PUBLISHER

PT Litera Cahaya Bangsa Jalan Nanas 47B, Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta

Kanal Moderasi Islam. Hubungi Kami.

Oleh: Henik Tri Rahayu*

Memasuki awal tahun baru, berbagai penawaran diskon besar-besaran muncul dimana-dimana. Apalagi para salarywoman berlomba memanfaatkan ‘aji mumpung’ ini sebagai cara memanjakan diri dengan membelanjakan gaji mereka untuk produk-produk yang mungkin tidak perlu.

Membeli barang dengan jerih payah sendiri memang tidak salah. Menjadi masalah adalah kita terlalu mendewakan uang untuk membeli barang berdasarkan keinginan. Kepuasan sesaat yang didapat tidak akan pernah bersinggungan dengan kebahagiaan hakiki yang selama ini dicari.

Negara Konsumen Optimis

The Conference Board Global Consume Confidence Survey bekerjasama dengan Nielsen merilis Indonesia peringkat ketiga negara konsumen optimis setelah India dan Filipina. Ini menandakan meningkatnya kesejahteraan Indonesia berbanding lurus dengan meningkatnya konsumsi bukan pada tabungan.

Barang masih menjadi tolok ukur kesejahteraan seseorang. Apalagi gaya hidup masyarakat Indonesia untuk pamer di media sosial mereka mendorong konsumsi barang terus-menerus. Tanpa peduli kebutuhan atau keinginan.

Pada akhirnya, kaum perempuanlah yang menjadi sasaran empuk para penjaja dagangan. Alih-alih tampil sederhana, tuntutan media sosial (medsos) mendorong banyak perempuan Indonesia gemar mengoleksi berbagai barang yang sebenarnya tidak perlu. Sekalipun perlu namun kuantitasnya berlebih. Hal inilah yang mengkhawatirkan timbul sikap berlebihan.

Gaya Hidup Minimalisme

Allah SWT telah melarang sikap berlebihan dalam QS Al-A’raf 7:31,
Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.

Lalu di ayat lain,

Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.”

QS. Al Isra’ [17]: 26-27

Puncaknya, semakin hari kediaman semakin sesak oleh hadirnya barang baru yang bahkan belum sekalipun terpakai. Ruang menjadi tidak nyaman untuk tinggal dan mulai muncul kesadaran kepemilikan barang idaman bukan cara untuk mendapat kebahagiaan. Masalah semakin rumit tatkala hati belum siap melepas entah dibuang atau disumbangkan.

Baca Juga  Kedekatan Muhammadiyah dan Kraton Yogyakarta

Kondisi inilah yang turut meramaikan gerakan minimalisme. Sebuah gaya hidup yang mencari sudut pandang berbeda terhadap sebuah barang. Barang tidak lagi ditempatkan dalam prioritas utama untuk membelanjakan uang.

Minimalis awalnya berfokus pada sebuah desain interior dan arsitektur pada awal abad ke-20. Van Der Rohe dimasa pasca Perang Dunia I merupakan salah satu arsitek terkemuka pertama yang mempopulerkan prinsip-prinsip desain minimalis. Tren ini terus berlanjut dalam berbagai bidang baik dalam seni melukis, fashion dan musik yang fokus pada kesederhanaan.

Kesederhanaan juga dicontohkan dalam rumah tradisional Jepang, berusaha hanya menambahkan yang perlu dan menyingkirkan yang tidak perlu menjadi kunci masyarakat Jepang dalam menjalani budaya zen dan kesederhanaan. Selain itu, sedikitnya barang dalam rumah mereka membantu mereka selamat dari gempa yang sering terjadi di Jepang.

Islam dan Minimalisme

Jika kita tarik ke belakang, justru negara-negara baratlah yang mempopulerkan gaya hidup yang seharusnya dijalani semua orang. Meskipun mereka memiliki budget lebih untuk membeli apapun yang mereka mau, namun pola pikir mereka yang lebih maju mampu meluruskan segalanya. Sekalipun kita di negara Indonesia sudah terlanjur membudaya sebagai negara konsumtif, setidaknya kita punya Islam yang lebih dulu mengajarkan kesederhanaan, pentingnya kebutuhan, dan kecukupan.

Perlu diingat lagi, setiap barang apapun yang kita miliki juga akan dihisab di akhirat kelak. Beban tanggungjawab yang berat bisa jadi kita terima disaat kita tidak mampu menjawab atas dasar kepentingan apa kita membelanjakan (baca: menghamburkan) uang untuk sesuatu yang tidak bermanfaat.

Rasulullah SAW bersabda,
Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya: dari mana diperolehnya dan kemana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya.

HR. Tirmidzi

Berbagai renungan diatas seharusnya membuat kita tersadar bahwa barang yang mungkin sejak lama kita idamkan atas dasar suka semata belum tentu mendatangkan kebahagiaan yang kita damba. Apa yang kita pandang lucu sebenarnya memang tidak perlu. Apa yang selama ini kita beli ternyata tidak begitu berarti.Apalagi tanggungjawab kita kelak atas harta yang kita dapatkan begitu berat meneruskan kesepemahaman bahwa sederhana itu tidak mengapa.

Baca Juga  Masihkah Sufisme Relevan Bagi Masyarakat Modern?

Sebenarnya konsep minimalisme tidak selalu sederhana dan sangat apa adanya. Kita semua memiliki preferensi masing-masing terhadap suatu barang meskipun yang kita butuhkan akan selalu sama. Dalam La Societe de Consommation karangan seorang filsuf Perancis, Jean Baudrillard mengatakan manusia selalu menginginkan banyak hal, padahal apa yang mereka butuhkan telah terpenuhi. Maka dari itu, mengubah prioritas kebutuhan menjadi bekal pertama memulai prinsip hidup minimalisme ini.

Keuntungan Hidup Minimalis

Minim barang, minim masalah. Kita akan mulai terbiasa dengan pola pikir orang kaya sesungguhnya bahwa semakin meningkatnya pendapatan semakin meningkatkan tabungan bukan belanja bulanan. Meskipun gaji meningkat dua kali lipat bukan berarti nasi yang kita makan juga menjadi dua piring. Dengan pegangan tabungan yang cukup, hidup tidak banyak kecemasan dan kebahagiaan lebih mudah diciptakan.

Sedikit barang, sedikit tekanan. Banyaknya tumpukan barang yang sebenarnya tidak berguna namun sayang jika dibuang adalah kesia-siaan terbesar seseorang yang akan menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.

Banyak pikiran, stress, hidup tidak nyaman. Selalu melihat orang lain dari kepunyaan barang mereka semakin menambah beban hidup yang kemudian terakumulasi pada tidak sehatnya hati dan pikiran. Mengubah mindset sedikit saja asal semua berguna membantu kita untuk lebih menghargai suatu barang juga mengubah persepsi kita terhadap orang lain dari segala sisi, bukan pada materi.

Mulai melepas barang kesayangan untuk orang lain. Meskipun senyum juga sudah sedekah, apa salahnya berbagi barang berharga kita untuk kemudian dimanfaatkan orang lain. Daripada membiarkannya masuk kotak tergeletak pasrah disudut ruangan sampai berdebu dan usang. Ini juga melatih hati kita untuk berusaha ikhlas.

Minim barang, minim sampah. Jelas dengan sedikitnya barang yang kita beli berdampak pada sedikitnya sampah yang kita produksi. Alih-alih kampanye pengolahan sampah, minimalisme mengajarkan tidak memproduksi sampah sejak awal yang bisa kita lihat langsung dampaknya dibanding (katanya) daur ulang sampah.

Baca Juga  Teror Ular Kobra adalah Sebuah Bencana Ekologi

Faktanya secara global hanya 9% sampah yang di daur ulang, selebihnya masih dibiarkan begitu saja. Maka turut serta menjaga bumi seharusnya juga salah satu cara menciptakan kebahagiaan sejati. Pun salah satu tugas manusia sebagai khalifah dibumi.

Satu visi dengan gaya hidup minimalisme, Islam telah mengajarkan cara indah untuk bahagia dengan bersyukur dan hidup sederhana.

*) Mahasiswi Ilmu Komunikasi UNY. Pegiat gaya hidup minimalis.

Editor: Nabhan Mudrik Alyaum

Share Artikel

customer

4 Comments

Tinggalkan Balasan