Ibnu Khaldun, Sosiolog Pertama di Dunia Islam - IBTimes.ID
Ulama

Ibnu Khaldun, Sosiolog Pertama di Dunia Islam

6 Mins read

Ibnu Khaldun adalah ulama yang hidup antara abad ke-14 dan 15 M (tahun 1332-1406 M) bertepatan abad ke-8 dan 9 H (732-808 H). Nurcholish Madjid menyebutnya sebagai salah seorang ilmuwan Islam yang sangat cemerlang dan termasuk yang paling dihargai oleh dunia intelektual modern. Menariknya Ibn Khaldun termasuk ilmuwan yang menolak keras filsafat. seperti Ibn Taimiyah dan al-Ghazali.

Keluarga Ibn Khaldun

Dalam buku Al-Ta‘rîf bi Ibnu Khaldun wa Rihlatuhu Gharban wa Syarqan (1979: 3) disebutkan bahwa keturunan Ibnu Khaldun digolongkan kepada Muhammad bin Muhammad bin Hasan bin Jâbir bin Muhammad bin Ibrâhîm bin ‘Abd al-Rahmân bin Khâlid yang dikenal dengan nama Khaldun.

Berbagai referensi menyebutkan bahwa namanya adalah ‘Abd al-Rahmân bin Khaldun al-Maghribî al-Hadlramî al-Mâlikî. Digolongkan kepada al- Maghribî karena ia lahir dan dibesarkan di Maghrib di kota Tunis. Dijuluki al-Hadlramî karena keturunannya berasal dari Hadlramaut Yaman, dan dikatakan al-Mâliki karena ia menganut mazhab Mâlik.

Gelar Abû Zaid diperoleh dari nama anaknya yang tertua Zaid. Sedangkan panggilan Walî al-Dîn diperolehnya setelah ia menjadi hakim di Mesir (Muqaddimah Ibn Khaldun, h. 33). Keluarga Ibnu Khaldun berkembang di kota Carmone di Andalus (Spanyol) ketika kakeknya Khâlid bin ‘Utsmân yang terkenal dengan sebutan Khaldun menetap di kota ini. Beberapa keluarga ini termasuk Khâlid bin ‘Utsmân memasuki Andalus pada permulaan abad ke-8 M (711). Mereka masuk bersama-sama dengan ekspedisi militer Arab pada waktu itu karena tertarik atas kemenangan tentara Islam.

Kakek Ibnu Khaldun, Khâlid bin ‘Utsmân dan keluarganya menetap di kota Carmone untuk beberapa waktu dan kemudian hijrah ke kota Sevilla. Banu Khaldun berhasil menjabat jabatan-jabatan penting dalam bidang ilmu pengetahuan dan politik di kota ini. Antara lain Kuraib bin Khaldun terkenal dalam bidang ilmu pengetahuan. Kedudukan Banu Khaldun di Sevilla sangat terkenal. Pemuka-pemuka mereka pada saat itu senatiasa memegang tampuk pemerintahan dan ilmu pengetahuan.

***

Pada awal abad ke-13 M kerajaan Muwahhidîn di Andalus hancur. Sebagian besar kota-kota dan pelabuhannya jatuh ke tangan raja Castilia termasuk kota Sevilla (1248 M). Banu Khaldun terpaksa hijrah ke Afrika Utara mengikuti jejak Banu Hafsh dan menetap di kota Ceuta. Di kota ini Banu Hafsh mengangkat Abû Bakar Muhammad, yaitu kakek kedua Ibnu Khaldun untuk mengatur urusan negara mereka di Tunisia. Mereka kemudian mengangkat kakek pertama beliau, Muhammad bin Abû Bakar untuk mengurus urusan hijâbah (kantor urusan keistanaan/kenegaraan) di Bougie (Bijâyah).

Ibnu Khaldun dilahirkan di Tunisia pada bulan Ramadhan 732 H/1332 M di tengah-tengah keluarga ilmuwan dan terhormat yang berhasil menghimpun antara jabatan ilmiah dan pemerintahan. Dari lingkungan seperti ini Ibnu Khaldun memperoleh dua orientasi yang kuat. Pertama, cinta belajar dan ilmu pengetahuan. Kedua, cinta jabatan dan pangkat.

Baca Juga  K.H Ahmad Sanusi: Ulama dan Pahlawan yang Dilupakan

Ayahnya yang bernama Abû ‘Abdullâh Muhammad juga berkecimpung dalam bidang politik. Ia kemudian mengundurkan diri dari bidang politik dan menekuni ilmu pengetahuan dan kesufian. Beliau ahli dalam bahasa dan sastra Arab. Meninggal dunia pada tahun 749 H/ 1348 M akibat wabah pes yang melanda Afrika Utara dengan meninggalkan lima orang anak. Termasuk ‘Abd al-Rahmân bin Khaldun yang pada waktu itu berusia 18 tahun.

Pendidikan Ibn Khaldun

Ibnu Khaldun mengawali pendidikannya dengan membaca dan menghafal al-Qur’ân. Kemudian baru menimba berbagai ilmu dari guru-guru terkenal sesuai dengan bidangnya masing-masing. Tunisia pada waktu itu merupakan pusat ulama dan sastrawan di daerah Maghrib. Akan tetapi setelah Tunisia dan sebagian besar kota-kota di Masyriq dan Maghrib dilanda wabah pes yang dahsyat pada tahun 749H, Ibnu Khaldun kehilangan kedua orang tuanya dan beberapa orang gurunya. Sehingga ia tidak dapat melanjutkan studinya dan akhirnya hijrah ke Maghrib.

Ada pendapat yang menyatakan bahwa dua faktor yang menyebabkan Ibnu Khaldun tidak dapat melanjutkan studinya. Pertama, peristiwa wabah pes yang melanda sebagian besar dunia Islam mulai dari Samarkand sampai ke Maghrib. Adapun faktor kedua adalah hijrahnya sebagian besar ulama dan sastrawan yang selamat dari wabah pes dari Tunisia ke Al-Maghrib al-Aqshâ (Aljazair sekarang) pada tahun 750M/1349 H bersama-sama dengan Sulthân Abû al-Hasan, penguasa dawlah Banî Marîn. Ibnu Khaldun menganggap peristiwa wabah pes ini sebagai bencana besar dalam hidupnya yang menyebabkan ia kehilangan kedua orang tuanya dan sebagian guru-gurunya.

Guru-Guru Ibn Khaldun

Telah dijelaskan bahwa Ibnu Khaldun lahir dan dibesarkan di tengah-tengah keluarga ilmuwan yang terhormat. Ayahnya Abû ‘Abdullâh Muhammad adalah gurunya yang pertama. Darinya ia belajar membaca, menulis dan bahasa Arab. Di antara guru-gurunya yang lain adalah Abû‘ Abdullâh Muhammad bin Sa‘ad bin Burrâl al-Anshârî, darinya ia belajaral-Qur’ân dan al-Qirâ’ât al-sab‘ah (qira’at tujuh). Syaikh Abû ‘Abdullâh bin Al-‘Arabî al-Hashayirî, Muhammad al-Syawwâsy al-Zarzâlî, dan Ahmad bin al-Qashshâr, dari mereka Ibnu Khaldun belajar bahasa Arab.

Baca Juga  Ketika Pak AR Memimpin Yasinan

Di samping nama-nama di atas, Ibnu Khaldun menyebut sejumlah ulama, seperti Syaikh Syamsal-Dîn Abû ‘Abdullâh Muhammad al-Wâdiyâsyî, darinya ia belajar ilmu-ilmu hadîts, bahasa Arab, dan fiqh. Dari ‘Abdullâh Muhammad bin ‘Abd al-Salâmia mempelajari kitab al-Muwaththa‘ karya Imâm Mâlik. Dan di antara guru-guru terkenal yang ikut serta membentuk kepribadian Ibnu Khaldun adalah Muhammad bin Sulaimân al-Saththî, ‘Abd al-Muhaimîn al-Hadlramî, Muhammad bin Ibrâhîm al-Âbilî. Dari mereka ia belajar ilmu-ilmu pasti, logika dan seluruh ilmu (teknik) kebijakan dan pengajaran di samping dua ilmu pokok (Qur’ân dan Hadîts).

Namun demikian, Ibnu Khaldun meletakkan dua orang dari sejumlah guru-gurunya pada tempat yang istimewa. Keduanya sangat berpengaruh terhadap pengetahuan bahasa, filsafat dan hukum Islam, yaitu Syaikh Muhammad bin Ibrâhîm al-Âbilî dalam ilmu-ilmu filsafat dan Syaikh ‘Abd al-Muhaimîn bin ‘Abd al-Muhaimîn al-Hadlramî dalam ilmu-ilmu agama. Darinya Ibnu Khaldun mempelajari kitab-kitab hadîts, seperti al-Kutub al-Sittah dan al-Muwaththa‘.

Pada usia 20 tahun Ibnu Khaldun berhasil menamatkan pelajarannya dan memperoleh berbagai ijazah tadrîs/mengajar dari sebagian besar gurunya setelah ia menimba ilmu dari mereka. Betapapun menurut Thaha Husain pendidikan yang diperoleh Ibnu Khaldun pada masa kecil dan dewasa bukanlah suatu hal yang luar biasa dan tidak melebihi apa yang diperoleh siswa dan mahasiswa Azhar dewasa ini. Walaupun dikatakan bahwa pendidikan yang diterimanya begitu hebat jika dibandingkan dengan taraf pendidikan di tanah airnya.

Karya-Karya Ibn Khaldun

Ibnu Khaldun menulis sebuah buku tentang al-Manthiq (logika), banyak meringkas buku Ibn Rusyd (Averroes), meringkas buku al-Imâm al-Fakhru al-Râzî tentang ilmu kalam, menulis sebuah buku tentang Al-Hisâb (ilmu hitung), tentang Ushûl Fiqh dan lain-lain. Ibn Khaldun menulis sebuah buku yang kini tersimpan di perpustakaan Dîr al-Eskorial di Spanyol yang berjudul Lubâb al-Muhashshal fî Ushûl al-Dîn dengan nomor 1614 dengan tulisan tangan Ibnu Khaldun sendiri. Beberapa karyanya, diantaranya:

  1. Muqaddimah Ibn Khaldun. Buku ini ditulis sebagai pengantar dari buku Târîkh Ibn Khaldun.
  2. Kitâb al-‘Ibr wa Daiwân al-Mubtadâ’ wa al-Khabar fî Ayyâm al-‘Arab wa al-‘Ajm wa al-Barbar wa Man Âshâruhum min Dzawî al-Sulthân al- Akbar. Kitab yang dikenal dengan nama Tarîkh Ibnu Khaldun yang berisikan tentang sejarah-sejarah Arab, generasi-generasi negara mereka, sejarah-sejarah umat-umat yang lalu, seperti Turki, bangsa-bangsa lain sampai abad 8 H / 14 M.
  3. At-Ta‘rîf bî Ibnu Khaldun wa Rihlatuhu Syarqan wa Gharban. Sebuah autobiografi yang ditulis sendiri oleh Ibnu Khaldun yang menjelaskan keturunan, keluarganya dak kahidupannya.
  4. Syifâ’ al-Sâ’il lî Tahdzîb al-Masâ’il. Buku ini tentang Tasawuf, dan menjadi perdebatan di kalangan para ilmuwan, apakah buku ini betul-betul ditulis oleh Ibn Khaldun.
Baca Juga  Ibnu Khaldun: Tribalisme, Fanatisme, dan Teori Ashabiyah

Sosiolog Pertama Orisinil di Dunia Islam

Dalam magnum opus-nya al-Muqaddimah, Ibnu Khaldun membuat pembagian ilmu dan secara fundamental mengkritik filsafat. Ia tak tertarik kepada ilmu alam, akan tetapi lebih banyak tertuju kepada permasalahan sosial dalam sejarah umat manusia. Dalam bidang inilah Ibn Khaldun memberi sumbangan keilmuan yang tiada tara. Tidak saja sepanjang sejarah intelektual Islam, tapi juga sepanjang warisan keilmuan umat manusia pada umumnya.

Segi yang paling mengesankan dari Ibn Khaldun ialah kreativitas dan orisinalitas ilmiahnya. Hanya sedikit saja pengaruh para pemikir terdahulu, baik Muslim maupun bukan Muslim. Tampaknya hanya al-Ghazali satu-satunya pemikir yang cukup berpengaruh kepada wawasan keilmuan Ibn Khaldun.

Ibn Khaldun beranggapan bahwa ilmu sejarah dan sosiologi adalah dua ilmu yang berasal sama. Mempelajarai sosiologi adalah penting sebagai pengantar kepada kajian tentang sejarah. Ibn Khaldun tampaknya mengingkari determinisme Tuhan dalam sejarah manusia. Ia berpendapat bahwa seorang sejarawan tidak boleh terpengaruh oleh pertimbangan-pertimbangan spekulatif ataupun teologis. Sejarah baginya harus diterangkan semata-mata berdasarkan bukti-bukti empiris, menurut hasil observasi dan penelitian yang dilaksanakan secara obyektif.

Ibn Khaldun sangat menyadari adanya hukum-hukum sosiologis yang menguasai perjalanan sejarah. Boleh dikata bahwa dialah orang pertama yang dengan mantap menyatakan adanya hukum-hukum serupa itu. Dari beberapa uraian di atas dapat dilihat bahwa, dalam sikap mereka terhadap filsafat, terdapat persamaan yang cukup mengesankan antara Ibn Khaldun, Ibn Taimiyah, dan al-Ghazali.

Kini semakin banyak sarjana modern yang memandang Ibn Khaldun sebagai bapak sesungguhnya bagi ilmu-ilmu sosial, khususnya filsafat sejarah dan sosiologi, dan juga ilmu politik dan ekonomi. Arnold Toynbee, misalnya, menghargai Ibn Khaldun sedemikian tingginya sehingga ia berpendapat bahwa nama-nama Plato, Aristoteles, Augustine, dan lain-lain tidak pantas disebut sejajar dengan nama Ibn Khaldun.

Editor: Yusuf R Y

Avatar
73 posts

About author
Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga
Articles
Related posts
Ulama

Fatimah Mernissi, Kiblat Feminis Muslim Dunia

3 Mins read
Perempuan dan Perlawanan Wanita atau perempuan merupakan sebuah kata yang digunakan sesuai dengan perjalanan zaman. Makna Wanita memiliki konotasi terhormat sebagai hasil…
Ulama

KH Hasan Ali, Tokoh Muhammadiyah Bali yang Teguh dan Moderat

4 Mins read
Umat Islam Bali dan warga Muhammadiyah seluruh Indonesia kembali kehilangan tokoh dan teladan dalam berdakwah pada Ahad, 6 Ramadan 1442 Hijriah. KH…
Ulama

Ibnu al-Haitham, Ilmuwan Muslim Pencetus Kamera Obscura dan Ilmu Optik

2 Mins read
Zaman sekarang, ragam jenis kamera yang kian canggih semakin dikembangkan. Kamera bukan hanya dibutuhkan untuk mengabadikan momen seperti foto, namun juga dipakai…

Tinggalkan Balasan