Harun Nasution: Antara Akal dan Wahyu Tidak Bertentangan - IBTimes.ID
Kalam

Harun Nasution: Antara Akal dan Wahyu Tidak Bertentangan

2 Mins read

Harun Nasution merupakan seorang tokoh muslim Indonesia yang lahir di Sumatra Utara, 23 September 1919 dan meninggal di Jakarta, 18 September 1998. Ia pernah mengajar di beberapa Universitas; Universitas Negeri Jakarta (UNJ), IKIP Jakarta, Universitas Nasional (UN), IAIN Syarif Hidayatullah.

Ia juga terkenal sebagai seorang penulis, beberapa bukunya yaitu Filsafat Agama, Teologi Islam, Akal dan Wahyu dalam Islam, Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Islam Rasional, dan Islam Sitinjau dari Berbagai Apeknya.

Riwayat Pendidikannya, ia pernah menempuh di Belanda Hollandsche Indiansche School (HIS), di Bukittinggi Modern Kweekschool (MIK), di Mesir Universitas al-Azhar dan Universitas Amerika. Ia juga pernah menempuh pendidikan di Kanada McGill University. Sedangkan untuk pendidikannya tentang agama seperti halnya sholat, puasa, mengaji dan ibadah lainnya beliau belajar dari lingkungan keluarganya.

Gagasan Harun Nasution

Dari beberapa gagasan Harun Nasution yang menjadi salah satu fokusnya tentang hubungan akal dan wahyu. Di dalam al-Qur’an sudah dijelaskan bahwa kedudukan akal itu sangat tinggi. Dalam pandangan Islam, baik dalam aspek apapun seperti bidang filsafat, ilmu Kalam, bahkan fiqh, teks wahyu tetap dipercaya kebenarannya dan posisinya berada di atas akal.

Dalam konteks ini akal akan tetap patuh pada teks wahyu karena akal itu dipergunakan untuk mengetahui/menafsirkan teks wahyu. Bukan malah sebaliknya yaitu menentangnya. Yang dipertentangkan dalam sejarah ajaran Islam adalah penafsiran antar satu teks wahyu dengan teks wahyu yang lainnya, bukan akal dan wahyu. Kesimpulannya disini bahwa yang diperdebatkan sebenarnya adalah pendapat dari satu akal ulama dengan akal ulama yang lain.

Menurut Harun yang sangat menentukan antara pantas atau tidaknya pengetahuan/pemahaman seseorang tentang ajaran Islam, ditentukan oleh sedikit banyaknya kontribusi akal terhadap sistem doktrin dari suatu aliran. Berhubungan dengan akal, bukan hanya soal wahyu, Harun Naution pernah menulis, “tekad atau kekuatan manusia itu dilambangkan oleh akal. karena dengan akal, manusia memiliki sebuah kesanggupan untuk menaklukkan makhluk lainnya”.

Baca Juga  Ibnu Rusyd: Kritik atas Metode Kalam Para Mutakkalimin

Kesanggupan yang dimiliki oleh akal manusia itu dapat digunakan untuk menaklukkan kekuatan yang ada disekitarnya atau yang ada pada makhluk lainnya. Ketika akal yang dimiliki oleh manusia itu bertambah tinggi maka secara otomatis kesanggupan dalam mengalahkan makhluk lain juga bertambah. Begitupun sebaliknya, apabila akal yang dimiliki oleh manusia bertambah lemah maka bertambah lemah pula kesanggupannya untuk menaklukkan kekuatan yang lainnya.

Harun Nasution menjelaskan dalam sejarah Islam bahwa akal manusia itu memiliki kedudukan yang tinggi dan sering dipergunakan. Dan itu bukan hanya terjadi pada perkembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan saja. Namun hal itu juga terjadi pada perkembangan dari ajaran-ajaran Islam, didalam al-Qur’an sudah dijelaskan tentang perintah pemikiran akal.

Pembaru Teologi

Predikat Harun Nasution dalam pembaharuan teologinya itu didasarkan pada keadaan umat Islam Indonesia saat itu. Banyak terjadi kemunduran dan juga keterbelakangan, dan semua itu disebabkan oleh adanya kesalahan dalam pemikiran teologinya. Pemikiran ini serupa dengan pemikiran pembaharu sebelumnya seperti Muhamad Abduh, Sayid Amer, dan Rashid Ridho. Mereka berpandangan bahwa kaum muslim harus kembali kepada doktrin agama Islam yang sesungguhnya.

Menurut pandangan Harun Nasution, apabila kaum muslim ingin merubah nasib mereka maka mereka juga sudah sepatutnya untuk mengubah pemikiran teologi mereka yang berwatak keinginan bebas rasional serta juga otonom. Maka teori pembaharuan ini juga sudah tidak diherankan apabila kemudian hari ditemukan teologi Mu’tazilah dalam khasanah Islam klasik itu.

Editor: Dhima Wahyu Sejati

Siti Maslukhah
1 posts

About author
Mahasiswi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
Articles
Related posts
Kalam

Islam Liberal dan Islam Literal: Benci, tapi Rindu

4 Mins read
Islam Liberal dan Literal yang Saling Berhadapan Dalam sejarah dunia pemikiran Islam, kata liberal sering dihadapkan dengan kata literal. Pengutuban dua pola…
Kalam

Pemikiran Ibn Bajjah 3: Spirit dalam Pembentukan Perilaku Manusia

2 Mins read
Pemetaan Perilaku Manusia Selanjutnya, Ibn Bajjah mambahas tentang bentuk-bentuk spirit (syu’ar ruhaniyah) dalam hal perilaku manusia setelah ia mengkaji tentang pemetaan perilaku…
Kalam

Pemikiran Ibn Bajjah (2): Jiwa, Akal Ma’rifah, dan Akhlak

3 Mins read
Setelah penulis memaparkan salah satu pemikiran Ibn Bajjah di artikel sebelumnya yang bertajuk Konsep Metafisika Menurut Ibn Bajjah, dengan ini sangat penting…

Tinggalkan Balasan

Mari Kolaborasi
Mari Berkolaborasi bersama kami "IBTimes.ID - Cerdas Berislam" dan para kontributor lainnya untuk memproduksi narasi Islam yang mencerahkan.
Donasi dapat melalui Bank Mandiri 137-00-5556665-3 a.n Litera Cahaya Bangsa