PUBLISHER

PT Litera Cahaya Bangsa Jalan Nanas 47B, Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta

Kanal Moderasi Islam. Hubungi Kami.

Manusia memiliki bermacam-macam sifat dasar dalam dirinya. Seperti yang pernah disebutkan oleh Aristoteles, salah satu sifat manusia adalah sebagai Zoon Politicon (makhluk sosial) yang tidak dapat hidup seorang diri dan memiliki kecenderungan untuk berkumpul, berkelompok, dan hidup bersama dengan orang lain.

Sifat alamiah ini kemudian mendorong manusia untuk saling berinteraksi dengan manusia lain. Membentuk suatu jaringan masyarakat yang luas, serta terbentuknya kelompok-kelompok dan organisasi sosial yang beragam.

Dorongan manusia sebagai makhluk sosial ini juga berperan dalam menyatukan orang-orang dari berbagai latar belakang identitas suku, ras, budaya, dan agama ke dalam suatu kelompok yang didasari atas kesamaan identitas. Selain itu, kelompok tersebut bekerja sama untuk mewujudkan tujuan kolektif tertentu.

Konsep Ashabiyah

Ibnu Khaldun, yang sering disebut sebagai Bapak Ilmu Sosiologi, punya konsep tersendiri dalam menjelaskan adanya ikatan kelompok ini, ia menyebutnya dengan istilah Ashabiyah.

Ashabiyah, secara ringkas, diartikan sebagai sebuah solidaritas sosial yang dibangun dari ikatan primordial tertentu, dan digunakan untuk menyatukan berbagai macam kelompok dalam satu payung bersama yang lebih besar.

Dalam bukunya, Muqaddimah, Ibnu Khaldun menggunakan teori Ashabiyah ini sebagai konsep pokok untuk menjelaskan proses terbentuknya suatu peradaban hingga runtuhnya peradaban tersebut.

Menurut Ibnu Khaldun, jatuh bangunnya suatu peradaban berbanding lurus dengan kuat-lemahnya ikatan Ashabiyah dalam kelompok itu.

Dalam fase awal, ketika sebuah negara terbentuk, akan ada konflik dan perebutan kekuasaan antarberbagai macam suku dan kelompok. Kelompok yang lebih kuat ikatan Ashabiyah-nya akan mengalahkan kelompok lain yang memiliki ikatan Ashabiyah yang lebih lemah.

Pada akhir fase ini, sebuah negara atau kerajaan akan terbentuk dari proses penaklukan dan penyatuan berbagai macam suku dalam satu kekuasaan.

Baca Juga  Aku Ingin Mengenang Sapardi dengan Sederhana

Semakin mapannya kekuasaan dalam suatu negara, ikatan Ashabiyah ini lama-kelamaan akan semakin melemah, karena penyelewengan kekuasaan dan konflik internal dalam negara tersebut. Kemudian, hal tersebut akan mengakibatkan sebuah negara mengalami disintegrasi dan akhirnya punah atau jatuh kepada kelompok lain.

Begitulah konsep sejarah dalam pandangan Ibnu Khaldun. Baginya, sejarah adalah sebuah siklus yang terus-menerus berulang sepanjang waktu di saat yang berbeda.

Tribalisme, Neo-Tribalisme, dan Fanatisme

Di zaman modern seperti sekarang, kondisi sosial manusia jauh berubah dengan zaman ketika Ibnu Khaldun masih hidup. Manusia kini tidak lagi hidup secara nomaden yang identitasnya ditentukan dari kabilah atau suku di mana ia dilahirkan.

Identitas-identitas manusia kini semakin beragam. Dengan kemajuan teknologi informasi yang begitu masif, manusia saat ini saling terhubung satu sama lain dalam komunitas lintas suku dan negara.

Marshall Mcluhan mengistilahkan komunitas ini dengan sebutan Global Village (kampung global). Berbagai macam warga dari seluruh dunia dapat terhubung dan saling berinteraksi melalui prasarana teknologi yang mendukung. Sebagai implikasinya, batas-batas antara kelompok yang satu dengan lainnya semakin plural dan cair.

Identitas kini tidak dapat didefinisikan secara sempit dan tunggal. Orang-orang kini tidak hanya disatukan oleh kesamaan darah, nasab, atau sukuisme semata (tribalisme).

Namun, konsep identitas kini semakin berkembang dan orang-orang mulai membentuk suatu bentuk ikatan baru dalam komunitas hobi, ikatan profesi, dan berbagai macam organisasi sosial lainnya.

Berbeda dengan tribalisme purba, yang digerakkan oleh sosok karismatik tertentu dan dibangun atas sentimen yang sifatnya non-rasional. Tribalisme baru ini lebih cair, multi-etnis dan digerakkan atas sentimen rasional. Para ahli menyebutnya dengan istilah Neo-Tribalisme, untuk membedakannya dengan praktik tribalisme purba, yang bergerak dalam format yang modern.

Baca Juga  Samudra Maaf Buya Hamka

Namun, meskipun keragaman adalah sesuatu yang mutlak terjadi, tidak jarang justru keragaman identitas ini menjadi penyebab konflik.

Bukan rahasia lagi saat kita melihat banyak kasus kekerasan dan intoleransi yang diakibatkan oleh pertarungan identitas antarkelompok yang saling memperjuangkan eksistensinya masing-masing.

Ashabiyah, Sesuatu yang Negatif Atau Justru Positif?

Secara umum, ikatan Ashabiyah pada dasarnya adalah sesuatu yang sifatnya alamiah bagi manusia. Setiap orang secara natural terdorong untuk menjadi bagian dari suatu kelompok tertentu. Bahkan, sifat fanatik yang muncul dari dorongan tersebut justru diperlukan untuk menjadi spirit utama yang menggerakkan kelompok untuk mencapai tujuan.

Indonesia contohnya, tidak akan berdiri hari ini apabila tidak ada segolongan pemuda fanatik yang rela mengorbankan harta dan nyawa untuk memperjuangkan kemerdekaannya. Ikatan Ashabiyah berupa nasionalisme dalam hal ini, adalah salah satu contoh sederhana terkait sisi positif dari sikap fanatik.

Namun di sisi lain, sifat fanatik ini akan merusak apabila ia menutupi akal sehat dan berubah menjadi arena untuk memperebutkan klaim kebenaran. Motivasi seperti inilah yang menjadi penyebab banyaknya kasus perpecahan dan kekerasan yang terjadi saat ini. Masing-masing ingin meneguhkan eksistensi diri dan kelompoknya secara egois.

Terjadinya persekusi terhadap golongan minoritas, pelarangan kegiatan dan perusakan rumah ibadah kelompok agama tertentu, serta supremasi ras dalam bentuk rasisme yang terus-menerus terjadi, bergerak dalam pola pikir eksklusivistik seperti ini yang menegasikan adanya individu dan kelompok lain yang berbeda dengannya.

Dengan demikian, ikatan Ashabiyah memiliki dua sisi sekaligus. Pertama, ia dapat berfungsi sebagai alat pemersatu dan spirit untuk menggerakkan manusia secara kolektif. Kedua, ia juga bisa menjadi alat destruktif yang memecah persatuan antar sesama.

Baca Juga  Ahmad Badawi: Politik dan Agama Untuk Kebahagiaan Dunia-Akhirat

Wujud Ashabiyah

Dewasa ini, Ashabiyah dapat mewujud dalam berbagai macam hal baik itu dalam bentuk identitas suku, agama, kegemaran, preferensi, ataupun pandangan politik tertentu. Semuanya membentuk pandangan kita tentang identitas yang ideal dan memandu manusia untuk bergerak dalam mencapai tujuan idealnya masing-masing..

Tentu hal ke depan yang sekiranya menarik untuk digali adalah bagaimana ragam identitas yang berbeda ini akan berinteraksi satu sama lain dan bagaimana pola-pola relasi yang akan terbentuk dari identitas yang sifatnya lokal, unik, dan khas jika dihadapkan pada wacana identitas kolektif manusia yang lebih besar?

Di masa depan, kemajemukan ini tentu akan terus berkembang dan berbagai macam Ashabiyah akan terus muncul. Seperti yang dikemukakan oleh Ibnu Khaldun, Ashabiyah yang kita miliki dapat berperan sebagai cikal bakal terbentuknya peradaban yang baru. Tapi di sisi lain, ia juga bisa menjadi penyebab hancurnya sebuah peradaban.

Pilihan kita dalam menyikapi Ashabiyah dan keanekaragaman menentukan arah ke mana peradaban kita akan bergerak. Akankah ia maju dan berkembang, ataukah ia akan runtuh ditelan oleh konflik sektarian zaman?

Editor: Lely N

Share Artikel

Mahasiswa Biasa di Kampus yang Biasa-Biasa Saja

Tinggalkan Balasan