Islam Hari Ini: Surplus Konflik, Minim Tradisi Intelektual - IBTimes.ID
Perspektif

Islam Hari Ini: Surplus Konflik, Minim Tradisi Intelektual

7 Mins read

Al-Farabi yang Terlupakan

Salah satu ilmuwan besar dalam tradisi intelektual Islam adalah Al-Farabi. Dia adalah satu di antara ilmuwan Islam yang tenggelam namanya, diabaikan pemikirannya, dan ditinggalkan kitab-kitabnya; sendirian tak tersentuh di perpustakaan. Dunia Islam memang mengalami kemandekan intelektual, hari ini, dan itu adalah hasil dari proses yang sudah berlangsung ratusan tahun lamanya.

Anda bisa periksa sendiri dari percakapan Anda dengan kaum Muslim dan Muslimat, baik di pelataran dunia nyata, maupun beranda dunia maya. Dari ungkapan lisan dan badan kaum Muslim hari ini, tentu sulit bagi kita untuk mengatakan bahwa mereka tercerahkan secara intelektual. Sayang seribu sayang, intelektualisme di dunia Islam kerap dikecam, dan diperbandingkan dengan kesetiaan pada akidah yang benar, dan mazhab yang lurus.

Mengapa saya menyebut Al-Farabi di muka? Anda pasti pernah membaca kitab Tahshil al-Sa’adah karyanya, di mana ia merumuskan secara begitu indah dan lengkap jalan bagi penciptaan sebuah peradaban madani.

Kebahagiaan dan harmonisme sosial menjadi tujuan hidup manusia; ilmu-ilmu empiris dan rasional sebagai alat mencapainya; dan agama sebagai jalan persatuan dengan realitas Tuhan. Tapi kita hari ini, justru menyerang epistemologi rasional, merobek harmonisme sosial, dan mengira Tuhan hanya milik segolongan saja.

Takdir Dunia Islam

Mari sejenak kita merenung dan meluaskan cakupan pandangan kita atas kondisi umat Islam sepanjang sejarah. Tentu ada resiko kita akan melakukan simplifikasi atas sejarah yang maha rumit tersebut. Akan tetapi, hendaknya kita sadar, manusia itu punya satu fakultas rasional dalam dirinya, yang dengannya ia bisa memetik pelajaran dari kehidupan generasi yang telah lalu. Anda bahkan jauh lebih paham dari saya, tentang ajaran Al-Qur’an supaya kita menengok nasib orang-orang terdahulu.

Yang mau saya bilang di sini adalah: selain kita percaya pada deretan doktrin yang tertera secara normatif dalam kanon-kanon akidah rumusan para ulama terdahulu; kita juga semestinya tidak melepaskan diri untuk melihat kondisi sosio-historis yang mengelilingi para ulama tersebut. Sehingga akhirnya, keluarlah rumusan doktrinal atas apa yang hari ini Anda sebut sebagai akidah.

Adalah takdir yang tidak bisa dielakkan bagi dunia Islam, dari Maroko sampai Merauke, bahwa persatuan dan integrasi umat merupakan hal yang sampai sekarang tak pernah terjadi. Artinya, tidak ada stabilitas politik dan sosial dalam memori kolektif kita. Padahal, stabilitas itu adalah prasyarat bagi perkembangan suatu peradaban yang maju dan harmonis.

Kita selalu memaksa orang (Muslim) lain supaya harus berakidah sebagaimana rumusan akidah kita sendiri, baru kemudian kita mau bersaudara, bersahabat, dan bersatu dengannya.

Jangan tanya dengan umat yang beragama lain. Yang sering luput dari perhatian kita yang menggebu-gebu pada akidah ini adalah ada kebencian terselubung yang kita awetkan dalam interaksi sosial kita. Kita membenci mereka yang bukan dari golongan akidah, mazhab, dan agama yang sama dengan kita.

Kecelakaan Terbesar dalam Sejarah

Silakan Anda baca buku-buku sejarah dunia Islam dari orang-orang otoritatif seperti kitab Al-Milal wa Al-Nihal karya Al-Syahrastani, dan Al-Bidayah wa Al-Nihayah karya Ibn Katsir. Jika Anda jeli, Anda akan temui sebuah istilah yang sebenarnya sangat tidak pantas untuk terjadi dalam episode sejarah kita, dan lebih tidak pantas lagi untuk dilanjutkan selama-lamanya.

Baca Juga  Kesan WS Rendra tentang Islam dan Muhammadiyah

Istilah yang saya maksud adalah Fitnah. Fitnah merujuk kepada peristiwa perang saudara yang menimpa kaum Muslim awal, dan akhirnya berekses pada terciptanya faksi dan friksi di tubuh umat Islam.

Beberapa sejarawan dan ilmuwan Islam mengidentifikasi peristiwa Fitnah sebagai malapetaka terbesar yang kita pernah alami. Di satu sisi, itu benar. Namun, di sisi lain, sebenarnya jauh lebih besar lagi malapetaka yang menimpa kita hari ini, yang masih saja mengawetkan fitnah-fitnah tersebut, dan berjihad untuk terus melanjutkannya.

Umat Islam belum bisa menunjukkan kepada dunia bagaimana contoh orang yang bisa belajar dari masa lalu, memperbaiki keadaan masa kini, dan bercita-cita menciptakan masa depan yang lebih baik.

Ada semacam kebingungan yang kita alami dalam mengisi hari-hari kita sebagai seorang Muslim. Diakui atau pun tidak, kita bingung dalam menetapkan langkah, karena kita sendiri masih terjebak rasa takut bahwa kita akan terjerumus dalam lubang penyimpangan akidah. Tak terasa akhirnya pikiran seperti itu mendarah daging, dan menjadi warisan utama kita kepada generasi selanjutnya.

***

Rasa takut dan bingung seperti ini hanya akan membuat Anda mencari-cari kelompok yang kiranya bisa melindungi Anda dari akidah yang sesat. Anda seperti terjebak di padang pasir, tak punya petunjuk apa-apa, namun mencurigai setiap orang yang datang menghampiri Anda.

Mengapa curiga? Sebab, yang Anda inginkan adalah keselamatan yang jelas-jelas datang dari juru selamat yang Anda inginkan. Tuhan pun Anda persempit artinya; hanya terbatas bagi golongan Anda saja.

Ini semua kemudian menjelaskan, mengapa jauh – saya tekankan lagi, jauh – lebih banyak segmen umat Islam yang memilih ikut pengajian-pengajian praktis dan instan, yang bisa memberi mereka jawaban lugas dan cepat tentang siapa yang saleh dan siapa yang salah. Tak banyak yang memilih jalan berliku dan curam dalam proses ilmiah dan akademis untuk memahami Islam.

Saya tak ragu dengan konstruksi ilmiah para pemikir Muslim modern seperti Fazlur Rahman, Syed Hossein Nasr, dan Nurcholish Madjid dalam menuntaskan masalah peradaban di Dunia Islam. Yang saya ragukan adalah semangat umat Islam dalam mengikuti jejak mereka dalam berilmu dan berprestasi.

Orientasi Masa Lalu, bukan Masa Depan

Anda tak perlu diajari lagi menyetir mobil. Anda paham bahwa spion berguna untuk menengok sedikit ke belakang, untuk berjaga-jaga jangan sampai kita mencelakakan diri sendiri dan orang lain. Tapi, tentu saja, Anda menekan gas dan mengangkat kopling bukan supaya jalannya mundur (kecuali Anda sedang berusaha parkir), melainkan supaya mobil itu, dan Anda sendiri di dalamnya, bergerak maju, dan sampai ke tujuan.

Satu lagi masalah umat Islam hari ini adalah tidak meletakkan masa depan sebagai orientasi pemikiran, pemahaman, dan gerakannya. Saya tak hendak berdebat secara retoris dengan siapa pun. Anda suka atau tidak dengan tesis saya, itu bukan masalah. Yang pasti saya berusaha ajukan bukti, argumen, dan burhan bagi setiap pernyataan saya ini. Masa lalu adalah orientasi umat Islam sepanjang sejarah.

