Drama Kematian Saddam Husein

 Drama Kematian Saddam Husein

Ilustrasi: ibtimes.id

Pagi itu Sajida Talfah tampak gelisah. Di saat kesibukan umat Islam hendak merayakan Idul Adha, perasaannya makin gundah. Dan hatinya teriris-iris sewaktu mendengar berita kematian sang suami.

Beberapa saat sebelum shalat Id, suaminya harus menghadapi tiang gantung. Seperti tak ada kata kompromi, eksekusi mati dilaksanakan saat itu juga: Sabtu pagi 30 Desember 2006. Sajida hanya pasrah. Suaminya mati menyusul anak dan cucunya, Uday dan Qusay.

Kekalahan dalam politik memang menyakitkan. Yang kalah harus tersingkir dan pasti bakal terpojok. Lebih menyakitkan lagi ketika kekalahan itu dimanfaatkan oleh musuh untuk balas dendam.

Kisah Saddam Hussein, Singa Padang Pasir penguasa Irak selama 24 tahun itu, tidak labih dari kisah orang yang kalah secara politik. Matinya di tiang gantung akibat balas dendam musuh-musuhnya.

Karir Politik Sang Singa

Putra Tikrit itu lahir di desa Awja, 28 April 1937. Dia berasal dari keluarga miskin dengan didikan keluarga yang keras. Wataknya garang seperti singa. Kekuasaannya kian kokoh dan sepak-terjangnya tambah garang. Tak jarang musuh-musuhnya dibuat keder sewaktu berhadapan dengan Sang Singa.

Irak tahun 1957. Jenderal Abdul Karim Qassem berhasil menggulingkan pemerintahan Faisal II. Sang Singa termasuk orang yang tidak setuju dengan kudeta itu. Di tahun 1959, dia merencanakan pembunuhan terhadap Jenderal Qassem. Sang Singa didukung oleh Setan Besar, tapi rencana tersebut gagal.

Di tahun 1969, bersama Partai Baath, Sang Singa berhasil merebut kekuasaan Presiden Abdul Karim Qassem. Jenderal Ahmad Hassan Al-Bakr diangkat menjadi Presiden dan Sang Singa menjadi wakilnya.

Karir politiknya di Partai Baath terus melejit. Dia terus berambisi menjadi “orang nomor satu” di Irak. Pada tahun 1979 dia pun berhasil merebut kekuasaan dari Jenderal Ahmad Hassan Al-Bakr.

Baca Juga  Ash-Shinf, Gerakan Kaum Buruh Pertama dalam Sejarah Umat Islam

Sang Singa kemudian menduduki jabatan sebagai kepala Negara, perdana menteri, pemimpin partai Baath, dan komandan militer angkatan darat sekaligus. Lengkap sudah kekuasaannya.

Tapi Sang Singa bukanlah manusia suci. Dia bukan seorang nabi, apalagi malaikat. Musuhnya kian banyak. Sementara dalam politik, hanya mengenal dua tipe manusia: teman atau musuh.

Sungguh sulit menebak isi hati manusia. Siapakah teman? Siapakah musuh? Sangat sulit untuk membedakannya. Seperti ketika Sang Singa berkuasa, teman-temannya ternyata banyak yang berkhianat. 

Sang Sing Vs Setan Besar

Kekuasaan, seperti kata orang bijak, ibarat air laut. Tidak dapat menghilangkan dahaga. Makin diteguk justru makin terasa haus. Begitulah ketika Sang Singa berkuasa. Ambisi kekuasaannya makin meluap-luap.

Di tahun 1980-1988 dia melibatkan rakyatnya berperang melawan saudaranya sendiri, Iran. Ratusan ribu rakyat Irak mati sia-sia demi memenuhi ambisi kekuasaan Sang Singa. Dia pun kalah.

Di tahun 1990-1991 dia melibatkan rakyat Irak menginvasi tetangganya, Kuwait. Celakanya, justru Kuwait didukung oleh Setan Besar. Rupanya Setan Besar geram melihat ladang-ladang minyak santapannya diosak-asik Sang Singa.

Dengan kekuatan perang yang canggih, Setan Besar melindungi ladang-ladang minyak santapannya itu. Singa kembali menelan ludah kekalahan.

Sang Singa marah besar karena sepak-terjangnya yang selalu diganjal oleh Setan Besar. Tak peduli lagi pertemanan. Dalam kekuasaan, tiap orang yang berbeda paham adalah musuh.

Tahun 1990 hubungan pertemanan antara Setan Besar dan Singa putus sudah. Saat itulah Singa sering mengaum, memperlihatkan taring-taringnya, juga kuku-kukunya, untuk menakut-nakuti Setan Besar.

Sebaliknya, Setan Besar pun bertambah geram. Dengan berbagai taktik dan muslihat yang licik, Setan Besar berusaha mendongkel kekuasaan Sang Singa.

Setiap orang yang berkuasa memang selalu dihantui oleh muslihat musuh-musuhnya. Ada syndrome bagi tiap orang yang berkuasa: khawatir kekuasaannya bakal tumbang. Begitu pula yang terjadi pada Sang Singa.

Baca Juga  Madrasah Nidzamiyah dan Siyasat Ahlu Sunnah

Dan semua orang yang tidak sepaham dengannya dianggap musuh, termasuk Setan Besar. Sebaliknya, orang-orang yang selalu mengekor kepadanya dianggap teman. 

Jatuhnya Kekuasaan Sang Singa

Setan Besar berkoalisi dengan setan-setan kecil untuk memukul mundur pasukan Sang Singa. Tanggal 20 Maret 2003, awal mula jatuhnya kekuasaan Sang Singa. Atas nama demokrasi, keadilan, dan HAM, koalisi Setan Besar menghalalkan perang.

Tapi yang namanya Setan tetaplah Setan, meskipun berkedok wajah manusia. Tugas Setan di dunia membuat kerusakan. Menjerumuskan umat manusia dalam kesengsaraan. Kerusakan di seluruh kawasan Irak akibat perang menjadi pemandangan paling bengis dan mematikan.

Kesengsaraan ratusan ribu warga Irak jadi tontonan publik dunia. Tak ada media massa yang tak meluangkan ruang untuk pemberitaan korban perang warga Irak. Kota Baghdad yang dalam sejarah merupakan pusat peradaban dunia, kini tinggal puing-puing kehancuran. Baghdad tidak lebih dari sebuah potret kota mati.

Sang Singa akhirnya berhenti mengaum. Pada 13 Desember 2003, dia tertangkap. Dia dikeler dari bungkernya di Tikrit. Tangannya diborgol dan mulutnya dibekap. Rupanya orang terdekatnya berkhianat. Dan dia pun makin sulit memercayai orang lain. Karena, siapa kawan, siapa lawan, sungguh terasa sulit untuk membedakannya.    

Benar kata orang bijak, kekuasaan itu cenderung menindas. Saddam Hussein, Singa Padang Pasir, banyak melakukan dosa dan kesalahan. Dosa dan kesalahannya dilakukan untuk mempertahankan kekuasaan.

Dia pun tak bisa mengelak. Lewat pengadilan 19 Oktober 2005 dia dituduh mendalangi pembunuhan terhadap warganya sendiri. Dia dituntut hukuman mati untuk kasus pembantaian 148 warga Syi’ah di Dujail tahun 1982. 

Sang Singa Dihukum Mati

Hukuman mati mungkin setimpal untuknya. Sebab, Sang Singa masih menghadapi sekian banyak tuntutan. Di tahun 1983, dia terlibat pembunuhan 8.000 marga Barzani. Tahun 1988,  juga terlibat pembunuhan 5.000 warga Kurdi di Halbaja dengan senjata kimia.

Baca Juga  Sekte Essenes dan Keganjilan Injil Thomas

Kemudian di tahun 1991 terlibat pembunuhan 1.000 warga  Syi’ah di Irak Utara. Dan di tahun 1987-1989, terlibat pembantaian massal dengan senjata kimia menewaskan 182.000 warga Kurdi. Mungkin dosa-dosanya sulit diampuni. Putusan pengadilan memvonisnya mati. Usahanya naik banding pun ditolak. 

Politik memang bisa mengubah segala-galanya. Teman bisa jadi lawan. Atau sebaliknya, lawan bisa jadi teman. Setan Besar yang dulu temannya, kini justru jadi seteru abadinya. Orang-orang terdekatnya banyak yang khianat. Dan Sang Singa tinggal mengaum sendirian, tapi tanpa taring-taringnya dan tanpa cakar-cakarnya yang tajam. 

Pagi itu, menjelang pelaksanaan shalat Id, Sang Singa mati tercekik dan Setan Besar tertawa menang. Kita lantas disadarkan pada sebuah ajaran: Kullu nafs dzaiqatu al-maut. Mati itu pasti. Setiap jiwa pasti bakal menuai ajal.

Ternyata, di dunia ini tak ada yang kokoh. Segalanya rapuh. Di dunia ini juga tak ada yang digdaya. Semuanya pasti akan binasa. Umur digerogoti masa hingga badan pun meregang nyawa. Terenggut oleh maut yang tiap saat siap menjemput.

.

Editor: Yahya Fathur R

IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan masyarakat, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
BNI 0342383062 A.n Qurrota A'yun

Mu'arif

Redaktur Suara Muhammadiyah yang Aktif mengkaji sejarah Muhammadiyah-Aisyiyah, Anggota MPI dan Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah. Sedang menempuh studi doktoral UIN Sunan Kalijaga dan bergabung dalam program riset Humanitas Global Indonesia.

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *