Kasyf dan Ma’rifat dalam Karya Ibnu Thufail

 Kasyf dan Ma’rifat dalam Karya Ibnu Thufail
Novel karya Ibnu Thufail. Ilustrasi: Collectorz.com            

Novel karya Ibnu Thufail, Hayy bin Yaqzan, tidak hanya menampilkan karakter Hayy bin Yaqzan. Seorang yang hidup terasing di sebuah pulau terpencil. Lewat proses pengamatan (inderawi) dan perenungan (akal) mampu mencapai derajat kasyf. Selain Hayy bin Yaqdzan terdapat tokoh lain bernama Absal. Seorang yang pernah mendapat seruan dakwah dari salah seorang Nabi yang menuntunnya pada derajat kasyf.

Ibnu Thufail telah menampilkan dua model cara pandang dalam memahami hakekat kehidupan lewat dua karakter yang berbeda secara ontologis dan epistemologis. Sosok Hayy bin Yaqzan merupakan seorang yang memiliki karakter positivistik. Pengetahuannya diperoleh lewat pengalaman empiris dan rasionalitas. Tokoh ini mengontruksi pengetahuannya berdasarkan pengalaman empiris secara terus-menerus sampai ia mencapai derajat pengetahuan kasyf.

Sedangkan tokoh Absal mewakili karakter bangsa Timur yang religius setelah mendapat seruan dakwah dari seorang Nabi. Ia memperoleh ilmu pengetahuan berdasarkan sumber wahyu yang dipahami secara normatif. Dengan pengetahuan normatif ia berhasil mencapai derajat kasyf.

***

Derajatkasyf dalam novel Ibnu Thufail bersumber dari pengalaman empiris dan wahyu sekaligus. Konsep kasyf itu sendiri sebenarnya sepadan dengan konsep ma’rifatmenurut Ibnu Taimiyyah. Konsep ma’rifat dalam pandangan Ibnu Taimiyyah dipahami sebagai ilmu manifestasi dari nama-nama ketuhanan (madzhar al-kalimaat al-ilahiyyah) yang diisyaratkan dalam al-Quran (Majid ‘Arsan Al-Kailaniy, 1986: 118). Konsep ma’rifat menurut Ibnu Taimiyyah hanya bersumber dari wahyu, sedangkan Ibnu Thufail meyakini derajat kasyf dapat dicapai lewat pengalama empiris.

Dengan demikian, menurut Ibnu Thufail, kasyf menjadi tujuan dalam proses belajar. Sedangkan menurut Ibnu Taimiyyah, ma’rifat merupakan bagian dari pendidikan tauhid. Dengan kata lain, ma’rifat dalam pandangan Ibnu Taimiyyah adalah pendidikan tauhid yang bertujuan untuk mengenal Allah SWT (ma’rifatullah).    

Sesungguhnya, para filosof muslim terdahulu sudah mengenalkan konsep ma’rifat sebagai suatu bentuk kecerdasan yang berdimensi ganda: duniawi dan ukhrawi. Dalam konteks pendidikan, kecerdasan ma’rifat menurut Ibnu Thufail cukup progresif ketika ia menganggap pengalaman empiris mampu mengantarkan seseorang menuju derajat kasyf. Derajat pengetahuan tertinggi ini pun dapat dicapai lewat ajaran wahyu. Dengan demikian, Ibnu Thufail telah menawarkan dua corak epistemologi dalam pendidikan Islam.

Berbeda dengan Ibnu Thufail, konsep Ibnu Taimiyyah tentang ma’rifat hanya bersumber pada satu jenis sumber ilmu pengetahuan, yaitu wahyu (al-Quran). Walaupun hanya menggunakan sumber epistemologi yang tunggal (wahyu), tetapi Ibnu Taimiyyah mampu mensinergikan kategori ilmu-ilmu agama dengan ilmu-ilmu non agama.

***

Justru, menurut Ibnu Taimiyyah, ilmu-ilmu non agama menjadi pendukung dalam proses implementasi ilmu-ilmu agama dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian, pada tataran akiologis, Ibnu Taimiyyah sudah memberikan ruang bagi proses integrasi keilmuan dalam Islam yang selama ini seakan-akan berpisah dengan ilmu-ilmu umum (sekuler).

Konsep kecerdasan ma’rifat tampaknya bisa menjadi alternatif ketika peradaban Barat yang berbasis pada ilmu pengetahuan positivistik telah menyisakan cacat bawaan. Menurut Abdul Munir Mulkhan (2004), cacat bawaan modernitas telah menciptakan ketidakadilan, konflik, dan kemiskinan global. Saat ini, nilai etik dan moral telah dimaterialisasi sehingga mengakibatkan ketimpangan sosial. Perang antar bangsa, kerusakan lingkungan, dan penyebaran penyakit mematikan telah mengancam eksistensi manusia.

Editor: Yahya FR


IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis dan editor yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
Mandiri 137-00-5556665-3
A.n Litera Cahaya Bangsa

Avatar

Mu'arif

Pengkaji sejarah Muhammadiyah-Aisyiyah, Anggota Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah.

Related post

5 Comments

    Avatar
  • Hello There. I found your blog using msn. This is a really well written article.
    I’ll be sure to bookmark it and return to read
    more of your useful information. Thanks for the post.
    I will definitely comeback.

  • Avatar
  • Hey would you mind letting me know which webhost you’re utilizing?

    I’ve loaded your blog in 3 completely different browsers and I must say this blog loads a lot quicker then most.
    Can you recommend a good internet hosting provider at a
    fair price? Many thanks, I appreciate it!

  • Avatar
  • Howdy! This is kind of off topic but I need some guidance from an established blog.

    Is it very hard to set up your own blog? I’m not very techincal but I can figure things out
    pretty fast. I’m thinking about creating my own but I’m not sure where to begin. Do you have any points or
    suggestions? With thanks

  • Avatar
  • I simply want to tell you that I am just new to blogging and definitely savored you’re web site. Likely I’m want to bookmark your website . You surely have superb writings. Regards for revealing your web page.

  • Avatar
  • Youre so trendy! I do not expect Ive check out anything similar to this prior to. So great to discover somebody with some original thoughts on this subject. realy thank you for starting this up. this site is something that is needed online, someone with a little creativity. helpful work for bringing something new to the net!

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lost your password? Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.