Jokowi Di Ambang Kekalahan

 Jokowi Di Ambang Kekalahan

Oleh: Wahyudi Akmaliah*

Pemilihan Presiden dan Legislatif memang masih menyisakan waktu kurang lebih sebulan. Dalam waktu sempit itu, apapun bisa terjadi. Kondisi yang serba memungkinkan inilah yang membikin degup jantung para kontestan yang bersaing naik-turun silih berganti. Khusus untuk Pilpres, hasil survei Litbang Kompas yang dikeluarkan pada 20 Maret 2019 sangat mengagetkan.

Dengan mengambil sampel pada 2 Februari 2019 – 5 Maret 2019, Litbang Kompas melakukan wawancara tatap muka dengan melibatkan 2.000 responden yang dipilih secara acak melalui pencuplikan sistematis bertingkat di 34 provinsi di Indonesia, dengan tingkat kepercayaan 95 persen, dan margin of error +/- 2,2 persen.  Hasilnya, jarak elektabilitas antara pasangan calon presiden dan calon wakil presiden, Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, semakin tipis.

Di sini, elektabilitas Jokowi-Ma’ruf berada di angka 49,2 persen, sementara Prabowo-Sandiaga 37,4 persen. Sementara itu, ada 13,4 persen responden yang menyatakan kerahasiannya dalam menunjukkan pilihannya (undecided voter).  Data ini menunjukkan bahwa selama enam bulan, elektabilitas Jokowi-Amin turun 3,4 persen dan Prabowo-Sandi naik 4,7 persen. Padahal, pada bulan Oktober 2018, jarak di antara keduanya adalah 20%. Meskipun elektabilitas Jokowi-Ma’ruf tampak turun sedikit, tetapi memberikan pengaruh kepada jarak keterpilihan. Pertanyaannya, mengapa terjadinya penurunan pada suara Jokowi-Ma’ruf dan begitu juga sebaliknya?

Sementara itu, sebagaimana kita tahu, Jokowi ini didukung oleh koalisi partai yang gemuk sekaligus juga para oligarki yang memiliki kepemilikan media (seperti MNC beserta jaringannya dan Metro TV beserta jaringannya). Di sisi lain, posisi sebagai petahana seharusnya menguntungkan Jokowi-Ma’ruf.

Setidaknya Ada tiga hal yang mempengaruhi penurunan tersebut, yang membuat suara Prabowo-Sandi perlahan-lahan semakin terus menggerus dan naik.

Blunder Politik

Selama memimpin hampir 5 tahun sampai saat ini, Jokowi sedikit sekali melakukan blunder politik. Sebaliknya, tim koalisi dan orang-orang di sekitarnya justru yang melakukan hal tersebut. Di antara blunder tersebut adalah penyerangan kepada mereka yang golput. Suara golput sebenarnya tidak signifikan, tetapi banyak dari mereka adalah orang yang memiliki pengaruh luas, baik di media sosial maupun di jaringan komunitasnya.

Serangan yang dilakukan oleh tim pemenangan Jokowi-Ma’ruf kepada kelompok ini justru semakin membangun ketidakpercayaan mereka kepada kualitas politik elektoral. Memunculkan isu dwifungsi TNI sebagaimana digagas oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Letjen (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan merupakan blunder lain di tengah stigma masyarakat Indonesia, khususnya kelas menengah Indonesia, kepada militer.

Penangkapan Robertus Robert karena orasinya yang menentang rencana tersebut yang kemudian videonya viral, membuatnya diinterogasi dan sempat ditahan, makin memperkuat bahwasanya di belakang Jokowi sebenarnya sama saja dengan Prabowo dalam persoalan HAM dan kebebasan sipil. Blunder ini belum termasuk dengan tertangkap tangannya Ketua Umum PPP, Romihurmuzy oleh KPK, yang jaraknya tidak masuk dalam rentang waktu survei Litbang Kompas. Kondisi makin menggerus elektabilitas Jokowi-Ma’ruf.

Sementara itu, kesalahan apapun yang dibuatnya oleh Prabowo dan tim pemenangannya tidak mengubah apapun dukungan suara kepada mereka. Hal ini terlihat dengan tertangkapnya Andi Arief karena persoalan narkoba, meskipun kemudian ia dibebaskan. Dengan kata lain, suara pendukung Prabowo saling solid dan tidak mudah untuk digoyahkan. Dalam kondisi ini, mereka justru menunggu sejumlah kesalahan yang dilakukan oleh tim pemenangan Jokowi untuk mengurangi marjin yang belum bersuara sekaligus menggerus suara basis dukungan Jokowi.

Ke-NU-an Ma’ruf Amin dan Kesendirian Jokowi

Faktor perbedaan antara Ma’ruf Amin dan Sandiaga Uno. Dengan usia yang lebih muda, energik, dan tampil khas anak kota, Sandi bisa masuk ke kampung-kampung di wilayah Indonesia. Sikap dan gaya anak kotanya memang memang bisa jadi amunisi untuk menurunkan kredibilitasnya. Meskipun demikian, bagi para pendukungnya, justru Sandi representasi anak muda Milenial. Sebaliknya, performa Ma’ruf Amin sangat sulit untuk ditingkatkan menggaet kelompok muda tersebut, meskipun kehadiran beliau bisa menahan laju isu SARA yang selama ini dimainkan oleh kubu Prabowo.

Di sisi lain, kuatnya membangun narasi Ma’ruf Amin bagian dari NU sekaligus kampanye beliau yang selalu memilih basis pesantren dengan dominan NU, membuat figur dirinya tidak bisa memperluas suara elektoral dalam lingkungan Islam lainnya. Padahal, dalam kasus 212 dan 414, Ma’ruf Amin sebenarnya figur penting yang turut bekerjasama dengan kelompok Muslim selain NU dan diterima oleh kelompok Muslim moderat dalam hal ini. Kondisi ini membuat Jokowi tampak sendirian untuk mengangkat elektabilitasnya, khususunya kepada kelompok Milenial.

Hilangnya Spirit Voluntarisme

Berbeda dengan Pilpres 2014, di mana spirit voluntarisme mendukung Jokowi sangat kuat, dalam Pilpres 2019 ini justru semakin berkurang. Pada tahun 2014, semua masyarakat sipil seakan memiliki kewajiban untuk mendukung Jokowi. Tidak hanya mewakili masyarakat kebanyakan, semangat mendukung Jokowi dahulu adalah agar yang “terburuk tidak berkuasa”. Kondisi ini memungkinkan tumbuhnya semangat relawan sekaligus sebagai bagian dari kontribusi penting dalam politik elektoral.

Namun, ketika Jokowi memenangkan Pilpres 2014, terjadi proses kanalisasi bagi pimpinan pucuk para relawan tersebut, baik itu di komisaris maupun jajaran yang terkait dengan struktur pemerintahan di era kepimpinannya. Kanalisasi ini yang memandulkan sikap voluntarisme seperti tahun 2014. Sebaliknya, spirit voluntarisme justru muncul di pendukung Prabowo. Tidak hanya militan, para pendukung Prabowo ini bertarung untuk benar-benar memenangkan Prabowo sehingga rela mengeluarkan kocek pribadinya untuk membikin simbol dan pamflet kampanye pemenangan di pelbagai daerah.

Dengan demikian, dari penjelasan di atas, hasil survei ini memang tidak bisa mencerminkan akhir dari pilpres 17 April 2019, apapun bisa berubah. Namun, kita harus berkaca dalam Pilkada Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jakarta, di mana mesin pemenangan offline pendukung Prabowo bergerak dengan sangat keras yang justru membalikkan keadaan dari sejumlah survei sebelumnya. Kondisi ini merupakan alarm keras bagi tim pemenangan Jokowi-Ma’ruf apabila ingin meneruskan estafet kepemimpinan Jokowi selama 5 tahun kembali.

*Peneliti di Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI

Wahyudi Akmaliah

Peneliti Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan (P2KK) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *