Ibadah Ritual dalam Ruang Virtual

 Ibadah Ritual dalam Ruang Virtual

Wabah Covid-19 telah menguji ketaatan umat beragama di dunia dalam mempertahankan praktik ritual keagamaan yang telah dilakukan berabad-abad lamanya. Dalam sudut pandang antropologi, ritual merupakan persilangan antara keyakinan keagamaan, politik, sosial dan ungkapan estetika masyarakat dan budaya. Ritual seringkali dipandang sebagai tindakan performatif dan simbolis yang dapat dieksplorasi dari dua sisi yaitu makna dan efek pada kehidupan orang-orang yang meyakininya (Blaum & Fong 1998).

Ritual keagamaan yang menjadi rutinitas, seremonial dan khusus juga memiliki fungsi mempersatukan dan mengeratkan komunitas yang berada pada spektrum yang sama. Ritual memiliki kekuatan sebagai transenden horizontal dan vertikal. Newman (2017) menyatakan ritual menghubungkan individu dengan kelompok, dengan Ilahi, dan memberikan makna yang lebih mengenai kebiasaan duniawi sehari-hari.

Akan tetapi, ritual yang terjadi selama ini berjalan, baik dalam skala masif ataupun pada komunitas kecil telah terganggu sejak merebaknya Covid-19. Sebagian besar pusat peribadatan di dunia telah menutup pintu untuk mencegah semakin tersebarnya virus tersebut. Sebagai contoh adalah Arab Saudi; untuk sementara waktu menetapkan kebijakan menghentikan kegiatan umroh di mekah. Di Indonesia; melalui MUI menfatwakan untuk sementara waktu tidak menyelenggarakan ibadah Jum’at di masjid, diganti dengan shalat dzuhur di rumah.

Bagi para pemimpin dan pemuka agama, keputusan menutup tempat-tempat peribadatan bukanlah hal yang sederhana. Mereka menyadari potensi pergolakan dan penolakan dari masyarakat yang selama ini menjadikan tempat ibadah sebagai medium untuk ritual jiwa dan tubuh berkomunikasi. Ritual dan tempat ibadah merupakan satu kesatuan, berkelindan satu sama lain.

Sebagian umat beragama menegasikan adanya ruang lain yang dapat digunakan saat situasi darurat seperti ini. Sementara sebagian umat memberi alternatif ruang yang tercipta atas kecerdasan akal manusia dalam membangun peradaban, yaitu ruang virtual. Artikel ini bertujuan untuk mendiskusikan bagaimana inovasi teknologi dapat mendukung keberlangsungan existensi ritual pada era postmodern termasuk dalam situasi darurat saat ini.

Praktik Teknologi dalam Agama

Ruang virtual didefinisikan sebagai lingkungan digital di mana individu, kelompok, dan bahkan organisasi berinteraksi dalam ruang virtual secara non-fisik (Saunders et.al 2011). Ruang virtual tercipta berkat perkembangan teknologi yang tumbuh pesat dari waktu ke waktu sehingga menjadi bagian dari kehidupan manusia sehari-hari. Saat ini, ruang virtual telah meleburkan kehidupan dunia nyata dan dunia virtual menjadi satu. Keduanya telah menjadi bagian dari kehidupan manusia dalam semua dimensi, tak terkecuali dimensi ritual dan keagamaan.

Dalam sebuah laporan kajian mengenai agama dan teknologi di Singapura, dinyatakan “technological modernization and religion co-exist and mutually reinforce one another” (Kluver & Cheong 2007). Artinya modernisasi teknologi dan agama saling mengisi dan saling memperkuat satu sama lain.

Dalam kajian tersebut ditemukan bahwa harmonisasi perkembangan teknologi dengan kuatnya keberagamaan di Singapore disebabkan oleh pemahaman yang baik dari pemuka agama mengenai peran teknologi informasi dalam praktik keagamaan dan cara-cara penggunaan kapasitas teknologi informasi untuk mengajarkan konten keagamaan, untuk memobilisasi umat beragama, dan untuk memberlakukan praktik keagamaan. 

Pemahaman teknologi yang baik dari pemimpin agama akan meningkatkan kemampuan mereka dalam mendampingi ummat beragama khususnya dalam situasi sulit seperti saat ini. Kekhawatiran lunturnya spiritualitas ummat yang disebabkan ketidakhadiran mereka di tempat peribadatan akan berkurang manakala teknologi berperan.

Campbell (2005) menyebut hal ini sebagai “teknologi spiritual,” situasi dimana komunitas keagamaan membingkai teknologi sehingga membuat teknologi dapat diterima secara agama. Pemuka dan pemimpin agama harus memiliki kapabilitas dalam membingkai teknologi dengan cara yang tidak hanya melegitimasi teknologi dalam praktik keagamaan, tetapi juga menuntut integrasi teknologi informasi ke dalam praktik keagamaan.

Ruang virtual dapat dimanfaatkan oleh pemuka dan pemimpin agama untuk menyampaikan pesan-pesan profetik kepada ummat yang tersebar di seluruh dunia. Internet yang menghubungkan jaringan komputer di seluruh dunia telah mempermudah ummat untuk masuk pada dunia virtual dengan mudah dan murah dalam mendapatkan informasi keagamaan. Ruang virtual dapat lebih efektif dalam mentransfer pemikiran-pemikiran yang jernih dan benar serta pesan-pesan ketuhanan ke seluruh dunia.

Cara lain yang dapat dibangun untuk mendorong praktik ritual keagamaan dalam ruang virtual adalah melalui pengarusutamaan solidaritas sosial. Telah banyak bukti mengenai bagaimana ruang virtual berhasil menciptakan lingkungan unik dan positif. Salah satu contoh yang dapat dilihat adalah bagaimana Gerakan Donasi melalui ruang virtual telah menjadi trend dan budaya sehari-hari masyarakat.

Di Indonesia, berbagai platform online, termasuk aplikasi dan media sosial mampu meningkatkan budaya solidaritas antar masyarakat. Jika dulu donasi dilakukan hanya sebatas pada ruang masjid, Kantor Lembaga zakat, panti asuhan, atau Lembaga sosial lainnya, kini donasi dilakukan dimanapun, kapanpun, dengan efektif, efisien dan masif.

Lembaga zakat juga memberi alternatif dengan membuat aplikasi virtual untuk memudahkan ummat berdonasi, misalnya: Lazismu, Dompet Du’afa. Di samping itu kanal solidaritas telah dilakukan melalui pemanfaatan fitur aplikasi dan media sosial seperti Wechat, Alipay, GoPay, kitabisa.com sebagai media untuk berdonasi. Donasi melalui ruang virtual memberi kesempatan pada siapapun untuk turut berpartisipasi dalam membantu orang lain dalam jumlah nomimal berapapun. 

Sebagai kesimpulan, ruang virtual sebagai produk dari teknologi digital dapat memberikan ruang baru bagi manusia postmodern untuk digunakan sebagai medium pelaksanaan ritual. Dalam konteks dimana bertemu dan bertatap langsung dapat berpotensi menciptakan situasi yang lebih buruk, seperti merebaknya COVID-19 pada tingkat yang tidak dapat dikendalikan, ruang virtual merupakan solusi dan inovasi yang dapat membantu ummat beragama untuk dapat tetap menjalani praktik-praktik ritual yang menjadi keyakinan. Ritual sebagai pengejawantahan spiritualitas laiknya selaras dengan kesalehan sosial dan kemampuan beradaptasi dalam peradaban yang semakin canggih. Tabik!

Refensi

  • Blaum, P & Fong, V. 1998 “Religion & Rituals”. ProQuo. Diakses pada 21 Maret 2020. https://bit.ly/39gptwY
  • Campbell, H. (2005b). Spiritualizing the Internet: Uncovering discourses and narratives of religious Internet use. Online-Heidelberg Journal of Religions on the Internet. Diakses pada 21 Maret 2020. https://bit.ly/2xcSZGq
  • Kluver, R & Cheong, PH. 2007 “Technological Modernization, the Internet, and Religion in Singapore, Journal of Computer-Mediated Communication, pp. 1122–1142
  • Newman, C. 2017. “The Evolution Of Modern Rituals: 4 Hallmarks Of Today’s Rituals”.  Diakses pada 21 Maret 2020. news.virginia.edu. https://at.virginia.edu/2U7lG0m
  • Saunders, C., Rutkowski, A. F., Genuchten van, M., Vogel, D., & Orrego, J. M. 2011. “Virtual space and place: Theory and test”. MIS Quarterly, pp. 1079-1098.

IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis dan editor yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
Mandiri 137-00-5556665-3
A.n Litera Cahaya Bangsa

Muhammad Aziz

Muhammad Aziz

Ketua Umum PCIM Tiongkok dan Kandidat Ph.D, Hohai University, China.

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *