Cara Rasulullah Menaklukan Istri (2) Bukan untuk Jomblo

 Cara Rasulullah Menaklukan Istri (2) Bukan untuk Jomblo
Ilustrasi: Islami.co            

Pada bagian pertama sudah diungkap empat fakta tentang keromantisan dan kemesraan Rasulullah. Mulai dari cara Rasulullah memanggil isteri, kebiasaan Rasulullah memeluk dan mencium isteri, Rasulullah mengajak isterinya menonton hiburan, hingga kebiasaan Rasulullah memberikan hadiah kepada isteri-isterinya. 

Pada tulisan ini akan dilanjutkan pembahasan pada fakta-fakta lain, terkait cara Rasulullah menumbuhkan romantisme dan kemesraan di dalam keluarga. 

Fakta Kelima

Rasulullah bermain, bermanja-manja, dan memanjakan isteri-isterinya. Untuk melunakkan hati seorang isteri seperti Aisyah, beliau terkadang harus menjadi seperti anak-anak juga. Meskipun umur beliau terpaut sangat jauh tidak menjadi persoalan. Kebiasaan buruk seorang suami adalah ingin diposisikan seperti raja. Dalam segala hal ingin dilayani. Meskipun hal seperti ini dianggap tabu bagi seorang suami, tetapi bagi beliau hal ini penting untuk menjaga keharmonisan rumah tangga.

Dalam sebuah riwayat dikisahkan, ketika pulang dari perjalanan jauh, Rasulullah saw menyuruh semua sahabat mendahului beliau. Tinggalah beliau dan Aisyah di barisan paling belakang berdua. Hal itu sengaja dilakukan, pertanyaannya untuk apa? Ternyata beliau mengajak Aisyah lomba lari. Berlombalah beliau bersama Aisyah, dan beliau memilih untuk kalah. 

Sebenarnya bukan kalah dan menang yang penting dari peristiwa itu, melainkan suami dan isteri terkadang perlu waktu khusus berdua. Untuk apa? Sekedar melepas rutinitas yang membosankan. Bermain dan bersenda gurau seperti layaknya anak-anak (antara suami dan isteri), merupakan momen yang mahal saat ini. Waktu berdua-duaan, antara suami dan isteri adalah kesempatan langka untuk saling bermanja-manja. Jadi, sempatkan dan carilah waktu untuk berdua-duan bersama pasangan Anda, meskipun hanya sekedar minum secangkir kopi atau es dawet di pinggir jalan. 

***

Bukan hanya itu, ketika berdua di rumah, Rasulullah sering bermanja-manja kepada isterinya. Beliau melakukan itu untuk memupuk kedewasaan sang isteri sekaligus menumbuhkan rasa kasih sayang di antara mereka. Dikisahkan dalam sebuah riwayat beliau sering merebahkan kepala di pangkuan isterinya. Sementara isterinya menyisir rambut, beliau membaca Al-Qur’an (muraja’ah). 

Sekarang bayangkan, jika Anda bersama pasangan Anda melakukan hal itu di sebuah taman yang rumputnya hijau dan dikelilingi bunga-bunga yang indah? Pasti Anda akan merasakan kebahagiaan. Persis seperti film India. Jadi romantisme Rasulullah tidak kalah bersaing dengan drama Korea.

Baca Juga  Semit-Arab: Bangsa Penutur Terbaik?

Hal memanjakan isteri juga pernah dilakukan Rasulullah kepada Syafiah. Setelah Rasulullah menikahinya, dan unta sudah disiapkan, beliau kemudian menggendong Syafiah ke atas unta. Dalam riwayat lain dijelaskan, beliau menyediakan lututnya untuk pijakan Syafiah naik ke atas unta. Ada juga yang menjelaskan ketika di atas unta kaki Syafiah berada di atas lutut beliau. Jika, memang benar seperti itu, pasti Syafiah memeluk Rasulullah dari belakang. Memang tidak dijelaskan, apakah Syafiah berada di depan atau di belakang, tetapi yang jelas mereka berdua berboncengan.

Fakta Keenam

Rasulullah tidak pernah memarahi isteri-isterinya. Beliau adalah sosok suami yang paling pengertian terhadap isteri-isterinya. Beliau tidak pernah marah, apalagi membentak isterinya di depan orang banyak. Hal itu dilakukan beliau untuk menjaga kehormatan isterinya. Kehormatan isteri sama dengan kehormatan suami. Meskipun terkadang, hal yang dilakukan isteri layak membuat beliau marah. Namun, itu tidak dilakukannya. 

Sikap Rasulullah paling puncak ketika marah terhadap isteri-isterinya adalah dengan cara mendiamkan mereka. Dalam sebuah riwayat, dikisahkan beliau sempat berdiam diri selama beberapa hari di ruangan khusus miliknya. Sampai kemudian Umar bin Khattab menemuinya. Sikap tersebut dilakukan, bukan karena beliau marah, melainkan menunggu petunjuk dari Tuhan, sikap bagaimana yang harus dilakukan untuk menyelesaikan masalah tersebut. 

Dalam kisah yang lain diceritakan, Rasulullah pernah pulang terlalu malam. Beliau kemudian mengetuk pintu beberapa kali, namun isterinya, Aisyah tidak kunjung membuka pintu. Karena sudah terlalu lama, akhirnya beliau memutuskan menggelar sorbanya kemudian tidur di depan pintu. Ketika Aisyah terjaga dari tidurnya, ia bergegas membuka pintu dan terkejut. Sebab ia melihat beliau tidur di depan pintu. Tidak lama kemudian Rasulullah bangun dan tidak marah sedikitpun. Beliau hanya bertanya kepada isterinya, “kamu lelah?” Mendengar itu Aisyah pun merasa malu. 

***

Dalam riwayat lainnya diceritakan, bahwa Rasulullah pulang di waktu pagi dalam keadaan lapar. Kemudian beliau memasuki dapur dan membuka-buka tudung saji tempat biasa makanan tersimpan. Namun ternyata beliau tidak menemukan sesuatu apapun untuk dimakan. Padahal perut beliau benar-benar lapar. Lalu, tiba-tiba Aisyah datang dan kaget melihat Rasulullah di dapur. Aisyah berfikir tentu beliau akan marah. 

Baca Juga  Jamaluddin Al-Afghani (2): Karir Politik dan Petualangan Intelektual

Melihat isterinya takut, dengan wajah cemas dan sedikit pucat, Rasulullah kemudian mengatakan kepada Aisyah; “Wahai Aisyah… saya puasa.” Mendengar itu Aisyah pun lega. Demikian cara beliau menenangkan hati isterinya. Jika hal seperti ini terjadi pada suami zaman now, mungkin jadinya tidak seperti itu. Sang isteri pasti kena damprat habis-habisan. 

Ada lagi kisah yang lebih menakjubkan. Suatu ketika Rasulullah memiliki hajat dan berkeinginan mengundang para sahabat. Mendengar itu, Aisyah bersiap-siap. Ia memasak, meskipun hasilnya tidak karuan. Setelah dengan susah payah, semua hal dipersiapkan, tiba-tiba utusan Ummu Salamah datang membawa makanan yang jauh lebih enak dari masakannya. Padahal para sahabat telah berkumpul di rumah Rasulullah. Aisyah rupanya sakit hati, ia merasa usahanya seharian tidak dihargai. Tanpa berpikir panjang, masakan yang dibawa utusan Ummu Salamah dibanting depan para tamu. Asiyah lalu menangis tersedu-sedu dan lari ke dalam kamar.

Kejadian itu disaksikan langsung oleh Rasulullah. Sebagai suami, wajar jika peristiwa tersebut dianggap keterlaluan. Mestinya beliau pada saat itu marah. Namun, di luar dugaan, beliau tidak memberikan ekspresi marah ataupun malu sedikitpun di depan para sahabat. Justeru beliau tersenyum dan berkata kepada tamu undangan yang hadir; “Mohon maaf, ibu kita, sedang sensitif. Jadi harap maklum,” ucapnya dengan tenang sembari merapikan piring yang berantakan. 

***

Cara Rasulullah menasehati isterinya juga unik. Cara seperti ini perlu ditiru karena sangat kreatif. Suatu ketika Aisyah sedang memasak sup buat Rasulullah. Setelah matang, sup tersebut dihidangkan, lalu Rasulullah diperkenankan untuk mencicipinya terlebih dulu. Setelah dicicipi, ternyata sup tersebut terlalu asin. 

Rasulullah kemudian memanggil Aisyah. “Wahai isteriku, ingatkah engkau, ketika kita pertama kali menikah? Kita dahulu makan sup bersama-sama. Aku menyuapi kamu, dan kamu menyuapi aku.” Lalu kemudian Aisyah menjawab, “Ingat ya Rasulullah.” Kemudian Rasulullah berkata lagi, “sekarang sudikah kamu mengulanginya lagi?” Dengan gembira Aisyah melakukan hal tersebut. Tidak lama kemudian, Aisyah sadar bahwa sup yang dimasak terlalu asin. 

Baca Juga  Tujuh Pemuda dan Jasa Boedi Oetomo dalam Pendirian Muhammadiyah

Dari cerita-cerita di atas, dapat ditarik sebuah kesimpulan, bahwa jangan sekali-kali membuat isteri marah. Jika menasehati isteri dengan cara yang baik. Sebab isteri yang sedang marah, dampak negatifnya sangat besar dan berkepanjangan. Berbeda dengan laki-laki, jika dia marah mungkin dampak negatifnya hanya sedikit. Namun, jika isteri marah, korbanya semua isi rumah. Rumah jadi tidak terurus. Anak tidak diperhatikan. Suami didiamkan. Masakan jadi gosong, terlalu asin, dan sebagainya. Anda boleh tidak setuju, tetapi faktanya demikian. 

Fakta Ketujuh

Rasulullah membantu isteri dalam urusan rumah tangga. Mungkin kita tidak menyangka ternyata beliau adalah suami yang paling peduli dengan urusan rumah tangga. Di dalam riwayat diceritakan jika rumah dalam keadaan kotor dan berantakan, beliau tidak segan dan malu untuk menyapu dan merapikannya. Bahkan terkadang beliau tidak ingin membebani isterinya jika sanggup melakukannya sendiri. Seperti menjahit jubahnya yang bolong atau sobek. 

Dalam kisah yang lain dijelaskan, jika isterinya sedang memasak Rasulullah ikut membantu. Ketika adzan terdengar beliau bergegas ke masjid. Setelah shalat, beliau segera pulang dan kembali membantu isterinya. Bahkan diceritakan di dalam riwayat lain, beliau pernah memasak gandum bersama pembantu-pembantunya. Beliau juga memerah susu. Beliau juga menjahit sendiri sepatunya yang rusak. 

Ada juga riwayat yang menceritakan bahwa Rasulullah juga tidak segan momong anak. Bahkan beliau sangat senang dengan anak kecil. Terhadap cucu-cucunya, beliau selalu mencium, memeluk, dan membawa mereka ke masjid untuk shalat berjemaah. 

Perihal membantu isteri dalam urusan rumah tangga, meskipun dianggap sepele, tapi dampaknya sangat besar, khususnya untuk membangun keharmonisan. Isteri bukanlah pembantu suami, melainkan partner yang harus diajak bekerjasama. Dasar dari perkara ini adalah kepedulian satu dengan yang lain. Jika tidak percaya, silahkan tanyakan kepada isteri Anda, apakah dia senang jika dibantu dalam urusan rumah tangga? Jawabnya pasti 100% senang. (Bersambung)

Editor: Yahya FR

IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis dan editor yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
Mandiri 137-00-5556665-3
A.n Litera Cahaya Bangsa

Hatib Rahmawan

Hatib Rahmawan

Dosen Prodi Ilmu Hadis Fakultas Agama Islam Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, Ketua MPK PWM DIY, Sekretaris Pendidikan dan Kaderisasi PP Pemuda Muhammadiyah.

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *