Kegaduhan Generasi X dalam Wabah Corona

 Kegaduhan Generasi X dalam Wabah Corona
Ilustrasi: ABC15 Arizona            

Sampai saat ini, kekhawatiran saya terus terbukti. Generasi X, terutama di Indonesia, adalah generasi yang paling rentan dengan paparan virus corona. Bukan tentang penularan dan risiko kematian, melainkan tentang sikap menghadapi pandemi. Apalagi di era post-truth seperti saat ini.

Generasi X

Sebelum melangkah lebih jauh, kita perlu sedikit mengenal beberapa generasi yang ada saat ini. Generasi alpha (α) adalah generasi yang lahir setelah tahun 2010, generasi ini sejak lahir telah akrab dengan dunia digital karena gawai dan kecerdasan buatan sangat marak. Sebelumnya, ada generasi Z, generasi ini lahir di era internet sekitar tahun 1995-2009. Saya dan teman-teman seusia masuk generasi Z.

Sebelum generasi X ada generasi Y, yang lahir sekitar tahun 1980-1994 beriringan dengan masa-masa kemunculan komputer dan meningkatnya urbanisasi. Generasi ini disebut dengan generasi milenial. Kadang generasi milenial dipahami sebagai generasi Y dan Z. Sebelum generasi Y adalah generasi yang akan kita bahas, generasi X.

Generasi X lahir sekitar tahun 1965-1984, sebelum teknologi bernama komputer dikenal secara luas, juga era di mana tingkat urbanisasi dan pengaruh kehidupan khas kaum urban masih terbilang rendah. Berdasarkan tahun lahirnya, maka generasi X adalah penduduk yang sekarang berusia sekitar 40-55 tahun.

Beberapa kali saya mendengar ujaran juga membaca pesan berantai di WA, yang menyatakan bahwa generasi X adalah generasi yang beruntung. Hal ini karena generasi X merasakan segala perkembangan zaman, dari masih terbelakang, bertemu sepeda motor, lalu komputer, lalu internet. Lanjut sampai gawai layar sentuh dan medsos yang dulu sama sekali nggak terbayang tapi lazim dijumpai saat ini.

Padahal, era digital membawa anak kandung berupa informasi post-truth yang tersebar di mana-mana. Ditambah lagi generasi X aktif di facebook yang lebih tertutup dengan segmentasi informasi itu-itu saja. Nggak seperti Twitter ataupun Instagram yang lebih terbuka dan dinamis persebaran informasinya.

Hoax dan Kegaduhan

Ujaran keberuntungan generasi X tersebut memang ada benarnya. Tapi di masa-masa Covid-19 ini pengalaman generasi X justru yang membuat kegaduhan. Bahkan bisa dibilang memusingkan kami yang merupakan generasi setelahnya.

Dilansir Tirto (14 Januari 2019), jauh sebelum Covid-19 menjadi isu panas, generasi X telah menjadi penyebar sekaligus korban hoax yang paling aktif. Hal ini terjadi karena telat mengenal internet dan medsos, kemampuan literasi digital kurang memadai, sampai kemampuan kognitif yang telah menurun.

Generasi X sangat gemar menyebarkan informasi secepat kilat begitu didapatkan. Namun biasanya proses verifikasi terlewatkan, begitupun generasi X belum tentu bisa menerima jika informasi susulan yang ternyata bertentangan dengan informasi yang sudah dibagikan. Bahkan cenderung bingung dengan serbuan informasi yang berbeda, berjumlah banyak, dan terjadi dalam waktu singkat.

Beda dengan generasi milenial yang lebih siap menerima kenyataan semacam ini. Selain soal verifikasi, generasi milenial juga terbiasa dengan tren di medsos, khususnya Twitter, yang sangat dinamis. Tren hari ini dengan besok sangat berbeda. Bahkan dalam satu hari bisa terjadi beberapa kali perubahan tren. Di hari-hari biasa, perbedaan karakter generasi X dan milenial ini secara umum nggak terlalu bermasalah.

Generasi X dan Virus Corona

Tapi, di masa-masa pandemi, hoax yang tersebar berbuntut panjang. Masyarakat mudah panik jika ada hoax yang provokatif tersebar. Sebut saja informasi berupa penduduk ODP. Informasi yang ditangkap tanpa pengetahuan cukup membuat masyarakat panik dan memberikan stigma yang sangat menjatuhkan mental. Padahal ODP sangat berbeda dengan positif Covid-19.

Informasi tentang penolakan jenazah pun begitu. Jenazah positif Covid-19 yang sudah dikebumikan dan diperlakukan sesuai protokol aman serta tidak menularkan penyakit. Namun karena informasi yang salah, maka terjadi penolakan.

Belum lagi soal informasi penyembuhan corona dengan sinar matahari, air hangat, sampai teh panas. Informasi ini tentu juga tersebar di kalangan milenial, tapi mereka segera kroscek dan bisa menerima kalau ternyata informasi tersebut salah. Sementara di kalangan generasi X, informasi yang sudah beredar sejak awal Maret tersebut masih terus tersebar—hingga hari ini.

Berbeda dengan generasi Y dan Z (selanjutnya saya sebut dengan milenial) yang lebih adaptif dengan informasi di medsos dan grup-grup WA. Bahkan bisa dibilang milenial-lah pemadam hoax yang direproduksi dan disebarkan oleh generasi X. Begitupula di medsos, milenial adalah kekuatan yang bahkan lebih kuat dari barisan buzzer untuk menangkal hoax.

Sayangnya, kembali lagi, potensi generasi milenial ini sering diremehkan. Bahkan nggak jarang teman-teman sesama generasi Z mengeluh kalau dirinya disudutkan di grup keluarga besar ketika berusaha mengklarifikasi sebuah berita bohong dan menyesatkan.

Pemerintah dan Public Figure

Nggak hanya di masyarakat, sikap pemerintah, yang banyak di antaranya merupakan generasi X juga nggak adaptif terhadap cepatnya informasi di medsos. Sebagai bukti sederhana, tindakan awal pemerintah RI yang cenderung menyepelekan corona adalah gambaran sikap generasi X. Meskipun milenial sebelumnya juga pernah ikut menyepelekan corona—dengan jokes mereka, namun sikap milenial segera berganti ketika sadar ancaman corona makin nyata di Indonesia.

Beda dengan sikap beberapa pejabat yang masih menyepelekan corona, bahkan hingga bulan Maret ketika wabah corona mulai tercatat dan meluas di Indonesia. Beberapa pejabat mulai dari kepala daerah sampai Menteri Kesehatan bukan menyiapkan langkah-langkah penanganan tapi justru menganggap enteng wabah ini. Keputusan yang saat ini terbukti menambah buruk dampak corona di Indonesia.

Begitu pula public figure. Ada ustaz kondang yang mengait-ngaitkan corona dan Uighur, karena percaya bahwa corona adalah tentara Allah yang membela etnis Uighur. Hal ini kemudian banyak berperan pada sulitnya masyarakat percaya informasi yang mendorong kewaspadaan terhadap corona. Lagi-lagi, baik pemerintah maupun public figure tersebut adalah generasi X.

Apa yang telah dipaparkan di awal sebagai kegaduhan makin menjadi-jadi ketika pelaku kegaduhan dan mispersepsi tersebut adalah generasi X. Tapi, ya, mau bagaimana lagi? Memang pemerintah dan public figure saat ini didominasi oleh generasi X dengan karakter yang sudah disebutkan di awal.

***

Pada akhirnya, sikap generasi X yang menimbulkan mispersepsi dan kegaduhan nggak bisa digeneralisasi begitu saja. Tetap banyak pejabat, public figure, dan masyarakat dari generasi X yang memahami literasi digital dan berperan penting dalam penanganan corona. Hal ini patut diapresiasi. Namun bukan berarti kita menutupi fakta bahwa generasi X mudah terjebak dan menyebarkan hoax, mispersepsi, serta kegaduhan.

Sementara itu, generasi sebelum generasi X, disebut dengan baby boomers memiliki karakter mirip dengan generasi X dalam dunia digital. Namun di Indonesia baby boomers cukup sedikit jumlahnya, pun intensitas penggunaan gawai baby boomers nggak setinggi generasi X.

Akhirnya, artikel ini sama sekali nggak bermaksud menyudutkan. Justru menjadi refleksi kita bersama, agar selain peduli terhadap pandemi corona juga mencegah berita bohong yang bisa memperparah keadaan.

Editor: Arif


IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis dan editor yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
Mandiri 137-00-5556665-3
A.n Litera Cahaya Bangsa

Avatar

Nabhan Mudrik Alyaum

Mahasiswa S1 Geografi dan Ilmu Lingkungan UGM. Ketua PW IPM DI Yogyakarta Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lost your password? Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.