Oleh : Mohamad Ali*

 

Bersamaan saat berbuka puasa hari ke-24 Ramadhan, Rabu 29 Mei 2019, ada tiga pesan singkat melalui WA (WhattsApp) yang mengabarkan hasil ujian dari tiga sekolah berbeda. Kabar pertama datang dari Muhdiyatmko, kepala sekolah SMP Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kotabarat, menginformasikan nilai rata-rata UNBK 363,70. Meski data resmi belum muncul, tapi hampir dipastikan, menjadi sekolah yang mencapai nilai rata rata tertinggi untuk jenjang SMP sederajat baik negeri maupun swasta di kota Solo. Ini artinya sudah tiga tahun beruntun berada di posisi teratas.

Kabar gembira juga datang dari Nur Salam, kepala sekolah SD Muhammadiyah PK Kottabarat, menginformasikan nilai rata-rata USBN mencapai 257,05. Rilis resmi dari Dikpora telah muncul dan menempatkan SD Muhammadiyah PK Kottabarat meraih nilai rata-rata tertinggi di kota Solo untuk jenjang SD maupun MI. Capaian ini, seingat saya, sudah sepuluh kali berturut-turut berada di peringkat teratas.

Berita gembira ketiga datang dari Muhammad Azis Fuadi, kepala sekolah SD Muhammadiyah Plus Malangjiwan, Colomadu, yang menyampaikan nilai rata-rata USBN mencapai 247,77. Ini kali pertama bagi SD Muhammadiyah Plus Malangjiwan meraih peringkat pertama nilai rata-rata sekolah SD/MI se-kabupaten Karanganyar. Sekolah ini sebenarnya tidak begitu dikenal, apalagi bila dibandingkan dengan MI Muhammadiyah Karanganyar; sekolah yang memiliki siswa lebih dari seribu murid dengan segudang prestasi.

Bagi pembaca kritis tentu muncul pertanyaan, ada hubungan apa dengan ketiga sekolah itu sehingga kepala sekolah berbagai informasi yang sedemikian penting itu kepada penulis esai ini?

Jawabnya singkat, petualangan hidup saya sempat singgah menjadi kepala sekolah di tiga lembaga itu; SD Muhammadiyah PK Kottabarat (2003-2013); SD Muhammadiyah Plus Malangjiwan (2007-2010), dan SMP Muhammadiyah PK (2010-2013). Sebetulnya sempat berpetualang merintis dan menjadi kepala sekolah SD Muhammadiyah PK Boyolali (2004-2007), namun belakangan ini komunikasi tidak intensif sehingga berbagai perkembangan baru tidak bisa kami ikuti, termasuk hasil USBN.

Pembaca mungkin bertanya-tanya, apa sih yang menjadi rahasia kesuksesan ketiga sekolah itu meraih prestasi? Apakah karena memiliki modal uang besar? Atau, memiliki gedung yang megah dengan fasilitas yang mewah? Pertanyaan demikian selalu muncul dalam sesi-sesi workshop tentang pengembangan sekolah yang kami selenggarakan. Hampir semua pengelola sekolah yang akan melakukan perubahan selalu terganjal oleh tidak adanya uang ataupun minimnya fasilitas sekolah, dan ujungnya menjadi alasan untuk ketidakmampuan memajukan sekolah. Biasanya, inilah yang menjadi alasan kepala sekolah untuk berada di “zona nyaman”, alias tidak mau berubah.

Ketika memulai perubahan di SD Muhammadiyah (Plus-brand tambahan untuk menandai adanya semangat baru) Malangjiwan pada 2007 bermodalkan satu juta rupiah (1.000.000,-) yang berasal dari ibu Sri Sunarsi (ketua ranting Aisiyah Malanjiwan) lima ratus ribu (500.000,-) dan dari hamba Allah lima ratus ribu (500.000,-) yang digunakan untuk mengecat gedung sekolah dan membuat brosur.

Keadaan yang sama juga dialami saat mendirikan SMP Muhammadiyah PK Kottabarat. Selama lima tahun pertama, proses pembelajaran masih menumpang di SD Muhammadiyah PK. Baru menginjak tahun keenam secara bertahap mulai ke kampus yang ditempati saat ini. Ketika awal pindah keadaan gedung belum murwat, bahkan sampai hari ini proses pembangunan masih terus berlangsung.

Kalua bukan uang dan gedung, terus modal utama pengembangan sekolah itu apa? Jawabannya ringkas, mempunyai mimpi tentang kemajuan. Mimpi-mimpi itu kemudian dibicarakan dan didiskusikan bersama, sehingga benar-benar menjadi mimpi kolektif. Dalam konteks pengembangan perguruan Muhammadiyah Kottabarat, “terpaksa” harus menyebut suatu tim yang dikomandani Marpuji Ali, ketua takmir masjid Kottabarat sekaligus ketua komite perguruan. Mengapa saya katakan “terpaksa”, karena pasti beliau tidak berkenan bila disebut namanya. Beliau yang merajut dan memintal ide-ide yang beragam, bahkan seringkali saling bertentangan, menjadi terarah pada satu titik yang dituju, yakni sekolah berprestasi dan melayani peserta didik secara optimal.

Inilah modal pertama membangun sekolah berprestasi. Mimpi-mimpi besar yang dipintal menjadi energi yang menggerakkan warga sekolah untuk bekerja keras dalam suatu jamaah yang solid dan tangguh. Dalam perkembanganya, ketika sekolah mulai berprestasi dan kepercayaan publik mulai tumbuh, maka dengan sendirinya masalah keuangan mulai sehat dan perjalanan sekolah mulai seimbang. Fasilitas sekolah secara betahap dapat dilengkapi dan gaji guru-karyawan mulai agak memadai. Tetapi, sekali lagi, prosesnya lambat dan benar-benar butuh kesabaran dengan prencanaan yang matang dan visi besar tentang sekolah yang berpretasi.

Demikianlah sepenggal “pengalaman sukses” merintis dan mengembangkan sekolah, semoga bisa menjadi pelajaran dan inspirasi bagi kepala sekolah maupun Majelis Dikdasmen yang saat ini memegang tanggung jawab besar dari persyarikatan untuk memajukan sekolah Muhammadiyah. Permasalahan terbesar dalam pengembanan sekolah Muhammadiyah sebenarnya bukan terletak pada ketiadaan uang maupun fasilitas, tetapi ketika pengelola (kepala sekolah-guru-karyawan) dan penyelenggara sekolah (baca: majlis Dikadasmen) tidak lagi mempunyai mimpi-mimpi tentang sekolah berkemajuan nan berprestasi.

Pesan saya sederhana, kalau tidak bisa menggerakkan kemajuan sekolah, setidaknya jangan sampai menjadi bagian dari orang-orang yang berada di sekolah yang tengah mengalami keterpurukan, sementara tidak melakukan langkah-langkah terobosan yang berani. Teruslah nyalakan mimpi-mimpi besar dan berbagi mimpi untuk meraih prestasi sekolah demi kehidupan manusia yang lebih baik!

 

*) Kaprodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta. Pengasuh Perguruan Muhammadiyah Kottabarat

Tinggalkan balasan

mohon berikan komentar anda
mohon untuk menuliskan nama anda