Fikih

Hukum Membaca Al-Fatihah Bagi Makmum Salat

2 Mins read

Salat lima waktu merupakan salat yang diwajibkan bagi setiap muslim. Sebab, salat merupakan merupakan ibadah yang termasuk fondasi dalam penegakkan Islam.

Banyak dalil-dalil di dalam Al-Qur’an yang menjelaskan tentang kewajiban salat. Diantara lain, dalil yang sangat masyhur surat Al-Baqarah ayat 43 Allah berfirman:

وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَارْكَعُوْا مَعَ الرّٰكِعِيْنَ

Terjemah Kemenag 2002

Dan laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang yang rukuk.

Berkaitan dengan salat, tentu dalam pelaksanaannya kita semua membaca surat al-Fatihah. Pembacaan surat al-Fatihah ini dilaksanakan setiap salat, baik yang mencakup salat fardhu, termasuk salat sunnah.

Bahkan saking spesialnya surat al-Fatihah, surat ini memiliki istilah khusus dalam ilmu al-Qur’an. Dalam buku 100 Soal-Jawab Ulumul Qur’an, Al-Fatihah diistilahkan dengan As-Sab’u al-Matsani yang bermakna “Tujuh ayat yang diulang-ulang pembacaannya.”

Namun, barangkali masih ada segelintir dari umat muslim yang bertanya dan memikirkan tentang hukum membaca al-Fatihah sebagai makmum dalam salat berjamaah lima waktu.

Karena terdapat perbedaan pendapat dikalangan fuqaha berkaitan dengan pembahasan ini. Adapun perbedaan pendapat yang terjadi sebagai berikut:

اختلف الفقهاء فى قراءة المأموم خلف الإمام

Para fuqaha berbeda pendapat berkaitan bacaan makmum

فذهب الحنفية إلى أن المأموم لا يقرأ مطلقًا خلف الإمام حتى فى الصلاة السرية، وقالوا: يستمع المأموم إذا جهر الإمام وينصت إذا أسر، لحديث ابن عباس قال: صلى النبى صلى الله عليه وسلم فقرأ خلفه قوم، فنزلت وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا

Hanafiyyah berpendapat bahwa makmum tidak membaca Al-Fatihah secara mutlak sampai salat sirr.

Mereka berpendapat bahwa makmum menyimak tatkala Imam membaca dengan jahr dan mendengarkan jika sirr, berdasarkan hadis Ibnu Abbas Ra beliau berkata bahwa Nabi Saw Salat, maka kaum yang di belakangnya (makmum) ikut membaca, maka turunlah ayat.

Baca Juga  Pernikahan Sedarah Menurut Sains dan Islam
***

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا

Maka jika Al-Qur’an dibacakan, simak dan dengarkan.

وذهب المالكية والحنابلة، إلى أنه لا تجب القراءة على المأموم سواء كانت الصلاة جهرية أو سرية لقول النبى صلى الله عليه وسلم: من كان له إمام فقراءة الإمام له قراءة، ونصوا على أنه يستحب للمأموم قراءة الفاتحة فى السرية.

Malikiyyah dan Hanabilah berpendapat tidak wajib membaca Al-Fatihah bagi makmum baik itu dalam salat Jahr ataupun Sirr.

Sebagaimana sabda Nabi Saw, “Barang siapa yang mempunyai imam (ketika salat) maka bacaan imam menjadi bacaannya.” HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmidzi

Mereka bernas untuk menganjurkan bagi makmum membaca Al-Fatihah dalam keadaan sirr.

وذهب الشافعية إلى وجوب قراءة الفاتحة على المأموم فى الصلاة مطلقًا سرية كانت أو جهرية، لقول النبى صلى الله عليه وسلم: لا صلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب، وقوله صلى الله عليه وسلم: لا تجزئ صلاة لا يقرأ الرجل فيها بفاتحة الكتاب

Syafi’iyyah berpendapat kepada wajib membaca Al-Fatihah bagi makmum dalam salat secara mutlak baik itu salat sirr ataupun jahr, sebagaimana Rasulullah Saw bersabda, “Tidak ada salat bagi yang tidak membaca Faatihatul Kitab (Al-Fatihah).” HR. Bukhari.

Dalam Buku Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Jilid 1, pada bab adillah (dalil-dalil) dalam Kitab Salat Hal. 87-90, bahwa Muhammadiyah mengutip hadis yang dirajihkan oleh Syafi’iyyah.

***

Adapun beberapa hadis yang dikutip dalam buku Himpunan Putusan Tarih sebagai berikut:

عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي هِلَالٍ عَنْ نُعَيْمٍ الْمُجْمِرِ قَالَ صَلَّيْتُ وَرَاءَ أَبِي هُرَيْرَةَ فَقَرَأَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ثُمَّ قَرَأَ بِأُمِّ الْقُرْآنِ حَتَّى إِذَا بَلَغ (غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ)

فَقَالَ آمِينَ فَقَالَ النَّاسُ آمِينَ وَيَقُولُ كُلَّمَا سَجَدَ اللَّهُ أَكْبَرُ وَإِذَا قَامَ مِنْ الْجُلُوسِ فِي الِاثْنَتَيْنِ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ وَإِذَا سَلَّمَ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنِّي لَأَشْبَهُكُمْ صَلَاةً بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. رواه النسائي

Baca Juga  Substansi Surat Al-Fatihah: Perspektif Metodologi Ilmiah

Dari Sa’id bin Abu Hilal (Diriwayatkan) dari Nu’aim Al-Mujmir dia berkata, Aku pernah salat di belakang Abu Hurairah kemudian beliau membaca “Bismillaahirrohmaanirrohiim, lalu membaca surah Al-Fatihah hingga tatkala telah sampai pada ‘Ghairil Maghdlubi ‘Alaihim Waladlaallin, (bukan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan pula orang-orang yang tersesat) dia mengucapkan ‘Aamiin.’ Orang-orangpun lalu mengucapkan Aamiin pula. Abu Hurairah juga mengucapkan ‘Allahu Akbar’ setiap hendak sujud, dan bangun dari duduk tahiyyat pertama. Setelah selesai salam, dia berkata, Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, Aku adalah orang yang paling menyerupai Rasulullah dalam salat. (HR. Nasā’i)

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ. رواه البخاري

Dari ‘Ubadah bin Ash Shamit (Diriwayatkan) bahwa Rasulullah bersabda, “Tidak ada salat bagi yang tidak membaca Faatihatul Kitab (Al-Fatihah).” (HR. Bukhari).

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي قَتَادَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ مِنْ صَلَاةِ الظُّهْرِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُورَتَيْنِ يُطَوِّلُ فِي الْأُولَى وَيُقَصِّرُ فِي الثَّانِيَةِ وَيُسْمِعُ الْآيَةَ أَحْيَانًا وَكَانَ يَقْرَأُ فِي الْعَصْرِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُورَتَيْنِ وَكَانَ يُطَوِّلُ فِي الْأُولَى وَكَانَ يُطَوِّلُ فِي الرَّكْعَةِ الْأُولَى مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ وَيُقَصِّرُ فِي الثَّانِيَةِ. رواه البخاري

***

Dari ‘Abdullah bin Abu Qatadah dari Bapaknya (diriwayatkan) berkata, “Rasulullah ﷺ pada dua rakaat pertama dalam salat Zuhur membaca Al-Fatihah dan dua surah, beliau memanjangkan rakaat pertama dan memendekkan pada rakaat kedua, dan terkadang beliau memperdengarkan bacaannya. Dalam salat Asar beliau membaca Al-Fatihah dan dua surah, dan memanjangkan pada rakaat yang pertama. Demikian pula dalam salat Subuh, beliau memanjangkan bacaan pada rakaat pertama dan memendekkakan pada rakaat kedua. (HR. Bukhari)

Baca Juga  Naskah Digital Tuntunan Salat dari Kampung Situ Gede

Dalam buku yang sama, dalam Kitab Salat Jama’ah diputuskan bahwa makmum tidak boleh membaca sesuatu pun kecuali Fatihatul Kitab atau Surat al-Fatihah dengan teks sebagai berikut:

والتنصت إذا قرأ الامام جهرا فلا تقرا شيئاً إلا با الفاتحة

Maka sudah jelas pemaparan dari empat mazhab dan pendapat yang dikemukakan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Sehingga bagi umat muslim tidak perlu ragu dan bimbang lagi berkaitan pembacaan surat al-Fatihah dalam salat berjamaah baik dalam kondisi salat jahr, maupun salat sirr.

Editor: Yahya FR

Print Friendly, PDF & Email
6 posts

About author
Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah
Articles
Related posts
Fikih

Bermazhab Tak Berarti Anti Modernitas!

4 Mins read
Facebook Whatsapp Telegram Twitter Linkedin email Sebagaimana diketahui, sebagai gerakan dakwah Islam Muhammadiyah tidak mengikat diri pada mazhab tertentu. Baik secara fikih…
Fikih

Tak Perlu Jadi Mujtahid untuk Mempraktikkan Ilmu Ushul Fiqih

3 Mins read
Facebook Whatsapp Telegram Twitter Linkedin email Beberapa waktu kemarin, saya berkesempatan ngobrol dengan salah seorang dosen Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri…
Fikih

Fenomena Marital Rape: Bagaimana Membangun Relasi Etis dalam Penikahan?

4 Mins read
Facebook Whatsapp Telegram Twitter Linkedin email Marital Rape | Dalam Islam, pernikahan selayaknya mendatangkan kebahagiaan dan kemaslahatan bagi kedua belah pihak. Pernikahan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *