Kemiskinan Melayu: Ratu Adil di Zaman Edan - IBTimes.ID
Irfani

Kemiskinan Melayu: Ratu Adil di Zaman Edan

6 Mins read

Namun perkataan-perkataan berpuas hati (contented), bersederhanaan (modest), segan (inarticulate), adalah kata-kata sifat cantik yang harus dibanggakan oleh orang Melayu! Padahal, di baliknya tersimpan kemiskinan orang Melayu.

Kenapa berpuas hati? Oleh sebab mereka tidak tahu tentang keadaan yang lebih baik. Kenapa bersederhana? Oleh sebab kepercayaan jaya-diri memerlukan kelayakan sewajar yang hanya boleh diperoleh melalui pelajaran yang mencukupi. Kenapa segan? Oleh sebab mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan atau apa yang harus diperkatakan atau bagaimana hendak dilakukan. Ketiga kelemahan itu adalah akibat daripada pelajaran yang tidak mencukupi, dan ia hanya boleh diatasi dengan mengatasi kekurangan itu (Za’ba, 1972)

Jalan keselamatan bagi orang Melayu senantiasa terbuka luas bagi yang mau mengerti. Untuk menyikapi permasalahan ini adakah orang Melayu bersedia dan jujur untuk menerima menghadamnya. Membaca karya dan menyelami percikan ide dari tokoh pembaharu Melayu seperti Syed Syeikh al Hady, Zainal Abidin Ahmad (Za’ba), Prof. Dr. Syed Hussein Alatas, dan Dr. Shaharuddin Maaruf setentunya merenggut jiwa yang keras dan tidak heran suara mereka sentiasa ditentang sejak dahulu.

Oleh karena persoalan yang tidak mau dijawab secara tuntas dan tidak diselami akar umbinya, maka bersiaplah untuk melihat berabad lagi kehidupan yang miskin ilmu dan budaya, anti ilmu pengetahuan dan bersedia untuk ditindas. Maka hanya akan tinggal lagu dan syair rintihan untuk membuaikan hidup yang pilu.

Kemiskinan Melayu

Tidaklah orang Melayu itu sadar dia berada di mana melainkan hidupnya yang suka berhutang tanpa keperluan dan bermewahan ketika mempunyai uang yang banyak. Sikap tidak mau berhemat cermat dan bersedia kemungkinan sesuatu perkara berlaku di kemudian hari jauh meleset.

Kemajuan teknologi hakikatnya sedikit-banyak membawa padah apabila manusia suka membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain. Maka apa yang dimiliki oleh orang lain dirinya harus milikinya juga, bahkan lebih hebat lagi. Dr Muhammed Abd Khalid menyebutkan di dalam bukunya, Antara Dua Darjat (2017),

“Hampir 2/3 mereka dalam kumpulan umur 51-55 hanya mempunyai simpanan kurang dari RM 50.000 di dalam simpanan wajib Kumpulan Wang Simpanan Pekerja. Malah 1/5 hanya mempunyai simpanan kurang dari RM 7.000”.

Ada yang benar-benar terhimpit dengan hutang karena hendak menampung hidup mereka. Inilah gambaran kemiskinan orang Melayu. Mereka tidak ada modal untuk membangunkan perniagaan dalam masa yang sama jika ada perusahaan yang dilakukan pasti akan ada “orang tengah” mengambil kesempatan senantiasa pantas menindas dan menekan golongan ini.

Manakala sumbangan dan bantuan yang diberikan selalunya bersifat one-off tidak membebaskan seseorang dari kemiskinan. Koperasi Felda, Angkasa dan Tabung Haji merupakan suatu contoh pensyarikatan dan koperasi yang mengumpulkan duit dan usaha orang ramai seterusnya memberikan semula pulangan hasil dan keuntungan.

Baca Juga  Alasan Anak Muda Nggak Suka Dijodohin Sama Orang Berseragam

Tabung Haji yang diasaskan oleh Prof. Diraja Ungku A. Aziz misalnya terus berjasa dengan mempunyai rangkaian perniagaan di merata tempat, pengurusan haji yang efisien, memberikan dividen tahunan kepada pencarum serta mampu memberikan subsidi hampir 50% kepada orang Islam yang menunaikan haji.

Suatu perkara yang harus kita jujur dan insaf bukankah kemajuan di semenanjung Malaysia ini hasil dari kekayaan Sabah dan Sarawak (Malaysia timur) terutamanya. Jikalau kita sadar dua negeri itu agak kurang membangun, banyak sekolah yang daif/buruk di sana, masalah kemiskinan, komunikasi dan jalan perhubungan yang bermasalah seharusnya di sanalah keutamaannya.

Adakah kita bersedia memulangkan semula kekayaan itu kepada negeri asalnya. Alangkah peliknya selama puluhan tahun ini walaupun kursi parlemen Sabah dan Sarawak agak banyak 56/222 kursi keseluruhannya dan kebiasaanya ahli parlemen dari sana menjadi anggota kerajaan. Tetapi portofolio kementerian yang utama selalunya tidak diberikan kepada mereka.

Kemiskinan yang Sebenar

Kalau sudah tidak ada ilmu bagaimanakah mungkin akan ada cita-cita di dalam hidup. Bukankah itu suatu yang hina? Jangankan kata miskin uang dan harta, ditambah lagi dengan miskin pula cita-cita. Dengan ilmu dan pengalaman yang kaya lah orang punya cita-cita.

Perasaan yang lemah dan tidak percaya diri lahir dari lingkungan yang tidak kondusif. Mereka tidak tahu apa itu kemajuan dan arti berlomba-lomba mengangkat derajat diri mereka. Jika menoreh getah itulah selamanya, jika menangkap ikan itulah seadanya anak cucunya mengikut saja turun-menurun.

Tetapi jikalau akal tidak mau diasah untuk berfikir dan ilmu dianggap eksklusif pastinya jalan keselamatan bagi orang Melayu akan malap dan kabur. Bukankah Dr. Ali Shariati mengingatkan bahwa “Kemiskinan bukanlah hari tanpa makanan tetapi hari tanpa pemikiran.”

Pembunuhan ilmu dan daya berfikir bukanlah perkara baru, tetapi setiap zaman akan ada contoh semisalnya. Bukankah Imam Ahmad Bin Hanbal, Ibn Rusyd dan Ibnu Taimiyah dibungkam supaya jangan berkata perkara yang benar. Bukankah Dr. Burhanuddin Al Helmy dan Hamka meringkuk di dalam tahanan karena dianggap “ancaman” kepada pemerintah.

Bukankah Za’ba dahulu dipetieskan/dikurangkan peranan kerjanya di Maktab Perguruan Sultan Idris di bawah selenggara Mr Hamilton supaya penanya tidak tajam pengkritik penjajah khususnya di dalam bidang pendidikan di mana beliau melihat sistem pelajaran orang Melayu “lemah dalam pengetahuan dan kebudayaan” (Semasa ini Sir Richard Winstedt adalah Pengarah Pelajaran sehingga 1931).

Sikap tidak cinta kepada ilmu pengetahuan secara menyeluruh itulah yang benar merugikan dan mencipta kemiskinan orang Melayu. Ada yang hadir ke kelas dan belajar semata-mata untuk lulus ujian. Ada yang apabila mula bekerja dan berkeluarga maka ilmu itu tidak diambil pusing. Ada yang minat membaca, tetapi cakupan hanyalah pada buku yang ringan dan kurang ilmiah. Lihatlah di pustaka dan toko, yang laris dijual itu seperti bercorak motivasi, cara untuk cepat kaya, novel, fikih solat, buku zikir dan doa saja.

Baca Juga  Belajar dari Isolasi Mandiri COVID-19

Cita Bencana & Korupsi Moral

Apabila sudah tidak ada ilmu untuk memimpin diri dan desakan kehidupan kadang kala menyebabkan manusia hilang pedoman. Bukankah apabila datang kesusahan itu memberi keinsafan kepada kita dan seharusnya wujudnya peduli kepada orang lain. Tapi peliknya ujian musibah Covid 19 muncul pula golongan yang meraih laba keuntungan dengan menjual face mask dan hand sanitizer dengan harga yang mahal. Panic buying juga lahir karena sikap mementingkan diri sehingga menafikan hak orang lain.

Belum lagi soal golongan yang berkemampuan tetapi anehnya mereka juga menerima bantuan makanan dan sebagainya. Bukankah ini sama seperti yang menggunakan nama dan pangkat untuk memasukkan anaknya ke sekolah berasrama dan mendapatkan beasiswa.

Hilang semangat asal keutamaan diberikan kepada bumiputra Melayu yang dai/miskin. Asas penyusunan masyarakat seperti yang disebut oleh Prof. Diraja Ungku A. Aziz adalah keutamaan kepada yang miskin, khususnya di luar kota. Barulah kesenjangan ekonomi yakni jurang miskin-kaya itu tidak melebar (gini coefficient). Kemiskinan orang Melayu makin menjadi.

Lihatlah bagaimana di beberapa jabatan, korupsi dan kebocoran uang seperti telah dipahami dan dipersetujui bersama oleh para staf. Maka akan dilihat ongkos pengurusan itu tersangat tinggi jika dibandingkan dengan bajet pembangunan. Ke mana uang itu dibelanjakan? Biasanya akan digunakan untuk jamuan akhir tahun di hotel yang serba mewah. Kadangkala jamuan itu berulang kali diadakan. Kursus di luar negeri di kawasan pesiar yang indah.

Ada yang menggunakan harta jabatan dan khidmat staf untuk urusan pribadi pula. Siapakah yang menjual lesen mereka dan memberikan proyek kepada tauke-tauke Cina? Siapakah yang terlibat memberikan kartu tanda penduduk palsu kepada pendatang yang ditangkap baru-baru ini? Siapakah yang menjual tanah-tanah yang begitu banyak di Malaysia ini?

Di sisi yang lain pula dalam kehangatan Covid-19 ini, muncul pula sikap cita sempurna oleh sebahagian artis Korea seperti Lee Min Ho, IU dan So Ji Sub yang mendermakan jutaan uang (nilai ringgit Malaysia) untuk membantu kerajaan Korea menangani virus ini. Cita sempurna ini juga ada pada seorang wanita tua berumur 90 tahun Suzanne Hoylaerts dengan tajuk beritanya “Woman Dies of Coronavirus After Refusing Respirator: Save It For The Youngest”.

Sikap cita sempurna keprihatinan ini bukan saja ada pada orang luar, lihatlah Mukmin Nantang beserta sahabatnya Borneo Komrad Sabah yang benar-benar istiqamah memberikan pendidikan kepada anak-anak yang tiada pengenalan diri dan dokumen melalui Sekolah Alternatif Semporna. Saya tidak peduli apakah nama yang disebutkan di atas terdidik dalam bidang Usuluddin maupun Syariah al Islamiyyah. Soal keinsanan dan kemanusiaan tidak mengenal agama dan warna kulitnya, cuma hanya perlu dipupuk saja.

Baca Juga  Cadar, Stigmatisasi, dan Kebebasan Beragama

Penutup

Jalan terus ke depan perlu dimulai dengan persebaran kekayaan negara dengan baik dan sempurna. Pemusatan kekayaan pada individu tertentu perlu ditangani segera supaya menyudahi kemiskinan orang Melayu.

70% kekayaan di Malaysia ini hanyalah dimiliki oleh beberapa individu saja. Mengikut data Jabatan Perangkaan Malaysia (semacam Badan Pusat Statistik—[peny.]) menunjukkan bahwa, jika digabungkan, pendapatan B40 (kelas ekonomi lemah) dan M40 (kelas ekonomi menengah) di Malaysia pada 2016 hanyalah sekitar RM 309.6 milyar.

Angka ini lebih rendah berbanding kekayaan 40 milyuner Malaysia yang berjumlah RM 335 milyar. Di Indonesia, mengikut Lembaga Oxfam, kekayaan yang dimiliki oleh 4 orang terkaya di Indonesia setara dengan gabungan kekayaan 100 juta rakyat termiskin.

“Supaya harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya dalam kalangan kamu”. (Surah al-Hasyr Ayat 7)

Ibn Khaldun menyebutkan di dalam Al Mukadimah bahwa pendidikan merupakan bekal jangka panjang di masa depan. Oleh yang demikian sudah tentu tidak harus ada individu yang tertinggal dalam hal ini terutamanya di kawasan luar kota. Ada masjid mengambil inisiatif peran mengadakan pengajaran gratis buat warga tertinggal miskin ini. Adakalanya anak-anak ini dijamu makan pula selepas dari kelas pengajaran.

Ada LSM dan individu tertentu juga turun ke rumah anak-anak yatim mengambil peran yang sama. Sekolah dan universiti juga perlu direformasikan dengan mengambil kira pembelajaran nilai dan etika. Pelajar bukan hanya belajar untuk lulus ujian saja. Kreativitas, kritis pemikiran dan daya saing untuk perjuangan hidup perlu diterapkan. Begitu juga dengan lulusan perguruan tinggi swasta yang mengaut keuntungan perlu diambil kira.

***

Dalam masa yang sama perlu diperbanyakkan lagi agensi dan koperasi yang mengumpulkan dan menggerakkan duit dan harta orang Melayu ini. Dana bantuan yang disampaikan mestilah tidak bersifat one-off saja, tetapi berupaya mengeluarkan individu dari kepompong kemiskinan. Latihan administrasi dan teknis juga perlu diperbanyak.

Maka tidak perlu untuk pandang ke belakang lagi. Tidak ada lampu ajaib Aladdin maupun mitos Ratu Adil untuk merubah segalanya. Kitalah sesungguhnya Ratu Adil itu, perubahan di tangan orang yang benar-benar menginginkan perubahan.

“Allah tidak akan mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga kaum itu mengubah keadaan diri mereka sendiri” (Surah al-Ra’du Ayat 11).

Editor: Nabhan

Avatar
1 posts

About author
Pengurus Lestari Hikmah, lembaga pemikiran dan pengkajian Islam. Kini berdomisili di Ipoh, Perak, Malaysia
Articles
Related posts
Irfani

UPOAK: Cerita tentang Buya Pegiat Masyarakat

7 Mins read
Grup Whatsapp KERINCI HILIR BERSATU, 14 juli 2020. Sebuah status tiba-tiba menghentak pikiran dan perasaanku. Status itu berupa sebuah foto dokumen kertas…
Irfani

Almanaar, Nuraini, dan Anjar Nugroho

7 Mins read
Kampus-1 UMY medio 1995. Sebuah tawaran datang dari Pak Dasron, Rektor UMY. Sebagai dosen baru, aku diminta menjadi pembina asrama mahasiswa UMY,…
Irfani

Salahkah Menuntut Ilmu di Sekolah Muhammadiyah?

3 Mins read
Sejak kecil, awal masuk sekolah di SD, aku sudah mengenal sekolah Muhammadiyah. Kebetulan waktu itu kedua kakak perempuanku menuntut ilmu di SMP…

Tinggalkan Balasan