Ilmu Geografi: Sarana Meningkatkan Iman

 Ilmu Geografi: Sarana Meningkatkan Iman

Ilustrasi. Sumber: The Moon Doggies

Banyak ayat al-Qur’an yang membawa kita pada suatu pemahaman bahwa sebagai hamba Allah yang diciptakan untuk hidup di bumi, manusia harus menguasai ilmu keakhiratan dan ilmu keduniaan yang diperlukan.

Sebagai penguasa di bumi, manusia boleh memanfaatkan alam di sekitarnya bagi kelangsungan hidupnya. Namun tidak boleh merusaknya. Manusia bertanggungjawab untuk melestarikan alam ini. Oleh karenanya, manusia tidak dapat berbuat lain kecuali harus mengahlikan diri dalam mengelola alam sekitarnya.

Sedangkan untuk memperoleh kemampuan itu, manusia harus mengenal alam lingkungannya dengan sebaik-baiknya. Manusia harus sering mengamati alam di sekitarnya, serta mengingat-ingat gejala yang dilihat saat pengamatan tersebut.

Ilmu Geografi dalam hal itu, menjadi fokus kajian tentang gejala yang terdapat pada geosfer/lapisan bumi kaitannya dengan kehidupan manusia.

Perintah Untuk Mengenal Alam Sekitar

Keharusan manusia untuk mengenal alam sekelilingnya dengan baik diperintahkan oleh Allah SWT dalam surat Yunus (10) ayat 101:

Katakanlah: “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan Rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang beriman “.

Perintah manusia tersebut untuk mengetahui sifat-sifat dan kelakuan/gejala alam di sekitarnya. Yang menjadi tempat tinggal dan sumber bahan makanan selama hidupnya.

Pengertian “perhatikanlah” mengandung perintah untuk melihat tidak sekadar melihat saja dengan pikiran yang kosong, melainkan dengan perhatian pada kebesaran dan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.

Serta makna gejala-gejala alamiah yang teramati. Hal tersebut dipertegas juga dalam Surat al Ghaasyiyah (88) ayat 17-­20 berikut:

أَفَلاَ يَنْظُرُوْنَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ(17)وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ(18)وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ(19)وَإِلَى اْلأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ {الغاشية: 17-20}.

Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakandan langit, bagaimana ia ditinggikan?; dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?; Dan bumi bergaimana  ia dihamparkan? (Q.S. al-Ghasyiyah:17-20)

Dalam empat ayat tersebut, nyatalah Allah SWT memberikan bimbingan lebih lanjut dengan memberikan contoh apa saja yang dapat diamati dan untuk tujuan apa pengamatan itu dilakukan. Yaitu agar manusia dapat mengenal baik lingkungan hidupnya.

Pengembangan sains pada umumnya didahului dengan melakukan observasi yang penuh perhatian/seksama. Agar dapat menjawab pertanyaan “bagaimana” gejala-gejala alam itu ber-langsung. Alam semesta dan proses-proses yang terjadi di dalamnya seringkali dinyatakan sebagai “ayat-ayat Allah”.

Dengan demikian, pengamatan/pengkajian alam semesta dapat diartikan sebagai “membaca ayatullah” yang dapat merinci dan menguraikan serta menerangkan ayat-ayat Allah yang tersurat/di dalam Al-Quran, yang umumnya merupakan garis-garis besar saja.

surat al-Anbiya (21) ayat 30:

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

“Dan tidaklah orang-orang kafir itu mengetahui bahwa langit (ruang alam) dari bumi (materi alam) itu dahulu sesuatu yang padu,  kemudian Kami pisahkan keduanya itu, dan Kami jadikan segala sesuatu hidup dengan air, apakah mereka tidak beriman”. (Q.S. al-Anbiya’: 30)

Perhatian selanjutnya setelah observasi yang teliti guna menjawab “bagaimana” dalam Surat al-Qamar (54) ayat 49 menyampaikan adanya ukuran dari gejala-gejala yang diamati/dikaji, yakni:

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

“Sesunggunya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran ” (Al-Qomar: 49)

Terkait dengan pengertian “ukuran” ini dalam ilmu geografi dikenal sebagai prinsip-prinsip geografi, seperti: jarak, luas, sebaran, ketinggian, temperatur dan sebagainya.

Akhirnya peranan pikiran kritis dan penalaran yang rasional bagi pengungkapan kelakuan alam semesta sangat ditekankan sebagaimana terdapat dalam Surat An Nahl (16) ayat 11 dan 12 berikut:

يُنْبِتُ لَكُمْ بِهِ الزَّرْعَ وَالزَّيْتُونَ وَالنَّخِيلَ وَاْلأَعْنَابَ وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ(11) وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومُ مُسَخَّرَاتٌ بِأَمْرِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُوْنَ (النحل: 11-12)

“Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam- tanaman; zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesengguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang memikirkan.Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan untukmu dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang memahaminya “.

Melalui proses pemikiran yang kritis, berbagai besaran/ukuran gejala alam yang terkumpul dievaluasi hasilnya untuk mencapai kesimpulan yang rasional.

Dari himpunan rasionalitas kolektif ini akhirnya dijabarkan penggunaannya sebagai teknologi bagi pemanfaatan alam dan pengelolaannya secara baik. Sehingga lingkungan hidup yang lestari dapat menjadi sumber penghidupan dan tempat berlindung bagi manusia yang mengelolanya secara berkelanjutan.

Sains yang dikuasai manusia dijadikannya sumber teknologi bagi kesejahteraannya dalam memanfaatkan lingkungan yang dikelolanya dengan baik sehingga pantaslah manusia disebut “khalifah di muka bumi”.

Keberhasilan penerapan teknologi/sains bergantung pada kemampuan manusia dalam memilih kondisi-kondisi yang mendorong alam untuk bertindak seperti yang diinginkan.

Di sisi lain, tingkah laku alam semesta ini dikendalikan oleh sunatullah yang mengatur bagaimana alam harus berkelakuan pada kondisi tersebut. Oleh karenanya, keterlibatan akal manusia/pikirannya sangat diperlukan dalam penerapan sains tersebut, sebagaimana terdapat dalam Surat Al Jaatsiyah (45) ayat 13 berikut:

وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُوْنَ

“Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari pada-Nya Sesungguhnya pada yang demikian itu bena-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir”. (Al-Jatsiyah: 13)

Ayat tersebut menyatakan bahwa seluruh isi langit dan bumi akan ditundukkan Al Khaliq bagi umat manusia dengan keteknikan atau penerapan sains melalui prosedur yang sesuai dengan petunjuk-petunjuk Ilahi dalam Al Qur’an.

Ustadz Narjih

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *