hati suci.

Bagi Kiai Dahlan, akal dan hati suci sebagai inti kesalehan syariah. Menurutnya, hati suci bukan hanya pangkal memahami Islam, tapi hati suci ialah akar ibadah, dasar hidup sosial dan keagamaan. Hati suci ini pula yang bagi Kiai akan membebaskan seseorang dari kebodohan. Karena itu, juga bebas dari ikatan tradisi. Proyek besar Dahlan  bukan memberantas TBC, tetapi pengebangan kemandirian dengan memberantas kebodohan.

Untuk menjaga nalar kritis, sikap terbuka, titik panggalnya pada hati suci yang bebas dari kepentingan dunia dan kekuasaan politik. Sehingga manusia bisa berlaku adil sejak dalam pikiran, berada dalam posisi tengahan, dan menjaga netralitas politik sebagaimana Muhammadiyah merupakan cara merawat kesehatan nalar.

1 komentar

Tinggalkan balasan

mohon berikan komentar anda
mohon untuk menuliskan nama anda