Kedokteran Modern dan Thibbun Nabawi, Mana yang Baik?

 Kedokteran Modern dan Thibbun Nabawi, Mana yang Baik?

Ilustrasi. Sumber: Al Furqon Gresik

Dalam sebuah hadis dari Anas bin Malik yang diriwayatkan Imam Muslim, diceritakan bahwa suatu ketika Nabi Muhammad SAW melewati para sahabat yang sedang mengawinkan pohon kurma. Rasulullah SAW bertanya, “Sedang apa kalian?.” Para sahabat menjawab, “Kami sedang mengawinkan kurma agar kualitasnya semakin baik, wahai Rasulullah.” Kemudian Rasulullah SAW berkata, “Kalaupun kalian tidak mengawinkan kurma ini, maka kualitasnya akan tetap baik.”

Mendengar hal tersebut, para sahabat berhenti mengawinkan kurma karena diperintahkan oleh Rasulullah SAW. Beberapa waktu kemudian ternyata justru kualitas kurma yang dipanen malah buruk. Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat, “Kenapa kurmanya jadi begini?” Para sahabat menjawab, “Wahai Rasulullah, engkau dahulu mengatakan kurmanya tidak perlu dikawinkan.” Mendengar jawaban tersebut, Rasulullah SAW bersabda, “Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian.”

Ilmu Kedokteran Terus Berkembang

Hadis di atas menunjukan bahwa dalam perkara-perkara dunia, Rasulullah SAW menyatakan bahwa umatnya lebih paham dibanding dirinya. Selain soal pertanian, ada banyak perkara dunia lainnya, salah satunya adalah ilmu pengobatan.

Ilmu pengobatan sama tuanya dengan peradaban manusia. Sejak dahulu manusia rentan terserang penyakit, manusia kemudian berpikir bagaimana cara mengobati penyakit tersebut.

Berkembanglah berbagai cara pengobatan yang ditemukan oleh manusia. Misalnya menggunakan tanaman-tanaman yang ada di alam. Muncul ramuan-ramuan yang diracik dari bahan-bahan alami sebagai obat.

Muncul juga pengobatan seperti bekam dengan tanduk hewan guna mengeluarkan darah kotor. Di daratan Tiongkok muncul pengobatan akupunktur dengan menggunakan tusuk jarum sebagai media penyembuhan.

Ilmu kedokteran semakin berkembang dalam peradaban Islam, tokoh yang paling terkenal soal ini adalah Ibnu Sina. Ibnu Sina yang juga seorang filsuf, mengembangkan ilmu kedokteran yang menjadi cikal bakal kedokteran modern. Karyanya yakni Asy Syifaa dan Qanun fi Thibb sempat menjadi rujukan universitas yang ada di barat. Ilmu kedokteran modern hari ini jelas berutang budi pada Ibnu Sina.

Kritik terhadap Kedokteran Modern

Saat kedokteran modern sudah berkembang sedemikian rupa, muncul kritik dan ketidakpuasan. Ilmu kedokteran yang dikembangkan berdasarkan metode saintifik, berhasil mengembangkan zat-zat kimia sintetik menjadi obat-obatan untuk menyembuhkan penyakit.

Namun disinyalir zat-zat ini mempunyai efek samping yang tidak bagus untuk tubuh. Muncul gerakan untuk kembali pada metode pengobatan tradisional yang dianggap lebih alami dan aman bagi tubuh.

Tak heran di zaman modern ini, pengobatan dengan ramuan tradisional oleh shin-she dan akupunktur tak pernah kekurangan pelanggan. Muncul juga keinginan untuk menggali kembali khazanah pengobatan Rasulullah SAW. Rasulullah SAW terbukti mempunyai badan yang bugar, hampr tak pernah sakit. Bekam, madu dan habbatus sauda kemudian menjadi populer, begitupun dengan obat-obatan herbal lainnya.

Menyikapi Ilmu Kedokteran dan Thibbun Nabawi

Penulis menemukan masih ada yang memilih thibbun nabawi seraya anti dengan ilmu kedokteran modern lantas membumbuinya dengan berbagai teori konspirasi. Sebaliknya penulis juga menemukan ada yang sinis terhadap pengobatan tradisional dan thibbun nabawi. Menurut penulis kedua kelompok ini sama-sama salah.

Kenapa harus mempertentangkan ilmu kedokteran modern dengan pengobatan tradisional dan thibbun nabawi? Tidak bisakah justru berbagai macam metode ini saling melengkapi satu sama lain?

Penulis masih percaya kepada ilmu kedokteran modern. Jika sakit penulis akan ke klinik untuk didiagnosa lalu diberi obat kimia sintetik. Walaupun begitu, penulis juga sebulan sekali rutin melakukan bekam.

Proporsional untuk Kemaslahatan

Bagi penulis sikap yang benar adalah proporsional dan mengutamakan kemaslahatan. Jika yang sempurna hanyalah Allah SWT, maka selain Allah pasti ada kekurangan dan kelebihannya. Begitupun dengan metode pengobatan, hakikatnya tidak ada yang sempurna, masing-masing punya kekurangan dan kelebihan. Sikap proporsional adalah menyadari kekurangan dan kelebihan tersebut.

Dalam melakukan pengobatan, prinsipnya pilih yang paling maslahat bagi tubuh. Jika menggunakan herbal lebih maslahat dibanding ke rumah sakit, gunakanlah. Namun jika penyakit yang diderita mesti dilakukan pembedahan untuk mengobatinya, tentu tidak mungkin diselesaikan dengan obat herbal. Yang bisa menimbang mana yang paling maslahat adalah yang sedang melakukan pengobatan.

Penulis tidak setuju dengan pendapat yang dipaksakan terkait thibbun nabawi, misalnya tahnik adalah imunisasi Islami. Jelas pendapat ini salah kaprah. Begitupun ada yang berpendapat bahwa posisi melahirkan yang baik adalah duduk bukan berbaring, karena terinspirasi dari kelahiran Maryam dalam Alquran. Bagi penulis pemahaman-pemahaman seperti ini tidak proporsional.

Dokter dan Perawat Muhammadiyah

Muhammadiyah sejak didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan melakukan 3 aktifitas utama, yakni schooling, healing dan feeding. Dalam aktifitas healing, Muhammadiyah telah mendirikan 2.119 lembaga kesehatan baik klinik, rumah sakit, maupun rumah bersalin di seluruh Indonesia.

Muhammadiyah tidak menolak ilmu kedokteran modern. Muhammadiyah membingkainya dengan nilai-nilai ke-Islaman. Misalnya di rumah sakit Muhammadiyah, ada layanan bimbingan rohani yang tak bisa kita dapatkan di rumah sakit umum.

Penulis berpengalaman menjadi penguji Al-Islam dan Kemuhammadiyahan di STIKes ‘Aisyiyah Bandung. Salah satu syarat kelulusan mahasiswa dan mahasiswinya adalah hafal ayat-ayat dan doa-doa terkait kedokteran. Hal ini menunjukan bahwa Muhammadiyah mengadopsi ilmu kedokteran modern dalam upaya pengobatan. Yang “diislamkan” bukanlah ilmu kedokterannya, namun para dokter dan perawatnya.

Robby Karman

Sekretaris Jenderal DPP IMM

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *