Keputusan Terakhir Umar bin Khattab Sebelum Ajal Menjemput - IBTimes.ID
Tarikh

Keputusan Terakhir Umar bin Khattab Sebelum Ajal Menjemput

4 Mins read

Inilah keputusan terakhir Umar bin Khattab. Di tengah sekaratnya setelah ditusuk Abu Lu’luah, ia lalu menetapkan sebuah kelompok kecil untuk memilih pemimpin selanjutnya. Boleh saja Umar wafat, tapi kursi pemimpin tak boleh dibiarkan kosong atau bakal terjadi chaos.

Hal ini dituturkan dengan detail oleh Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam dua bukunya, yaitu Biografi Umar bin Khattab dan Biografi Utsman bin Affan terbitan Pustaka al-Kautsar.

Alkisah, Umar bin Khattab mengumpulkan enam orang yang dijamin masuk surga. Tugas mereka adalah memilih salah satu dari mereka sebagai khalifah selanjutnya. Orang-orang itu adalah:

  1. Utsman bin Affan
  2. Ali bin Abi Thalib
  3. Abdurrahman bin Auf
  4. Saad bin Abi Waqqash
  5. Zubair bin Awwam
  6. Thalhah bin Ubaidillah

Sebenarnya, Said bin Zaid juga orang yang dijamin masuk surga dan masih hidup, tetapi Umar tak mau memasukkan dia ke dalam kelompok itu. Sebab, Said masih termasuk keluarga besar Umar. Ia tak mau keluarganya mendapat beban kepemimpinan nan berat itu.

Selain itu, Umar juga menunjuk Abdullah bin Umar untuk memberikan pendapat di antara kelompok enam orang itu. Namun, ia sendiri tak berhak dipilih menjadi kandidat khalifah. Tampaknya, satu Umar sudah cukup. Tak boleh lagi ada keluarga besarnya yang menanggung beban itu.

Sebelum diskusi dimulai, Umar juga menentukan imam salat. Umar tak sanggup lagi menjadi imam karena lukanya makin parah. Maka, ia pun menunjuk Shuhaib bin Sinan sang pebisnis sebagai imam salat.

Dengan keputusan Umar menunjuk imam salat, ini menunjukkan paradigma dan cara berpikir Umar yang menakjubkan. Saat-saat sekarat, orang biasanya akan mengatakan hal-hal yang dirasanya paling penting. Maka, kita pun tahu apa yang dirasa Umar paling mendesak dan harus diselesaikan sebelum ia mati, yakni:

  1. Hutang
  2. Salat
  3. Kepemimpinan
  4. Kebersamaan bersama Nabi saw. dan Abu Bakar
Baca Juga  Problematika Politik Khulafa Al-Rasyidin, Bagaimana Pengaruhnya Terhadap Perkembangan Hadis?

Metode Memilih Pemimpin

Umar bin Khattab menentukan batas waktu pemilihan pemimpin dalam tiga hari. Dan tidak boleh ada satu pun di antara kandidat itu yang menjadi imam salat. Ia khawatir nanti masyarakat akan melihatnya sebagai dukungan dari Umar kepada salah satu kandidat.

Bagaimana jika dalam tiga hari belum ada pemimpin terpilih? Tidak boleh. Tetap harus ada pemimpin baru. Mereka diperintahkan berdiskusi di rumah Fatimah binti Qais, seorang sahabat wanita. Abdurrahman bin Auf ditunjuk oleh kelompok itu sebagai pemimpin diskusi. Sementara itu, untuk menjaga kondusifnya situasi, tak boleh ada satu orang pun yang mengganggu.

Umar memerintahkan Abu Thalhah untuk mengumpulkan para sahabat yang kuat fisiknya untuk menjadi bodyguard. “Pilihlah 50 orang dari Anshar untuk menjaga kelompok itu!”, perintah Umar kepada Abu Thalhah. Pemimpin para bodyguard sahabat itu adalah Abu Thalhah sendiri dan Miqdad al-Aswad.

Kelima puluh sahabat Anshar itu pun mengelilingi rumah Fatimah binti Qais. Tak boleh ada satu pun orang yang menginterupsi diskusi. Ini menunjukkan betapa urgent-nya masalah kepemimpinan di mata Umar.

Strategi Abdurrahman bin Auf Memimpin Diskusi

Keliru jika kita hanya berpikir Abdurrahman bin Auf jenius di bidang bisnis saja. Padahal, Abdurrahman juga jenius dalam kepemimpinan sosial-politik. Apalagi di masa krisis setelah ditinggal Umar. Dan di momen inilah kita akan mengetahui kualitas seorang Abdurrahman.

Pertama, Abdurrahman berusaha untuk membuat pilihan kandidat menjadi lebih simpel. Ia mengajak mereka untuk mundur sebagai kandidat pemimpin. “Jadikanlah urusan kalian kepada tiga orang!”, kata Abdurrahman bin Auf.

Thalhah menyambar, “Aku menyerahkan kepada Utsman!”. Saad bin Abi Waqqash membalas, “Aku menjadikan urusanku pada Abdurrahman bin Auf.” Sedangkan Zubair menjawab, “Aku memilih Ali!”

Sekarang kandidat khalifah tinggal tiga orang. Abdurrahman bin Auf membuat ini lebih mudah lagi. Ia pun mengundurkan diri sebagai kandidat pemimpin.

Baca Juga  Mengenal Historiografi Islam Modern

Kini, hanya tersisa dua orang, yaitu Utsman dan Ali. Abdurrahman berunding dengan Ali. “Jika aku tidak membaiatmu, siapa yang akan kau pilih?”. Ali menjawab, “Utsman”.

Sekarang giliran Utsman. “Jika aku tidak membaiatmu, siapa yang akan kau pilih?”. Utsman berkata mantap, “Ali bin Abi Thalib”.

Tahap pertama diskusi sudah selesai. Memang dua calon inilah yang paling paten. Pertanyaannya, siapa yang akhirnya harus dipilih menjadi pemimpin?

Berkeliling Madinah untuk Meminta Pendapat

Abdurrahman bin Auf melakukan strategi yang sangat jitu. Ia berkeliling Madinah! Ia bertanya kepada para sahabat lain siapa yang mereka pilih. Ia mendatangi mereka satu-persatu dan berdiskusi. Abdurrahman bin Auf benar-benar bertanya kepada semua orang, tak terkecuali para sahabat wanita, para budak, bahkan anak-anak.

Semua orang diajak diskusi olehnya dan semua pendapat ia hargai. Abdurrahman bin Auf terus berkeliling Madinah hingga tengah malam. Ia sama sekali tak tidur. Dari hasil survei ini, Abdurrahman menemukan sebuah fakta, yakni mayoritas orang memilih Utsman.

Lalu, ia ke rumah al-Miswar bin Makhramah, anak dari saudara perempuannya Utsman. Saat itu, al-Miswar sedang tidur. Abdurrahman terus mengetuk sampai ia terbangun. Abdurrahman sedikit protes. Bisa-bisanya al-Miswar tidur nyenyak, padahal Abdurrahman begadang terus untuk diskusi soal memilih pemimpin.

“Kamu sedang tidur? Demi Allah, aku tidak banyak tidur malam ini”, kata Abdurrahman protes.

Di tengah malam itu, Abdurrahman bin Auf meminta al-Miswar untuk memanggil semua kelompok diskusi. Satu per satu pun datang dan berdiskusi dengan Abdurrahman. Mereka melakukan diskusi di tengah malam di rumah al-Miswar. Orang terakhir yang diajak diskusi adalah Utsman. Mereka selesai berdiskusi tepat pada waktu subuh.

Pengumuman Pemimpin Baru

Azan subuh dikumandangkan. Orang-orang berbondong-bondong datang ke masjid. Mereka akan memilih pemimpin selanjutnya. Kelompok diskusi enam orang itu pun maju ke depan kecuali Utsman. Di mana dia?

Baca Juga  Diwan Al-Barid: Departemen Pos pada Zaman Dinasti Abbasiyah

Ternyata, Utsman berada di barisan paling belakang dan malu untuk maju ke depan. Begitulah karakter Utsman dan akan selalu begitu. Namun, urusan ini harus mengalahkan rasa malu Utsman. Maka, ia pun maju ke depan barisan.

Abdurrahman bin Auf maju ke mimbar dan berpidato panjang. Lalu ia berkata, “Wahai manusia, sesungguhnya aku bertanya kepada kalian secara rahasia dan terang-terangan tentang pemimpin kalian. Aku menemukan kalian tidak memilih selain dua orang ini: Ali dan Utsman. Berdirilah wahai Ali!”

Ali lalu berdiri. Abdurrahman menggenggam tangan Ali, lalu berkata, “Apakah kamu berjanji setia kepada kitabullah, sunah nabi-Nya, dan perbuatan Abu Bakar dan Umar?”. Ali merasa berat, lalu ia menjawab, “Tidak. Akan tetapi, aku akan berupaya dengan sungguh-sungguh sesuai kemampuanku.”

Abdurrahman melepas tangan Ali, lalu memegang tangan Utsman. “Apakah kamu berjanji setia kepada kitabullah, sunah nabi-Nya, dan perbuatan Abu Bakar dan Umar?”, tanyanya kepada Utsman.

Utsman menjawab singkat, “Ya”. Abdurrahman bin Auf memandang ke langit, lalu berkata, “Ya Allah, dengarlah dan saksikanlah. Ya Allah dengarlah dan saksikanlah. Ya Allah dengarlah dan saksikanlah. Sesungguhnya aku telah menjadikan urusan yang ada di leherku ini ke leher Utsman.”

Resmi sudah. Utsman bin Affan lah pemimpin pengganti Umar bin Khattab. Ali adalah orang yang pertama kali membaiatnya, kemudian para sahabat lain berbondong-bondong bersumpah setia kepada Utsman. Berakhirlah masa Umar bin Khattab dan dimulailah masa Utsman bin Affan.

Editor: Lely N

Avatar
5 posts

About author
Digital Marketer
Articles
Related posts
Tarikh

Strategi Dakwah Habib Ali bin Abdul Ghadir di Ujung Barat Banyuwangi

3 Mins read
Tepat di sisi ujung barat Kabupaten Banyuwangi, terdapat satu kecamatan yang lebih kental akan suku Madura. Kalibaru namanya, adalah kawasan lembah di…
Tarikh

Sastra Pers dan Gerakan Islam di Era Kebangkitan Nasional

7 Mins read
Awal abad ke-20 disebut sebagai era kebangkitan nasional. Kemerdekaan Indonesia terjadi tahun 1940-an, tetapi apinya sudah menyala di awal tahun 1900-an. Kondisi…
Tarikh

Adat sebagai Identitas Masyarakat Pribumi

3 Mins read
Buku Ferry Hidayat yang berjudul Antropologi Sakral: Revitalisasi Tradisi Metafisik Masyarakat Indigenous Indonesia, sangatlah menarik untuk dipahami tentang adat dan di mana…

Tinggalkan Balasan