Baca Juga  How To Make More Travel By Doing Less

Umat Islam itu terdiri dari individu-individu. Dan sejatinya yang merasakan Islam itu, ya individu-individu tersebut. Sayangnya, krisis intelektualisme di dunia Islam adalah bukti nyata bagaimana individu-individu Muslim tidak lagi peduli dan tertarik pada peningkatan kualitasnya. Kualitas ini ukurannya adalah pemahaman. Dan pemahaman itu semakin luas dan holistik semakin baik; semakin sempit dan dikotomis semakin buruk. Hal ini harus ditegaskan.

Nah, akibat framework pemikiran yang sempit dan dikotomis tersebut, maka kita justru menjadikan masa lalu sebagai orientasi dalam kejayaan umat Islam. Bisa jadi framework pemikiran itu adalah sebab, namun bisa juga ia adalah akibatnya.

Artinya, akibat dari cara pandang keliru terhadap apa itu Islam, apa itu kejayaan Islam, dan apa itu arti hidup sebagai Muslim. Selama ini selalu disebarluaskan pemahaman bahwa sebaik-baik Muslim adalah generasi terdahulu saja. Artinya, kalau mau menjadi Muslim maka tirulah mereka.

***

Sayang seribu sayang, peniruan yang terjadi bukan secara kritis, metodologis, dan punya landasan epistemologis. Dianggapnya, apa yang ada di kehidupan generasi terdahulu tersebut, dan juga apa yang disusun oleh pemikiran ulama kita dahulu, itu semua adalah kebenaran final, tak perlu diperdebatkan, yang perlu adalah dilaksanakan, dan diikuti tanpa pertanyaan.

Ada yang mengatakan dalam Islam tak ada institusi gereja, yang memegang hak penafsiran atas agamanya, dan di luar itu dianggap penyimpangan. Katanya Islam tak mengenal institusi teokratik seperti itu.

Memang betul tak ada gereja dalam Islam. Akan tetapi, kita sendiri sudah membentuk dalam benak kita bahwa otoritas dalam Islam secara keseluruhan, bukan hanya secara doktrinal, adalah para generasi terdahulu itu. Akhirnya, tak ada lagi daya kreatif dalam diri kita, untuk bisa menghadapi kenyataan dan realitas hari ini, dan menciptakan jalan keluar bagi solusi permasalahan yang kita hadapi.

Yang ada adalah glorifikasi; puja dan puji verbal mengenai betapa luhurnya generasi Salaf, betapa majunya peradaban Islam masa lalu, dan betapa salehnya mereka semua. Tapi, tak pernah ada upaya serius dan sungguh-sungguh meniru semangat ilmiah mereka, meniru epistemologi mereka, dan mempelajari metodologi Islam mereka.

Kita cukup bangga dengan pakaian gamis, jilbab panjang, celana cingkrang, jenggot panjang, dan segenap aksesoris lainnya. Narasi-narasi anti-riba, anti-Barat, dan lain-lain itu semua juga sebatas ungkapan verbal.

Tak ada upaya dan kemampuan untuk menandingi itu semua. Jangankan menandingi, seimbang saja tidak. Jangankan seimbang, metodologi studi Islam saja tidak dipahami dan diletakkan di pusat pemahaman Islam dan peradabannya.

Menghidupkan Kembali Intelektualisme

Anda bisa jadi akan menolak tesis saya di atas. Tentu, sah dan boleh-boleh saja. Tapi, semoga tidak disalahpahami bahwa saya hendak menganulir semua capaian generasi terdahulu, dan mengklaim bahwa kita tak butuh semua itu. Sama sekali bukan itu poin dari apa yang saya sampaikan. Justru kita perlu belajar dari Al-Farabi, Ibn Sina, Al-Ghazali, dan juga Ibn Taimiyah. Mereka semua ulama dan ilmuwan terdahulu. Mereka punya ilmu dan epistemologi dalam bangunan ilmiahnya. Tapi sekali lagi, mereka harus dipelajari, bukan diglorifikasi.

Baca Juga  Muhammadiyah dan Indonesia Berkemajuan

Kembali ke malapetaka terbesar yang kita alami, yaitu tidak maunya kita mengambil pelajaran dari konflik dan disintegrasi umat secara politik maupun ideologis di zaman dahulu. Malapetaka ini harus disudahi, dan Islam harus kita lihat secara adil, dan kita mesti berani mengatakan bahwa apa yang salah di masa lalu adalah salah, dan tidak mesti diteruskan lagi. Contoh sederhana adalah konflik Sunni-Syi’ah. Contoh lain juga adalah perdebatan fiqhiyyah. Contoh lain lagi adalah persoalan Islam sebagai bentuk negara.

Yang menjadi catatan kritis saya adalah romantisisme berlebihan yang kita idap, yang mengira bahwa Islam itu sudah final sejak masa lampau. Tentu saja final sebagai ajaran spiritualitas, ya. Tapi, Islam tak akan pernah mencapai kata final sebagai energi peradaban, dan inspirasi perilaku setiap Muslim di dunia.

Saya mau kasih contoh lagi, tentang bagaimana Islam itu bergantung pada cara kita, selaku Muslim, memperlakukan dan memposisikannya. Tidakkah Anda berpikir bahwa tindakan ekstremisme dalam Islam, yang mengedepankan kekerasan dan provokasi perpecahan itu justru akan menyeret Islam dan memaksanya memakai pakaian tertentu. Maksud saya, tindakan dan pemikiran ekstremisme telah membuat Islam itu sendiri menjadi agama bagi ekstremisme.

***

Sekarang kita balik keadaannya. Seandainya Anda, saya, dan kita semua yang mengaku Muslim ini, berpikir dan berperilaku secara santun, sabar, bermoral, tak melakukan provokasi, mementingkan pendidikan daripada demo-demo di jalanan, mendahulukan literasi dan budaya membaca, menghidupkan perpustakaan, meramaikan ruang-ruang diskusi deliberatif, mengirim anak-anak ke sekolah-sekolah hingga sekolah tinggi, bersedekah untuk kemajuan institusi pendidikan; kira-kira akan seperti apa wajah Islam hari ini?

Dan lagi, bagaimana kira-kira seandainya kita berbesar hati, menyudahi konflik ideologis antara Sunni dan Syi’ah, menyudahi kecurigaan ideologis terhadap kelompok lain, menghargai pluralitas pemikiran Islam dan manusia, memperjuangkan toleransi, menetralisir agama dari unsur-unsur kekerasan, menjadikan agama sebagai energi dalam menuntut ilmu pengetahuan, melihat sejarah Islam sebagai pelajaran untuk dikritisi dan diambil, mengisi ruang-ruang ibadah dengan spiritualitas, keheningan, dan ketenangan; alih-alih dengan gema takbir yang tak lain adalah upaya memanas-manasi massa?

Akhirulkalam, semoga tidak terjadi salah paham antara kita selaku sesama Muslim dan sesama umat manusia. Saya rasa umat Islam harus menjadi yang terdepan mempromosikan persaudaraan sesama Bani Adam, dan tak lagi terjebak narasi egosentrisme sektarian.

Maksud saya, dengan apa yang saya bicarakan ini, artinya masih ada sedikit harapan untuk kembali menghidupkan intelektualisme di tubuh umat Islam. Namun, itu semua tergantung pada kita selaku individu; jalan mana kira-kira yang akan kita pilih?

Editor: Yahya FR

Ibnu Rusyd
25 posts

About author
Mahasiswa Pascasarjana Studi Islam Universitas Paramadina
Articles
Related posts
Perspektif

Kesamaan Gagasan Merebut Tafsir Lies Marcoes dengan Putusan Tarjih Muhammadiyah

5 Mins read
Lies Marcoes Merebut Tafsir Lies Marcoes – Lies Marcoes adalah salah satu nama yang wajib diketahui bagi peneliti atau minimal orang yang…
Perspektif

Idulfitri Tak Harus Mudik

3 Mins read
Idulfitri Tak Harus Mudik Apakah saat Idulfitri kita harus mudik, beli baju baru, dan makan enak? Tentu saja saat Idulfitri kita tak…
Perspektif

Baju Baru di Hari Raya, Seremonial atau Cermin Spiritual?

3 Mins read
Baju Baru Hari Raya – Syawal 1442 Hijriyah telah datang, masih dengan suasana pandemi dan terbatas untuk silaturahmi. Kita sering mengalami, segala…

Tinggalkan Balasan